Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Orang Tua Sering Bertengkar Bisa Picu Depresi Pada Anak

C
Penulis: Chairunnisya❯
Ilustrasi anak menutup telinga saat mendengar orangtuanya bertengkar (freepik.com)
Ilustrasi anak menutup telinga saat mendengar orangtuanya bertengkar (freepik.com)

Advertisement

PONTIANAK POST – Konflik merupakan bumbu yang lumrah dalam kehidupan rumah tangga. Namun, jika tidak dikelola dengan kepala dingin, perselisihan tersebut dapat memicu pertengkaran hebat yang terjadi di mana saja, bahkan di hadapan anak. Tanpa disadari, kebiasaan ini membawa dampak sistemik yang buruk bagi perkembangan mental buah hati.

Psikolog Yeni Sukarini, S.Psi, menjelaskan bahwa pada dasarnya anak memiliki ambang toleransi tertentu. Jika mereka hanya sesekali melihat orang tuanya berselisih pendapat, hal itu mungkin belum menjadi masalah besar.

“Terlebih jika setelah bertengkar orang tua bisa menormalkan kembali suasana dan memberikan penjelasan atau pelajaran positif bagi anak,” ujar Yeni.

Advertisement

Namun, situasinya akan menjadi alarm bahaya jika intensitas pertengkaran tergolong sering, apalagi jika orang tua membiarkan anak dalam kebingungan tanpa memberikan penjelasan pascapertengkaran.

Menghambat Perkembangan dan Memicu Kebencian

Menurut Yeni, dampak pertama yang paling nyata adalah terhambatnya perkembangan psikologis anak yang akan terbawa hingga usia remaja dan dewasa. Anak cenderung merasa terjepit dan bingung harus memilih berpihak kepada siapa di antara kedua orang tuanya.

Advertisement

Dampak kedua, anak berisiko menumbuhkan rasa benci kepada salah satu atau kedua orang tuanya. 

“Misalnya, jika sang ayah melakukan kekerasan fisik kepada ibunya. Padahal, anak diajarkan bahwa memukul itu salah,” ungkap Yeni.

Bagi anak kecil, seseorang yang melakukan perbuatan tidak baik akan dicap sebagai sosok yang jahat, meskipun itu orang tuanya sendiri.


Rumah Tak Lagi Jadi Tempat yang Nyaman

Dampak ketiga adalah hilangnya rasa nyaman di dalam rumah. Pertengkaran yang terus-menerus membuat anak merasa rumah bukan lagi pelindung bagi mereka. Akibatnya, anak akan mencari pelarian dengan memilih tinggal di rumah kerabat lain, seperti rumah nenek.

Lebih mengkhawatirkan lagi, ketidaknyamanan ini bisa mendorong anak mencari kesenangan di luar rumah melalui perilaku negatif. 
“Anak bisa menjadi arogan, terlibat perkelahian, mencoba merokok, atau melakukan kenakalan remaja lainnya sebagai bentuk pelampiasan,” jelas Yeni.

Advertisement

Artikel Terkait

Terpisah Kota, Orang Tua Bisa Tetap Dekat dengan Anak Lewat Cara Sederhana

Terpisah Kota, Orang Tua Bisa Tetap Dekat dengan Anak Lewat Cara Sederhana

Psikolog menjelaskan cara membuat pengasuhan jarak jauh tetap bermakna melalui aktivitas sederhana dan interaksi sesuai minat anak.

Cara Sederhana Mengajarkan Anak Memilih, Bernegosiasi, dan Bertanggung Jawab

Cara Sederhana Mengajarkan Anak Memilih, Bernegosiasi, dan Bertanggung Jawab

Anak dapat belajar mandiri melalui pilihan sederhana, percakapan, pemecahan masalah, dan kesempatan bertanggung jawab.

Psikolog Ungkap Hobi Membantu Lansia Lawan Kesepian dan Menjaga Kesehatan Mental di Masa Pensiun

Psikolog Ungkap Hobi Membantu Lansia Lawan Kesepian dan Menjaga Kesehatan Mental di Masa Pensiun

Psikolog menjelaskan hobi membantu lansia melawan kesepian, menjaga kesehatan mental, dan tetap aktif di masa pensiun.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer