alexametrics
23 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Bos Kerap Mencari ‘Kambing Hitam’

Dalam dunia kerja, terkadang seseorang disalahkan dan dihukum atas kesalahan orang lain. Tentu sangat tidak menyenangkan menjadi ‘kambing hitam’, apalagi jika hal itu dilakukan oleh pimpinan atau bos. Lalu bagaimana cara menyikapinya?

oleh : Siti Sulbiyah

Tidak ada yang ingin disalahkan atas kesalahan yang tidak dilakukannya.  Siapapun pasti tidak rela menjadi ‘bumper’ atas kesalahan orang lain. Namun pada kenyataannya, ada orang yang disalahkan atau dijadikan kambing hitam atas kesalahan yang justru tak pernah dilakukannya sama sekali. Termasuk di dunia kerja.

Seperti dialami Wahyu. Dia beberapa kali menjadi kambing hitam oleh atasannya sendiri. Atasan Wahyu selalu ingin menyenangkan bos yang memiliki kedudukan lebih tinggi. “Setiap bos saya diberi tugas oleh atasan yang lebih tinggi, selalu kami bawahannya yang mengerjakan. Jika benar, dia senyum terus. Jika salah, dengan santainya melimpahkan kesalahan kepada saya atau bawahannya yang lain,” kata Wahyu.

Atasan Wahyu juga terkesan tak mau tahu jika ada instruksi dari pimpinan tertinggi. Bahkan, instruksi yang tertulis pun kadang tak dibacanya. Jika terjadi kesalahan, dengan cepat dia langsung lepas tangan.

“Di kantor saya sudah biasa seperti itu. Jadi ya harus pandai-pandai kami saja. Kami harus pandai cari bukti bahwa kami tidak bersalah. Sebab lama-lama kalau didiamkan, kami yang stres,” jelas Wahyu.

Baca Juga :  Perubahan Besar dalam Sistem Belajar

Romi Arif Rianto, S.Psi, Psikolog, menilai, fenomena mengalihkan tanggung jawab akan kesalahan yang dilakukan kepada orang lain tak jarang terjadi di dunia kerja. Lebih tidak mengenakkan lagi, bila pimpinan atau bos yang justru “melempar” tanggung jawab itu kepada bawahannya.

“Perilaku ini terjadi karena mungkin pimpinan atau bos tidak berani memikul suatu tanggungjawab terhadap kerjaan yang telah dilakukan. Apalagi, apa yang harus dipertanggungjawabkan tersebut ada unsur kelemahan atau kekurangan,” ungkap Romi.

Menurutnya, ada beberapa sebab perilaku ini dilakukan bos terhadap bawahannya. Salah satunya karena tidak ingin dipandang berbuat salah kepada pihak yang meminta pertanggungjawaban, baik itu orang lain, atau atasan yang lebih tinggi di lingkungan pekerjaan. Dalam hal ini, bos cenderung berlepas tangan, supaya tak mendapat citra negatif yang barangkali dapat menghambat karirnya.

“Mungkin dia (pimpinan, red) tidak ingin dipandang salah, selalu ingin tampil optimal baik ke atasan maupun orang lain, sehingga akhirnya menyalahkan pihak lain, dan mungkin bawahannya sendiri,” kata dia.

Biasanya pimpinan yang kerap mencari kambing hitam, akan terlihat lebih sering membagi, atau melimpahkan tugasnya kepada bawahan. Tujuannya, tak lain agar ketika hasil kerja tersebut kurang optimal atau terjadi kesalahan, si bos akan lebih mudah mencari pihak-pihak yang bisa disalahkan. Dalam hal ini, pihak yang dikambinghitamkan tentu berada dalam posisi yang paling tidak nyaman.

Baca Juga :  Sering Bercinta Sebabkan Miss V Longgar?

“Namun masalahnya, seringkali para staf atau bawahan merasa ragu atau ada ketakutan melakukan pembelaan pada bosnya, sekalipun ia berada di posisi yang benar,” tutur Romi. Ketakutan ini biasanya didasari oleh posisi bos yang jelas lebih besar dari anak buah. Kadangkala bawahan tak berani melawan karena khawatir terjegal dalam promosi jabatan. Sikap pasrah pun kadang dipilih meski harus menahan rasa jengkel dan marah.

Namun, lanjut Romi, sikap berpasrah tak selamanya dapat dibenarkan. Pihak yang dikambinghitamkan tidak seharusnya menerima nasib untuk terus-menerus disalahkan. Karena itu, mereka boleh saja melakukan pembelaan.

“Dalam hal ini, pihak yang selalu disalahkan, bisa saja melakukan pembelaan, bahwa dirinya tidaklah bersalah,” ujar Romi.

