Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Melihat Terapi Asmaul Husna Saat Ramadan di Lapas Pontianak, Warga Binaan Bangkitkan Harapan Lewat Penyembuhan Jiwa

Siti Sulbiyah • Kamis, 26 Februari 2026 | 10:27 WIB

TERAPI: Warga binaan Lapas Kelas IIA Pontianak mengikuti Terapi Asmaul Husna di masjid lapas sebagai bagian dari pembinaan keagamaan selama Ramadan untuk menumbuhkan ketenangan batin dan harapan baru.
TERAPI: Warga binaan Lapas Kelas IIA Pontianak mengikuti Terapi Asmaul Husna di masjid lapas sebagai bagian dari pembinaan keagamaan selama Ramadan untuk menumbuhkan ketenangan batin dan harapan baru.

Di Bulan Ramadan Warga binaan Lapas Kelas IIA Pontianak menjalani Terapi Asmaul Husna sebagai upaya memulihkan luka batin dan membangun kesadaran diri melalui pendekatan spiritual. Program ini menjadi bagian dari pembinaan keagamaan yang bertujuan menumbuhkan ketenangan jiwa, pengendalian emosi, dan harapan baru selama masa pembinaan.

SITI SULBIYAH, Pontianak

Sekira 50 penghuni Lapas Kelas IIA Pontianak tampak duduk bersila di masjid lapas pada Jumat (20/2) pagi itu. Saf-saf terisi rapi. Mereka melafalkan nama-nama baik Allah dengan khusyuk, bukan sekadar menghafal, tetapi juga berupaya memahami dan meresapi maknanya.

Para warga binaan mengikuti Terapi Asmaul Husna yang digelar Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Barat. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembinaan keagamaan yang rutin dilaksanakan di lapas tersebut.

Samsul Hidayat memperkenalkan pendekatan penyembuhan jiwa berbasis spiritualitas Islam ini. Menurutnya, banyak persoalan batin manusia tidak semata-mata bersumber dari gangguan psikologis, melainkan dari keterputusan dengan sumber makna terdalam, yakni Tuhan.

“Banyak orang lelah bukan karena hidupnya paling berat, tetapi karena tidak lagi tahu untuk apa ia hidup,” ujar orang yang juga dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak itu.

Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Kota Pontianak tersebut menjelaskan, Terapi Asmaul Husna lahir dari kegelisahan tersebut. Pendekatan ini memandang nama-nama Allah bukan sekadar bacaan zikir, melainkan sebagai peta nilai yang menuntun manusia menata ulang cara berpikir, merasakan, dan bertindak.

“Zikir tidak berhenti di lisan. Ia harus masuk ke kesadaran, lalu membentuk karakter,” katanya.

Ia menegaskan bahwa terapi ini tidak bertujuan menggantikan pendekatan psikologi modern, melainkan melengkapinya dengan dimensi spiritual yang sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia yang religius. Dalam kerangka ini, penyembuhan tidak hanya dimaknai sebagai hilangnya kecemasan atau kemarahan, tetapi sebagai rekonstruksi makna diri, dari identitas yang rapuh menuju identitas yang berakar pada nilai ilahiah.

Lebih jauh ia menjelaskan, secara konseptual Terapi Asmaul Husna bekerja melalui tiga lapis kesadaran. Lapisan pertama adalah kesadaran ilahiah. Pada tahap ini, individu diajak menyadari bahwa Allah hadir, mengetahui, dan membimbing kehidupannya. Kesadaran ini melahirkan rasa aman eksistensial, yakni keyakinan bahwa hidup tidak berjalan secara acak.

“Ketika seseorang benar-benar menyadari bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengurus, beban batin biasanya langsung berkurang,” ujarnya.

Seseorang yang cemas tentang masa depan, misalnya, diarahkan untuk merenungi Al-‘Alīm (Maha Mengetahui) dan Al-Wakīl (Maha Mengurus). Dari perenungan itu muncul sikap batin bahwa Tuhan lebih mengetahui apa yang dibutuhkan daripada apa yang diinginkan. “Sikap inilah yang perlahan menenangkan pikiran,” tuturnya.

