Backburner relationship menggambarkan situasi di mana seseorang menjaga hubungan komunikasi dengan individu lain yang dianggap sebagai potensi pasangan, tetapi tanpa komitmen serius. Hubungan ini berdampak buruk bagi pasangan utama maupun ‘pasangan cadangan’.
Oleh : Siti Sulbiyah
Dalam dunia percintaan modern, istilah backburner relationship semakin sering terdengar. Fenomena ini merujuk pada hubungan di mana seseorang menjadikan orang lain sebagai cadangan atau pilihan kedua, sementara tetap fokus pada hubungan utama. Hubungan semacam ini dapat membawa dampak buruk, baik bagi pihak yang dijadikan cadangan maupun yang menjadikan orang lain sebagai pilihan kedua.
Dosen IAIN Pontianak, Bella Yugi Fazny,M.Pd menilai backburner relationship adalah relasi hubungan status sementara hanya sebagai “pasangan cadangan” tanpa adanya niat keseriusan. Ia menjelaskan bahwa dalam hubungan semacam ini, salah satu pasangan sering kali hanya dianggap sebagai "cadangan," meskipun tidak jarang terdapat motivasi dan harapan dari salah satu pihak untuk menjadikannya hubungan serius.
Relasi ini kerap menjadi tempat bagi individu untuk memenuhi kebutuhan tertentu, baik itu kebutuhan seksual, keintiman emosional, maupun kesenangan interaksi. “Umumnya backburner relationship berkomunikasi melalui pesan chat teks, sosial media dan jejaring teknologi online lainnya,” jelas dosen bimbingan dan konseling Islam ini.
Alasan lainnya adalah karena ingin mengenang keromantisan yang pernah terjalin sebelumnya jika si pasangan cadangan tersebut merupakan mantan atau pernah menjalin friends with benefit maupun hubungan tanpa status. Bisa juga karena ingin menjaga hubungan persahabatan lawan jenis, dengan harapan dapat menjalin hubungan selanjutnya secara romantis.
“Jadi kasus semacam ini lebih bermasalah pada diri sendiri bukan karena pasangan utama,” ujarnya.
Relasi semacam ini dapat terjadi dalam ikatan resmi atau tidak. Dalam kasus semacam ini pasangan utama bisa pacar yang belum memiliki ikatan. Namun bukan tidak mungkin hal ini dilakukan oleh pasangan yang telah menikah. “Jadi case-nya bukan hanya pacaran saja,” imbuhnya.
Bagaimana dampaknya? Bagi pasangan yang menjadi cadangan tentu mengalami tekanan emosional, seperti perasaan diabaikan, tidak aman dan perasaan dimanfaatkan. Selain itu tidak pernah ada kepastian dan keseriusan dalam hubungan yang terjalin. Hal ini karena bukan prioritas, hanya selingan.
Jika sudah sadar, lebih baik tegas sudahi saja dari hubungan tersebut. “Sayangi dirimu sendiri, waktu dan dirimu berharga. Kamu layak menjadi prioritas bagi orang lain yang benar-benar tulus serius denganmu,” katanya.
Backburner relationship tidak hanya merugikan pasangan cadangan dan pelaku, tetapi juga menghancurkan pasangan utama yang sering kali tidak menyadari posisinya sebagai korban. Bella mengatakan pasangan utama yang menjadi korban dapat mengalami penurunan self esteem. Gejalanya seperti jadi tidak percaya diri, minder, merasa diri bersalah atau kekurangan, membanding-bandingkan diri dengan pasangan simpanan.
Selain itu, juga akan merasa diri tidak berharga sehingga jadi mewajarkan perbuatan selingkuh pasangan, bertanya-tanya pada diri sendiri sembari meragu apakah layak atau tidak untuk dicintai atau disayangi.
“Pasangan utama juga dapat mengalami brain wash tanpa sadar dari statement pelaku. Sehingga jadi simpang siur dalam memahami bagaimana bentuk hubungan yang sehat,” katanya.
Pasangan utama juga bisa mengalami patah hati, dan rusaknya komitmen hubungan, kehilangan kenyamanan hingga kepercayaan terhadap pelaku backburner relationship. **
Editor : Miftahul Khair