alexametrics
28.9 C
Pontianak
Wednesday, May 25, 2022

Dwi Penyu, Ibu Bagi Hewan Air Raksasa

DWI Penyu sapaannya. Sosoknya memang mungil namun siapa sangka perempuan asal Kota Singkawang ini sering menangani hewan-hewan air raksasa seperti penyu, paus, lumba-lumba, duyung (dugong) dan hiu paus. Dalam kesehariannya, Dwi sangat aktif menangani konservasi megafauna akuatik yang dilindungi tersebut.

Oleh: Syahriani Siregar

Kecintaan Dwi kepada penyu sudah sangat lama, sejak pertama ia duduk di bangku kuliah, dua puluh tahun lalu. Coba saja ajak Dwi ngobrol soal penyu, maka dengan semangat meletup-letup ia akan bercerita tentang hewan purba laut tersebut.

Lahir di Singkawang, 25 Mei 1983, drh. Dwi Suprapti, M.,Si merupakan lulusan Program Profesi Dokter Hewan dan Program Magister Ilmu Lingkungan Universitas Udayana Bali. Puteri kedua dari pasangan Suparno dan Nanik Minarsih ini sekarang sedang menjalani program Doktor Ilmu Lingkungan di universitas negeri tertua di Bali tersebut.

Sejak di tahun pertama kuliah, Dwi sudah aktif di luar kampus bersama WWF (World Wide Fund), sebagai relawan. Kegiatan pertamanya adalah pelepasan tukik (bayi penyu) di pantai bersama penggiat konservasi di Bali. Pada masa itu, pemerintah pusat dan daerah sedang gencar melakukan penyelamatan penyu di Bali karena banyaknya penyelundupan yang terjadi. Penyu diburu dan dikonsumsi bermodus kepentingan adat, padahal untuk kepentingan pribadi.

Saat ini Dwi sedang melakukan penelitian terhadap pola migrasi penyu belimbing. Untuk mengetahui pergerakan penyu diperlukan pemasangan alat di tubuh penyu.

Sejak kegiatan itu, Dwi banyak terlibat soal kasus perlindungan penyu. Polisi khususnya kepolisian perairan (polair) sering menangkap penyelundupan penyu di Bali. Dwi melihat langsung bagaimana kondisi penyu-penyu itu dibawa di kapal oleh penyelundup. Tangan penyu diikat, kulit dibolongi, bahkan ada yang tangannya patah dan hancur. Penyu dibiarkan tertimpa dan tergencet hingga ususnya keluar. Penyu pun dibiarkan lama di kapal tanpa air. Dramatisnya, hewan bercangkang itu tetap mampu bertahan hidup.

“Ketika para penyelundup ditangkap, penyu-penyu itu disita dan dibawa ke kantor polisi lalu diletakkan di situ saja, tidak terawat karena tidak ada yang paham bagaimana merawatnya,” ujar Dwi.

Baca Juga :  Telur Penyu Ilegal Dimusnahkan

Melihat kondisi yang menyedihkan itu, Dwi merasa simpati dan nuraninya terpanggil. Karena belum banyak dokter hewan yang bergerak di dunia akuatik, dengan tulus Dwi merawat penyu-penyu hasil selundupan yang tertangkap tersebut bersama pihak berwajib.

“Selama kuliah, saya kerjaannya ya itu, mantengin polair melulu, jadi dekat sama kawan-kawan di kepolisian air. Setiap ada kejadian pasti saya dihubungi,” kenang Dwi.

Bolak-balik kantor polisi bahkan tidur di kantor polisi sudah hal biasa baginya. Sewaktu menjadi relawan WWF, Dwi banyak dilibatkan kemana-mana. Waktu libur kuliahnya pasti digunakan untuk ikut kegiatan hingga ke pedalaman. Begitu lulus kuliah ia langsung direkrut dan berkarir bersama WWF Indonesia sebagai ahli penyu, hingga kini.

Saking cintanya dengan penyu, apapun penelitian yang dilakuakannya selalu dikaitkan dengan penyu, tidak hanya tugas kuliah, bahkan skripsi dan tesisnya juga berkaitan dengan penyu. Maka, tak heran julukan “Dwi Penyu” diberikan oleh teman-temannya. Banyak penelitian tentang penyu yang telah dilakukan oleh Dwi, yang paling populer adalah mengenai seks rasio pada penyu. Bayi penyu tidak bisa diketahui jenis kelaminnya secara eksternal seperti hewan lainnya, harus dilakukan metode khusus.

“Pembentukan jenis kelamin penyu sangat bergantung pada suhu inkubasi. Apabila suhu inkubasinya tinggi atau panas maka akan cenderung ke betina. Berbalik kondisi jika suhunya rendah apalagi kalau musim hujan ekstrem, maka cenderung jadi jantan semua,” jelas Dwi. Berkat penelitian tersebut, Dwi menjadi peneliti pertama di Indonesia untuk seks rasio penyu. Di kampusnya, Dwi juga menjadi mahasiswa pertama yang mendirikan komunitas penjaga penyu bernama Turtle Guard. Sudah 17 tahun berdiri, komunitas kampus tersebut masih aktif hingga sekarang.

