Para mualaf yang telah lebih dulu memahami Islam kini berperan aktif dalam membimbing mualaf baru agar lebih mantap dalam menjalani keyakinan mereka. Dengan penuh ketulusan, mereka mengajarkan bacaan Alquran, tata cara salat, serta dasar-dasar agama, meski harus menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan ekonomi hingga akses ke lokasi pengajian.
Oleh : Siti Sulbiyah
Lantunan ayat suci Alquran terdengar di sebuah bangunan berlantai dua di Jalan Adisucipto, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Jumat (14/3) pagi. Ayat-ayat suci tersebut dibaca oleh sekelompok perempuan yang dipimpin oleh seorang ustaz. Para perempuan ini merupakan mualaf yang sedang belajar memperlancar bacaan kitab suci umat Islam tersebut.
Di tempat yang sama, di Kantor dan Pusat Dakwah Mualaf Peduli, ada kelompok kecil yang juga tengah belajar membaca Alquran dengan menggunakan iqra. Mereka dibimbing oleh seorang mualaf yang telah lancar mengenal huruf hijaiyah dan tanda bacanya. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pembinaan bagi para mualaf agar lebih mendalami ajaran Islam.
Sementara itu, di sudut ruangan, Yuliana Lim (64), sibuk menyortir pakaian dari para donatur untuk disumbangkan kepada para mualaf. Ada baju, jilbab, abaya, mukena, dan lain sebagainya. Pakaian-pakaian tersebut juga akan disalurkan kepada mualaf yang ada di berbagai pelosok daerah di Kalbar.
“Kemarin juga kita kirim Iqra, Alquran,” ungkap Yuliana, yang akrab disapa Bu Yuli atau Mak, menceritakan kegiatan penyaluran bantuan bagi para mualaf.
Yuliana Lim memeluk Islam sejak usia 17 tahun. Namun, ia mengakui bahwa perjalanan keislamannya tidaklah mudah. “Saat itu belum ada pembinaan, jadi saya belum benar-benar memahami Islam,” katanya.
Menurutnya, dulu banyak mualaf yang memilih untuk tidak mengungkapkan identitas mereka karena berbagai alasan, termasuk menghindari masalah sosial dan keluarga. Bahkan, ada pula yang menjadi mualaf karena mengikuti pasangan, tetapi tidak mendapatkan pembinaan yang cukup.
Melihat kondisi seperti inilah hatinya tergerak untuk melakukan pembinaan kepada para mualaf. “Inilah alasan saya membuka pengajian mualaf,” ujar Yuliana.
Setelah bertahun-tahun mempelajari Islam, ia pun memberanikan diri membuka pengajian bagi para mualaf. Pengajian pertamanya dimulai pada tahun 2010 di rumahnya di daerah Jeruju, Kecamatan Pontianak Barat. “Awalnya hanya lima orang tetangga saya yang bergabung,” kenangnya.
Seiring waktu, semakin banyak mualaf yang tertarik bergabung. Yuliana juga aktif berkunjung ke rumah-rumah mualaf baru, mengajak mereka untuk belajar Islam bersama. Namun, dengan semakin bertambahnya jumlah peserta, rumahnya tidak lagi mampu menampung mereka dalam satu kali pertemuan.
“Akhirnya saya mencari masjid untuk tempat mengaji,” ujarnya.
Untuk memperluas jangkauan pembinaan, Yuliana mendapat bantuan dari Sulaiman, seorang pengurus Baznas Kota Pontianak. Bersama-sama, mereka membuka pengajian di beberapa tempat agar lebih banyak mualaf yang bisa belajar dengan nyaman.
Kini, lebih dari 200 mualaf aktif mengikuti pembinaan. “Saat ini di Kota Pontianak ada sembilan titik pengajian,” ungkapnya.
Ia dibantu oleh sejumlah relawan yang bersedia mengajar di sejumlah lokasi pengajian tersebut. Mereka mengajar mengaji, tata cara salat, dan ajaran Islam lainnya. “Mereka tidak saya gaji, saya hanya kasih beras, dapat dari lembaga-lembaga yang mau bantu. Kita berikan beras lima kilogram,” tuturnya.
Ketua Umum Mualaf Peduli Kalimantan Barat, Ibaz, mengatakan bahwa pihaknya mengupayakan akses belajar ngaji bagi para mualaf. Kehadiran Mualaf Peduli menurutnya dilatarbelakangi oleh kepedulian terhadap mualaf yang kesulitan mendapatkan pendidikan dan bimbingan mengaji.
Untuk itu, pihaknya merintis kelompok-kelompok belajar di berbagai tempat agar para mualaf, terutama ibu-ibu, dapat lebih mudah mengakses pembelajaran Alquran. Selama Ramadan, lanjut Ibaz, semua pengajian rutin ditiadakan dan kegiatan difokuskan pada program tadarus bersama.
"Setiap hari, peserta ditargetkan membaca minimal dua juz. Dengan program ini, kami berharap mereka dapat mengkhatamkan Alquran setidaknya dua kali selama Ramadan. Selain itu, mereka juga dibimbing untuk memperbaiki bacaan, tajwid, serta makhraj," imbuhnya.
Menariknya, program tadarus ini tidak hanya diikuti oleh mualaf. Seiring berjalannya waktu, banyak juga peserta dari kalangan nonmualaf yang turut bergabung. Ternyata, mereka juga memulai dari Iqra, seperti kebanyakan mualaf," tambah Ibaz.
Saat ini kelompok belajar Mualaf Peduli tidak hanya berpusat di Kubu Raya dan Pontianak, tetapi juga telah berkembang hingga ke Sanggau, Landak, dan Bengkayang.**
Editor : A'an