War takjil di Putussibau bukan sekadar perburuan makanan berbuka, tetapi juga ruang perjumpaan yang menghidupkan ekonomi UMKM dan mempererat persaudaraan lintas agama. Di tengah hiruk pikuk senja Ramadan, semua orang berdiri setara di depan lapak takjil, berbagi tawa, rezeki, dan kebersamaan.
TAUFIK, Putussibau
MENJELANG azan magrib, jalanan di sekitar pusat kota berubah menjadi pasar dadakan. Barisan meja kayu dipenuhi gorengan, kolak, es buah, hingga kue tradisional. Inilah momen yang selalu dinanti setiap Ramadan: war takjil, tradisi berburu kudapan berbuka yang bukan hanya menggerakkan ekonomi kecil, tetapi juga menyatukan warga lintas agama di Putussibau.
Tanpa aba-aba resmi, semua orang paham aturan mainnya: siapa cepat, dia dapat. Tak ada jarak sosial di depan lapak takjil. Laki-laki dan perempuan, pegawai kantoran dan mahasiswa, Muslim maupun non-Muslim, semua berdiri sejajar memilih makanan kesukaan mereka.
Suasana itu terasa kental di sekitar Masjid Darussalam Putussibau, Kelurahan Kedamin Hilir, Kecamatan Putussibau Selatan, Selasa (3/3) sore. Para pedagang berjejer menata dagangan, sementara pemburu takjil—sebagian masih mengenakan pakaian kerja—hilir mudik menenteng kantong plastik berisi kudapan berbuka.
Di tengah keramaian itu, Ani tampak sibuk melayani pembeli. Ia menjajakan gorengan, kue basah, dan kolak sejak pukul 15.00 WIB. Menjelang waktu berbuka, dagangannya hampir habis. “Kalau sudah dekat magrib memang tinggal sedikit. Biasanya sisa kolak pisang, tapi hari ini alhamdulillah habis semua,” kata Ani.
Ani bukan pedagang penuh waktu. Ia memanfaatkan bulan Ramadan untuk menambah penghasilan. Selama tiga tahun terakhir, ia selalu membuka lapak takjil dan merasa yakin dagangannya tak pernah sepi pembeli. “Sering juga teman-teman non-Muslim yang beli dan langsung makan di sini,” ujarnya sambil tertawa. “Tidak masalah, semua boleh menikmati suasana Ramadan.”
Pedagang lain, Angga, menyebut antusiasme masyarakat selalu tinggi. Selain makanan tradisional seperti kolak, kue, dan gorengan, kini jajanan viral ikut meramaikan lapak-lapak takjil. “Tradisi ini jadi potret kebersamaan. Cerita kecil yang hangat, penuh tawa dan kebahagiaan sederhana yang selalu dirindukan setiap tahun,” katanya.
Bagi warga, war takjil sudah menjadi agenda wajib Ramadan. Alfi, salah seorang pemburu takjil, mengaku momen ini hanya bisa dirasakan setahun sekali dan selalu dinanti keluarganya. “Biasanya mulai ramai sejak pukul empat sore sampai menjelang azan magrib,” ujarnya.
Ia bahkan pernah mengalami momen tak terlupakan ketika waktu berbuka tiba sementara takjil belum sempat dibawa pulang. “Akhirnya buka puasa langsung di pasar takjil. Seru juga, kadang pedagang memberi takjil yang tidak habis,” tuturnya.
Yohanes, warga Putussibau yang tidak menjalankan puasa Ramadan, juga tampak sibuk membungkus gorengan dan minuman segar. “Kami yang Kristen duluan beli, biar yang puasa kebagian,” katanya berseloroh.
Ia mengaku senang berburu takjil karena banyak makanan khas yang jarang ditemui di hari biasa, terutama aneka kolak yang menjadi favoritnya. Hal serupa disampaikan Andreas, ASN di Pemkab Kapuas Hulu. Setiap sore sekitar pukul 15.00 WIB, ia dan rekan-rekannya menyempatkan diri mencari takjil setelah pekerjaan kantor selesai.
“Biasanya kami ke Masjid Darussalam dan Masjid Agung Putussibau,” ujarnya. Meski tidak berpuasa, kehadiran mereka justru disambut para pedagang. “Yang penting dagangan habis. Pedagang senang, kami juga senang,” pungkasnya.
War takjil di Putussibau bukan sekadar perburuan makanan berbuka. Ia menjadi ruang perjumpaan, tempat perbedaan melebur dalam satu tujuan sederhana: menikmati senja Ramadan dengan rasa kebersamaan. (**)
Editor : Miftahul Khair