Tahun 2008, WWF menawarkannya kesempatan merintis lokasi baru untuk konservasi penyu. Sebagai puteri daerah Kalbar, ia merekomendasikan Paloh, Sambas. Berbekal cerita dari sang ayah yang pernah bertugas di Paloh sebagai seorang tentara, Dwi pergi merintis seorang diri dengan tekad tinggi dan harapan baru.

Baca Juga :  Pola Asuh 'Co-Parenting' Setelah Perceraian

“Pertama kali saya ke sana, telur-telur penyu di Paloh seratus persen masih diburu masyarakat lokal untuk dikonsumsi. Tiap ada penyu mendarat, telurnya diambil oleh oknum tertentu bahkan mereka sampai berkelahi karena rebutan telur penyu,” cerita Dwi.

Tantangan luar biasa dirasakannya. Tak hanya penentangan dari masyarakat, perangkat pemerintah dari level bawah sampai atas pun belum tersosialisasi dengan baik soal perlindungan penyu. Namun, pelan-pelan ia masuk, sembari penelitian dan sosialisasi.

Dalam menjalankan tugasnya itu, sering kali Dwi mendapat teror dan ancaman akan diserang. Puluhan surat kaleng dialamatkan kepadanya. Tuduhan mencuri telur penyu pun acap kali dirasakannya. Dwi segera menguatkan keberadaannya, ia membentuk tim dan merekrut warga lokal. Kembali ia bersahabat dengan polair, bahkan ia dan timnya dibuatkan ruangan khusus di kantor polisi sebagai basecamp.

Kajian demi kajian disosialisasikannya ke pemerintah desa, bupati, hingga gubernur, diharapkan sebagai dasar kebijakan pemerintah ke depan demi masa depan penyu di Paloh. Lima tahun perjuangannya tak sia-sia, akhirnya Paloh ditetapkan sebagai kawasan konservasi dengan pengelolaan berkelanjutan.

Pemilik Klinik Hewan Purnama ini sekarang sedang disibukkan dengan penelitian terhadap penyu belimbing. Bekerja sama dengan NOAA, badan peneliti di Amerika, Dwi sedang melakukan kajian terkait pola migrasi penyu. Project ini sudah dimulai sejak tahun 2018 dengan memasang satelit telemetri di tubuh penyu untuk mempelajari pergerakan penyu. Sudah 5 penyu yang dipasangnya alat, target akan dipasang alat kepada 7 penyu lagi tahun 2021 ini. Project ini rencananya juga akan diangkatnya sebagai bahan disertasi.**

DWI Penyu sapaannya. Sosoknya memang mungil namun siapa sangka perempuan asal Kota Singkawang ini sering menangani hewan-hewan air raksasa seperti penyu, paus, lumba-lumba, duyung (dugong) dan hiu paus. Dalam kesehariannya, Dwi sangat aktif menangani konservasi megafauna akuatik yang dilindungi tersebut.

Oleh: Syahriani Siregar

Kecintaan Dwi kepada penyu sudah sangat lama, sejak pertama ia duduk di bangku kuliah, dua puluh tahun lalu. Coba saja ajak Dwi ngobrol soal penyu, maka dengan semangat meletup-letup ia akan bercerita tentang hewan purba laut tersebut.

Lahir di Singkawang, 25 Mei 1983, drh. Dwi Suprapti, M.,Si merupakan lulusan Program Profesi Dokter Hewan dan Program Magister Ilmu Lingkungan Universitas Udayana Bali. Puteri kedua dari pasangan Suparno dan Nanik Minarsih ini sekarang sedang menjalani program Doktor Ilmu Lingkungan di universitas negeri tertua di Bali tersebut.

Sejak di tahun pertama kuliah, Dwi sudah aktif di luar kampus bersama WWF (World Wide Fund), sebagai relawan. Kegiatan pertamanya adalah pelepasan tukik (bayi penyu) di pantai bersama penggiat konservasi di Bali. Pada masa itu, pemerintah pusat dan daerah sedang gencar melakukan penyelamatan penyu di Bali karena banyaknya penyelundupan yang terjadi. Penyu diburu dan dikonsumsi bermodus kepentingan adat, padahal untuk kepentingan pribadi.

Saat ini Dwi sedang melakukan penelitian terhadap pola migrasi penyu belimbing. Untuk mengetahui pergerakan penyu diperlukan pemasangan alat di tubuh penyu.

Sejak kegiatan itu, Dwi banyak terlibat soal kasus perlindungan penyu. Polisi khususnya kepolisian perairan (polair) sering menangkap penyelundupan penyu di Bali. Dwi melihat langsung bagaimana kondisi penyu-penyu itu dibawa di kapal oleh penyelundup. Tangan penyu diikat, kulit dibolongi, bahkan ada yang tangannya patah dan hancur. Penyu dibiarkan tertimpa dan tergencet hingga ususnya keluar. Penyu pun dibiarkan lama di kapal tanpa air. Dramatisnya, hewan bercangkang itu tetap mampu bertahan hidup.

