Menjalin hubungan dengan seseorang yang memiliki Narcissistic Personality Disorder (NPD) bisa menjadi tantangan besar. Orang dengan gangguan kepribadian narsistik sering menunjukkan perilaku manipulatif, kurangnya empati, dan kebutuhan tinggi akan pujian.
Oleh : Siti Sulbiyah
Menurut data global, gangguan kepribadian narsistik lebih banyak ditemukan pada pria daripada wanita, di mana 75 persen kasus adalah pria. Kondisi ini dilaporkan sering terjadi pada orang dewasa muda usia 20an dan dapat memburuk seiring pertambahan usia.
Sementara itu prevalensi gangguan kepribadian narsistik di Indonesia belum ketahui. Hingga saat ini belum ada data epidemiologi nasional mengenai distribusi usia, jenis kelamin, dan predileksi lainnya di Indonesia.
Gangguan Kepribadian Narsistik (NPD) merupakan kondisi mental yang ditandai dengan perasaan grandiositas (merasa diri sangat penting), kebutuhan akan kekaguman, dan kurangnya empati terhadap orang lain. Verty Sari Pusparini, M.Psi., Psikolog mengatakan Pola perilaku ini biasanya dimulai pada awal masa dewasa dan konsisten dalam berbagai konteks kehidupan.
“Namun, penting untuk dicatat bahwa diagnosis harus dilakukan oleh profesional kesehatan mental yang kompeten, dan individu yang diduga memiliki NPD disarankan untuk mencari evaluasi dan penanganan yang tepat,” jelasnya.
Ia menekankan terdapat perbedaan antara sifat narsistik dan NPD. Sifat narsistik mungkin muncul sebagai kepercayaan diri yang tinggi atau keinginan untuk diperhatikan. Namun, NPD adalah kondisi patologis atau gangguan yang ditandai dengan perilaku narsistik yang ekstrem dan konsisten, yang mengganggu fungsi sosial, pekerjaan, dan hubungan interpersonal.
Ia menjelaskan, individu dengan NPD mungkin menunjukkan sejumlah perilaku dalam hubungannya. Beberapa di antaranya adalah mendominasi dan selalu mengarahkan topik pada diri sendiri, kurang empati terhadap perasaan atau kebutuhan pasangan, serta eksploitasi atau manipulasi pasangan untuk keuntungan pribadi.
Selain itu, lanjutnya, perilaku yang tampak adalah meremehkan atau merendahkan pasangan untuk merasa superior, reaksi marah atau defensif saat dikritik atau tidak mendapatkan perhatian yang diinginkan, serta membuat pasangan merasa tidak dihargai dan diabaikan.
Menghadapi pasangan dengan perilaku seperti ini Menjalin hubungan dengan seseorang yang memiliki NPD bisa menjadi tantangan besar. Verty menyebut ada sejumlah dampak psikologis ketika seseorang memiliki pasangan dengan perilaku semacam ini.
“Seperti merasa tidak dihargai atau diabaikan, penurunan harga diri akibat kritik atau penghinaan terus-menerus, hingga stres kronis atau kecemasan,” tuturnya.
Dampak psikologis lainnya yakni depresi akibat dinamika hubungan yang tidak sehat, serta perasaan terisolasi karena pasangan mungkin mencoba mengontrol atau membatasi interaksi sosial.
“Dampak ini dapat mengganggu kesejahteraan mental dan emosional individu yang terlibat,” imbuhnya.
Untuk menghadapi pasangan dengan NPD, ia menekankan perlunya strategi yang baik, seperti menetapkan batasan yang jelas. “Tentukan perilaku apa yang dapat diterima dan tidak, serta komunikasikan batasan tersebut dengan tegas,” ujarnya.
Penting pula untuk mencari dukungan eksternal dengan melibatkan teman, keluarga, atau profesional untuk mendapatkan perspektif dan dukungan.
Di samping itu, lanjutnya, karena individu dengan NPD cenderung defensif, pilih waktu dan cara yang tepat untuk membahas masalah dan hindarkan diri dari konfrontasi langsung.
Di sisi lain penting juga untuk mengutamakan pada perawatan diri, pastikan menjaga kesehatan mental dan fisik sendiri melalui aktivitas yang menyehatkan dan relaksasi.
“Penting untuk memahami bahwa Anda tidak dapat mengubah perilaku pasangan Anda, tetapi Anda dapat mengontrol respons dan batasan Anda sendiri,” tuturnya.
Putus atau Nyambung?
Hubungan dengan pasangan yang memiliki Narcissistic Personality Disorder (NPD) dapat menimbulkan banyak pertanyaan dan dilema. Dalam kondisi seperti ini, banyak orang merasa bingung apakah harus bertahan atau berpisah. Menurut Verty Sari Pusparini, M.Psi., Psikolog, ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk tetap melanjutkan hubungan.
Ada beberapa kondisi yang bisa menjadi pertimbangan bagi seseorang untuk bertahan dalam hubungan dengan individu yang memiliki NPD.
“Pasangan bersedia mengakui masalahnya dan berkomitmen untuk menjalani terapi atau pengobatan,” tuturnya.
Dalam posisi ini perlu kiranya memastikan adanya sistem dukungan yang kuat, baik dari teman, keluarga, maupun profesional kesehatan mental.
Menetapkan dan mempertahankan batasan yang sehat, tanpa harus mengorbankan kesejahteraan pribadi juga menjadi alasan untuk mempertahankan hubungan tersebut. Selain itu, pastikan tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik atau emosional yang dapat membahayakan.
Namun, Verty menekankan pentingnya untuk terus mengevaluasi kondisi mental dan emosional Anda. “Namun, penting untuk terus mengevaluasi kesejahteraan Anda dan mencari bantuan profesional jika diperlukan,” tuturnya.
DI sisi lain, ada kalanya hubungan dengan pasangan yang memiliki NPD tidak lagi bisa dilanjutkan. Beberapa situasi yang perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri hubungan seperti perilaku pasangan yang menyebabkan kerugian fisik atau emosional yang signifikan, serta pasangan yang menolak untuk mencari bantuan atau mengakui adanya masalah dalam diri mereka.
Ia menekankan bahwa keputusan untuk bertahan atau meninggalkan hubungan dengan pasangan yang memiliki NPD memang tidak mudah. “Oleh karena itu, penting untuk selalu menjaga kesejahteraan diri sendiri dan mendapatkan dukungan yang tepat,” imbuhnya. (**)
Editor : Miftahul Khair