Dalam melakukan pembelaan, pihak yang disalahkan harus memiliki argumen yang kuat. Dalam artian, ia harus membuktikan bahwa, kesalahan itu bukan diperbuat olehnya, serta tugas yang diamanahkan kepadanya dikerjakan dengan sebaik mungkin. Hal ini pun harus dijelaskan secara terbuka kepada pimpinan. Jika pada akhirnya memang tidak ada kesalahan yang dilakukan, maka tidak perlu ada ketakutan. **

Dalam dunia kerja, terkadang seseorang disalahkan dan dihukum atas kesalahan orang lain. Tentu sangat tidak menyenangkan menjadi ‘kambing hitam’, apalagi jika hal itu dilakukan oleh pimpinan atau bos. Lalu bagaimana cara menyikapinya?

oleh : Siti Sulbiyah

Tidak ada yang ingin disalahkan atas kesalahan yang tidak dilakukannya.  Siapapun pasti tidak rela menjadi ‘bumper’ atas kesalahan orang lain. Namun pada kenyataannya, ada orang yang disalahkan atau dijadikan kambing hitam atas kesalahan yang justru tak pernah dilakukannya sama sekali. Termasuk di dunia kerja.

Seperti dialami Wahyu. Dia beberapa kali menjadi kambing hitam oleh atasannya sendiri. Atasan Wahyu selalu ingin menyenangkan bos yang memiliki kedudukan lebih tinggi. “Setiap bos saya diberi tugas oleh atasan yang lebih tinggi, selalu kami bawahannya yang mengerjakan. Jika benar, dia senyum terus. Jika salah, dengan santainya melimpahkan kesalahan kepada saya atau bawahannya yang lain,” kata Wahyu.

Atasan Wahyu juga terkesan tak mau tahu jika ada instruksi dari pimpinan tertinggi. Bahkan, instruksi yang tertulis pun kadang tak dibacanya. Jika terjadi kesalahan, dengan cepat dia langsung lepas tangan.

“Di kantor saya sudah biasa seperti itu. Jadi ya harus pandai-pandai kami saja. Kami harus pandai cari bukti bahwa kami tidak bersalah. Sebab lama-lama kalau didiamkan, kami yang stres,” jelas Wahyu.

Baca Juga :  Pola Asuh 'Co-Parenting' Setelah Perceraian

Romi Arif Rianto, S.Psi, Psikolog, menilai, fenomena mengalihkan tanggung jawab akan kesalahan yang dilakukan kepada orang lain tak jarang terjadi di dunia kerja. Lebih tidak mengenakkan lagi, bila pimpinan atau bos yang justru “melempar” tanggung jawab itu kepada bawahannya.

“Perilaku ini terjadi karena mungkin pimpinan atau bos tidak berani memikul suatu tanggungjawab terhadap kerjaan yang telah dilakukan. Apalagi, apa yang harus dipertanggungjawabkan tersebut ada unsur kelemahan atau kekurangan,” ungkap Romi.

Menurutnya, ada beberapa sebab perilaku ini dilakukan bos terhadap bawahannya. Salah satunya karena tidak ingin dipandang berbuat salah kepada pihak yang meminta pertanggungjawaban, baik itu orang lain, atau atasan yang lebih tinggi di lingkungan pekerjaan. Dalam hal ini, bos cenderung berlepas tangan, supaya tak mendapat citra negatif yang barangkali dapat menghambat karirnya.

“Mungkin dia (pimpinan, red) tidak ingin dipandang salah, selalu ingin tampil optimal baik ke atasan maupun orang lain, sehingga akhirnya menyalahkan pihak lain, dan mungkin bawahannya sendiri,” kata dia.

Biasanya pimpinan yang kerap mencari kambing hitam, akan terlihat lebih sering membagi, atau melimpahkan tugasnya kepada bawahan. Tujuannya, tak lain agar ketika hasil kerja tersebut kurang optimal atau terjadi kesalahan, si bos akan lebih mudah mencari pihak-pihak yang bisa disalahkan. Dalam hal ini, pihak yang dikambinghitamkan tentu berada dalam posisi yang paling tidak nyaman.

Baca Juga :  Harus Ada Teman Curhat dan Me Time

“Namun masalahnya, seringkali para staf atau bawahan merasa ragu atau ada ketakutan melakukan pembelaan pada bosnya, sekalipun ia berada di posisi yang benar,” tutur Romi. Ketakutan ini biasanya didasari oleh posisi bos yang jelas lebih besar dari anak buah. Kadangkala bawahan tak berani melawan karena khawatir terjegal dalam promosi jabatan. Sikap pasrah pun kadang dipilih meski harus menahan rasa jengkel dan marah.

Namun, lanjut Romi, sikap berpasrah tak selamanya dapat dibenarkan. Pihak yang dikambinghitamkan tidak seharusnya menerima nasib untuk terus-menerus disalahkan. Karena itu, mereka boleh saja melakukan pembelaan.

“Dalam hal ini, pihak yang selalu disalahkan, bisa saja melakukan pembelaan, bahwa dirinya tidaklah bersalah,” ujar Romi.

Dalam melakukan pembelaan, pihak yang disalahkan harus memiliki argumen yang kuat. Dalam artian, ia harus membuktikan bahwa, kesalahan itu bukan diperbuat olehnya, serta tugas yang diamanahkan kepadanya dikerjakan dengan sebaik mungkin. Hal ini pun harus dijelaskan secara terbuka kepada pimpinan. Jika pada akhirnya memang tidak ada kesalahan yang dilakukan, maka tidak perlu ada ketakutan. **

Most Read

Artikel Terbaru

/