Oleh: Ghea Lidyaza Safitri
Fisioterapis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soedarso Pontianak, Agustinus Hendro Ellyantoro, S.Si, FT menjelaskan kehamilan dan persalinan menyebabkan banyak perubahan pada tubuh. “Antara lain perubahan pada otot dinding perut atau abdomen yang makin membesar, seiring dengan bertambah besarnya pertumbuhan janin,” kata Agustinus.
Perubahan post partum pada musculoskeletal dapat disebabkan oleh karena besarnya diastasis rectus abdominis akibat kehamilan, sehingga mengurangi support dari otot abdomen. Kendornya otot abdomen ini akan bertambah sesuai dengan jumlah kehamilan. Demikian juga dengan otot-otot dasar panggul dan otot liang senggama akan mengalami pembesaran atau pelonggaran dari bentuk awalnya.
Kondisi otot yang mengendor ini dapat kembali normal ke bentuk semula lewat latihan yang dikenal dengan post natal exercise. Post natal exercise adalah exercise yang dilakukan paska persalinan dengan tujuan meningkatkan kembali kekuatan otot-otot yang mengalami peregangan selama masa kehamilan.
“Semua otot abdominal perlu diberikan exercise. Tujuannya untuk mengembalikan ke bentuknya semula dan meningkatkan kekuatannya,” ujarnya.
Namun yang paling penting adalah otot transversus abdominis yang besar peranannya pada stabilitas pelvis. Post natal exercise dilakukan dari gerakan yang paling sederhana hingga yang tersulit. Dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan kondisi ibu. Dengan demikian diharapkan terjadinya proses fisiologi yang dapat mengembalikan kondisi otot ibu seperti sebelum hamil.
Fisioterapis sebagai salah satu tenaga kesehatan juga dapat turut berperan dalam tim yang menangani pasien dengan kondisi post partum. Pelayanan fisioterapi obstetri gynecologi tidak hanya dapat diberikan pada pre atau post melahirkan. Namun, juga saat kondisi kehamilan dan pada kasus-kasus penyakit yang berhubungan dengan organ wanita.
Beberapa pelayanan pada kondisi hamil yang diberikan, misalnya senam prenatal, penanganan keluhan nyeri pinggang, keluhan kram pada betis, varises dan lainnya. Pada kondisi post natal (melahirkan) misalnya senam nifas, latihan pasca operasi caesar, latihan otot dasar panggung, latihan transfer ambulansi dan pasca kelahiran.
“Sedangkan pada kasus gynecologi misalnya adnexitis, shalfingitis, infertilitas, sebagai pendukung tetapi medikamentosa,” jelasnya.
Agustinus menambahkan pelayanan fisioterapi pada kasus gynecologi yang diberikan harus sesuai rujukan dari dokter obsygn. Sehingga, tidak boleh diberikan secara sembarangan. Pelayanan fisioterapi obstetri gynecologi memiliki beragam manfaat.
“Manfaat dari pelayanan fisioterapi obstetri gynecologi sendiri adalah untuk memperlancar persalinan, mencegah komplikasi pasca persalinan normal atau operasi, dan mempercepat pemulihan gerak dan fungsi tubuh serta memperbaiki atau menghilangkan keluhan. Seperti nyeri, kelemahan otot dan lainnya,” ungkapnya.
Pada pelayanan fisioterapi obstetri gynecologi gerakan yang diberikan menyesuaikan keluhan dan permasalahan fisioterapi yang ditemukan.
“Pada kasus tertentu dapat diberikan modalitas fisioterapi misalnya infra red, TENS atau diathermi, seperti halnya pada kasus adnexitis atau shalfingitis,” pungkasnya. **
Editor : Ari Aprianz