alexametrics
27.8 C
Pontianak
Tuesday, July 5, 2022

Menjaga Kesehatan Mental Buah Hati ‘Belajar dari Rumah’ (BDR)

PANDEMI Covid-19 belum mereda. Sistem belajar mengajar masih dilakukan dari rumah atau work from home (WFH). Di satu sisi belajar dari rumah dapat meminimalisir buah hati tertular virus. Tapi, tak bisa dipungkiri kondisi ini dapat mengganggu kesehatan mental anak. Bagaimana menjaga Kesehatan Mental Buah Hati ‘Belajar dari Rumah’ (BDR)?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Psikolog Verty Sari Pusparini, M.Psi mengatakan berdasarkan penelitian dari Ikatan Psikolog Indonesia (IPK) bulan November 2020 pada 15.304 siswa di Indonesia, menemukan bahwa siswa SMA paling rentan mengalami masalah kesehatan mental ketika menerapkan program ‘Belajar dari Rumah (BDR)’, yang kemudian diikuti kelompok siswa di SMP.

Sedangkan pada siswa SD yang menjalankan BDR menjadi kelompok yang paling rendah mengalami masalah kesehatan mental dibandingkan dengan kelompok siswa SD yang menjalankan pembelajaran tatap muka.

Beberapa faktor risiko yang menyebabkan munculnya masalah kesehatan mental, yaitu remaja perempuan lebih rentan mengalami masalah dibandingkan remaja laki-laki (satu sampai tiga kali lipat lebih tinggi). Semakin tinggi usia siswa, semakin berisiko mengalami gangguan kesehatan mental. Semakin sedikit jumlah hari belajar dalam seminggu, semakin berisiko mengalami masalah kesehatan mental.

Siswa yang tidak didampingi belajar lebih berisiko mengalami masalah. Kondisi ekonomi yang rendah. Akses internet yang tidak stabil. Dan terakhir kepemilikan KIP.

Verty menuturkan dari penelitian satu dari empat siswa (25%) ditemukan mengalami masalah kesehatan mental ketika BDR. Faktor psikologis dilihat memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan faktor sosial.

Baca Juga :  Belanja Lewat Jastip

Tentu saja hal tersebut dapat berdampak pada masalah kesehatan mental. Psikolog di Sekolah Pelita Cemerlang Pontianak menjelaskan adapun masalah kesehatan mental yang muncul, meliputi masalah emosional seperti mengalami kesedihan yang panjang sehingga mengarah pada gangguan stres, kecemasan, bahkan depresi.

Kenakalan, lebih sering bertengkar atau rusuh dengan teman atau anggota keluarga. Masalah pertemanan, lebih sering mengganggu atau terganggu dengan teman (bullying). Serta, lebih gelisah atau aktif selama berada di rumah.

“Berdasarkan data tersebut, ada beberapa saran yang dapat diberikan,” ucap Verty.

Pertama, anggota keluarga dan sekolah menaruh perhatian lebih pada kondisi kesehatan mental siswa.

Kedua, pendampingan belajar dari semua anggota belajar dapat menjadi faktor protektif yang penting untuk mencegah masalah kesehatan mental pada remaja.

Ketiga, memberikan dukungan psikologis pada orang tua agar dapat menemukan keseimbangan antara pekerjaan dan kewajiban pada anak.

Verty menyarankan orang tua dan guru perlu lebih mendapatkan edukasi untuk mengenali kesehatan mental siswa. Orang tua dan guru yang tangguh akan dapat membentuk siswa yang memiliki resiliensi (ketangguhan) juga. Untuk membangun resiliensi, dapat memberikan Dukungan Psikologis Awal (DPA) yaitu suatu bentuk pendekatan untuk membantu individu yang terpapar sumber stres serius, supaya dapat meningkatkan kesehatan mental.

Verty yang juga merupakan psikolog di Aplikasi Halodoc ini mengungkapkan ada tiga hal besar tahapan DPA, yakni look, listen dan link.

Look adalah melakukan observasi pada siswa untuk melihat apakah ada perubahan yang mencolok. Dahulukan keamanan dan kesejahteraan fisik dengan memastikan kecukupan dalam hal makan, tidur, dan kegiatan pemenuhan kebutuhan dasar individu. Pembelajaran yang efektif dapat dilakukan dalam jam belajar pendek namun konsisten dan dilakukan secara rutin setiap hari. Dapat juga mempertimbangkan mengubah variasi suasana belajar dengan mengubah tempat belajar atau dekorasi ruangan.

Baca Juga :  Diet untuk Buah Hati

Listen dimana ketika individu sedang stres, ada saatnya mereka tidak butuh nasihat namun hanya butuh didengarkan. Jadilah pendengar yang empati dengan menyediakan waktu untuk bercerita tanpa menghakimi atau menyalahkan.

“Terbuka untuk diskusi dan mendengarkan alasan utama dari apa yang dirasakan individu,” tutur Verty.

Link adalah jika menemukan adanya perubahan aktivitas mencolok, bantuan yang diberikan tidak dapat membantu, dan menghambat kegiatan akademik atau aktivitas harian, maka dapat merujuk individu ke professional untuk mendapatkan bantuan.

