alexametrics
25 C
Pontianak
Friday, May 20, 2022

Mengenal Kelainan Darah Talasemia

Jaga Gaya Hidup, Harapan Hidup Tinggi

Talasemia Bagi orang awam, penyakit itu terdengar langka dan menakutkan. Harapan hidupnya tipis. Padahal, banyak penderita talasemia yang mencapai usia lanjut dan masih bisa berkegiatan layaknya orang biasa.

 

TALASEMIA merupakan kondisi kelainan genetik yang memengaruhi produksi globin alias rantai protein –yang terdiri atas rantai polipeptida alfa dan beta– pembentuk sel darah merah. Kadar globin pasien talasemia rendah, bahkan tidak ada.

“Akibatnya, sel darah merah atau hemoglobin (Hb) mudah pecah dan timbul anemia,” ungkap dr Putu Niken Ayu Amrita SpPD-KHOM.

Kondisi Hb yang rendah membuat sel darah merah tidak mampu mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Di sisi lain, usia sel darah merah jadi lebih singkat.

“Karena itu, pasien talasemia sedang hingga berat perlu transfuse seumur hidup untuk meningkatkan sel darah merah,” jelas Niken.

Baca Juga :  Pukis dengan Varian Topping

Namun, transfusi pun tidak cukup. Harus ada terapi obat. Transfusi membuat kadar zat besi, salah satu komponen sel darah merah, meningkat. Ketika menumpuk, zat itu tidak mampu dibuang tubuh. Akibatnya, terjadi gangguan organ dan hormon.

“Dokter biasanya akan meresepkan obat kelasi (pengikat) besi untuk membuang kelebihan zat besi,” paparnya.

Angka kejadian talasemia relatif tinggi, terutama di area “sabuk talasemia” yang tersebar mulai Mediterania, Timur Tengah, sampai Asia Tenggara.

“Karena lokasi kita berada di ’sabuk talasemia’, angka kejadiannya tinggi. Jumlah carrier (pembawa sifat Talasemia, Red) juga tinggi,” ujar Niken.

Di tanah air, persentase carrier talasemia adalah 3,8 persen dari jumlah penduduk. Mengutip data Yayasan Thalassemia Indonesia, angka kejadian terus naik setiap tahun. Sepanjang 2012–2018, kenaikan kasus mencapai 78,9 persen.

Baca Juga :  Menjaga Kebersihan Mulut dan Gigi di Tengah Pandemi Covid-19

Staf medis fungsional Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK Universitas Airlangga-RSUD dr Soetomo itu menjelaskan, gejala talasemia beragam. Berdasar derajat berat sampai ringannya penyakit, ada tiga kategori. Mulai yang paling ringan (talasemia minor atau trait) hingga talasemia mayor yang menampakkan gejala sejak bayi.

Meski begitu, penderita talasemia tidak perlu putus asa. Sebab, dengan menjalani pengobatan rutin dan pola hidup yang sehat, mereka tetap bisa beraktivitas seperti biasa.

“Berdasar pengalaman saya, beberapa tahun terakhir banyak pasien yang mencapai usia 50–60 tahun. Kualitas hidupnya juga baik,” tegas Niken.

Pada pasien bayi dan anak-anak, penanganan tepat juga dapat mencegah keterlambatan tumbuh kembang. (fam/c14/tia)

Jaga Gaya Hidup, Harapan Hidup Tinggi

Talasemia Bagi orang awam, penyakit itu terdengar langka dan menakutkan. Harapan hidupnya tipis. Padahal, banyak penderita talasemia yang mencapai usia lanjut dan masih bisa berkegiatan layaknya orang biasa.

 

TALASEMIA merupakan kondisi kelainan genetik yang memengaruhi produksi globin alias rantai protein –yang terdiri atas rantai polipeptida alfa dan beta– pembentuk sel darah merah. Kadar globin pasien talasemia rendah, bahkan tidak ada.

“Akibatnya, sel darah merah atau hemoglobin (Hb) mudah pecah dan timbul anemia,” ungkap dr Putu Niken Ayu Amrita SpPD-KHOM.

Kondisi Hb yang rendah membuat sel darah merah tidak mampu mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Di sisi lain, usia sel darah merah jadi lebih singkat.

“Karena itu, pasien talasemia sedang hingga berat perlu transfuse seumur hidup untuk meningkatkan sel darah merah,” jelas Niken.

Baca Juga :  Tetap Jatuh Diantara Bintang

Namun, transfusi pun tidak cukup. Harus ada terapi obat. Transfusi membuat kadar zat besi, salah satu komponen sel darah merah, meningkat. Ketika menumpuk, zat itu tidak mampu dibuang tubuh. Akibatnya, terjadi gangguan organ dan hormon.

“Dokter biasanya akan meresepkan obat kelasi (pengikat) besi untuk membuang kelebihan zat besi,” paparnya.

Angka kejadian talasemia relatif tinggi, terutama di area “sabuk talasemia” yang tersebar mulai Mediterania, Timur Tengah, sampai Asia Tenggara.

“Karena lokasi kita berada di ’sabuk talasemia’, angka kejadiannya tinggi. Jumlah carrier (pembawa sifat Talasemia, Red) juga tinggi,” ujar Niken.

Di tanah air, persentase carrier talasemia adalah 3,8 persen dari jumlah penduduk. Mengutip data Yayasan Thalassemia Indonesia, angka kejadian terus naik setiap tahun. Sepanjang 2012–2018, kenaikan kasus mencapai 78,9 persen.

Baca Juga :  Menjaga Kebersihan Mulut dan Gigi di Tengah Pandemi Covid-19

Staf medis fungsional Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK Universitas Airlangga-RSUD dr Soetomo itu menjelaskan, gejala talasemia beragam. Berdasar derajat berat sampai ringannya penyakit, ada tiga kategori. Mulai yang paling ringan (talasemia minor atau trait) hingga talasemia mayor yang menampakkan gejala sejak bayi.

Meski begitu, penderita talasemia tidak perlu putus asa. Sebab, dengan menjalani pengobatan rutin dan pola hidup yang sehat, mereka tetap bisa beraktivitas seperti biasa.

“Berdasar pengalaman saya, beberapa tahun terakhir banyak pasien yang mencapai usia 50–60 tahun. Kualitas hidupnya juga baik,” tegas Niken.

Pada pasien bayi dan anak-anak, penanganan tepat juga dapat mencegah keterlambatan tumbuh kembang. (fam/c14/tia)

Most Read

Artikel Terbaru

/