alexametrics
30.6 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Ketika Kehilangan yang Dicinta

ADA banyak hal indah dan menyenangkan dalam hidup, namun ada pula momen-momen kehilangan yang sangat menguras emosi. Salah satunya kehilangan orang yang dicinta.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Bukan hal mudah menerima kenyataan ditinggalkan yang terkasih pergi selama-lamanya. Terlebih kepergiannya terasa cepat dan mendadak. Beberapa di antara pasangan bahkan masih kerap berandai-andai bahwa yang terjadi bukan kenyataan.

Riskiyana Adi Putra, M.Psi

Menjawab hal ini, psikolog Riskiyana Adi Putra, M.Psi mengatakan sedih adalah bagian dari emosi. Goleman mengemukakan bahwa emosi kesedihan timbul dalam diri individu disebabkan oleh keadaan suasana hati yang sedih, suram, pedih, muram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa dan depresi berat.

“Kesedihan merupakan hal wajar yang dialami oleh individu,” katanya.

Merujuk pada teori Five Stages of  Grief dari Elisabeth Kubler-Ross, denial adalah tahapan yang normal atau umum yang pertama kali dialami oleh individu yang mengalami kesedihan.

Individu berada dalam kebingungan dan berusaha menyangkal sesuatu yang terjadi walau sesungguhnya yang bersangkutan tahu kalau hal itu telah terjadi. Kesedihan tentu akan dirasakan oleh setiap individu yang menemui pengalaman buruk atau tidak menyenangkan karena hal tersebut adalah sesuatu yang normal.

Berbeda dengan kesedihan, depresi merupakan sebuah gangguan mental yang memang memiliki kaitan, salah satunya dengan kesedihan.

“Tidak ada penyebab tunggal pada individu yang mengalami depresi,” tutur Riski.

Baca Juga :  Tepat Membandingkan Pertumbuhan Anak

Mengacu pada pendapat psikologi kognitif, individu mengalami depresi umumnya cenderung menilai sesuatu dari sisi buruknya saja, pesimis, dan berpikir negatif tentang diri sendiri ataupun orang lain dan juga pada sebuah peristiwa.

Menurut Riski, kesedihan selalu memiliki periode tertentu dengan gambaran paling cepat satu sampai dua minggu individu mampu menerima kesedihan. Sedangkan pada depresi, periodenya berbeda-beda tergantung dari jenis depresi yang dialami dan cenderung lebih lama dan yang jelas sangat mengganggu aktivitas kita.

“Dampak terburuk dari depresi adalah bunuh diri. 80 sampai 90 persen kasus bunuh diri disebabkan oleh depresi,” ucapnya.

Psikolog di Balai Pemasyarakatan Kelas II Pontianak ini menyatakan secara sederhana, agar individu mampu mengatasi kesedihan, berpikirlah positif. Carilah hikmah dari setiap peristiwa khususnya untuk hal yang terkait pengalaman buruk atau tidak menyenangkan. Dan, belajar memaknai segala sesuatu sesuai porsinya.

Dukungan dari orang-orang terdekat akan memberi kontribusi yang baik pada individu yang mengalami kesedihan.

Bagaimana dengan individu yang merasa bersalah dan kerap menyalahkan dirinya atas kehilangan pasangannya?

Riski menuturkan kembali pada Five Stages of Grief, Kubler-Ross, hal ini merupakan fase ketiga pada tahap kesedihan. Dalam hal ini, individu tersebut berada pada tahap bergaining, dimana individu berandai-andai tentang kemungkinan yang seharusnya dilakukan sebelum hal buruk terjadi.

Tahap ini muncul ketika individu mulai mempercayai tentang hal yang menimpanya dengan tujuan untuk melindungi diri dari kenyataan yang buruk. Pada dasarnya individu yang mengalami pengalaman traumatis yang buruk memiliki kecenderungan merasa kalau dirinya adalah orang paling malang di dunia. Dan merasa kalau dirinya lah satu satunya orang yang menderita.

Baca Juga :  24 Jam Belajar Sunnah Nabi

Untuk itulah dibutuhkan dukungan positif dari orang-orang di sekitarnya. Hal seperti ini umum digunakan sebagai prinsip dasar terapi kelompok yang juga bisa digunakan di lingkungan keluarga atau kerabat lain.

Bentuknya bermacam-macam, bisa dengan memberikan waktu untuk mendengarkan keluhan terkait kesedihannya, menguatkan, berbagi cerita terkait peristiwa serupa dan lainnya. Yang mana inti dari hal tersebut secara sederhana adalah menunjukkan kalau individu tersebut tidak sendirian dan banyak orang mengalami hal serupa.

Riski mengingatkan kembali tidak ada manusia yang tidak mengenal perasaan sedih, semua manusia pasti pernah merasakan kesedihan. Mungkin hanya cara mengekspresikannya yang berbeda-beda.

Bahkan di salah satu film besutan luar negeri berjudul Joker yang sempat hits kala itu, sang penjahat bukan tidak bisa bersedih, tetapi dia tidak bisa menangis. Sedih adalah emosi, menangis adalah ekspresi emosi. Jika ada yang mempertanyakan mengapa terlalu larut dalam kesedihan ditinggal orang yang dicinta, Riski menyarankan untuk diabaikan saja. “Lebih baik cari dukungan yang positif,” pesan Riski.**

ADA banyak hal indah dan menyenangkan dalam hidup, namun ada pula momen-momen kehilangan yang sangat menguras emosi. Salah satunya kehilangan orang yang dicinta.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Bukan hal mudah menerima kenyataan ditinggalkan yang terkasih pergi selama-lamanya. Terlebih kepergiannya terasa cepat dan mendadak. Beberapa di antara pasangan bahkan masih kerap berandai-andai bahwa yang terjadi bukan kenyataan.

