Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kisah Atong Tatto, Jejak Seni dan Perjalanan Hidup di Setiap Goresan

Siti Sulbiyah • Rabu, 4 Februari 2026 | 11:20 WIB
TATO : Atong Tatto salah satu seniman tato dari Kalimantan Barat yang juga menggunakan banyak tato di tubuhnya.
TATO : Atong Tatto salah satu seniman tato dari Kalimantan Barat yang juga menggunakan banyak tato di tubuhnya.

Dian Pangestu pria berusia 36 tahun Kabupaten Monterado, Bengkayang, dikenal luas dengan nama Atong Tatto. Nama ini bukan hanya merujuk pada profesinya sebagai seniman tato, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan hidup yang lekat dengan kesenian melukis di atas tubuh.

Siti Sulbiyah, Pontianak

Sebagai keturunan Dayak Kanayatn, Atong memiliki alasan kuat untuk mengukir tubuhnya dengan tato. Hampir 90 persen tubuhnya dipenuhi tato dengan berbagai motif, tetapi yang paling dominan adalah motif-motif khas Dayak. Motif-motif ini tidak hanya sekadar seni, tetapi juga bagian dari identitas dan cerita hidupnya.

Tato pertama Atong terukir ketika usianya menginjak 22 tahun, setelah sang kakek, seorang temenggung atau pemimpin adat yang sangat dihormati, meninggal dunia. "Pertama itu pasang tato gambar naga di punggung," kata Atong. Tato naga itu menjadi simbol awal perjalanannya dalam dunia seni tato.

Bagi Atong, tato adalah sarana untuk mengekspresikan diri sekaligus melestarikan kebudayaan dayak yang menjadi identitas yang melekat pada dirinya.

Seiring berjalannya waktu, ketertarikannya pada seni tato semakin dalam. Keahliannya menggambar semakin berkembang, dan tahun 2010, Atong mulai membuka jasa tato untuk orang lain.

Sejak saat itu, pesanan tato mulai mengalir deras, bukan hanya tanah lahirnya di Kalimantan Barat, tetapi juga dari berbagai penjuru Indonesia. Ia pernah mendapatkan pelanggan mulai dari Bali hingga Kalimantan Tengah.

Atong yang juga hobi berjalan-jalan, kerap memanfaatkan kesempatan untuk membuka jasanya saat berkunjung ke suatu tempat.

“Misalnya mau ke kota mana, saya umumkan di media sosial. Nanti ada pelanggan dari sana yang request minta buatkan tato,” katanya.

Motif tato yang digambar Atong beragam, tetapi yang paling mencolok adalah motif-motif Dayak yang sarat makna. Tato Dayak, yang banyak terinspirasi dari alam, tumbuhan, binatang, dan kehidupan sehari-hari, menjadi cerminan dari kedalaman budaya dan kepercayaan masyarakat Dayak.

Bagi masyarakat Dayak, tato bukan sekadar hiasan tubuh. Ada yang percaya bahwa tato adalah semacam pelindung, layaknya baju perang.

"Makhluk halus tidak berani mencelakai mereka yang memiliki tato. Ini adalah salah satu keyakinan orang Dayak," jelas Atong.

Tato dianggap sebagai tameng spiritual yang memberikan perlindungan. Bahkan, beberapa orang percaya bahwa tato bisa menjadi obat bagi penyakit-penyakit tertentu.

Seperti banyak hal dalam kehidupan, tato juga mengalami perubahan persepsi. Dulu, tato identik dengan stigma negatif. Dianggap sebagai simbol kejahatan atau perilaku kriminal, tato sering kali dikaitkan dengan aura yang menyeramkan. Namun, seiring waktu, persepsi ini mulai berubah.

Sekarang, tato bukan lagi sekadar simbol, tetapi sudah menjadi bagian dari fesyen dan gaya hidup. Semakin banyak orang yang terbuka dengan tato, menganggapnya sebagai bentuk seni dan ekspresi diri yang sah.

"Sekarang, orang-orang lebih menerima tato. Tato bahkan sudah menjadi fesyen. Para artis hingga publik figur dunia juga tampak menggunakan tato di tubuhnya," ungkap Atong.

Seiring perubahan ini, Atong merasa bangga karena dapat memperkenalkan seni tato Dayak kepada masyarakat luas, bahkan di luar Kalimantan. Karya-karya tato yang dilukisnya kini tak hanya mencerminkan kecintaan pada budaya Dayak, tetapi juga menjadi jembatan antara seni tradisional dan modernitas. **

Editor : Hanif
#seniman tato #Tato Dayak #tatto #karya seni #budaya