Oleh: Siti Sulbiyah
Sebut saja namanya Mirella. Perempuan berusia 33 tahun ini menikah dengan teman SMA-nya. Namun, dia tak berpacaran dari SMA. Setelah lulus sekolah dari salah satu SMA negeri di Kota Pontianak, keduanya bertemu kembali ketika sama-sama sudah memiliki pekerjaan. Sang suami bekerja di sebuah BUMN.
“Saat SMA, tidak ada yang aneh dari suami (sekarang mantan suami, red) saya,” ujarnya.
Keanehan dan kejanggalan mulai terlihat selepas Mirella menikah dengan suaminya. Selama enam bulan dia tidak pernah diberi nafkah batin oleh suaminya. Saat Mirella mendekatinya, dengan berbagai alasan suaminya menjauh.
“Sampai hampir enam bulan seperti itu,” katanya.
Namun, ada hal yang membuat Mirella curiga. Suaminya memiliki sebuah telepon genggam yang selalu dibawa kemana-mana. Sampai ke toilet pun dibawa juga. Bahkan, saat tidur, telepon tersebut selalu berada di sampingnya.
Suatu ketika, suami terlelap nyenyak karena baru pulang dari luar kota. Mirella nekad mengambil handphone kesayangan suaminya. Saat coba dibuka, telepon tersebut terkunci. Dia pun mencoba-coba berbagai password, dan ternyata berhasil. Betapa terkejutnya Mirella, di dalam terdapat obrolan mesra dengan seseorang. Lebih terkejut lagi, ternyata orang tersebut adalah pria.
Dengan tangan bergegar Mirella membawa handphone tersebut kepada temannya. Dia meminta sang teman menyalin semua isinya. Dari situ terbongkar, bahwa suaminya adalah penyuka sesama jenis. Akhirnya Mirella pun menyampaikan permasalahannya kepada keluarganya. Mereka pun mengajukan pembatalan pernikahan.
Mirella merasa sangat kecewa. Sebab, dia menduga bahwa ketika keluarga suaminya mengetahui penyimpangan seksual tersebut.
“Jadi pernikahan ini hanya seperti menutupi penyimpangan itu saja,” ungkapnya.
Tak hanya Mirella. Sebut saja Sonia, juga mengalami nasib yang sama. Perempuan yang tinggal di Kabupaten Kubu Raya ini juga menikah dengan seorang pegawai bank di Kota Pontianak.
“Awalnya dia suka datang ke rumah bertemu ayah saya. Kebetulan ayah guru mengaji,” ujarnya.
Setelah beberapa kali bertemu, pria tersebut melamar Sonia. Sang ayah pun menerima. Namun, Sonia merasa bingung karena setelah menikah sang suami tak pernah menyentuhnya. Bahkan, menciumnya pun tak pernah.
“Kata suami (sekarang mantan suami), dia dikerjai orang sehingga tidak bisa menggauli istrinya (impoten, red),” ungkap Sonia.
Selama tiga bulan berlangsung seperti itu. Tak hanya nafkah batin, Sonia juga tidak diberi uang oleh suaminya untuk nafkah sehari-hari. Akhirnya, Sonia tak mampu menahan persoalannya seorang diri. Dia pun memberanikan diri bercerita pada teman akrabnya.
“Lalu sama teman akrab saya diselidiki dan dijebak. Ternyata dia juga menyukai pria,” ungkap Sonia.
Akhirnya Sonia pun mengajukan cerai. Kini, dia pun menikah kembali dan memiliki anak.
“Sebelum menikah kembali saya ceritakan semua kepada calon suami (sekarang suami,red). Dia menerima dan membantu saya melupakan kejadian itu. Alhamdulillah kami kemudian menikah dan punya anak,” ungkap Sonia.
Dr. Fitri Sukmawati, M.Psi, Psikolog menilai, penyuka sesama jenis bukanlah sebuah fenomena baru dalam masyarakat. Baik laki-laki maupun perempuan, mereka yang merupakan penyuka sesama jenis bahkan kerap menunjukkan perilaku normal dengan menikahi lawan jenisnya.
“Memang terkadang ada penyuka sesama jenis karena ingin menggugurkan tuntutan orangtua akhirnya menikah dengan normal. Pernikahan hanya menjadi cara baginya untuk menutupi orientasi seksualnya itu. Kasus ini banyak ditemukan,” jelas dosen IAIN Pontianak ini.
Mengetahui pasangan ternyata penyuka sesama jenis tentu menjadi sebuah kenyataan yang sulit diterima. Kebenaran bahwa pasangan ternyata penyuka sesama jenis pasti akan membuat begitu hancur dan merasa terguncang. Namun, hidup tetap harus berjalan. Lantas, apa yang harus kamu lakukan untuk tetap kuat menghadapi permasalah tersebut?
