Selama ini kebanyakan hanya anak yang dituntut untuk meminta izin kepada orang tua. Padahal, ortu pun perlu membiasakan diri meminta izin kepada anak dalam berbagai hal. Bagaimana cara dan apa saja manfaatnya?
ANAK memiliki hak terhadap tubuhnya atau body autonomy. Karena itu, penting bagi ortu meminta izin kepada anak ketika hendak melakukan apa pun yang menyangkut anak. Hal itu bisa dibiasakan sejak anak bayi. Meski, anak belum paham maksudnya.
“Dengan meminta izin atau adanya komunikasi, anak akan merasa didengarkan dan dihargai pemikiran, pendapat, cara pandang, maupun perasaannya. Hal itu akan memunculkan rasa percaya, trust, dan secure attachment pada anak terhadap orang tuanya,” terang Ariestya Magdalena Njotomulio SPsi MPsi Psikolog FPCM.
Ketika percaya, merasa nyaman, dan dekat secara batin dengan ortunya, anak pun tumbuh menjadi pribadi yang lebih sehat, percaya diri, dan berprestasi. Minta izin dalam hal apa saja?
Ketika Hendak Menyentuh Area Privasi Anak
Biasakan untuk meminta izin kepada si kecil saat hendak memandikannya, menggantikan popok, membersihkan setelah buang air besar, menggantikan baju, mengoleskan minyak atau lotion, dan membersihkan atau mengelap area tubuhnya. Secara tidak langsung, hal itu akan mengajari anak mengenai boundaries atau batasan bahwa ada area yang boleh dan tidak boleh disentuh sembarangan. Anak juga akan belajar tentang consent atau persetujuan.
“Artinya, anak belajar bahwa dirinya memiliki hak atas tubuhnya dan dia berhak untuk menolak atau berkata tidak terhadap sentuhan atau perlakuan yang dirasa tidak nyaman atau melewati batas,” ujar psikolog anak dan keluarga di JOEY Indonesia tersebut.
Hal itu merupakan salah satu upaya untuk menjaga anak dari kejahatan seperti kekerasan seksual. Kalau sudah izin dan anak menolak, jangan memaksa. Khususnya mencium dan memeluk.
Ketika Hendak Mencuci atau Menyiram Wajah Anak
Menyiram wajah anak saat mandi atau saat membersihkan mulutnya setelah makan juga perlu izin. Khususnya pada anak balita. Sebab, area kulit, terutama wajah, merupakan area yang sensitif terhadap sentuhan dan banyak memunculkan perasaan tidak nyaman jika diperlakukan secara tiba-tiba. Anak-anak juga belum mampu belajar mengatur atau menahan napas. Hal itu sering kali membuat anak marah, menangis, bahkan tantrum.
“Tetap izin ’permisi ya’ dan bersihkan dengan lembut. Atau, ’maaf ya dek, tidak nyaman ya, tapi supaya bersih ya,” ucap Ariestya memberi contoh.
Ketika Mau Meninggalkan Anak meski Sejenak
Anak usia dini, sekitar 2–4 tahun, biasanya akan menempel kepada ibu sebagai figur lekatnya dan tidak mau terpisah. Meski hanya ditinggal ke toilet atau ke dapur. Alhasil, banyak ibu yang menghilang tiba-tiba tanpa minta izin. Atau, izin dengan kebohongan.
“Hal itu sangat amat merusak rasa percaya anak kepada ibu sehingga anak makin cemas dan makin menempel. Terutama jika anak ditinggal dengan orang yang belum benar-benar dirasa nyaman oleh mereka,” ungkapnya.
Sebelum Upload Foto atau Video Anak
Mengunggah foto atau video anak ke media sosial sebetulnya boleh saja. Namun, sensor wajah, tubuh, atau nama anak. Yang utama, minta izin terlebih dahulu kepada anak. Apabila anak masih kecil dan belum paham, sebaik nya jangan memutuskan sepihak dan pertimbangkan waktu yang tepat dan manfaatnya.
“Kita belum tahu bagaimana karakter, kepribadian, dan persepsi anak terhadap konten yang hendak kita posting tentang dirinya. Adakalanya kita merasa itu adalah hal yang sangat mengedukasi ortu lainnya. Namun, bagi anak, mung kin itu hal yang memalukan,” sambungnya.
Saat Meminta, Meminjam, Memegang, atau Memakai Barang Anak Balita cenderung masih pada tahap egosentrisme. Semua berpusat pada dirinya, masih sulit untuk berbagi, dan memprediksi sesuatu. Jadi, ketika mengambil milik mereka secara tiba-tiba, balita cenderung bereaksi menangis dan meminta kembali.
Secara umum, pada anak mau pun remaja, hal itu mengajari mereka mengenai sopan santun, boundaries, hak kepemilikan, makna berbagi, serta hak untuk menolak.
“Ingat, tidak selalu harus berbagi ya. Setiap anak berhak untuk meno lak tidak berbagi atau meminjamkan, tetap dengan cara yang baik,” papar Ariestya.
Ketika Memasuki Area Privasinya
Pada anak yang lebih besar, ketika ortu ingin masuk kamarnya, biasanya mengetuk untuk meminta izin masuk. Pada balita atau anak usia 8 tahun ke bawah, misalnya kamar mandi.
“Adakalanya mereka sikat gigi di dalam kamar mandi, tetap perlu permisi. Ketok pintunya dan katakan ’permisi, ibu/ayah masuk ya?’ dan tunggu responsnya. Jangan nyelonong aja karena ini berkaitan dengan area privasi mereka yang perlu dihargai, apalagi jika jelas ter dengar mereka sedang mandi,” jelasnya.
Ketika Membuat Keputusan atau Melakukan Tindakan
Adakalanya ortu hendak membuat aturan baru yang tidak dapat diganggu gugat demi perkembangan anak. Misalnya, tidak boleh main gadget selama makan atau di atas jam 8 malam. Komunikasikan kepada anak alasan dan pertimbangan ortu.
“Anak yang hanya dituntut ’taat mutlak’ akan tumbuh jadi people pleasure, kurang percaya diri, dan rentan mengalami pelecehan atau dimanfaatkan karena mereka mengalami kesulitan untuk berkata tidak, entah karena takut dimarahi, takut membuat orang lain sedih atau tersinggung, dan sungkan menolak,” beber Ariestya.
Meski membangun kebiasaan meminta izin itu penting, tidak berarti anak yang mengambil keputusan. Ortu tetap yang memegang tanggung jawab untuk mengarahkan, menghadirkan alternatif pilihan maupun konsekuensi yang belum terpikirkan anak. (*/lai/c7/nor/jp)
Editor : A'an