alexametrics
26.7 C
Pontianak
Monday, May 16, 2022

Cemas Berlebihan Tanpa Alasan Jelas

Ada orang tua menganggap kecemasan yang dirasakan anak adalah respon alami tubuh. Namun, ternyata jika berlebihan dapat menjadi gangguan. Biasa dikenal dengan anxiety disorder.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Riani belakangan ini merasa bingung dengan tingkah anak semata wayangnya yang berusia enam tahun. Sang anak tidak pernah mau jauh darinya. Bahkan, ketakutan jika membayangkan ibunya meninggal dunia.

Semua bermula dari meninggalnya orang tua dari teman sang anak. “Jadi orang tua teman anak saya meninggal. Sejak saat itu, anak saya selalu menelepon saya. Bisa sampai empat kali hanya untuk menanyakan keadaan saya,” ungkap Riani.

Selain itu, anaknya juga menangis saat hendak ditinggal di kelas. “Kalau diantar sekolah, menangis tak mau ditinggal. Padahal sebelumnya tidak seperti itu. Bahkan, dia mengharuskan saya datang untuk menjemputnya lebih awal,” keluh Riani.

Sama seperti Riani, Runi juga sering mendapati anaknya cemas berlebihan. Sang anak yang berusia tujuh tahun tiba-tiba menangis dan berkata, “Mama jangan sakit ya. Mama jangan meninggal.”

Selain itu, anak Runi juga sangat cemas berlebihan ketika hendak menghadapi ulangan. Bahkan, sampai tidak bisa tidur.

“Kadang sampai nangis ketakutan tak bisa jawab ulangan. Padahal saya tak pernah memaksakan dia harus nilai 100. Bagi saya yang penting dia tak remidi saja. Saya khawatir kecemasan dia makin berlebihan dan jadi masalah kedepannya,” ungkap Runi.

Verty Sari Pusparini, M.Psi., psikolog menjelaskan gangguan kecemasan adalah perasaan cemas atau khawatir berlebihan dan sering yang disertai dengan alasan yang tidak jelas (irrasional). Anxiety disorder masuk dalam gangguan mental, sehingga kondisi ini tentu berbeda dengan cemas biasa.

Baca Juga :  Bahaya Bertengkar di Depan Buah Hati

Orang dengan gangguan cemas akan merasa sangat khawatir terhadap berbagai hal, bahkan ketika dirinya sedang berada dalam situasi normal. Dalam kasus yang parah, gangguan kecemasan juga bisa sampai mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya.

Psikolog Sekolah Pelita Cemerlang Pontianak ini menuturkan faktor risiko penyebab anxiety disorder, yakni trauma akan situasi tertentu yang tidak ditangani. Penyebab lainnya, genetik atau memiliki keluarga dengan riwayat gangguan psikologis, kepribadian pencemas, pemikir, atau rendah diri, dan stres yang tidak tertangani. Selain itu, adanya gangguan mental seperti depresi atau skizofrenia, penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol. Dan, memiliki sakit kronis sehingga merasa khawatir dengan kesehatannya sendiri.

Anxiety disorder bisa muncul bahkan pada usia anak. Bentuknya berbeda-beda. Pada anak yang umum terjadi yaitu separation anxiety, seperti ketakutan berpisah dengan pengasuh. Biasanya muncul ketika anak masuk sekolah.

Pola asuh berdampak besar memunculkan anxiety disorder pada anak. Orang tua pencemas kemungkinan besar membentuk anak yang pencemas juga. Selain itu, sikap orang tua dalam membantu anak mengelola emosi.

Orang tua terbiasa marah pada anak, tidak empati pada perasaan anak, memberikan target seperti harus juara atau dapat nilai bagus, kurang memenuhi kebutuhan anak, atau memanjakan anak dengan menuruti keinginannya, memperbesar anak untuk mengalami anxiety.