Lapisan kedua adalah transformasi batin. Pada tahap ini, setiap nama Allah berfungsi sebagai cermin perbaikan diri. Individu belajar mengganti pola batin yang destruktif dengan orientasi nilai yang konstruktif. Ar-Rahmān dihayati untuk melembutkan hati, Al-‘Adl untuk berdamai dengan diri sendiri, Al-Halīm untuk melatih kesabaran, dan Al-Hakīm untuk menumbuhkan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

“Transformasi ini tidak instan. Namun, jika dilakukan secara konsisten, kualitas emosi seseorang akan berubah, dari reaktif menjadi reflektif, dari impulsif menjadi sadar,” jelasnya.

Lapisan ketiga adalah integrasi dalam perilaku. Nilai yang direnungkan harus tampak dalam tindakan nyata. Menghayati As-Samī‘ mendorong seseorang menjadi pendengar yang baik. Menghayati Al-Karīm membiasakan memberi tanpa merendahkan. Menghayati Al-Halīm membantu menahan diri saat marah. Pada tahap ini, terapi tidak lagi berhenti pada sesi atau latihan, tetapi menjadi gaya hidup.

Terapi ini digunakan untuk membantu narapidana menghadapi rasa bersalah, kemarahan, trauma, dan kecemasan. Nama-nama Allah seperti Al-Ghafūr (Maha Pengampun) dan Ar-Rahīm (Maha Penyayang) menjadi fokus refleksi.

“Banyak warga binaan membawa luka masa lalu dan kebencian terhadap diri sendiri. Mereka merasa hidupnya sudah hancur. Di sini, kami ajak mereka melihat bahwa pintu ampunan selalu terbuka,” ujarnya.

Hasil pendampingan menunjukkan perubahan yang cukup nyata. Sejumlah warga binaan mulai lebih tenang, mampu mengendalikan emosi, dan menunjukkan motivasi untuk memperbaiki diri. Interaksi sosial di dalam lapas pun menjadi lebih kondusif.

Baginya, perubahan kecil tersebut merupakan indikator penting. “Terapi ini tidak menjanjikan keajaiban. Yang kami bangun adalah kesadaran. Dari kesadaran itulah perubahan bertumbuh,” katanya.

Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PW Muhammadiyah Kalbar, Aswan Bahri, menjelaskan bahwa Terapi Asmaul Husna mulai diterapkan sekitar enam bulan terakhir di lapas tersebut. “Kami tidak hanya datang memberi materi, tetapi juga membekali mereka dengan buku agar setelah sesi selesai, mereka tetap bisa melanjutkan secara mandiri,” ujarnya.

Khusus pada bulan Ramadan, terapi ini mendapat perhatian lebih. Pihak lapas secara khusus meminta agar kegiatan tersebut digelar kembali selama bulan suci. Ramadan dinilai sebagai momentum yang tepat untuk memperkuat refleksi diri dan memperbaiki hubungan spiritual. Selama Ramadan, terapi dijadwalkan empat kali, setiap Jumat.

Program pembinaan keagamaan ini merupakan kerja sama antara LDK PW Muhammadiyah Kalbar dan Lapas Kelas IIA Pontianak. Kegiatan rutin digelar setiap Jumat pukul 09.00–10.30 WIB dengan narasumber yang bergantian dari berbagai unsur Muhammadiyah, termasuk Terapi Asmaul Husna.

Aswan berharap, Terapi Asmaul Husna dapat membantu warga binaan memperkuat ketenangan batin, mengurangi beban psikologis, serta menumbuhkan harapan baru dalam menjalani proses pembinaan. (**)

Editor : Hanif
#asmaul husna #pembinaan spiritual #ramadan #pontianak #pemulihan #Lapas Kelas IIA #warga binaan