alexametrics
24 C
Pontianak
Friday, May 27, 2022

Diet untuk Buah Hati

Kebanyakan orang tua merasa khawatir saat buah hatinya mengalami obesitas. Dan, menerapkan pola diet untuk menurunkan berat badan. Amankah diet bagi anak?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Diet kerap dipilih menjadi cara untuk menurunkan berat badan, termasuk bagi anak. Namun, diet anak berbeda dengan orang dewasa. Sebab, masih memerlukan masa pertumbuhan dan perkembangan sehingga diperlukan berbagai macam nutrisi dalam jumlah tinggi.

Ahli Gizi Edi Waliyo, S.Gz., M.Gz mengatakan jika berat badan berlebihan, anak bisa menurunkannya secara perlahan. Tak perlu memaksakannya dalam waktu singkat.

“Hal yang harus dilakukan orang tua pertama kali adalah mengetahui faktor penyebab anak mengalami obesitas,” kata Edi.

Menurut Edi, obesitas dapat disebabkan oleh asupan makanan berlebih, aktivitas yang kurang, serta perilaku lingkungan keluarga tersebut. Kesalahan pada asupan makanan bisa disebabkan karena orang tua tidak mengetahui besaran kebutuhan asupan nutrisi dan gizi anak sehingga memberikan makanan secara berlebihan. Selain itu, frekuensi minum susu secara berlebihan atau menambah kandungan gula pada susu, serta kebiasaan mengonsumsi makanan manis. Semakin diperparah ketika asupan makanan berlebih ini tidak diimbangi dengan aktivitas, seperti bergerak dan bermain.

Baca Juga :  Memacu Berprestasi Akademik Buah Hati

Tanpa disadari aktivitas yang rendah menjadi faktor anak mengalami obesitas. Orang tua perlu mengoreksi hal tersebut. Edi tak menampik banyak orang tua yang terlalu sayang dan memiliki ketakutan yang berlebihan sehingga tidak membiarkan anak memiliki aktivitas. Kurangnya aktivitas membuat gerak anak terbatas.

Ketua Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Pontianak ini menuturkan pengendalian obesitas pada anak tidak selalu dilakukan dengan pola diet. Orang tua harus memikirkan masa perkembangan dan pertumbuhan anak.

“Ada baiknya orang tua menyeimbangkan gaya hidup anak dengan meningkatkan aktivitas, memberikan anak ruang untuk bergerak, serta mengurangi makanan manis dan menambahkan gula pada susu,” ujarnya.

Bisa juga penanganan dilakukan dengan metode 5,2,1 dan 0. Artinya, meningkatkan konsumsi buah dan sayur sebanyak lima porsi setiap harinya. Memberikan anak waktu bermain (gadget atau menonton televisi) maksimal dua jam setiap harinya. Memberikan anak waktu satu jam untuk melakukan aktivitas fisik, serta menghindari penambahan gula berlebihan pada makanan.

Baca Juga :  Terserang Sindrom Malas Usai Libur Panjang

Tidak ada salahnya juga orang tua berkonsultasi kepada pakar kesehatan untuk menentukan seberapa banyak asupan nutrisi dan gizi yang dibutuhkan anak sehari-hari.

“Ketika menginginkan anak menjalankan diet usahakan berkonsultasi. Jangan sampai berat badan berhasil berkurang, tetapi anak menjadi kekurangan gizi,” ungkapnya.**

Kebanyakan orang tua merasa khawatir saat buah hatinya mengalami obesitas. Dan, menerapkan pola diet untuk menurunkan berat badan. Amankah diet bagi anak?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Diet kerap dipilih menjadi cara untuk menurunkan berat badan, termasuk bagi anak. Namun, diet anak berbeda dengan orang dewasa. Sebab, masih memerlukan masa pertumbuhan dan perkembangan sehingga diperlukan berbagai macam nutrisi dalam jumlah tinggi.

Ahli Gizi Edi Waliyo, S.Gz., M.Gz mengatakan jika berat badan berlebihan, anak bisa menurunkannya secara perlahan. Tak perlu memaksakannya dalam waktu singkat.

“Hal yang harus dilakukan orang tua pertama kali adalah mengetahui faktor penyebab anak mengalami obesitas,” kata Edi.

Menurut Edi, obesitas dapat disebabkan oleh asupan makanan berlebih, aktivitas yang kurang, serta perilaku lingkungan keluarga tersebut. Kesalahan pada asupan makanan bisa disebabkan karena orang tua tidak mengetahui besaran kebutuhan asupan nutrisi dan gizi anak sehingga memberikan makanan secara berlebihan. Selain itu, frekuensi minum susu secara berlebihan atau menambah kandungan gula pada susu, serta kebiasaan mengonsumsi makanan manis. Semakin diperparah ketika asupan makanan berlebih ini tidak diimbangi dengan aktivitas, seperti bergerak dan bermain.

Baca Juga :  Porsi Memanjakan Buah Hati

Tanpa disadari aktivitas yang rendah menjadi faktor anak mengalami obesitas. Orang tua perlu mengoreksi hal tersebut. Edi tak menampik banyak orang tua yang terlalu sayang dan memiliki ketakutan yang berlebihan sehingga tidak membiarkan anak memiliki aktivitas. Kurangnya aktivitas membuat gerak anak terbatas.

Ketua Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Pontianak ini menuturkan pengendalian obesitas pada anak tidak selalu dilakukan dengan pola diet. Orang tua harus memikirkan masa perkembangan dan pertumbuhan anak.

“Ada baiknya orang tua menyeimbangkan gaya hidup anak dengan meningkatkan aktivitas, memberikan anak ruang untuk bergerak, serta mengurangi makanan manis dan menambahkan gula pada susu,” ujarnya.

Bisa juga penanganan dilakukan dengan metode 5,2,1 dan 0. Artinya, meningkatkan konsumsi buah dan sayur sebanyak lima porsi setiap harinya. Memberikan anak waktu bermain (gadget atau menonton televisi) maksimal dua jam setiap harinya. Memberikan anak waktu satu jam untuk melakukan aktivitas fisik, serta menghindari penambahan gula berlebihan pada makanan.

Baca Juga :  Berlaku Adil dengan Banyak Anak 

Tidak ada salahnya juga orang tua berkonsultasi kepada pakar kesehatan untuk menentukan seberapa banyak asupan nutrisi dan gizi yang dibutuhkan anak sehari-hari.

“Ketika menginginkan anak menjalankan diet usahakan berkonsultasi. Jangan sampai berat badan berhasil berkurang, tetapi anak menjadi kekurangan gizi,” ungkapnya.**

Most Read

Artikel Terbaru

/