Orang tua harus peka ketika anak menunjukkan gejala mudah cemas dan tegang yang dapat dilihat dari fisiknya, seperti tangan dingin, keringat dingin, jantung berdebar-debar, mengeluh sakit, menghindari situasi tertentu, bahkan tidak fokus dan mengalami penurunan akademik.

Baca Juga :  Cara Mengatasi ‘Dad Shaming’

Psikolog dan founder Borneo Parenting Club ini mengatakan anxiety disorder memiliki bentuk lain, yakni generalized anxiety disorder (GAD) atau gangguan kecemasan umum yaitu munculnya rasa khawatir, gelisah, dan tegang berlebihan.

Social anxiety disorder yaitu kecemasan sosial ketika berada dalam lingkungan yang ramai atau takut bertemu dengan banyak orang. Panic disorder yang muncul secara tiba-tiba dan berulang tanpa alasan yang jelas. Bisa dalam hitungan menit atau berjam-jam.

“Serta, phobia atau ketakutan akan suatu objek atau situasi,” katanya.

Psikolog di aplikasi Halodoc ini menyatakan anxiety disorder ini dapat diatasi dengan cara memahami penyebab terjadinya dan mengajarkan anak rileksasi. Mengajarkan anak mengelola emosi dan stres, serta memberikan psikoterapi. Jika diperlukan, dapat mengkonsumsi obat khusus.

Apabila melihat buah hati menunjukkan gejala anxiety disorder, segera hubungi dokter atau psikolog untuk mengatasi permasalahan yang dialami.

“Jangan takut untuk bercerita atau mencari bantuan, karena semakin cepat ditangani, akan semakin cepat pemulihannya,” ungkap Verty.

Verty menambahkan jika orang tua membiarkan anxiety disorder yang dialami buah hatinya, tidak menutup kemungkinan dapat menyebabkan gangguan yang lebih kompleks ke depannya, khususnya dalam hal gangguan fisik atau kesehatan.

“Termasuk gangguan psikologis seperti mengalami depresi, insomnia, skizofrenia, atau suicidal,” pungkas Verty. **

 

Ada orang tua menganggap kecemasan yang dirasakan anak adalah respon alami tubuh. Namun, ternyata jika berlebihan dapat menjadi gangguan. Biasa dikenal dengan anxiety disorder.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Riani belakangan ini merasa bingung dengan tingkah anak semata wayangnya yang berusia enam tahun. Sang anak tidak pernah mau jauh darinya. Bahkan, ketakutan jika membayangkan ibunya meninggal dunia.

Semua bermula dari meninggalnya orang tua dari teman sang anak. “Jadi orang tua teman anak saya meninggal. Sejak saat itu, anak saya selalu menelepon saya. Bisa sampai empat kali hanya untuk menanyakan keadaan saya,” ungkap Riani.

Selain itu, anaknya juga menangis saat hendak ditinggal di kelas. “Kalau diantar sekolah, menangis tak mau ditinggal. Padahal sebelumnya tidak seperti itu. Bahkan, dia mengharuskan saya datang untuk menjemputnya lebih awal,” keluh Riani.

Sama seperti Riani, Runi juga sering mendapati anaknya cemas berlebihan. Sang anak yang berusia tujuh tahun tiba-tiba menangis dan berkata, “Mama jangan sakit ya. Mama jangan meninggal.”

Selain itu, anak Runi juga sangat cemas berlebihan ketika hendak menghadapi ulangan. Bahkan, sampai tidak bisa tidur.

“Kadang sampai nangis ketakutan tak bisa jawab ulangan. Padahal saya tak pernah memaksakan dia harus nilai 100. Bagi saya yang penting dia tak remidi saja. Saya khawatir kecemasan dia makin berlebihan dan jadi masalah kedepannya,” ungkap Runi.

Verty Sari Pusparini, M.Psi., psikolog menjelaskan gangguan kecemasan adalah perasaan cemas atau khawatir berlebihan dan sering yang disertai dengan alasan yang tidak jelas (irrasional). Anxiety disorder masuk dalam gangguan mental, sehingga kondisi ini tentu berbeda dengan cemas biasa.

