alexametrics
31.7 C
Pontianak
Monday, May 16, 2022

Ingin Wujudkan Rumah Sakit Hewan Terapung

Berkat kinerja dan prestasinya sebagai pejuang konservasi penyu, Dwi kembali dipercaya oleh WWF Indonesia sebagai Marine Species Conservation Coordinator yaitu koordinator nasional untuk konservasi spesies laut khususnya megafauna akuatik. Jadi tak hanya penyu, kini Dwi menangani satwa air yang berukuran besar lainnya seperti paus, lumba-lumba, duyung dan hiu paus. Selesai dari Paloh, Dwi bertolak ke Jakarta pada tahun 2014 dan memulai project konservasi baru.

Dwi memulainya dengan penanganan mamalia laut terdampar. Sebagai negara maritim, potensi terdamparnya mamalia laut di Indonesia sangat tinggi. Merasa belum menjadi ahli paus, ia merancang workshop internasional di Bali bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Ada 13 negara yang mengirimkan perwakilan, baik sebagai peserta maupun trainer.

“Sejak saat itu KKP punya program penanganan mamalia laut terdampar, hingga sekarang. Bagaimana melatih masyarakat lokal atau masyarakat pesisir dan pemerintah daerah jika ada kejadian terdampar, seperti mitigasi bencana jika ada paus terdampar misalnya,” jelas Dwi.

Baca Juga :  Bebas dari Rasa Takut Berlebihan
Dwi siap membedah salah satu megafauna akuatik yang ditanganinya yaitu lumba-lumba.

Dengan pengalamannya, Dwi sekarang dipercaya KKP sebagai tenaga ahli yaitu Trainer Penanganan Mamalia Laut Terdampar di Indonesia. Ia telah memberikan pelatihan teknis kepada ratusan orang di Indonesia. Dwi juga turut berpartisipasi aktif bersama KKP dalam penyusunan Dokumen Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Spesies Laut periode 2016-2020 dan 2021-2025, salah satunya penerbitan buku-buku panduan teknis monitoring maupun penanganan satwa laut terutama megafauna akuatik.

Dengan segala pencapaian yang telah diraih, pendiri IAM Flying Vet (Asosiasi Dokter Hewan Megafauna Akuatik Indonesia) ini masih mempunyai mimpi yang belum tercapai hingga kini yaitu rumah sakit hewan terapung, rumah sakit hewan yang khusus menangani megafauna akuatik dan beroperasi di dalam kapal.

Baca Juga :  Buah Hati Lebih Memilih si ‘Mbak’

“Saya sudah mendirikan asosiasinya, sudah ada 55 dokter di Indonesia. Dulu jika hewan megafauna sakit tidak ada dokternya. Sekarang sudah saya inisiasi dokternya. Masalahnya sekarang mau dibawa kemana? Nggak punya pusat rehabilitasi yang memadai. Rumah sakit hewan terapung salah satu harapan,” ungkap Dwi penuh asa. (sya)

Berkat kinerja dan prestasinya sebagai pejuang konservasi penyu, Dwi kembali dipercaya oleh WWF Indonesia sebagai Marine Species Conservation Coordinator yaitu koordinator nasional untuk konservasi spesies laut khususnya megafauna akuatik. Jadi tak hanya penyu, kini Dwi menangani satwa air yang berukuran besar lainnya seperti paus, lumba-lumba, duyung dan hiu paus. Selesai dari Paloh, Dwi bertolak ke Jakarta pada tahun 2014 dan memulai project konservasi baru.

Dwi memulainya dengan penanganan mamalia laut terdampar. Sebagai negara maritim, potensi terdamparnya mamalia laut di Indonesia sangat tinggi. Merasa belum menjadi ahli paus, ia merancang workshop internasional di Bali bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Ada 13 negara yang mengirimkan perwakilan, baik sebagai peserta maupun trainer.

“Sejak saat itu KKP punya program penanganan mamalia laut terdampar, hingga sekarang. Bagaimana melatih masyarakat lokal atau masyarakat pesisir dan pemerintah daerah jika ada kejadian terdampar, seperti mitigasi bencana jika ada paus terdampar misalnya,” jelas Dwi.

Baca Juga :  Serunya Merawat Puluhan Kucing
Dwi siap membedah salah satu megafauna akuatik yang ditanganinya yaitu lumba-lumba.

Dengan pengalamannya, Dwi sekarang dipercaya KKP sebagai tenaga ahli yaitu Trainer Penanganan Mamalia Laut Terdampar di Indonesia. Ia telah memberikan pelatihan teknis kepada ratusan orang di Indonesia. Dwi juga turut berpartisipasi aktif bersama KKP dalam penyusunan Dokumen Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Spesies Laut periode 2016-2020 dan 2021-2025, salah satunya penerbitan buku-buku panduan teknis monitoring maupun penanganan satwa laut terutama megafauna akuatik.

Dengan segala pencapaian yang telah diraih, pendiri IAM Flying Vet (Asosiasi Dokter Hewan Megafauna Akuatik Indonesia) ini masih mempunyai mimpi yang belum tercapai hingga kini yaitu rumah sakit hewan terapung, rumah sakit hewan yang khusus menangani megafauna akuatik dan beroperasi di dalam kapal.

Baca Juga :  Kelola Pikiran dengan Teknik Anchoring

“Saya sudah mendirikan asosiasinya, sudah ada 55 dokter di Indonesia. Dulu jika hewan megafauna sakit tidak ada dokternya. Sekarang sudah saya inisiasi dokternya. Masalahnya sekarang mau dibawa kemana? Nggak punya pusat rehabilitasi yang memadai. Rumah sakit hewan terapung salah satu harapan,” ungkap Dwi penuh asa. (sya)

Most Read

Artikel Terbaru

/