alexametrics
33 C
Pontianak
Wednesday, August 10, 2022

Sering Bercinta Sebabkan Miss V Longgar?

Terlalu sering bercinta, seringkali dijadikan kambing hitam longgarnya vagina. Benar tidaknya anggapan tersebut, kerap menghantui benak banyak wanita. Akibatnya, banyak yang khawatir jika bentuk dan ukuran vagina bakal berubah jika terlalu banyak berhubungan seks. Benarkah frekuensi hubungan seksual memengaruhi bentuk vagina alias Miss V?

Oleh : Marsita Riandini

Banyak mitos yang berkaitan dengan hubungan seks. Mitos-mitos ini tak jarang dipercaya masyarakat, sehingga muncul kekhawatiran dalam bercinta. Dokter Ali Fuchih Siauw, M. Repro., SP. And. FIAS mengatakan  anggapan seringnya bercinta dapat menyebabkan vagina kendor merupakan sebuah mitos. Sayangnya, anggapan ini banyak dipercaya masyarakat sehingga muncul kekhawatiran.

“Sebenarnya tidak menyebabkan miss V jadi melebar. Karena Miss V secara anatomis terdiri dari otot-otot. Otot-otot itu bisa dilatih dan dia selalu tidak pasif, tidak statis. Selalu dinamis. Dan, ada pembuluh darah, ototnya khusus supaya ketika berhubungan itu bisa memberi suatu kenikmatan kedua belah pihak,” kata dokter yang praktik di Klinik Yu Tee, jalan Abdurahman Saleh (BLKI) ini.

Baca Juga :  Perubahan Besar dalam Sistem Belajar

Sesering apapun bercinta, tidak menyebabkan vagina menjadi longgar. Ali mengatakan anggapan vagina kendor muncul akibat kurangnya rangsangan yang diberikan sehingga vagina kurang siap berhubungan.

“Jika tidak terangsang, vagina tidak mengembang, cairan lubrikasi berkurang, otot-otot vagina tidak mencengkram dengan baik, sehingga terasa menjadi longgar,” tutur dia.

Padahal, lanjut Ali, jika rangsangannya cukup bahkan sangat baik, maka pembuluh darah melebar, cairan lubrikasi banyak. Secara anatomis, akan lebih rapat dan mengembang.

“Bahkan, saat terangsang sekali, akan ada seperti pembengkakan,” papar dia.

Saat melakukan aktivitas seks, Miss V akan merenggang untuk mengakomodasi ukuran dan bentuk Mr P. Tapi semua itu tidak akan memengaruhi bentuk vagina. Setelah aktivitas seks selesai, otot vagina akan berkontraksi dan kembali ke ukuran semula. Ali pun menyarankan suami memberikan rangsangan maksimal agar istrinya siap berhubungan.

Baca Juga :  Camilan Penghalau Lapar

“Jika wanitanya terangsang dengan baik, akan mendapatkan orgasme, Mr P bisa merasakan jepitan vagina,” ungkapnya.

Banyak juga yang berpendapat jika ukuran Mr P mempengaruhi ukuran vagina. Padahal menurut Ali, tidak ada istilah vagina kendor. Vagina didesain elastis sehingga ia bisa kembali ke bentuk semula usai berhubungan.

Bagaimana setelah melahirkan? Ali mengatakan seringkali ketidakpuasan dirasakan pasangan setelah istrinya melahirkan bukan karena pengaruh vagina, tetapi kurangnya gairah. Hal ini bisa disebabkan karena istri kelelahan, atau rangsangan yang kurang.

“Pascamelahirkan biasanya  itu karena gairah yang kurang karena kurang tidur. Kalau kurang tidur karena jaga anak,  hormon tidak dikucurkan. Gairahnya pasti menurun. Kalau tidur cukup, gairah timbul sendiri,” pungkasnya.  **

 

Terlalu sering bercinta, seringkali dijadikan kambing hitam longgarnya vagina. Benar tidaknya anggapan tersebut, kerap menghantui benak banyak wanita. Akibatnya, banyak yang khawatir jika bentuk dan ukuran vagina bakal berubah jika terlalu banyak berhubungan seks. Benarkah frekuensi hubungan seksual memengaruhi bentuk vagina alias Miss V?

Oleh : Marsita Riandini

Banyak mitos yang berkaitan dengan hubungan seks. Mitos-mitos ini tak jarang dipercaya masyarakat, sehingga muncul kekhawatiran dalam bercinta. Dokter Ali Fuchih Siauw, M. Repro., SP. And. FIAS mengatakan  anggapan seringnya bercinta dapat menyebabkan vagina kendor merupakan sebuah mitos. Sayangnya, anggapan ini banyak dipercaya masyarakat sehingga muncul kekhawatiran.

“Sebenarnya tidak menyebabkan miss V jadi melebar. Karena Miss V secara anatomis terdiri dari otot-otot. Otot-otot itu bisa dilatih dan dia selalu tidak pasif, tidak statis. Selalu dinamis. Dan, ada pembuluh darah, ototnya khusus supaya ketika berhubungan itu bisa memberi suatu kenikmatan kedua belah pihak,” kata dokter yang praktik di Klinik Yu Tee, jalan Abdurahman Saleh (BLKI) ini.

Baca Juga :  Rekreasi Aman dari Covid-19

Sesering apapun bercinta, tidak menyebabkan vagina menjadi longgar. Ali mengatakan anggapan vagina kendor muncul akibat kurangnya rangsangan yang diberikan sehingga vagina kurang siap berhubungan.

“Jika tidak terangsang, vagina tidak mengembang, cairan lubrikasi berkurang, otot-otot vagina tidak mencengkram dengan baik, sehingga terasa menjadi longgar,” tutur dia.

Padahal, lanjut Ali, jika rangsangannya cukup bahkan sangat baik, maka pembuluh darah melebar, cairan lubrikasi banyak. Secara anatomis, akan lebih rapat dan mengembang.

“Bahkan, saat terangsang sekali, akan ada seperti pembengkakan,” papar dia.

Saat melakukan aktivitas seks, Miss V akan merenggang untuk mengakomodasi ukuran dan bentuk Mr P. Tapi semua itu tidak akan memengaruhi bentuk vagina. Setelah aktivitas seks selesai, otot vagina akan berkontraksi dan kembali ke ukuran semula. Ali pun menyarankan suami memberikan rangsangan maksimal agar istrinya siap berhubungan.

Baca Juga :  Saus Karamel Bikin Makin Lezat

“Jika wanitanya terangsang dengan baik, akan mendapatkan orgasme, Mr P bisa merasakan jepitan vagina,” ungkapnya.

Banyak juga yang berpendapat jika ukuran Mr P mempengaruhi ukuran vagina. Padahal menurut Ali, tidak ada istilah vagina kendor. Vagina didesain elastis sehingga ia bisa kembali ke bentuk semula usai berhubungan.

Bagaimana setelah melahirkan? Ali mengatakan seringkali ketidakpuasan dirasakan pasangan setelah istrinya melahirkan bukan karena pengaruh vagina, tetapi kurangnya gairah. Hal ini bisa disebabkan karena istri kelelahan, atau rangsangan yang kurang.

“Pascamelahirkan biasanya  itu karena gairah yang kurang karena kurang tidur. Kalau kurang tidur karena jaga anak,  hormon tidak dikucurkan. Gairahnya pasti menurun. Kalau tidur cukup, gairah timbul sendiri,” pungkasnya.  **

 

Most Read

Artikel Terbaru

/