Baca Juga :  Strap Mask Unik di Masa Pandemi

Orang dengan gangguan cemas akan merasa sangat khawatir terhadap berbagai hal, bahkan ketika dirinya sedang berada dalam situasi normal. Dalam kasus yang parah, gangguan kecemasan juga bisa sampai mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya.

Psikolog Sekolah Pelita Cemerlang Pontianak ini menuturkan faktor risiko penyebab anxiety disorder, yakni trauma akan situasi tertentu yang tidak ditangani. Penyebab lainnya, genetik atau memiliki keluarga dengan riwayat gangguan psikologis, kepribadian pencemas, pemikir, atau rendah diri, dan stres yang tidak tertangani. Selain itu, adanya gangguan mental seperti depresi atau skizofrenia, penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol. Dan, memiliki sakit kronis sehingga merasa khawatir dengan kesehatannya sendiri.

Anxiety disorder bisa muncul bahkan pada usia anak. Bentuknya berbeda-beda. Pada anak yang umum terjadi yaitu separation anxiety, seperti ketakutan berpisah dengan pengasuh. Biasanya muncul ketika anak masuk sekolah.

Pola asuh berdampak besar memunculkan anxiety disorder pada anak. Orang tua pencemas kemungkinan besar membentuk anak yang pencemas juga. Selain itu, sikap orang tua dalam membantu anak mengelola emosi.

Orang tua terbiasa marah pada anak, tidak empati pada perasaan anak, memberikan target seperti harus juara atau dapat nilai bagus, kurang memenuhi kebutuhan anak, atau memanjakan anak dengan menuruti keinginannya, memperbesar anak untuk mengalami anxiety.

Orang tua harus peka ketika anak menunjukkan gejala mudah cemas dan tegang yang dapat dilihat dari fisiknya, seperti tangan dingin, keringat dingin, jantung berdebar-debar, mengeluh sakit, menghindari situasi tertentu, bahkan tidak fokus dan mengalami penurunan akademik.

Baca Juga :  Semangat Bekerja Setelah Melahirkan

Psikolog dan founder Borneo Parenting Club ini mengatakan anxiety disorder memiliki bentuk lain, yakni generalized anxiety disorder (GAD) atau gangguan kecemasan umum yaitu munculnya rasa khawatir, gelisah, dan tegang berlebihan.

Social anxiety disorder yaitu kecemasan sosial ketika berada dalam lingkungan yang ramai atau takut bertemu dengan banyak orang. Panic disorder yang muncul secara tiba-tiba dan berulang tanpa alasan yang jelas. Bisa dalam hitungan menit atau berjam-jam.

“Serta, phobia atau ketakutan akan suatu objek atau situasi,” katanya.

Psikolog di aplikasi Halodoc ini menyatakan anxiety disorder ini dapat diatasi dengan cara memahami penyebab terjadinya dan mengajarkan anak rileksasi. Mengajarkan anak mengelola emosi dan stres, serta memberikan psikoterapi. Jika diperlukan, dapat mengkonsumsi obat khusus.

Apabila melihat buah hati menunjukkan gejala anxiety disorder, segera hubungi dokter atau psikolog untuk mengatasi permasalahan yang dialami.

“Jangan takut untuk bercerita atau mencari bantuan, karena semakin cepat ditangani, akan semakin cepat pemulihannya,” ungkap Verty.

Verty menambahkan jika orang tua membiarkan anxiety disorder yang dialami buah hatinya, tidak menutup kemungkinan dapat menyebabkan gangguan yang lebih kompleks ke depannya, khususnya dalam hal gangguan fisik atau kesehatan.

“Termasuk gangguan psikologis seperti mengalami depresi, insomnia, skizofrenia, atau suicidal,” pungkas Verty. **

 

Most Read

Artikel Terbaru

/