
PONTIANAK POST - Banyak orang tua ingin anak tumbuh mandiri, percaya diri, dan tangguh. Namun tanpa disadari, pola asuh yang diterapkan justru bisa menjadi penghambat utama terbentuknya kemandirian.
Psikolog Yanuvari Mutik Megawati, MPsi, menjelaskan bahwa kesalahan yang paling sering terjadi adalah pola asuh overprotektif dan terlalu mengontrol.
Menurutnya, pola asuh overprotektif biasanya berangkat dari niat baik, yakni melindungi anak dari kesulitan. Namun, sikap ini justru membuat anak kehilangan kesempatan belajar menghadapi masalah.
“Orang tua terlalu cepat membantu atau langsung mengambil alih saat anak menghadapi kesulitan. Akibatnya, anak tidak belajar menyelesaikan masalah sendiri,” ujarnya, dikutip dari Jawapos.
Padahal, proses mencoba, gagal, lalu memperbaiki diri merupakan bagian penting dalam membentuk kemandirian. Anak juga perlu diajak berdiskusi, bukan sekadar menerima keputusan dari orang tua.
Sebabkan Kepercayaan Diri Rendah
Selain itu, pola asuh yang terlalu mengontrol atau controlling parenting juga berdampak besar. Dalam pola ini, orang tua cenderung menerapkan aturan kaku dan menentukan hampir semua aspek kehidupan anak.
Akibatnya, anak tidak terbiasa mengambil keputusan sendiri. Mereka menjadi bergantung, takut mencoba hal baru, mudah menyerah, dan selalu membutuhkan bantuan.
“Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memicu rendahnya kepercayaan diri, kecemasan, hingga emosi yang mudah meledak,” jelas Yanuvari.
Jadi Kurang Mandiri
Anak yang kurang mandiri juga cenderung menghindari tanggung jawab dan kesulitan menghadapi tantangan. Bahkan, mereka bisa merasa kalah sebelum mencoba dan berkembang menjadi pribadi yang pasif.
Padahal, kemandirian tidak terbentuk secara instan. Kemampuan ini mulai berkembang sejak usia 18 bulan hingga tiga tahun, saat anak belajar mengontrol diri dan mulai berani menentukan pilihan.