“Tentu kecewa, stress, khawatir, malu dan perasaan mengenakkan lainnya. Tenangkan diri dulu, dan kalau mau berbagi pada orang yang bisa dipercaya,” ucapnya.
Ketua Himpunan Psikologi (HIMPSI) Kalbar ini mengatakan, bagi suami atau istri yang ternyata memiliki pasangan penyuka sesama jenis sebaiknya untuk tetap tenang dan tegar menghadapi masalah. Tidak seolah mendiamkan karena bisa membuat sakit diri sendiri. Sebaliknya, hadapi dengan mencari keputusan dengan apa bisa dan tidak bisa hidup.
“Duduk bersama diskusikan ini rumah tangganya mau seperti apa. Ada apa masalahnya sampai melakukan perilaku itu, apakah karena trauma atau karena pengaruh komunitas sesama jenis,” katanya.
Menurutnya, perlu digali lebih dalam sudah sejauh mana perilaku seksual menyimpang itu memengaruhi kehidupan pasangan. Tanyakan pula adakah itikad baik pada pasangan untuk memperbaiki perilakunya itu. Kalau perlu, libatkan ahli atau profesional untuk membantu.
Apabila pasangan berjanji dan bertekad untuk mengubah perilakunya, maka tak ada salahnya untuk kembali berhubungan baik. Apalagi kalau sudah sangat mencintai pasangan. Membantunya untuk kembali hidup normal tentu membutuhkan dukungan dan pendampingan.
“Orang yang punya penyimpangan di ranah seksual itu tidak mudah kalau tidak punya kesadaran untuk merubah diri. Support sistem itu penting bagi orang yang ingin berubah,” imbuhnya.
Namun sebaliknya, apabila pasangan merasa dirinya tidak punya kelainan orientasi seksual, hingga tak ada keinginan untuk kembali menjadi seseorang yang heteroseksual, maka pertimbangkan kembali hubungan tersebut. Karena, sekalipun diri sendiri memberikan dukungan, namun pada dasarnya pasangan enggan berubah, maka hal ini juga akan sia-sia.
Jika perlu libatkan pula orangtua pasangan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Apabila setelah berbagai upaya dilakukan namun tidak menghasilkan kesepakatan, sementara pasangan enggan berubah, maka alternatif untuk berpisah barangkali bisa menjadi pilihan terbaik. Dan yang pasti, segala keputusan yang terbaik tetap ada di tangan diri sendiri dengan pertimbangkan matang apa yang terbaik buat diri sendiri, anak, dan keluarga besar.
“Alternatif terakhir, silahkan bercerai. Karena mungkin persoalan ini apabila dibiarkan akan membuat sakit hati,” pungkasnya.
Berikan Dukungan Pemulihan
Gay atau homo merupakan sebutan bagi laki-laki yang memiliki ketertarikan secara personal, emosional, seksual, kepada sesama laki-laki. Sementara lesbian adalah ketertarikan pada sesama perempuan. Kedua orientasi seksual ini dianggap bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat, termasuk Indonesia, mulai dari norma agama, norma sosial, dan sebagainya.
Dr.Fitri Sukmawati, M.Psi, Psikolog menilai banyak alasan yang menyebabkan hal tersebut. Salah satunya adalah karena trauma masa kecil, seperti pernah menjadi korban kekerasan seksual. Selain itu faktor lingkungan juga turut memengaruhi.
“Saat ini banyak komunitas-komunitas penyuka sesama jenis yang secara tidak langsung berdampak terhadap berkembangnya fenomena ini,” ujarnya.
Lantas apa yang bisa dilakukan apabila pasangan memiliki orientasi seksual yang dianggap menyimpang tersebut? Apabila hal ini terjadi karena pasangan pernah menjadi korban kekerasan seksual di masa lalu, maka hal ini pun bisa dipulihkan. Dalam hal ini, bisa melibatkan ahli atau profesional.
“Apabila dia ada traumatik di masa lalu yang belum terselesaikan atau terobati, lakukan pemulihan agar ia bisa kembali pulih,” imbuhnya.
Ketika pasangan yang menyukai sesama jenis itu karena pengaruh lingkungan atau komunitasnya, maka bantu dia untuk tidak kembali lagi berinteraksi dengan orang-orang yang menyukai sesama jenis. Namun, kata Fitri, kembali lagi kepada diri sendiri, apakah memang ada kemauan untuk berubah atau malah tidak ada sama sekali.
“Support sistem itu memang penting, tapi dari diri sendiri juga perlu adanya kesadaran,” ucapnya. (sti) Editor : Syahriani Siregar