alexametrics
34 C
Pontianak
Friday, September 30, 2022

Berjuang Tanpa Henti Demi Kesembuhan Buah Hati

Anak adalah belahan jiwa orang tua. Ketika anak sakit, orang tua pasti ikut merasakannya. Mereka pun rela berjuang demi kesembuhan buah hati. Bahkan, hingga titik terakhir dengan hanya bermodal Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

Chairunnisya, Pontianak

Januari tahun 2020 merupakan titik awal perjuangan Eko Maulana Silalahi bersama keluarganya. Bertepatan dimulainya masa pandemi Covid 19, anak kesayangannya, Nauli jatuh sakit. Bocah berusia delapan tahun ini divonis kanker tulang belakang.

Eko menuturkan semua anaknya sehat tanpa keluhan. Sampai tiba kejadian Nauli jatuh karena kursinya ditarik sang teman di sekolah. “Dua minggu setelah kejadian itu, tiba-tiba jalan miring ke kiri. Saya tanya kenapa, dijawab, “Sakit ayah.” Tetapi, masih bisa jalan,” ungkap Eko.

Pria berusia 41 tahun ini pun membawa anaknya ke rumah sakit dengan bermodal JKN-KIS. “Saya memang mendaftarkan Nauli JKN-KIS sejak 2013. Hasil pemeriksaan dinyatakan saraf kejepit,” ungkap Eko.

Empat hari setelah pemeriksaan di rumah sakit, Nauli tidak bisa berjalan sama sekali. Eko pun kembali membawa anaknya ke rumah sakit. Di sana Nauli diobservasi. Hasil pemeriksaan dinyatakan ada bercak putih di paru-paru sebelah kiri. Dan, didiagnosa Covid-19 dan kemudian diisolasi.

“Akhirnya dites, hasilnya negatif Covid. Dokter menyatakan boleh pulang,” kata Eko.

BERLAKU NASIONAL: Kartu KIS bisa digunakan berobat di seluruh Indonesia. (Fiqrie Yudhistira/Pontianak Post)

Keluarga pun membawa Nauli terapi kesana kemari. Namun, tak ada perubahan. Akhirnya mereka membawa Nauli ke sebuah klinik kesehatan di Jalan Kesehatan, Pontianak. Namun, petugas kesehatan di sana menyatakan tidak bersedia melakukan terapi, jika tak ada hasil MRI (Magnetic Resonance Imaging) tulang belakang. Eko pun membawa Nauli ke rumah sakit swasta di Pontianak untuk melakukan MRI tersebut.

“Waktu itu sudah siap. Namun, karena paginya demam, saya beri paracetamol. Saat di tes Covid, hasilnya reaktif. Saya minta isolasi mandiri saja,” tutur Eko.

Berulang kali ke rumah sakit, dokter tidak menyatakan kanker. Mereka hanya disuruh melakukan terapi. Sampailah awal 2022. Eko membawa anaknya ke RSUD Soedarso Pontianak. Dia dan istrinya bersikeras menyatakan sang anak bukan terkena Covid 19.

“Akhirnya di Soedarso dilakukan CT Scan tulang. Diperoleh hasil ada tumor tulang belakang. Kanker. Saya langsung drop,” ujar Eko.

Keluarga pun berdiskusi. Mereka meminta agar anak bisa dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Eko meminta bantuan teman-temannya yang berada di Jakarta. Beruntung, dia mendapat dukungan dari anggota DPR RI dan Wakil Gubernur Kalbar. Mereka pun berangkat hanya bermodal rujukan dan JKN-KIS pada pertengahan Maret.

“Awalnya takut karena kami hanya bermodal JKN-KIS. Namun, ternyata sampai di RSCM, pelayanannya bagus. BPJS Kesehatannya juga bagus,” cerita Eko.

 

Di RSCM dilakukan CT Scan ulang. Namun, BPJS Kesehatan menyatakan harus mengikuti antrean untuk melakukan MRI dan paling cepat bisa dilakukan pada bulan Oktober. Dokter yang menangani sang anak bersikeras MRI harus segera dilakukan demi menyelamatkan Nauli.

“Bagusnya, BPJS Kesehatan Jakarta Pusat bersedia berdiskusi bersama kami dan dokter. Pagi berdiskusi, sore diputuskan bisa MRI. Namun, karena harus dianastesi, diputuskan keesokan harinya,” jelas Eko.