Verty menyatakan untuk membantu remaja, butuh kerja sama banyak pihak seperti keluarga, sekolah, lingkungan, dan diri remaja sendiri. Diharapkan dengan dilakukannya DPA ini dapat mengenali dan memenuhi kebutuhan anak yang sedang menghadapi masalah agar merasa aman, nyaman, dan tenang. Serta, membantu merencanakan tindakan selanjutnya terkait dengan masalah yang dihadapi anak.**

PANDEMI Covid-19 belum mereda. Sistem belajar mengajar masih dilakukan dari rumah atau work from home (WFH). Di satu sisi belajar dari rumah dapat meminimalisir buah hati tertular virus. Tapi, tak bisa dipungkiri kondisi ini dapat mengganggu kesehatan mental anak. Bagaimana menjaga Kesehatan Mental Buah Hati ‘Belajar dari Rumah’ (BDR)?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Psikolog Verty Sari Pusparini, M.Psi mengatakan berdasarkan penelitian dari Ikatan Psikolog Indonesia (IPK) bulan November 2020 pada 15.304 siswa di Indonesia, menemukan bahwa siswa SMA paling rentan mengalami masalah kesehatan mental ketika menerapkan program ‘Belajar dari Rumah (BDR)’, yang kemudian diikuti kelompok siswa di SMP.

Sedangkan pada siswa SD yang menjalankan BDR menjadi kelompok yang paling rendah mengalami masalah kesehatan mental dibandingkan dengan kelompok siswa SD yang menjalankan pembelajaran tatap muka.

Beberapa faktor risiko yang menyebabkan munculnya masalah kesehatan mental, yaitu remaja perempuan lebih rentan mengalami masalah dibandingkan remaja laki-laki (satu sampai tiga kali lipat lebih tinggi). Semakin tinggi usia siswa, semakin berisiko mengalami gangguan kesehatan mental. Semakin sedikit jumlah hari belajar dalam seminggu, semakin berisiko mengalami masalah kesehatan mental.

Siswa yang tidak didampingi belajar lebih berisiko mengalami masalah. Kondisi ekonomi yang rendah. Akses internet yang tidak stabil. Dan terakhir kepemilikan KIP.

Verty menuturkan dari penelitian satu dari empat siswa (25%) ditemukan mengalami masalah kesehatan mental ketika BDR. Faktor psikologis dilihat memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan faktor sosial.

Baca Juga :  Bijak Sikapi Generasi ‘Home Service’

Tentu saja hal tersebut dapat berdampak pada masalah kesehatan mental. Psikolog di Sekolah Pelita Cemerlang Pontianak menjelaskan adapun masalah kesehatan mental yang muncul, meliputi masalah emosional seperti mengalami kesedihan yang panjang sehingga mengarah pada gangguan stres, kecemasan, bahkan depresi.

Kenakalan, lebih sering bertengkar atau rusuh dengan teman atau anggota keluarga. Masalah pertemanan, lebih sering mengganggu atau terganggu dengan teman (bullying). Serta, lebih gelisah atau aktif selama berada di rumah.

“Berdasarkan data tersebut, ada beberapa saran yang dapat diberikan,” ucap Verty.

Pertama, anggota keluarga dan sekolah menaruh perhatian lebih pada kondisi kesehatan mental siswa.

Kedua, pendampingan belajar dari semua anggota belajar dapat menjadi faktor protektif yang penting untuk mencegah masalah kesehatan mental pada remaja.

Ketiga, memberikan dukungan psikologis pada orang tua agar dapat menemukan keseimbangan antara pekerjaan dan kewajiban pada anak.

Verty menyarankan orang tua dan guru perlu lebih mendapatkan edukasi untuk mengenali kesehatan mental siswa. Orang tua dan guru yang tangguh akan dapat membentuk siswa yang memiliki resiliensi (ketangguhan) juga. Untuk membangun resiliensi, dapat memberikan Dukungan Psikologis Awal (DPA) yaitu suatu bentuk pendekatan untuk membantu individu yang terpapar sumber stres serius, supaya dapat meningkatkan kesehatan mental.

Verty yang juga merupakan psikolog di Aplikasi Halodoc ini mengungkapkan ada tiga hal besar tahapan DPA, yakni look, listen dan link.

Look adalah melakukan observasi pada siswa untuk melihat apakah ada perubahan yang mencolok. Dahulukan keamanan dan kesejahteraan fisik dengan memastikan kecukupan dalam hal makan, tidur, dan kegiatan pemenuhan kebutuhan dasar individu. Pembelajaran yang efektif dapat dilakukan dalam jam belajar pendek namun konsisten dan dilakukan secara rutin setiap hari. Dapat juga mempertimbangkan mengubah variasi suasana belajar dengan mengubah tempat belajar atau dekorasi ruangan.

Baca Juga :  Dokter Kalbar Berbagi Pengalaman Lewat Buku

Listen dimana ketika individu sedang stres, ada saatnya mereka tidak butuh nasihat namun hanya butuh didengarkan. Jadilah pendengar yang empati dengan menyediakan waktu untuk bercerita tanpa menghakimi atau menyalahkan.

“Terbuka untuk diskusi dan mendengarkan alasan utama dari apa yang dirasakan individu,” tutur Verty.

Link adalah jika menemukan adanya perubahan aktivitas mencolok, bantuan yang diberikan tidak dapat membantu, dan menghambat kegiatan akademik atau aktivitas harian, maka dapat merujuk individu ke professional untuk mendapatkan bantuan.

Verty menyatakan untuk membantu remaja, butuh kerja sama banyak pihak seperti keluarga, sekolah, lingkungan, dan diri remaja sendiri. Diharapkan dengan dilakukannya DPA ini dapat mengenali dan memenuhi kebutuhan anak yang sedang menghadapi masalah agar merasa aman, nyaman, dan tenang. Serta, membantu merencanakan tindakan selanjutnya terkait dengan masalah yang dihadapi anak.**

Most Read

Bupati: Pemkab Komitmen Wujudkan KLA

Hendri vs KPU Masih Berseteru

Happy Teachers Day

Artikel Terbaru

/