Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menjaga Ramuan, Menopang Kehidupan: Perempuan Desa Sekabuk Menjaga Alam dan Tradisi

Ashri Isnaini • Kamis, 26 Maret 2026 | 09:25 WIB

 

MERACIK: Susana meracik bahan tanaman obat di rumahnya di Dusun Sekabuk, Sadaniang, Mempawah.
MERACIK: Susana meracik bahan tanaman obat di rumahnya di Dusun Sekabuk, Sadaniang, Mempawah.

Susana bukan hanya mewariskan sekadar ramuan, melainkan cara membaca kehidupan. Di Dusun Sekabuk, ia menjaga alam bukan sebagai sumber, melainkan hubungan yang dirawat.

ASHRI ISNAINI, Mempawah

Langit di Dusun Sekabuk, Desa Sekabuk, Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah, Kamis (12/3), belum sepenuhnya gelap ketika Susana menapaki batas hutan.

Tak ada keranjang, tak ada alat khusus. Perempuan 45 tahun itu hanya mengandalkan ingatan tentang bentuk daun, arah tumbuh akar, hingga aroma yang menandai khasiat.

Beberapa jam sebelumnya, Susana masih berada di kantor desa, menjalankan tugas sebagai aparatur pemerintah desa. Namun, bagi ibu enam anak itu, pekerjaan tak berhenti saat jam dinas usai. Di sela waktu pulang, ia bergegas menuju kebun dan hutan, mencari bahan-bahan yang kelak menjadi ramuan.

“Kalau ada waktu, saya cari bahan atau ramuan obat,” katanya singkat.

Di balik kalimat sederhana itu tersimpan kerja panjang, perpaduan tenaga fisik dan pengetahuan yang ia rawat sejak kecil.

Warisan yang Hidup

Susana tak pernah belajar dari buku. Ia belajar dari orang tuanya, dari kebiasaan yang diulang bertahun-tahun. Sejak usia sembilan tahun, ia sudah diajak masuk hutan, mengenali tanaman satu per satu. Pengetahuan itu diwariskan tanpa catatan, hanya melalui ingatan.

Kini, ia melakukan hal serupa kepada anak-anaknya. Mereka diajak menyusuri kebun, diperkenalkan pada berbagai jenis tanaman yang menjadi bahan utama ramuan. “Biar mereka tahu,” ujarnya.

Di Sekabuk, praktik pengobatan tradisional masih hidup. Ketika seseorang mengalami patah tulang, pilihan tak selalu berujung ke rumah sakit. Banyak warga tetap memercayai pengobatan berbasis ramuan.

Aturan yang Dijaga

Di antara belasan tanaman yang diracik, ada satu jenis yang dianggap paling penting. Tanaman itu menjadi kunci pengobatan patah tulang. Cara mengambilnya pun tak bisa sembarangan. Menurut Susana, tanaman itu tidak boleh dipetik dengan tangan, melainkan harus dengan mulut.

“Itu aturannya,” katanya. Ia tak mempertanyakan hal tersebut. Baginya, aturan itu bagian dari tradisi yang harus dijaga.

Setelah bahan terkumpul, proses panjang dimulai di rumah. Akar dan daun dicuci, dicincang, lalu dijemur hingga kering. Setelah itu, disangrai, ditumbuk halus, dan dikemas. Prosesnya bisa memakan waktu berhari-hari.

Dalam sekali produksi, Susana mampu menghasilkan 30 hingga 50 bungkus ramuan. Harga per bungkus kini Rp25 ribu. Pembelinya datang tidak hanya dari desa, tetapi juga dari Pontianak, Singkawang, Sintang, dan sejumlah wilayah lain di Kalimantan Barat.

Ramuan itu digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari melancarkan haid, pemulihan pascamelahirkan, hingga mengatasi kelelahan. Namun, yang paling dikenal adalah untuk patah tulang.

Bagi Susana, hasil penjualan ramuan menjadi tambahan penting bagi ekonomi keluarga. “Lumayan untuk bantu kebutuhan,” ujarnya.

Namun, pekerjaan Susana kini tak lagi semudah dulu. Hutan yang dahulu dekat kini banyak berubah menjadi kebun sawit. Tanaman obat semakin sulit ditemukan. “Sekarang agak susah,” ucapnya.

Alih-alih mengeluh, ia memilih menanam. Di lahan miliknya yang luasnya lebih dari satu hektare, ia mulai membudidayakan berbagai tanaman obat. Sebagian ditanam di pekarangan rumah, sebagian di kebun.

Langkah itu menjadi cara bertahan sekaligus upaya menjaga agar tanaman obat tidak hilang. Ia tidak hanya meracik, tetapi juga merawat sumbernya.