Tak hanya itu, pihak dokter juga memanggil BPJS Kesehatan untuk menanyakan perihal biaya bone scan. Sebab, biayanya sangat mahal yakni Rp68,5 juta untuk satu kali tindakan dalam waktu 15 menit.

Baca Juga :  Rusaknya Lapisan Terluar Gigi

“Bersyukur BPJS Kesehatan kooperatif diajak diskusi para dokter. Biaya bone scan pun ditanggung BPJS,” kata Eko.

BERLAKU NASIONAL: Kartu KIS bisa digunakan berobat di seluruh Indonesia. (Fiqrie Yudhistira/Pontianak Post)

Tak hanya itu, obat sang anak seharga Rp14 juta perbutir juga ditanggung BPJS Kesehatan. Ketika itu, anaknya memerlukan 24 butir. “Alhamdulillah, semua ditanggung. BPJS Kesehatan di Jakarta juga enak diajak konsultasi. Dokter juga kooperatif. Jam 4 subuh mereka sudah datang,” ucap Eko.

Dia bersyukur sang anak juga bisa menjalani biopsi dan operasi besar. Tumornya diangkat. Dan, Eko tidak mengeluarkan biaya pengobatan karena semua ditanggung JKN-KIS.

Namun, takdir Tuhan yang menentukan perjuangan demi penyembuhan di Jakarta selama enam bulan itu. “Pada 8 Agustus 2022 anak saya meninggal dunia. Tapi, kami sudah berjuang sekuat tenaga untuk mengobatinya,” kata Eko.

Sikap kooperatif BPJS Kesehatan Jakarta pun menjadi inspirasi Eko untuk membantu masyarakat lainnya. Dia merasa informasi mengenai pelayanan kesehatan masih terbatas.

“Saya mendaftar menjadi anggota Komisi Informasi. Saya ingin masyarakat mendapat keterbukaan informasi mengenai pelayanan kesehatan oleh BPJS Kesehatan ini,” pungkas Eko.

Perjuangan demi kesembuhan anaknya juga dilakukan Siti Maryam. Sang anak, Wanda yang berusia Sembilan bulan menderita kelainan janjung bawaan dan ikterik.

“Saat usia 55 hari dirujuk ke Jakarta untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Siti.

Siti pun membaca Wanda ke RSCM, Jakarta bermodal rujukan RSUD Soedarso dan JKN-KIS. Dia bersyukur pelayanan BPJS Kesehatan selama di Jakarta berjalan lancar. “Karena kan sekarang sudah sistem online. Jadi pengurusan SEP (Surat Eligibilitas Peserta) selama konsultasi di beberapa poli sangat mudah,” ungkap Siti.

Saat ini, lanjut Siti, anaknya masih terus menjalani pengobatan. “Semuanya menggunakan JKN-KIS,” pungkasnya.

Pejabat Pengganti Sementara (PPS) Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Cabang

Pontianak, dr Devi Dwi Yanti menjelaskan rujukan online bisa membantu memudahkan masyarakat. “Rujukan online itu artinya, walaupun fisik (surat rujukan) tidak dibawa, sudah terbaca oleh sistem. Misalnya, pasien berobat ke puskesmas dan dirujuk ke rumah sakit, tetapi (surat) rujukannya tinggal, pihak rumah sakit bisa membacanya menggunakan nomor kartu atau NIK,” katanya.

Dia menuturkan sistem rujukan online ini sudah dilaksanakan sejak 2017. Dan, saat ini ada juga sistem antrean online. Ini untuk meminimalisir banyaknya keluhan penumpukan pelayanan, lamanya dokter datang, dan lainnya.

“Sejak tahun kemarin (2021) faskes pertama atau lanjutan wajib punya antrean. Jika tidak ada, kami pinjamkan aplikasi antrean kami. Ini untuk memudahkan peserta BPJS Kesehatan agar antreannya jelas, bisa tahun kapan gilirannya, berapa menit lagi,” jelasnya.

Termasuk juga mengenai tindakan medik operatif, sudah bisa terintegrasi mobile JKN. Menurut Devi, dari 25 rumah sakit di Kalbar, sebanyak delapan rumah sakit sudah memiliki. “Sisanya menggunakan aplikasi kami. Tinggal pihak rumah sakit yang disiplin tidaknya menginput data,” tuturnya.

Devi menambahkan saat ini untuk mendapatkan pelayanan BPJS Kesehatan di faskes juga lebih dipermudah. Jika peserta tidak membawa kartu, bisa menggunakan KTP.

“Jadi bisa menggunakan KTP untuk identitas pasien agar mendapatkan pelayanan,” pungkasnya.

