Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Ramadan Menghidupkan Suasana Jalanan Kubu Raya, Tradisi Berburu Takjil Hangatkan Warga dan Gerakkan Ekonomi

Deny Hamdani • Selasa, 10 Maret 2026 | 10:58 WIB

 

JUAL TAKJIL: Penjual takjil perempuan dari kalangan generasi Z melayani pembeli di lapak pinggir jalan di Sungai Raya, Kubu Raya, menjelang magrib. Ramadan menjadi momentum anak muda ikut menggerakkan
JUAL TAKJIL: Penjual takjil perempuan dari kalangan generasi Z melayani pembeli di lapak pinggir jalan di Sungai Raya, Kubu Raya, menjelang magrib. Ramadan menjadi momentum anak muda ikut menggerakkan

Ketika senja turun, jalanan di Sungai Raya, Kubu Raya berubah ramai. Warga datang bukan hanya mencari takjil, tetapi juga suasana Ramadan.

DENY HAMDANI, Kubu Raya

Hujan baru saja reda di Jalan Adisucipto, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya pada Senin (9/3) sore kemarin. Aspal yang basah memantulkan cahaya senja, sementara warga kembali memadati tepi jalan untuk berburu takjil. Ramadan 1447 Hijriah pada 2026 kembali menghidupkan tradisi yang selalu dinanti itu.

Selama 18 hari terakhir, kawasan Jalan Adisucipto, Ayani, hingga gang-gang kecil seperti Parit Bugis dipadati warga menjelang magrib. Meja-meja lipat para pedagang dadakan berjajar di tepi jalan, dipayungi terpal biru dan payung sederhana.

Aneka kue tradisional tertata rapi. Ada klepon berbalut kelapa parut, dadar gulung berisi kelapa manis, kue cucur yang legit, nagasari, bolu kukus, hingga lepat pisang dan lepat ubi. Di sampingnya, deretan gorengan berwarna keemasan masih mengepul dari wajan panas.

Tak jauh dari sana, botol sirup markisa berjajar di atas meja. Es campur dan es buah tampak berkilau diterpa cahaya senja, sementara kurma berbagai jenis tersusun dalam kotak plastik bening.

“Saya sengaja datang dari Pontianak ke Parit Bugis untuk mencicipi klepon dan dadar gulung Bu Ira. Rasanya autentik,” kata Dita, seorang pelajar yang rela mengantre di depan gerobak kayu bercat hijau yang sudah belasan tahun mangkal di lokasi itu.

Di sudut lain, Pak Joko tak henti melayani pembeli. Sejak pukul tiga sore, pedagang gorengan itu sibuk membalik bakwan dan tahu isi sambil mengemas pesanan.

“Pendapatan bisa naik 80 sampai 150 persen selama Ramadan. Biasanya sebelum magrib sudah habis,” ujarnya sambil tersenyum.

Kubu Raya, khususnya Kecamatan Sungai Raya, dihuni masyarakat dari berbagai etnis: Melayu, Dayak, Bugis, Tionghoa, Jawa, hingga suku-suku lain. Ramadan pun menjadi ruang pertemuan rasa dan budaya.

Ketupat kandangan khas Melayu dijajakan berdampingan dengan lontong sayur Jawa. Di kedai Tionghoa Muslim, bakso dan mi ayam tetap menjadi primadona, bersisian dengan kue-kue tradisional yang diwariskan lintas generasi.

Baca Juga: Edi Kamtono Ajak ASN Teladani Budaya Berzakat untuk Perkuat Solidaritas Sosial di Pontianak

Dalam satu antrean yang sama, seorang ibu berhijab memilih bubur pedas, sementara di belakangnya seorang pria keturunan Tionghoa membeli es buah. Tidak ada sekat. Semua menunggu giliran dengan sabar.

Bagi Ardiansyah, tokoh pemuda setempat, suasana itu lebih dari sekadar transaksi. “Berburu takjil jadi ajang silaturahmi. Kami bertemu teman lama, saudara, dan tetangga. Bahkan banyak non-Muslim datang hanya untuk merasakan suasana Ramadan,” katanya.

Di tengah keramaian itu, sekelompok anak muda terlihat membagikan selebaran bertuliskan “Sedekah Takjil”. Di depan Masjid Al-Fatwa, mereka membagikan paket berbuka gratis kepada pengendara dan pejalan kaki.

“Kami ingin memastikan tak ada yang berbuka hanya dengan air putih. Semua berhak merasakan manisnya Ramadan,” ujar Akbar, koordinator kegiatan tersebut. (**)

 

Editor : Hanif
#berburu takjil #Ramadan 2026 #sungai raya #kubu raya #tradisi