alexametrics
33 C
Pontianak
Wednesday, August 10, 2022

Melindungi Diri dari Pencemaran Udara

Organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), mencatat, 9 di antara 10 orang di dunia menghirup udara berpolusi. Beberapa penyakit juga muncul akibat polusi. Bisa dikatakan, polusi itu tidak berwujud, tapi mematikan. Efektifkah memakai masker pelindung?

Polusi udara minimal mengandung enam partikel berbahaya. Di antaranya, PM2.5, PM10, karbon
monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), dan ozon. Untuk melindungi supaya partikel polusi tidak terhirup, membutuhkan masker pelindung.

Dr dr Agus Dwi Susanto SpP(K) menyarankan pemakaian masker sekali pakai. Sebab, ada peluang kontaminasi bakteri saat masker dikeringkan setelah dicuci. Bahkan, spesialis paru itu menyarankan pemakaian masker khusus atau respirator untuk menangkal polusi udara. Kain seadanya lantas ditutupkan ke mulut dan hidung dinilai kurang efektif.

Baca Juga :  Merawat Kesenian Teater dari Kampus

Meski begitu, menurut perwakilan Divisi Paru Kerja dan Lingkungan Departemen Pulmonologi FKUI itu, masker medis maupun kain tetap bisa dijadikan penolong agar tidak terkontaminasi polusi. “Daripada tidak ada pelindung sama sekali,” ujarnya.

Perbandingannya, kata Agus, respirator bisa mengurangi partikel polusi udara yang masuk ke saluran napas dan paru. Terutama jika beraktivitas di luar ruangan. Respirator memiliki kemampuan menyaring partikel hingga 95 persen, sedangkan masker biasa sekitar 45 persen.

Karena itu, dokter yang berdinas di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur, tersebut tidak menyarankan banyak beraktivitas di luar ruangan saat indeks kualitas udara buruk. Olahraga, misalnya.

“Lebih baik berolahraga di dalam rumah. Dan, tutup jendela rumah,” sarannya.

Baca Juga :  Camilan Penghalau Lapar

Selain masker maupun respirator, bentengi tubuh dengan mengonsumsi buah dan sayuran. Konsultan gizi Maulidya, 45, menyarankan sayuran hijau kaya klorofil. Brokoli, salah satunya. Sebab, brokoli
mengandung sulforafan yang akan mengeluarkan racun polusi berupa ozon melalui feses.

Pilihan lain, buah yang mengandung vitamin C. Sebab, menurut perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah, itu, vitamin C mampu melindungi tubuh dari bahaya radikal bebas. Kesehatan paru-paru akan terjaga ketika kebutuhan vitamin C tercukupi.

“Bisa juga rutin mengonsumsi teh hijau yang mengandung senyawa katekin. Tapi, ingat, kebutuhan air 1,5 liter per hari, ya,” tambahnya. (*/sam/c25/nda/JP)

Organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), mencatat, 9 di antara 10 orang di dunia menghirup udara berpolusi. Beberapa penyakit juga muncul akibat polusi. Bisa dikatakan, polusi itu tidak berwujud, tapi mematikan. Efektifkah memakai masker pelindung?

Polusi udara minimal mengandung enam partikel berbahaya. Di antaranya, PM2.5, PM10, karbon
monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), dan ozon. Untuk melindungi supaya partikel polusi tidak terhirup, membutuhkan masker pelindung.

Dr dr Agus Dwi Susanto SpP(K) menyarankan pemakaian masker sekali pakai. Sebab, ada peluang kontaminasi bakteri saat masker dikeringkan setelah dicuci. Bahkan, spesialis paru itu menyarankan pemakaian masker khusus atau respirator untuk menangkal polusi udara. Kain seadanya lantas ditutupkan ke mulut dan hidung dinilai kurang efektif.

Baca Juga :  Karier Sukses, Keluarga Tetap Bahagia

Meski begitu, menurut perwakilan Divisi Paru Kerja dan Lingkungan Departemen Pulmonologi FKUI itu, masker medis maupun kain tetap bisa dijadikan penolong agar tidak terkontaminasi polusi. “Daripada tidak ada pelindung sama sekali,” ujarnya.

Perbandingannya, kata Agus, respirator bisa mengurangi partikel polusi udara yang masuk ke saluran napas dan paru. Terutama jika beraktivitas di luar ruangan. Respirator memiliki kemampuan menyaring partikel hingga 95 persen, sedangkan masker biasa sekitar 45 persen.

Karena itu, dokter yang berdinas di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur, tersebut tidak menyarankan banyak beraktivitas di luar ruangan saat indeks kualitas udara buruk. Olahraga, misalnya.

“Lebih baik berolahraga di dalam rumah. Dan, tutup jendela rumah,” sarannya.

Baca Juga :  Pilih Korporasi atau Startup?

Selain masker maupun respirator, bentengi tubuh dengan mengonsumsi buah dan sayuran. Konsultan gizi Maulidya, 45, menyarankan sayuran hijau kaya klorofil. Brokoli, salah satunya. Sebab, brokoli
mengandung sulforafan yang akan mengeluarkan racun polusi berupa ozon melalui feses.

Pilihan lain, buah yang mengandung vitamin C. Sebab, menurut perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah, itu, vitamin C mampu melindungi tubuh dari bahaya radikal bebas. Kesehatan paru-paru akan terjaga ketika kebutuhan vitamin C tercukupi.

“Bisa juga rutin mengonsumsi teh hijau yang mengandung senyawa katekin. Tapi, ingat, kebutuhan air 1,5 liter per hari, ya,” tambahnya. (*/sam/c25/nda/JP)

Most Read

Tingkatkan Pelayanan Masyarakat

Bupati akan Tertibkan Bangunan

Berharap Izin Hutan Desa Cepat Keluar

Menag RI Kunjungi Pesantren Ushuluddin

Artikel Terbaru

/