BERLAKU NASIONAL: Kartu KIS bisa digunakan berobat di seluruh Indonesia. (Fiqrie Yudhistira/Pontianak Post)

Pasti ada rasa sedih di hati orang tua maupun anak ketika buah hati harus menjalani pengobatan di rumah sakit. Yosa Sylfiana Safitri, M.Psi.Psikolog mengungkapkan saat anak divonis penyakit serius, orang tua pasti merasa syok, panik, dan stres. Bahkan, tak jarang melakukan penyangkalan terhadap penyakit tersebut.

Baca Juga :  Kakeibo Seni Mengatur Keuangan Asal Jepang

“Hal tersebut sangat wajar terjadi. Namun, jika tak segera diatasi, maka akan berpengaruh terhadap psikologis anak. Jadi yang pertama harus dikuatkan adalah orang tua karena pondasi awal berada di orang tua,” ungkap Yosa.

Yosa menyatakan orang tua harus bisa ikhlas menerima semua ketentuan dari Tuhan yang Maha Esa. Kemudian, mencari informasi tentang penyakit tersebut dari dokter spesialis, perawat, website, atau masuk ke dalam komunitas. Di sana banyak  dukungan dan bisa membaca pengalaman dari orang tua lainnya. Di komunitas orang tua juga bisa saling menguatkan.

“Setelah orang tua ikhlas menerima semua, Insya Allah lebih mudah memberikan motivasi dan pengertian kepada anak mengenai penyakit yang dideritanya,” tutur Yosa.

Dia menyarankan agar orang tua berterus terang mengenai penyakit tersebut kepada anak. Namun, penyampaiannya harus dengan cara-cara yang baik agar anak tidak down saat mengetahuinya. Misalnya, dengan mengajak anak bermain atau melakukan kegemarannya atau hobi sehingga anak  menjadi gembira. Setelah itu, pelan-pelan mengomunikasikan tentang penyakitnya dengan menggunakan bahasa sesuai kemampuan anak.

“Dalam menangani anak sakit, paling utama itu support system yang baik. Dukungan keluarga dan orang terdekat sangatlah penting. Saling support antara ayah dan ibu serta keluarga lainnya, akan memberikan semangat kepada pasien,” jelasnya.

Saat anak merasa lelah menjalani pengobatan, orang tua harus kembali kembali menguatkan. “Jika anak bicara, “Mengapa harus aku?”, coba peluk dari belakang. Katakan ini ketentuan Tuhan, beri pelakukan erat, jika sudah tenang lepaskan. Beri motivasi bahwa bisa melewatinya,” pungkasnya.

Orang Tua Harus Kuat

Dokter Muhammad Fiki Fauzan mengatakan anak adalah buah hasil pikiran orang tuanya. Jika ingin sang anak kuat menjalani ujian, pastikan orang tua kuat terlebih dahulu.

“Karena Allah SWT itu berdasarkan perasaan hamba-nya. Ikhtiar yang terbaik untuk kesembuhan anak. Kemudian, berserah diri kepada Allah,”  ujar dokter yang biasa disapa Fiki ini.

Saat anak mendapat ujian berupa penyakit, orang tua harus fokus pada anak. “Peluk genggam tangannya. Jangan lepaskan. Singkarkan perhatian dari handphone,” ungkap Admin Majelis Keluarga Indonesia binaan Ust. Babeh Haikal Hassan Baras ini.

BERI RASA AMAN: Program JKN-KIS memberi rasa aman dan perlindungan bagi anak dan ibu hamil. (Fiqrie Yudhistira/Pontianak Post)

Menurut Fiki, sebagai orang tua, tentu harus mengusahakan yang terbaik. Pengobatan dilakukan secara maksimal dengan semangat dan antusias. Ikutkan anak dalam semangat dan antusias tersebut. Sehingga anak menjadi rileks dan yakin akan kesembuhan. Saat anak yakin atas kesembuhannya, ceritakan penyakitnya agar anak mengetahui dan semakin semangat melawan penyakit.

“Tentu bahasa yg digunakan harus sesuai dan setara dengan perbendaharaan kosakata sesuai usia anak,” jelasnya.

Saat mental orang tua down, ingat kembali bahwa Anak adalah rezeki. Rezeki adalah titipan Allah. Saat Allah menitipkan anak dengan penyakit kronis tersebut, maka Allah yakin terhadap orang tuanya untuk mampu mendampingi anaknya dengan usaha yang maksimal.