Riskiyana Adi Putra, M.Psi

Menjawab hal ini, psikolog Riskiyana Adi Putra, M.Psi mengatakan sedih adalah bagian dari emosi. Goleman mengemukakan bahwa emosi kesedihan timbul dalam diri individu disebabkan oleh keadaan suasana hati yang sedih, suram, pedih, muram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa dan depresi berat.

“Kesedihan merupakan hal wajar yang dialami oleh individu,” katanya.

Merujuk pada teori Five Stages of  Grief dari Elisabeth Kubler-Ross, denial adalah tahapan yang normal atau umum yang pertama kali dialami oleh individu yang mengalami kesedihan.

Individu berada dalam kebingungan dan berusaha menyangkal sesuatu yang terjadi walau sesungguhnya yang bersangkutan tahu kalau hal itu telah terjadi. Kesedihan tentu akan dirasakan oleh setiap individu yang menemui pengalaman buruk atau tidak menyenangkan karena hal tersebut adalah sesuatu yang normal.

Berbeda dengan kesedihan, depresi merupakan sebuah gangguan mental yang memang memiliki kaitan, salah satunya dengan kesedihan.

“Tidak ada penyebab tunggal pada individu yang mengalami depresi,” tutur Riski.

Baca Juga :  Tepat Membandingkan Pertumbuhan Anak

Mengacu pada pendapat psikologi kognitif, individu mengalami depresi umumnya cenderung menilai sesuatu dari sisi buruknya saja, pesimis, dan berpikir negatif tentang diri sendiri ataupun orang lain dan juga pada sebuah peristiwa.

Menurut Riski, kesedihan selalu memiliki periode tertentu dengan gambaran paling cepat satu sampai dua minggu individu mampu menerima kesedihan. Sedangkan pada depresi, periodenya berbeda-beda tergantung dari jenis depresi yang dialami dan cenderung lebih lama dan yang jelas sangat mengganggu aktivitas kita.

“Dampak terburuk dari depresi adalah bunuh diri. 80 sampai 90 persen kasus bunuh diri disebabkan oleh depresi,” ucapnya.

Psikolog di Balai Pemasyarakatan Kelas II Pontianak ini menyatakan secara sederhana, agar individu mampu mengatasi kesedihan, berpikirlah positif. Carilah hikmah dari setiap peristiwa khususnya untuk hal yang terkait pengalaman buruk atau tidak menyenangkan. Dan, belajar memaknai segala sesuatu sesuai porsinya.

Dukungan dari orang-orang terdekat akan memberi kontribusi yang baik pada individu yang mengalami kesedihan.

Bagaimana dengan individu yang merasa bersalah dan kerap menyalahkan dirinya atas kehilangan pasangannya?

Riski menuturkan kembali pada Five Stages of Grief, Kubler-Ross, hal ini merupakan fase ketiga pada tahap kesedihan. Dalam hal ini, individu tersebut berada pada tahap bergaining, dimana individu berandai-andai tentang kemungkinan yang seharusnya dilakukan sebelum hal buruk terjadi.

Tahap ini muncul ketika individu mulai mempercayai tentang hal yang menimpanya dengan tujuan untuk melindungi diri dari kenyataan yang buruk. Pada dasarnya individu yang mengalami pengalaman traumatis yang buruk memiliki kecenderungan merasa kalau dirinya adalah orang paling malang di dunia. Dan merasa kalau dirinya lah satu satunya orang yang menderita.

Baca Juga :  Bahaya Pamer Pertengkaran Keluarga di Medsos

Untuk itulah dibutuhkan dukungan positif dari orang-orang di sekitarnya. Hal seperti ini umum digunakan sebagai prinsip dasar terapi kelompok yang juga bisa digunakan di lingkungan keluarga atau kerabat lain.

Bentuknya bermacam-macam, bisa dengan memberikan waktu untuk mendengarkan keluhan terkait kesedihannya, menguatkan, berbagi cerita terkait peristiwa serupa dan lainnya. Yang mana inti dari hal tersebut secara sederhana adalah menunjukkan kalau individu tersebut tidak sendirian dan banyak orang mengalami hal serupa.

Riski mengingatkan kembali tidak ada manusia yang tidak mengenal perasaan sedih, semua manusia pasti pernah merasakan kesedihan. Mungkin hanya cara mengekspresikannya yang berbeda-beda.

Bahkan di salah satu film besutan luar negeri berjudul Joker yang sempat hits kala itu, sang penjahat bukan tidak bisa bersedih, tetapi dia tidak bisa menangis. Sedih adalah emosi, menangis adalah ekspresi emosi. Jika ada yang mempertanyakan mengapa terlalu larut dalam kesedihan ditinggal orang yang dicinta, Riski menyarankan untuk diabaikan saja. “Lebih baik cari dukungan yang positif,” pesan Riski.**

Most Read

Artikel Terbaru

/