alexametrics
32 C
Pontianak
Thursday, August 11, 2022

Upaya Cepat Mendapatkan Pekerjaan

Persaingan untuk mendapat pekerjaan cukup ketat saat ini. Walau informasi mengenai lowongan pekerjaan mudah didapatkan di era digital saat ini, tetapi tetap diperlukan strategi khusus untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Pengalaman sulitnya mendapatkan pekerjaan pernah dialami Arifah. Sejak dinyatakan lulus dari perguruan tinggi pada 2016, dirinya baru resmi diterima bekerja pada Oktober 2019. Jika dihitung, hampir tiga tahun Arifah menganggur.

Berbagai perjuangan telah dilalui perempuan berusia 26 tahun ini untuk mendapatkan kerja. Mulai dari mencari lowongan kerja di koran, internet, event job fair hingga mendatangi beberapa instansi, baik pemerintahan maupun kantor swasta untuk melihat informasi. Namun, semuanya nihil. Dari beberapa lamaran yang dimasukkannya, Arifah sempat dinyatakan lolos administrasi, tetapi tidak mendapat panggilan untuk tes wawancara.

Sempat juga berkesempatan menjalani seleksi wawancara, tetapi gugur di tahap psikotes. Arifah sempat menyerah untuk mendapatkan pekerjaan. Bahkan, kala itu dirinya berpikir untuk membangun usaha sendiri dan menjadi wirausahawan. Tetapi, niatan tersebut masih ditundanya hingga akhirnya Arifah mendapatkan informasi pekerjaan di awal bulan Oktober.

Sempat terbesit rasa ragu dalam hatinya saat akan menyerahkan berkas ke instansi terkait. Arifah merasa usahanya akan gagal seperti yang sebelumnya. Tetapi, ternyata dia berhasil diterima sebagai pegawai di salah satu instansi BUMN.

Baca Juga :  Penyumbatan Saluran Air Mata

Tidak hanya Arifah, masih banyak yang lain yang sulit mendapatkan pekerjaan. Bukan hanya lulusan SMA, tingkat diploma dan sarjana sering mengeluh sulitnya mencari pekerjaan. Terlebih bagi yang ingin mencari kerja sesuai passion dan keinginan di bidang tertentu.

Psikolog Romi Arif Rianto, S.Psi mengatakan memang tak mudah mendapatkan pekerjaan.

“Bisa diibaratkan mencari pekerjaan layaknya mencari jodoh. Harus tepat sasaran,” kata Romi.

Cara tepat mendapatkan pekerjaan yakni pastinya calon pelamar sudah mengetahui informasi instansi maupun kantor mana saja yang membutuhkan karyawan. Tentunya sesuai dengan latar pendidikan yang dimiliki.

“Informasi bisa didapatkan saat bertandang langsung ke instansi dan kantor terkait, maupun melalui media online seperti internet dan website, serta media massa (koran),” ujarnya.

Meski telah mengetahui informasi, calon pelamar perlu mengetahui apa saja hal yang harus dihindari saat mencari kerja. Romi menyarankan agar mencari lowongan pekerjaan yang benar-benar mencari karyawan untuk bekerja. Bukan mencari karyawan yang hanya sekadar berjualan. Terkadang, ada perusahaan yang berlaku demikian. Mencari karyawan sekadar untuk marketing.

“Usahakan untuk benar-benar mewaspadai hal ini,” tutur Romi.

Psikolog di RSJ Provinsi Kalbar Singkawang ini menyatakan idealnya mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan dan latar belakang yang dimiliki. Namun, bukan berarti ada yang mendapatkan pekerjaan berbeda dengan pendidikan dan latar belakang. Misalnya, ada lulus perawat atau bidan bekerjanya justru menjadi seorang teller di sebuah bank.

Baca Juga :  Jajanan Manis Tanpa Oven

“Jika dilihat tentu berbeda jauh dengan pendidikan yang ditempat,” katanya.

Jika ditanya mengapa mau berkecimpung sebagai seorang teller, sebagian orang menjawab yang penting memiliki pekerjaan. Romi menuturkan jika siap dengan komitmen ‘yang penting memiliki pekerjaan’, silahkan untuk dilanjutkan. Namun, jika masih ingin mempertahankan pendidikan dan latar belakang, lebih baik cari yang sesuai.

“Yang bersangkutan juga harus terus belajar mengenai apa saja kompetensi yang dibutuhkan pekerjaan tersebut. Karena Anda telah memilih berkecimpung di bidang pekerjaan yang tidak sesuai dengan pendidikan dan latar belakang. Sebagai karyawan, Anda dituntut harus bisa memahami karakter yang akan dihadapi ketika bekerja di bidang tersebut,” ungkap Romi.

Psikolog di Biro Psikologi Persona ini menambahkan sebaiknya mempersiapkan diri sebelum mencari pekerjaan. Sebab, dunia kerja tidak segampang yang dibayangkan.

