alexametrics
32.8 C
Pontianak
Wednesday, August 10, 2022

Berlaku Adil dengan Banyak Anak 

Banyak anak, banyak rezeki. Ungkapan ini kerap terlontar. Namun, tak mudah mengurus banyak anak. Harus pandai-pandai bersikap agar terlihat adil dan tak pilih kasih di mata anak. 
 
Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Bagi pasangan Suryani dan Hamzah memiliki lima anak merupakan suatu anugerah dari Tuhan. Mereka dikaruniai tiga anak perempuan dan dua lelaki. Jarak usia anak pertama dan kedua adalah dua tahun. Anak kedua dan ketiga berjarak empat tahun. Dan yang bungsu berusia 12 tahun.

Suryani dan Hamzah tak merasa repot memiliki lima anak. Malah mereka sangat bersyukur atas karunia Tuhan itu.

“Biasanya selisih paham (anak-anak) masalah rebutan mainan. Adu mulut dan menangis sudah jadi santapan. Tetapi, ketika keduanya beranjak dewasa masa-masa itu yang selalu dikenang,” kata Suryani.
Suryani dan Hamzah justru banyak belajar dari karakter kelima buah hatinya yang berbeda-beda.

“Saya dan istri berharap semoga kelima buah hati kami bisa tetap akur dan bahagia hingga tua,” harap Hamzah.

Psikolog Desni Yuniarni, M.Psi mengatakan orang tua perlu memahami bahwa karakter setiap anak berbeda.  Pemberian pola asuh, perlakuan, dan perhatian terhadap anak harus sesuai dengan karakter dan kebutuhannya.

Baca Juga :  Selektif Memberi Utang

Namun, sering orang tua dengan banyak anak tak menyadari bahwa buah hatinya memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Sehingga perhatian yang diberikan dinilai tak merata. Akhirnya ada yang merasa ‘anak emas’ dan ‘anak tiri’.

“Anak merasa orang tua tidak adil memberikan cinta dan kasih sayang. Anak pun merasa terlantar. Kebanyakan ini terjadi pada anak dengan jarak kelahiran yang terlalu dekat,” katanya.

Hal ini juga terkadang membuat adanya persaingan antar saudara. Dosen program studi PG-PAUD, FKIP Untan ini menuturkan orang tua harus memiliki waktu yang banyak agar pola asuh yang diterapkan tersampaikan dengan baik.

“Penting juga untuk menjaga komitmen, disiplis serta komunikasi antara keduanya,” tutur Desni.
Saat anak pertama sakit dan ingin ditemani ibu, tetapi ibu harus melayani si bungsu makan, peran ibu bisa digantikan sementara oleh ayah.

“Jangan sampai anak pertama merasa perhatian hanya tertuju pada adiknya yang masih kecil,” tutur Desni.

Bagaimana menghadapi rasa lelah dengan kondisi banyak anak? Desni menyatakan keduanya bisa quality time. Misalnya, pergi untuk sekadar makan atau nonton berdua. Orang tua bisa menitipkan buah hati kepada orang tua, kerabat atau orang terpercaya.

Baca Juga :  Bentuk Organisasi Pemuda Peduli Lingkungan Tingkat Asia Pasifik

“Apabila ingin quality time sendiri-sendiri, baik suami maupun istri bisa membuat kesepakatan. Ketika istri berpergian, suami yang menjaga buah hatinya. Begitu pula sebaliknya,” jelas Desni.

Namun, ada orang tua yang tidak tega membiarkan buah hatinya dijaga orang lain atau merasa bersalah bersenang-senang tanpa buah hati. Ayah dan ibu bisa mengajak anak berekreasi. Misalnya, pergi ke pantai. Eksplorasi bersama seluruh anak. Desni yakin pasti liburan terasa menyenangkan.

Pemilik Biro Psikologi Indigrow Pontianak ini menyarankan agar orang tua menikmati masa-masa bersama di setiap rentang usia anak. Mulai dari menikmati mengandung, melahirkan, begadang untuk menyusui, mengajari bermacam hal, hingga anak beranjak dewasa.

“Karena akan ada waktu dimana masa-masa ini tidak akan terulang lagi,” tambahnya.

Dia menambahkan orang tua tidak perlu merasa sedih, lelah, atau  stres menghadapi ragam karakter buah hati yang banyak.