“Ketika para penyelundup ditangkap, penyu-penyu itu disita dan dibawa ke kantor polisi lalu diletakkan di situ saja, tidak terawat karena tidak ada yang paham bagaimana merawatnya,” ujar Dwi.

Baca Juga :  Mengajar Anak Cara Menyikapi Kritik

Melihat kondisi yang menyedihkan itu, Dwi merasa simpati dan nuraninya terpanggil. Karena belum banyak dokter hewan yang bergerak di dunia akuatik, dengan tulus Dwi merawat penyu-penyu hasil selundupan yang tertangkap tersebut bersama pihak berwajib.

“Selama kuliah, saya kerjaannya ya itu, mantengin polair melulu, jadi dekat sama kawan-kawan di kepolisian air. Setiap ada kejadian pasti saya dihubungi,” kenang Dwi.

Bolak-balik kantor polisi bahkan tidur di kantor polisi sudah hal biasa baginya. Sewaktu menjadi relawan WWF, Dwi banyak dilibatkan kemana-mana. Waktu libur kuliahnya pasti digunakan untuk ikut kegiatan hingga ke pedalaman. Begitu lulus kuliah ia langsung direkrut dan berkarir bersama WWF Indonesia sebagai ahli penyu, hingga kini.

Saking cintanya dengan penyu, apapun penelitian yang dilakuakannya selalu dikaitkan dengan penyu, tidak hanya tugas kuliah, bahkan skripsi dan tesisnya juga berkaitan dengan penyu. Maka, tak heran julukan “Dwi Penyu” diberikan oleh teman-temannya. Banyak penelitian tentang penyu yang telah dilakukan oleh Dwi, yang paling populer adalah mengenai seks rasio pada penyu. Bayi penyu tidak bisa diketahui jenis kelaminnya secara eksternal seperti hewan lainnya, harus dilakukan metode khusus.

“Pembentukan jenis kelamin penyu sangat bergantung pada suhu inkubasi. Apabila suhu inkubasinya tinggi atau panas maka akan cenderung ke betina. Berbalik kondisi jika suhunya rendah apalagi kalau musim hujan ekstrem, maka cenderung jadi jantan semua,” jelas Dwi. Berkat penelitian tersebut, Dwi menjadi peneliti pertama di Indonesia untuk seks rasio penyu. Di kampusnya, Dwi juga menjadi mahasiswa pertama yang mendirikan komunitas penjaga penyu bernama Turtle Guard. Sudah 17 tahun berdiri, komunitas kampus tersebut masih aktif hingga sekarang.

Tahun 2008, WWF menawarkannya kesempatan merintis lokasi baru untuk konservasi penyu. Sebagai puteri daerah Kalbar, ia merekomendasikan Paloh, Sambas. Berbekal cerita dari sang ayah yang pernah bertugas di Paloh sebagai seorang tentara, Dwi pergi merintis seorang diri dengan tekad tinggi dan harapan baru.

Baca Juga :  Pola Asuh 'Co-Parenting' Setelah Perceraian

“Pertama kali saya ke sana, telur-telur penyu di Paloh seratus persen masih diburu masyarakat lokal untuk dikonsumsi. Tiap ada penyu mendarat, telurnya diambil oleh oknum tertentu bahkan mereka sampai berkelahi karena rebutan telur penyu,” cerita Dwi.

Tantangan luar biasa dirasakannya. Tak hanya penentangan dari masyarakat, perangkat pemerintah dari level bawah sampai atas pun belum tersosialisasi dengan baik soal perlindungan penyu. Namun, pelan-pelan ia masuk, sembari penelitian dan sosialisasi.

Dalam menjalankan tugasnya itu, sering kali Dwi mendapat teror dan ancaman akan diserang. Puluhan surat kaleng dialamatkan kepadanya. Tuduhan mencuri telur penyu pun acap kali dirasakannya. Dwi segera menguatkan keberadaannya, ia membentuk tim dan merekrut warga lokal. Kembali ia bersahabat dengan polair, bahkan ia dan timnya dibuatkan ruangan khusus di kantor polisi sebagai basecamp.

Kajian demi kajian disosialisasikannya ke pemerintah desa, bupati, hingga gubernur, diharapkan sebagai dasar kebijakan pemerintah ke depan demi masa depan penyu di Paloh. Lima tahun perjuangannya tak sia-sia, akhirnya Paloh ditetapkan sebagai kawasan konservasi dengan pengelolaan berkelanjutan.

Pemilik Klinik Hewan Purnama ini sekarang sedang disibukkan dengan penelitian terhadap penyu belimbing. Bekerja sama dengan NOAA, badan peneliti di Amerika, Dwi sedang melakukan kajian terkait pola migrasi penyu. Project ini sudah dimulai sejak tahun 2018 dengan memasang satelit telemetri di tubuh penyu untuk mempelajari pergerakan penyu. Sudah 5 penyu yang dipasangnya alat, target akan dipasang alat kepada 7 penyu lagi tahun 2021 ini. Project ini rencananya juga akan diangkatnya sebagai bahan disertasi.**

Most Read

Artikel Terbaru

/