Dukungan Desa

Upaya seperti yang dilakukan Susana mendapat perhatian dari pemerintah desa. Kepala Desa Sekabuk, Andas Saputra, menilai pengobatan tradisional merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat. “Ini sudah turun-temurun, dari nenek moyang,” ujarnya.

Menurutnya, sejak lama warga Sekabuk mengandalkan ramuan alami, termasuk untuk pengobatan patah tulang. Selain faktor budaya, pengobatan tradisional juga dinilai lebih terjangkau. “Secara ekonomi sangat membantu masyarakat,” katanya.

Pemerintah desa juga berupaya menjaga sumber tanaman obat dengan mempertahankan kawasan pegunungan sebagai hutan lindung. Penebangan dibatasi dan ekspansi sawit tidak diperbolehkan di kawasan tersebut.

“Di pegunungan itu kami jaga. Tidak ada sawit,” tegasnya. Selain itu, masyarakat didorong menanam tanaman obat di lahan masing-masing sebagai cadangan.

Perempuan di Garda Depan

Menariknya, kata Andas, peran terbesar justru datang dari perempuan. Di Sekabuk, sekitar 80 persen anggota kelompok tani adalah perempuan. Mereka aktif di sektor pertanian sekaligus menjaga tanaman obat. “Perempuan di sini memang paling cepat bergerak,” kata Andas.

Peran ganda sebagai ibu rumah tangga dan pengelola lahan membuat perempuan menjadi tulang punggung dalam menjaga ketahanan keluarga, baik dari sisi pangan maupun kesehatan.

Apa yang dilakukan Susana menjadi gambaran nyata. Ia tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga membantu ekonomi keluarga.

Perubahan lingkungan tak bisa dihindari. Ekspansi sawit membuat hutan menyusut, sumber tanaman obat berkurang, dan pola hidup masyarakat ikut berubah. Namun, di tengah tekanan itu, Susana tetap bertahan. Ia terus meramu, menanam, dan mengajarkan.

Baginya, ramuan bukan sekadar obat, melainkan pengetahuan sekaligus cara hidup. Menjelang malam, Susana kembali ke rumah. Di halaman, berbagai tanaman tumbuh—sebagian rapi, sebagian liar. Namun, di situlah ia menjaga keseimbangan. “Semoga tidak punah,” ujarnya.

Harapan yang sederhana, tetapi di tengah perubahan yang cepat, harapan itu menjadi pekerjaan panjang yang kini dipikul oleh perempuan-perempuan desa seperti Susana.

Sebuah riset Feminist Participatory Action Research (FPAR) yang dilakukan pada pertengahan Januari 2026 di Desa Sekabuk dan Desa Suak Barangan, Kecamatan Sadaniang, menunjukkan hal tersebut. Penelitian bertajuk “Advokasi Sepiring Nasi: Membaca Pengetahuan Lokal Perempuan Sadaniang di Tengah Krisis Ekologis dan Isu Ekstraktif” mengungkap bagaimana perempuan menjadi aktor penting dalam menghadapi perubahan lingkungan.

Riset tersebut difasilitasi Forum Aktivis Perempuan Muda (FAMM Indonesia) dengan dukungan Gemawan. Perwakilan FAMM Kalimantan Barat, Caroline, menjelaskan pendekatan FPAR menempatkan perempuan sebagai subjek utama.

“Perempuan diajak merefleksikan pengalaman mereka. Dari situ terlihat mereka punya pengetahuan dan kekuatan besar untuk memperjuangkan kelangsungan hidup,” ujarnya.

Pegiat Gemawan, Ageng, melihat perempuan desa memiliki daya tahan tinggi. Ketika kondisi berubah, mereka beradaptasi dengan mencari penghasilan tambahan, menjaga sumber pangan, hingga merawat pengetahuan lokal.

Menurutnya, perubahan ekologis memang nyata. Ekspansi sawit membuat hutan menyusut, sungai tercemar, dan sumber pangan alami semakin sulit ditemukan. Pola konsumsi masyarakat pun berubah, dari hasil hutan ke makanan instan.

Di tengah situasi itu, apa yang dilakukan Susana menjadi semacam penyeimbang. Ia tetap meramu, menanam, melestarikan, dan mengajarkan kepada generasi selanjutnya.

Di tangan perempuan desa itu, tradisi tidak diwariskan lewat buku atau lembaga, melainkan hidup dalam praktik sehari-hari—dalam langkah ke hutan, dalam racikan di dapur, dan dalam ajaran kepada anak-anaknya. “Semoga tradisi ini tidak punah,” imbuhnya. (**)

Editor : Hanif
#Lindungi Alam #Perempuan desa #obat #Desa Sekabuk #Pengetahuan #ramuan