alexametrics
26.7 C
Pontianak
Tuesday, May 17, 2022

Tepat Membandingkan Pertumbuhan Anak

Orangtua seringkali membanding-bandingkan tumbuh kembang anaknya dengan anak lain. Saat anak lain terlihat lebih baik, ayah dan ibu lantas merasa panik dan cemas. Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan?

Oleh : Siti Sulbiyah

Setiap orangtua tentu menginginkan tumbuh kembang yang optimal untuk sang buah hati. Namun, kadang kala orangtua mengukur tumbuh kembang anak dengan membandingkannya dengan anak lain. Mereka akan merasa cemas, jika tumbuh kembang anaknya tidak sama dengan anak lainnya.

Beberapa hal yang sering dibandingkan orangtua seperti berat badan anak, dan kemampuan anak seperti merangkak, berjalan, dan berbicara. Padahal, kecepatan tumbuh kembang setiap anak pasti berbeda-beda.

“Sebetulnya kalau yang menjadi patokan kita adalah anak orang lain, entah itu anak tetangga atau anak sepupu, maka sifat penilaian seperti sangat subjektif,” kata Dokter Spesialis Anak, Dr.dr.Meta Hanindita, Sp.A(K).

Pandangan yang subjektif seperti ini akan memunculkan kekeliruan dalam menilai tumbuh kembang anak. Misalnya, ketika mendapati anak orang lain yang seumuran mengalami stunting, orangtua akan merasa anaknya memiliki tumbuh kembang yang lebih baik dan sudah ideal. Sebaliknya, ketika membandingkan anak dengan anak lain yang kondisinya tubuhnya lebih besar bahkan obesitas, orangtua merasa bahwa anaknya kelihatan kurus.

Baca Juga :  Diet untuk Buah Hati

“Ini tentu tidak subjektif karena tergantung siapa pembandingnya. Oleh karena itu, kita menggunakan standar pertumbuhan sebagai pembanding,” ujarnya.

Saat ini sudah ada kurva pertumbuhan dan perkembangan yang dipakai seluruh dunia yang merupakan standar yang dikeluarkan oleh WHO. Di kurva pertumbuhan juga terdapat beberapa indikator, di antaranya berat badan menurut panjang badan, berat badan menurut umur, panjang badan menurut umur, dan lingkar kepala menurut umur.

“Gunakan minimal tiga indikator ini untuk memantau pertumbuhan anak,” ucapnya.

Pertumbuhan merupakan pertambahan jumlah, volume, massa, ukuran sel dari organ tubuh secara fisik yang dapat diukur atau ditimbang. Dikatakan bisa diukur karena ada ukurannya, misalnya berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala. Sifat pertumbuhan tersebut adalah irreversible, yang berarti tidak dapat kembali keukuran semula. Dengan begitu, menurutnya pertumbuhan tidak dapat dikaitkan dengan keaktifan anak.

“Tidak bisa kita bilang wajar berat badan anak tidak naik karena anaknya aktif. Tetap bagaimanapun berat badan anak harus naik, tingginya harus naik, seaktif apapun,” katanya.

Baca Juga :  Gencarkan Silver Genre

Bagaimana jika orangtua mendapati anaknya tidak menghadapi masalah pada kesehatan, kendati pertumbuhannya mengalami keterlambatan dari standar yang sudah ada? Menurutnya, anak dikatakan sehat tidak hanya karena dia tidak terlihat sakit, tetapi juga terlihat pada anak yang mampu bertumbuh dan berkembang secara optimal.

“Jadi kalau di kurva kita lihat berat badannya kok mulai mepet ya, kenaikan badannya seret banget, nah itu kita harus waspada dan konsultasi ke dokter. Jangan tunggu sampai ada keluhan,” imbuhnya.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan anak, mulai dari genetik, nutrisi, kondisi kesehatan, dan hormonal. Tetapi dari keempat faktor ini, yang paling berpengaruh di 1000 hari pertama kehidupan adalah faktor nutrisi dan kesehatan.

“Contohnya, nutrisi sudah terpenuhi tapi anaknya sakit-sakitan, maka pertumbuhannya terganggu. Atau sebaliknya anaknya sehat tidak pernah sakit dan aktif, tapi nutrisinya tidak cukup, pasti pertumbuhannya juga akan terganggu,” paparnya.

Dia menegaskan usia 1000 hari pertama merupakan waktu di mana anak mengalami pertumbuhan yang pesat. Sehingga dalam rentang waktu tersebut, orangtua harus memastikan nutrisi dan stimulasi bagi anak, serta melengkapinya dengan imunisasi. **

Orangtua seringkali membanding-bandingkan tumbuh kembang anaknya dengan anak lain. Saat anak lain terlihat lebih baik, ayah dan ibu lantas merasa panik dan cemas. Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan?