“Karena ujian akan sepaket dengan kemampuan,” pungkasnya. (uni)

Anak adalah belahan jiwa orang tua. Ketika anak sakit, orang tua pasti ikut merasakannya. Mereka pun rela berjuang demi kesembuhan buah hati. Bahkan, hingga titik terakhir dengan hanya bermodal Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

Chairunnisya, Pontianak

Januari tahun 2020 merupakan titik awal perjuangan Eko Maulana Silalahi bersama keluarganya. Bertepatan dimulainya masa pandemi Covid 19, anak kesayangannya, Nauli jatuh sakit. Bocah berusia delapan tahun ini divonis kanker tulang belakang.

Eko menuturkan semua anaknya sehat tanpa keluhan. Sampai tiba kejadian Nauli jatuh karena kursinya ditarik sang teman di sekolah. “Dua minggu setelah kejadian itu, tiba-tiba jalan miring ke kiri. Saya tanya kenapa, dijawab, “Sakit ayah.” Tetapi, masih bisa jalan,” ungkap Eko.

Pria berusia 41 tahun ini pun membawa anaknya ke rumah sakit dengan bermodal JKN-KIS. “Saya memang mendaftarkan Nauli JKN-KIS sejak 2013. Hasil pemeriksaan dinyatakan saraf kejepit,” ungkap Eko.

Empat hari setelah pemeriksaan di rumah sakit, Nauli tidak bisa berjalan sama sekali. Eko pun kembali membawa anaknya ke rumah sakit. Di sana Nauli diobservasi. Hasil pemeriksaan dinyatakan ada bercak putih di paru-paru sebelah kiri. Dan, didiagnosa Covid-19 dan kemudian diisolasi.

“Akhirnya dites, hasilnya negatif Covid. Dokter menyatakan boleh pulang,” kata Eko.

BERLAKU NASIONAL: Kartu KIS bisa digunakan berobat di seluruh Indonesia. (Fiqrie Yudhistira/Pontianak Post)

Keluarga pun membawa Nauli terapi kesana kemari. Namun, tak ada perubahan. Akhirnya mereka membawa Nauli ke sebuah klinik kesehatan di Jalan Kesehatan, Pontianak. Namun, petugas kesehatan di sana menyatakan tidak bersedia melakukan terapi, jika tak ada hasil MRI (Magnetic Resonance Imaging) tulang belakang. Eko pun membawa Nauli ke rumah sakit swasta di Pontianak untuk melakukan MRI tersebut.

“Waktu itu sudah siap. Namun, karena paginya demam, saya beri paracetamol. Saat di tes Covid, hasilnya reaktif. Saya minta isolasi mandiri saja,” tutur Eko.

Berulang kali ke rumah sakit, dokter tidak menyatakan kanker. Mereka hanya disuruh melakukan terapi. Sampailah awal 2022. Eko membawa anaknya ke RSUD Soedarso Pontianak. Dia dan istrinya bersikeras menyatakan sang anak bukan terkena Covid 19.

“Akhirnya di Soedarso dilakukan CT Scan tulang. Diperoleh hasil ada tumor tulang belakang. Kanker. Saya langsung drop,” ujar Eko.

Keluarga pun berdiskusi. Mereka meminta agar anak bisa dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Eko meminta bantuan teman-temannya yang berada di Jakarta. Beruntung, dia mendapat dukungan dari anggota DPR RI dan Wakil Gubernur Kalbar. Mereka pun berangkat hanya bermodal rujukan dan JKN-KIS pada pertengahan Maret.

“Awalnya takut karena kami hanya bermodal JKN-KIS. Namun, ternyata sampai di RSCM, pelayanannya bagus. BPJS Kesehatannya juga bagus,” cerita Eko.

 

Di RSCM dilakukan CT Scan ulang. Namun, BPJS Kesehatan menyatakan harus mengikuti antrean untuk melakukan MRI dan paling cepat bisa dilakukan pada bulan Oktober. Dokter yang menangani sang anak bersikeras MRI harus segera dilakukan demi menyelamatkan Nauli.

“Bagusnya, BPJS Kesehatan Jakarta Pusat bersedia berdiskusi bersama kami dan dokter. Pagi berdiskusi, sore diputuskan bisa MRI. Namun, karena harus dianastesi, diputuskan keesokan harinya,” jelas Eko.

Tak hanya itu, pihak dokter juga memanggil BPJS Kesehatan untuk menanyakan perihal biaya bone scan. Sebab, biayanya sangat mahal yakni Rp68,5 juta untuk satu kali tindakan dalam waktu 15 menit.