“Karena tanpa disadari orang tua akan merasa rindu dengan momen yang ada. Lebih baik menikmati kehebohan dan keseruan bersama sebelum anak dewasa,” saran Desni. **

Banyak anak, banyak rezeki. Ungkapan ini kerap terlontar. Namun, tak mudah mengurus banyak anak. Harus pandai-pandai bersikap agar terlihat adil dan tak pilih kasih di mata anak. 
 
Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Bagi pasangan Suryani dan Hamzah memiliki lima anak merupakan suatu anugerah dari Tuhan. Mereka dikaruniai tiga anak perempuan dan dua lelaki. Jarak usia anak pertama dan kedua adalah dua tahun. Anak kedua dan ketiga berjarak empat tahun. Dan yang bungsu berusia 12 tahun.

Suryani dan Hamzah tak merasa repot memiliki lima anak. Malah mereka sangat bersyukur atas karunia Tuhan itu.

“Biasanya selisih paham (anak-anak) masalah rebutan mainan. Adu mulut dan menangis sudah jadi santapan. Tetapi, ketika keduanya beranjak dewasa masa-masa itu yang selalu dikenang,” kata Suryani.
Suryani dan Hamzah justru banyak belajar dari karakter kelima buah hatinya yang berbeda-beda.

“Saya dan istri berharap semoga kelima buah hati kami bisa tetap akur dan bahagia hingga tua,” harap Hamzah.

Psikolog Desni Yuniarni, M.Psi mengatakan orang tua perlu memahami bahwa karakter setiap anak berbeda.  Pemberian pola asuh, perlakuan, dan perhatian terhadap anak harus sesuai dengan karakter dan kebutuhannya.

Baca Juga :  Lepasnya Retina dari Posisi Asli

Namun, sering orang tua dengan banyak anak tak menyadari bahwa buah hatinya memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Sehingga perhatian yang diberikan dinilai tak merata. Akhirnya ada yang merasa ‘anak emas’ dan ‘anak tiri’.

“Anak merasa orang tua tidak adil memberikan cinta dan kasih sayang. Anak pun merasa terlantar. Kebanyakan ini terjadi pada anak dengan jarak kelahiran yang terlalu dekat,” katanya.

Hal ini juga terkadang membuat adanya persaingan antar saudara. Dosen program studi PG-PAUD, FKIP Untan ini menuturkan orang tua harus memiliki waktu yang banyak agar pola asuh yang diterapkan tersampaikan dengan baik.

“Penting juga untuk menjaga komitmen, disiplis serta komunikasi antara keduanya,” tutur Desni.
Saat anak pertama sakit dan ingin ditemani ibu, tetapi ibu harus melayani si bungsu makan, peran ibu bisa digantikan sementara oleh ayah.

“Jangan sampai anak pertama merasa perhatian hanya tertuju pada adiknya yang masih kecil,” tutur Desni.

Bagaimana menghadapi rasa lelah dengan kondisi banyak anak? Desni menyatakan keduanya bisa quality time. Misalnya, pergi untuk sekadar makan atau nonton berdua. Orang tua bisa menitipkan buah hati kepada orang tua, kerabat atau orang terpercaya.

Baca Juga :  Mengatasi Jenuh Work From Home

“Apabila ingin quality time sendiri-sendiri, baik suami maupun istri bisa membuat kesepakatan. Ketika istri berpergian, suami yang menjaga buah hatinya. Begitu pula sebaliknya,” jelas Desni.

Namun, ada orang tua yang tidak tega membiarkan buah hatinya dijaga orang lain atau merasa bersalah bersenang-senang tanpa buah hati. Ayah dan ibu bisa mengajak anak berekreasi. Misalnya, pergi ke pantai. Eksplorasi bersama seluruh anak. Desni yakin pasti liburan terasa menyenangkan.

Pemilik Biro Psikologi Indigrow Pontianak ini menyarankan agar orang tua menikmati masa-masa bersama di setiap rentang usia anak. Mulai dari menikmati mengandung, melahirkan, begadang untuk menyusui, mengajari bermacam hal, hingga anak beranjak dewasa.

“Karena akan ada waktu dimana masa-masa ini tidak akan terulang lagi,” tambahnya.

Dia menambahkan orang tua tidak perlu merasa sedih, lelah, atau  stres menghadapi ragam karakter buah hati yang banyak.

“Karena tanpa disadari orang tua akan merasa rindu dengan momen yang ada. Lebih baik menikmati kehebohan dan keseruan bersama sebelum anak dewasa,” saran Desni. **

Previous articleCowokku Jago Masak
Next articleMengembalikan Tradisi

Most Read

Artikel Terbaru

/