Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mengunjungi Pekong Laut, Destinasi Wisata Sekaligus Religi

Syahriani Siregar • Selasa, 17 Januari 2023 | 16:33 WIB
ASET WISATA: Pengunjung Kelenteng Dharma Bakti Xiao Yi Shen Tang saat melakukan sembahyang di altar pelataran kelenteng, Kamis (12/1). Kelenteng yang berdiri kokoh di tengah laut ini konon merupakan satu-satunya di dunia. Selain sebagai tempat ibadah, kel
ASET WISATA: Pengunjung Kelenteng Dharma Bakti Xiao Yi Shen Tang saat melakukan sembahyang di altar pelataran kelenteng, Kamis (12/1). Kelenteng yang berdiri kokoh di tengah laut ini konon merupakan satu-satunya di dunia. Selain sebagai tempat ibadah, kel
Kelenteng Dharma Bakti Xiao Yi Shen Tang berdiri kokoh di tengah laut. Tak heran kelenteng ini sering disebut pekong laut. Selain sebagai tempat ibadah, tempat ini juga sebagai salah satu destinasi wisata.

Arief Nugroho, Sungai Kakap

MIRE tak henti-hentinya mengabadikan momen saat kapal wisata yang dia tumpangi mulai mendekat ke dermaga kelenteng Dharma Bakti Xiao Yi Shen Tang di Desa Sungai Kakap, Kubu Raya. Dosen Universitas Katholik Parahyangan Bandung itu mengaku takjub melihat keberadaan kelenteng yang berdiri kokoh di tengah laut.

“Terus terang saya takjub.  Sebelum ke sini, saya sempat membaca literatur soal kelenteng ini dan memang tidak ditemukan di daerah lain,” katanya kepada Pontianak Post, Kamis (12/1) sore.

Hari itu, Mire bersama keluarganya sengaja berkunjung. “Unik. Karena selain dibangun di tengah laut, katanya kelenteng ini dibangun oleh masyarakat sekitar. Nuansa toleransinya kental,” ujarnya.  Konon kelenteng yang berada di tengah laut ini adalah satu-satunya di dunia.

Selain mengabadikan momen menggunakan ponsel, ia pun memanfaatkan kesempatan itu untuk sembahyang, mendoakan leluhurnya di altar pelataran kelenteng. Soalnya, sore itu kelenteng Xiao Yi Shen Tang sedang tidak dibuka. Meski di pelataran,  tidak mengurangi kekhusyukannya dalam berdoa.

Matahari mulai meninggalkan peraduan. Cahaya semburat berwarna jingga yang menghiasi langit di sekitar kelenteng menambah indahnya suasana. Para pengunjung yang datang pun semakin takjub.

Untuk mengakses kelenteng ini hanya bisa menggunakan jalur air, yakni menyewa perahu motor atau menggunakan kapal wisata dari Muara Sungai Kakap. Muara ini menghadap langsung ke hamparan laut Cina Selatan.

Anwar, pemilik kapal wisata mengatakan menjelang Tahun Baru Imlek, tak sedikit warga yang mengunjungi kelenteng ini, baik untuk beribadah maupun sekadar berwisata. Ia pun kebanjiran orderan, mengantar wisatawan ke sana.

“Ini kelenteng laut. Dan satu-satunya di Asia Tenggara, bahkan dunia,” kata Anwar.

“Alhamdulillah, penghasilan sebulan bisa mencapai Rp 20 juta. Nah, kalau menjelang Imlek biasanya pengunjung banyak,” tambahnya.

Anwar sendiri sudah menekuni pekerjaan ini sejak tahun 2019. Saat itu ia berinisiatif membeli kapal wisata dengan tujuan melayani pengunjung atau warga yang ingin sembahyang di kelenteng itu.

“Kalau hari biasa, pengunjung hanya minta diantar keliling sekitar kelenteng. Tapi ada juga yang singgah untuk ibadah” ujarnya.

Untuk menaiki kapal wisata miliknya, pengunjung dikenakan tarif Rp25 ribu per orang dengan rute mengelilingi kelenteng. Sedangkan jika singgah ke kelenteng, tarifnya Rp 30 ribu per orang.

“Kalau singgah saya kasih kesempatan antara 15 sampai 30 menit kepada pengunjung untuk menikmati keunikan bahkan panorama di sekitar kelenteng,” jelasnya.

Kelenteng Dharma Bakti Xiao Yi Shen Tang juga biasa disebut Kelenteng Hian Bu Ceng Tua yang berarti kumpulan para dewa. Kelenteng ini dibangun sekitar tahun 1969 dengan bahan kayu ulin atau kayu belian atau kayu besi yang sangat kuat.

Tiang-tiang pancang dari kayu menopang bangunan seluas sekitar 400 meter2 ini sehingga seolah-olah muncul dari dalam laut.  Itu sebabnya orang sering menyebutnya Kelenteng Timbul atau Pekong laut.

Menurut cerita, pekong ini dibangun oleh seorang nelayan yang sebelumnya bermimpi menerima pesan dari dewa untuk membangun tempat ibadah di tengah laut.

Maka dibangunlah pekong tersebut sebagai bakti kepada dewa atau jenderal laut yang selalu mendampingi para nelayan saat mencari ikan.

Tempat ibadah yang dibangun berupa pekong, karena masyarakat Muara Kakap 80 persen merupakan keturunan Tionghoa dari keturunan Tiociu dan Khek (Hakka).

Nenek moyang penduduk di daerah ini berasal dari Guangdong, Tiongkok. Masyarakat Muara Kakap mengidentifikasi diri mereka sebagai Cinday, akronim dari Cina Dayak.

Bangunan kelenteng yang menghadap ke timur ini didominasi warna merah pada atap dan biru untuk dindingnya. Dewa utama atau tuan rumah Pekong Laut ini yakni Guan Gong.

Pada bagian depan bangunan utama terdapat sepasang tiang bermotif naga sebagai penyangga atap. Di bagian atas pintu masuk ada papan nama kelenteng yang bertuliskan aksara kanji (Xiao Yi Shen Tang), yang secara harfiah kira-kira berarti “Kuil Bakti Pada Tuhan”.

Ada tiga pintu masuk menuju ruang dalam kelenteng. Masing-masing pintu terdapat lukisan sepasang dewa pintu, Qin Qiong dan Yuchi Gong, serta Shen Shu dan Yu Lei.

Pada bagian atas bangunan kelenteng juga terdapat simbol-simbol mitologi Tiongkok, misalnya bumbungan yang berjumlah tiga, sebagai perlambang trinitas langit, bumi, dan manusia.

Pada dua bumbungan klenteng itu ada sepasang replika naga putih yang mengapit sebuah mutiara. Naga sendiri merupakan hewan mitologi suci Tiongkok yang melambangkan elemen Yang, dan simbol kekuatan tertinggi serta keberuntungan. Sementara mutiara melambangkan kesehatan dan kesejahteraan.

Pada bagian bumbungan lainnya ada sepasang burung phoenix yang melambangkan elemen Yin, sebagai simbol kebajikan, kebaikan dan kesopanan. (*) Editor : Syahriani Siregar
#pekong laut #destinasi wisata #tempat ibadah #Sungai Kakap #religi