Baca Juga :  PT PAL Tebar Sembako dan APD di Melawi

“Bersyukur BPJS Kesehatan kooperatif diajak diskusi para dokter. Biaya bone scan pun ditanggung BPJS,” kata Eko.

BERLAKU NASIONAL: Kartu KIS bisa digunakan berobat di seluruh Indonesia. (Fiqrie Yudhistira/Pontianak Post)

Tak hanya itu, obat sang anak seharga Rp14 juta perbutir juga ditanggung BPJS Kesehatan. Ketika itu, anaknya memerlukan 24 butir. “Alhamdulillah, semua ditanggung. BPJS Kesehatan di Jakarta juga enak diajak konsultasi. Dokter juga kooperatif. Jam 4 subuh mereka sudah datang,” ucap Eko.

Dia bersyukur sang anak juga bisa menjalani biopsi dan operasi besar. Tumornya diangkat. Dan, Eko tidak mengeluarkan biaya pengobatan karena semua ditanggung JKN-KIS.

Namun, takdir Tuhan yang menentukan perjuangan demi penyembuhan di Jakarta selama enam bulan itu. “Pada 8 Agustus 2022 anak saya meninggal dunia. Tapi, kami sudah berjuang sekuat tenaga untuk mengobatinya,” kata Eko.

Sikap kooperatif BPJS Kesehatan Jakarta pun menjadi inspirasi Eko untuk membantu masyarakat lainnya. Dia merasa informasi mengenai pelayanan kesehatan masih terbatas.

“Saya mendaftar menjadi anggota Komisi Informasi. Saya ingin masyarakat mendapat keterbukaan informasi mengenai pelayanan kesehatan oleh BPJS Kesehatan ini,” pungkas Eko.

Perjuangan demi kesembuhan anaknya juga dilakukan Siti Maryam. Sang anak, Wanda yang berusia Sembilan bulan menderita kelainan janjung bawaan dan ikterik.

“Saat usia 55 hari dirujuk ke Jakarta untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Siti.

Siti pun membaca Wanda ke RSCM, Jakarta bermodal rujukan RSUD Soedarso dan JKN-KIS. Dia bersyukur pelayanan BPJS Kesehatan selama di Jakarta berjalan lancar. “Karena kan sekarang sudah sistem online. Jadi pengurusan SEP (Surat Eligibilitas Peserta) selama konsultasi di beberapa poli sangat mudah,” ungkap Siti.

Saat ini, lanjut Siti, anaknya masih terus menjalani pengobatan. “Semuanya menggunakan JKN-KIS,” pungkasnya.

Pejabat Pengganti Sementara (PPS) Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Cabang

Pontianak, dr Devi Dwi Yanti menjelaskan rujukan online bisa membantu memudahkan masyarakat. “Rujukan online itu artinya, walaupun fisik (surat rujukan) tidak dibawa, sudah terbaca oleh sistem. Misalnya, pasien berobat ke puskesmas dan dirujuk ke rumah sakit, tetapi (surat) rujukannya tinggal, pihak rumah sakit bisa membacanya menggunakan nomor kartu atau NIK,” katanya.

Dia menuturkan sistem rujukan online ini sudah dilaksanakan sejak 2017. Dan, saat ini ada juga sistem antrean online. Ini untuk meminimalisir banyaknya keluhan penumpukan pelayanan, lamanya dokter datang, dan lainnya.

“Sejak tahun kemarin (2021) faskes pertama atau lanjutan wajib punya antrean. Jika tidak ada, kami pinjamkan aplikasi antrean kami. Ini untuk memudahkan peserta BPJS Kesehatan agar antreannya jelas, bisa tahun kapan gilirannya, berapa menit lagi,” jelasnya.

Termasuk juga mengenai tindakan medik operatif, sudah bisa terintegrasi mobile JKN. Menurut Devi, dari 25 rumah sakit di Kalbar, sebanyak delapan rumah sakit sudah memiliki. “Sisanya menggunakan aplikasi kami. Tinggal pihak rumah sakit yang disiplin tidaknya menginput data,” tuturnya.

Devi menambahkan saat ini untuk mendapatkan pelayanan BPJS Kesehatan di faskes juga lebih dipermudah. Jika peserta tidak membawa kartu, bisa menggunakan KTP.

“Jadi bisa menggunakan KTP untuk identitas pasien agar mendapatkan pelayanan,” pungkasnya.