Oleh : Siti Sulbiyah

Setiap orangtua tentu menginginkan tumbuh kembang yang optimal untuk sang buah hati. Namun, kadang kala orangtua mengukur tumbuh kembang anak dengan membandingkannya dengan anak lain. Mereka akan merasa cemas, jika tumbuh kembang anaknya tidak sama dengan anak lainnya.

Beberapa hal yang sering dibandingkan orangtua seperti berat badan anak, dan kemampuan anak seperti merangkak, berjalan, dan berbicara. Padahal, kecepatan tumbuh kembang setiap anak pasti berbeda-beda.

“Sebetulnya kalau yang menjadi patokan kita adalah anak orang lain, entah itu anak tetangga atau anak sepupu, maka sifat penilaian seperti sangat subjektif,” kata Dokter Spesialis Anak, Dr.dr.Meta Hanindita, Sp.A(K).

Pandangan yang subjektif seperti ini akan memunculkan kekeliruan dalam menilai tumbuh kembang anak. Misalnya, ketika mendapati anak orang lain yang seumuran mengalami stunting, orangtua akan merasa anaknya memiliki tumbuh kembang yang lebih baik dan sudah ideal. Sebaliknya, ketika membandingkan anak dengan anak lain yang kondisinya tubuhnya lebih besar bahkan obesitas, orangtua merasa bahwa anaknya kelihatan kurus.

Baca Juga :  Memacu Berprestasi Akademik Buah Hati

“Ini tentu tidak subjektif karena tergantung siapa pembandingnya. Oleh karena itu, kita menggunakan standar pertumbuhan sebagai pembanding,” ujarnya.

Saat ini sudah ada kurva pertumbuhan dan perkembangan yang dipakai seluruh dunia yang merupakan standar yang dikeluarkan oleh WHO. Di kurva pertumbuhan juga terdapat beberapa indikator, di antaranya berat badan menurut panjang badan, berat badan menurut umur, panjang badan menurut umur, dan lingkar kepala menurut umur.

“Gunakan minimal tiga indikator ini untuk memantau pertumbuhan anak,” ucapnya.

Pertumbuhan merupakan pertambahan jumlah, volume, massa, ukuran sel dari organ tubuh secara fisik yang dapat diukur atau ditimbang. Dikatakan bisa diukur karena ada ukurannya, misalnya berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala. Sifat pertumbuhan tersebut adalah irreversible, yang berarti tidak dapat kembali keukuran semula. Dengan begitu, menurutnya pertumbuhan tidak dapat dikaitkan dengan keaktifan anak.

“Tidak bisa kita bilang wajar berat badan anak tidak naik karena anaknya aktif. Tetap bagaimanapun berat badan anak harus naik, tingginya harus naik, seaktif apapun,” katanya.

Baca Juga :  Kekerasan terhadap Anak dan Penyelesaiannya

Bagaimana jika orangtua mendapati anaknya tidak menghadapi masalah pada kesehatan, kendati pertumbuhannya mengalami keterlambatan dari standar yang sudah ada? Menurutnya, anak dikatakan sehat tidak hanya karena dia tidak terlihat sakit, tetapi juga terlihat pada anak yang mampu bertumbuh dan berkembang secara optimal.

“Jadi kalau di kurva kita lihat berat badannya kok mulai mepet ya, kenaikan badannya seret banget, nah itu kita harus waspada dan konsultasi ke dokter. Jangan tunggu sampai ada keluhan,” imbuhnya.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan anak, mulai dari genetik, nutrisi, kondisi kesehatan, dan hormonal. Tetapi dari keempat faktor ini, yang paling berpengaruh di 1000 hari pertama kehidupan adalah faktor nutrisi dan kesehatan.

“Contohnya, nutrisi sudah terpenuhi tapi anaknya sakit-sakitan, maka pertumbuhannya terganggu. Atau sebaliknya anaknya sehat tidak pernah sakit dan aktif, tapi nutrisinya tidak cukup, pasti pertumbuhannya juga akan terganggu,” paparnya.

Dia menegaskan usia 1000 hari pertama merupakan waktu di mana anak mengalami pertumbuhan yang pesat. Sehingga dalam rentang waktu tersebut, orangtua harus memastikan nutrisi dan stimulasi bagi anak, serta melengkapinya dengan imunisasi. **

Most Read

Artikel Terbaru

/