“Beda dengan saat masih bersekolah atau mengenyam pendidik di bangku kuliah. Terkadang  ada yang berpikiran sudah siap kerja setelah lulus sekolah atau kuliah,” tutur Romi sembari menambahkan bahwa dalam dunia kerja juga ada irama dan politiknya. **

Persaingan untuk mendapat pekerjaan cukup ketat saat ini. Walau informasi mengenai lowongan pekerjaan mudah didapatkan di era digital saat ini, tetapi tetap diperlukan strategi khusus untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Pengalaman sulitnya mendapatkan pekerjaan pernah dialami Arifah. Sejak dinyatakan lulus dari perguruan tinggi pada 2016, dirinya baru resmi diterima bekerja pada Oktober 2019. Jika dihitung, hampir tiga tahun Arifah menganggur.

Berbagai perjuangan telah dilalui perempuan berusia 26 tahun ini untuk mendapatkan kerja. Mulai dari mencari lowongan kerja di koran, internet, event job fair hingga mendatangi beberapa instansi, baik pemerintahan maupun kantor swasta untuk melihat informasi. Namun, semuanya nihil. Dari beberapa lamaran yang dimasukkannya, Arifah sempat dinyatakan lolos administrasi, tetapi tidak mendapat panggilan untuk tes wawancara.

Sempat juga berkesempatan menjalani seleksi wawancara, tetapi gugur di tahap psikotes. Arifah sempat menyerah untuk mendapatkan pekerjaan. Bahkan, kala itu dirinya berpikir untuk membangun usaha sendiri dan menjadi wirausahawan. Tetapi, niatan tersebut masih ditundanya hingga akhirnya Arifah mendapatkan informasi pekerjaan di awal bulan Oktober.

Sempat terbesit rasa ragu dalam hatinya saat akan menyerahkan berkas ke instansi terkait. Arifah merasa usahanya akan gagal seperti yang sebelumnya. Tetapi, ternyata dia berhasil diterima sebagai pegawai di salah satu instansi BUMN.

Baca Juga :  Si Kecil Malas Mandi

Tidak hanya Arifah, masih banyak yang lain yang sulit mendapatkan pekerjaan. Bukan hanya lulusan SMA, tingkat diploma dan sarjana sering mengeluh sulitnya mencari pekerjaan. Terlebih bagi yang ingin mencari kerja sesuai passion dan keinginan di bidang tertentu.

Psikolog Romi Arif Rianto, S.Psi mengatakan memang tak mudah mendapatkan pekerjaan.

“Bisa diibaratkan mencari pekerjaan layaknya mencari jodoh. Harus tepat sasaran,” kata Romi.

Cara tepat mendapatkan pekerjaan yakni pastinya calon pelamar sudah mengetahui informasi instansi maupun kantor mana saja yang membutuhkan karyawan. Tentunya sesuai dengan latar pendidikan yang dimiliki.

“Informasi bisa didapatkan saat bertandang langsung ke instansi dan kantor terkait, maupun melalui media online seperti internet dan website, serta media massa (koran),” ujarnya.

Meski telah mengetahui informasi, calon pelamar perlu mengetahui apa saja hal yang harus dihindari saat mencari kerja. Romi menyarankan agar mencari lowongan pekerjaan yang benar-benar mencari karyawan untuk bekerja. Bukan mencari karyawan yang hanya sekadar berjualan. Terkadang, ada perusahaan yang berlaku demikian. Mencari karyawan sekadar untuk marketing.

“Usahakan untuk benar-benar mewaspadai hal ini,” tutur Romi.

Psikolog di RSJ Provinsi Kalbar Singkawang ini menyatakan idealnya mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan dan latar belakang yang dimiliki. Namun, bukan berarti ada yang mendapatkan pekerjaan berbeda dengan pendidikan dan latar belakang. Misalnya, ada lulus perawat atau bidan bekerjanya justru menjadi seorang teller di sebuah bank.

Baca Juga :  Memulai Toilet Training pada Si Kecil

“Jika dilihat tentu berbeda jauh dengan pendidikan yang ditempat,” katanya.

Jika ditanya mengapa mau berkecimpung sebagai seorang teller, sebagian orang menjawab yang penting memiliki pekerjaan. Romi menuturkan jika siap dengan komitmen ‘yang penting memiliki pekerjaan’, silahkan untuk dilanjutkan. Namun, jika masih ingin mempertahankan pendidikan dan latar belakang, lebih baik cari yang sesuai.

“Yang bersangkutan juga harus terus belajar mengenai apa saja kompetensi yang dibutuhkan pekerjaan tersebut. Karena Anda telah memilih berkecimpung di bidang pekerjaan yang tidak sesuai dengan pendidikan dan latar belakang. Sebagai karyawan, Anda dituntut harus bisa memahami karakter yang akan dihadapi ketika bekerja di bidang tersebut,” ungkap Romi.

Psikolog di Biro Psikologi Persona ini menambahkan sebaiknya mempersiapkan diri sebelum mencari pekerjaan. Sebab, dunia kerja tidak segampang yang dibayangkan.

“Beda dengan saat masih bersekolah atau mengenyam pendidik di bangku kuliah. Terkadang  ada yang berpikiran sudah siap kerja setelah lulus sekolah atau kuliah,” tutur Romi sembari menambahkan bahwa dalam dunia kerja juga ada irama dan politiknya. **

Most Read

Artikel Terbaru

/