BERLAKU NASIONAL: Kartu KIS bisa digunakan berobat di seluruh Indonesia. (Fiqrie Yudhistira/Pontianak Post)

Pasti ada rasa sedih di hati orang tua maupun anak ketika buah hati harus menjalani pengobatan di rumah sakit. Yosa Sylfiana Safitri, M.Psi.Psikolog mengungkapkan saat anak divonis penyakit serius, orang tua pasti merasa syok, panik, dan stres. Bahkan, tak jarang melakukan penyangkalan terhadap penyakit tersebut.

Baca Juga :  Anemia Tak Bisa Dianggap Sepele

“Hal tersebut sangat wajar terjadi. Namun, jika tak segera diatasi, maka akan berpengaruh terhadap psikologis anak. Jadi yang pertama harus dikuatkan adalah orang tua karena pondasi awal berada di orang tua,” ungkap Yosa.

Yosa menyatakan orang tua harus bisa ikhlas menerima semua ketentuan dari Tuhan yang Maha Esa. Kemudian, mencari informasi tentang penyakit tersebut dari dokter spesialis, perawat, website, atau masuk ke dalam komunitas. Di sana banyak  dukungan dan bisa membaca pengalaman dari orang tua lainnya. Di komunitas orang tua juga bisa saling menguatkan.

“Setelah orang tua ikhlas menerima semua, Insya Allah lebih mudah memberikan motivasi dan pengertian kepada anak mengenai penyakit yang dideritanya,” tutur Yosa.

Dia menyarankan agar orang tua berterus terang mengenai penyakit tersebut kepada anak. Namun, penyampaiannya harus dengan cara-cara yang baik agar anak tidak down saat mengetahuinya. Misalnya, dengan mengajak anak bermain atau melakukan kegemarannya atau hobi sehingga anak  menjadi gembira. Setelah itu, pelan-pelan mengomunikasikan tentang penyakitnya dengan menggunakan bahasa sesuai kemampuan anak.

“Dalam menangani anak sakit, paling utama itu support system yang baik. Dukungan keluarga dan orang terdekat sangatlah penting. Saling support antara ayah dan ibu serta keluarga lainnya, akan memberikan semangat kepada pasien,” jelasnya.

Saat anak merasa lelah menjalani pengobatan, orang tua harus kembali kembali menguatkan. “Jika anak bicara, “Mengapa harus aku?”, coba peluk dari belakang. Katakan ini ketentuan Tuhan, beri pelakukan erat, jika sudah tenang lepaskan. Beri motivasi bahwa bisa melewatinya,” pungkasnya.

Orang Tua Harus Kuat

Dokter Muhammad Fiki Fauzan mengatakan anak adalah buah hasil pikiran orang tuanya. Jika ingin sang anak kuat menjalani ujian, pastikan orang tua kuat terlebih dahulu.

“Karena Allah SWT itu berdasarkan perasaan hamba-nya. Ikhtiar yang terbaik untuk kesembuhan anak. Kemudian, berserah diri kepada Allah,”  ujar dokter yang biasa disapa Fiki ini.

Saat anak mendapat ujian berupa penyakit, orang tua harus fokus pada anak. “Peluk genggam tangannya. Jangan lepaskan. Singkarkan perhatian dari handphone,” ungkap Admin Majelis Keluarga Indonesia binaan Ust. Babeh Haikal Hassan Baras ini.

BERI RASA AMAN: Program JKN-KIS memberi rasa aman dan perlindungan bagi anak dan ibu hamil. (Fiqrie Yudhistira/Pontianak Post)

Menurut Fiki, sebagai orang tua, tentu harus mengusahakan yang terbaik. Pengobatan dilakukan secara maksimal dengan semangat dan antusias. Ikutkan anak dalam semangat dan antusias tersebut. Sehingga anak menjadi rileks dan yakin akan kesembuhan. Saat anak yakin atas kesembuhannya, ceritakan penyakitnya agar anak mengetahui dan semakin semangat melawan penyakit.

“Tentu bahasa yg digunakan harus sesuai dan setara dengan perbendaharaan kosakata sesuai usia anak,” jelasnya.

Saat mental orang tua down, ingat kembali bahwa Anak adalah rezeki. Rezeki adalah titipan Allah. Saat Allah menitipkan anak dengan penyakit kronis tersebut, maka Allah yakin terhadap orang tuanya untuk mampu mendampingi anaknya dengan usaha yang maksimal.

“Karena ujian akan sepaket dengan kemampuan,” pungkasnya. (uni)

Most Read

Artikel Terbaru

/