Banyak orang yang menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam sebuah hubungan percintaan, hanya untuk akhirnya melihat pasangan mereka menikah dengan orang lain. Fenomena ini tentu meninggalkan pertanyaan: mengapa bisa terjadi?
Oleh : Siti Sulbiyah
Banyak pasangan yang sudah pacaran lama hingga belasan tahun tapi hubungannya kandas dan menikah dengan orang lain. Fenomena “pacaran lama tapi menikah dengan orang lain” atau yang sering disebut dengan istilah “jaga jodoh orang” merupakan hal yang relevan terjadi di masyarakat dalam hubungan romantis.
Istilah ini menggambarkan situasi di mana seseorang menjalin hubungan percintaan yang cukup lama dengan seseorang, namun akhirnya menikah dengan orang lain, bukan dengan pasangan yang telah lama berpacaran. Fenomena ini bisa terjadi dalam berbagai bentuk hubungan, mulai dari pacaran biasa hingga hubungan yang sudah melibatkan perasaan cinta yang mendalam.
Ada berbagai alasan mengapa seseorang yang telah lama berpacaran akhirnya tidak menikah dengan pasangannya, dan bahkan menikah dengan orang lain. Dosen IAIN Pontianak, Agus Handini, S.Psi, M.Psi., Psikolog menilai hal ini bisa terjadi karena kurangnya komitmen dan perencanaan jangka panjang.
Ketika sebuah hubungan tidak disertai dengan komitmen dan perencanaan yang jelas, hubungan tersebut rentan gagal. Meskipun pasangan sudah berpacaran dalam waktu yang lama, ketidakjelasan tujuan hidup dan rencana masa depan dapat menyebabkan hubungan terhenti tanpa ada perkembangan ke jenjang pernikahan.
“Kalau pacaran hanya main-main, tanpa planning, bisa berakhir gagal,” tuturnya.
Menurut Agus Handini, baik fase pacaran maupun taaruf, bukan hanya tentang saling mengenal, tetapi juga tentang memahami kondisi psikologis pasangan. Fase awal dalam hubungan romantis, merupakan waktu yang krusial untuk mengenal satu sama lain lebih baik. Pada fase ini, penting untuk mengetahui visi dan misi masing-masing, serta apa yang diharapkan dalam hubungan tersebut.
"Pada fase perkenalan ini kita harus tahu apakah kita ingin melanjutkan hubungan tersebut atau melepaskannya. Jangan hanya bucin (budak cinta) duluan, gunakan logika juga,” tuturnya.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam suatu hubungan romantis, kita perlu mempertimbangkan lebih dari sekadar perasaan, tetapi juga komitmen ke depan seperti apa.
Ia menggarisbawahi bahwa hubungan yang sehat harus dibangun dengan komitmen yang jelas dan saling mengerti antara kedua belah pihak tentang apa yang mereka inginkan dari hubungan tersebut. Tanyakan pada diri sendiri dan calon pasangan, apakah hubungan tersebut benar-benar ingin dibawa ke arah yang serius atau tidak.
Komitmen dan perencanaan menjadi elemen penting yang seringkali terabaikan dalam hubungan jangka panjang. Tanpa perencanaan yang jelas, sebuah hubungan berisiko berakhir tanpa kejelasan. Agus Handini menjelaskan bahwa penting bagi pasangan untuk memiliki rencana jangka panjang.
“Kenali kebutuhan diri, tahu apa yang kamu inginkan dalam hubungan, dan buatlah rencana untuk masa depan. Apa targetnya di tahun pertama, kedua, dan seterusnya. Harus ada plan untuk serius, rencana ke depan seperti apa,” terangnya.
Selain komitmen, perbedaan visi dan misi hidup yang tidak terungkapkan sejak awal bisa menyebabkan ketidakcocokan di masa depan. Meskipun sudah saling mencintai, perbedaan dalam tujuan hidup dan pandangan hidup bisa membuat pasangan merasa bahwa hubungan tersebut tidak dapat berlanjut ke pernikahan.
Menurutnya. hal ini bisa berbahaya jika ada masalah besar yang ditutupi, apalagi jika masalah tersebut berhubungan dengan prinsip hidup atau hal-hal yang sangat mendasar.
“Kalau hal itu berupa aib, yang terkait prinsip, harus diomongin,” tegas Agus. Perbedaan pendapat yang dibiarkan terpendam atau tidak dibicarakan sejak awal bisa menjadi bom waktu dalam hubungan.
Maksimal Lima Tahun
Banyak pasangan yang menjalin hubungan pacaran hingga belasan tahun, namun akhirnya hubungan mereka kandas dan masing-masing memilih menikah dengan orang lain. Fenomena yang sering disebut dengan istilah "jaga jodoh orang" ini menjadi hal yang kerap ditemui dalam masyarakat.
Agus Handini, S.Psi, M.Psi., Psikolog, mengungkapkan bahwa komitmen yang kuat menjadi faktor kunci dalam keberlangsungan hubungan menuju pernikahan. Selain komitmen yang tidak jelas, salah satu penyebab hubungan pacaran yang lama namun berakhir dengan orang lain adalah adanya godaan dari pasangan itu sendiri.
Salah satunya bisa terjadi karena adanya masalah dalam hubungan seperti perselingkuhan, yang bisa menghancurkan rasa percaya dan merusak hubungan yang sudah lama terjalin. “Karena terdapat godaan dari masing-masing orang itu, misalnya ketahuan selingkuh,” katanya.
Lebih lanjut, Agus menekankan bahwa sebuah hubungan pacaran sebaiknya tidak berlangsung terlalu lama. "Komitmen untuk ke pernikahan sebaiknya tidak boleh lama-lama. Lima tahun itu paling lama," ujarnya.
Terlalu lama menjalin hubungan pacaran juga memengaruhi kualitas hubungan, karena pasangan mungkin merasa tidak ada kepastian untuk menuju jenjang pernikahan. Ia menekankan harus ada waktu yang harus mereka targetkan. “Berlama-lama tidak bagus," pungkasnya. (**)
Editor : Miftahul Khair