alexametrics
26 C
Pontianak
Saturday, June 25, 2022

Pelajar dan Pendidikan Karakter Era Global

Oleh: Deden Kurniawan, S.Pd.*

PROSES pendidikan karakter perlu dilakukan sejak dini dan sudah harus dimaksimalkan pada usia sekolah dasar. Potensi yang baik sebenarnya sudah dimiliki manusia sejak lahir, tetapi potensi tersebut harus terus dibina dan dikembangkan melalui sosialisasi baik dari keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Di era globalisasi ini manusia dengan mudahnya menggunakan teknologi yang ada bukan hanya orang dewasa namun juga anak–anak. Teknologi saat ini digunakan dalam dunia pendidikan karena sangat membantu proses pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan. Selain itu, teknologi juga mampu digunakan sebagai alat komunikasi antara pendidik dan peserta didik. Namun, bagaimanapun juga teknologi mempunyai dampak positif maupun negatif dalam ranah pendidikan.

Banyaknya kasus cyberbullying, tawuran antar pelajar, kekerasan bahan pelecehan seksual pada anak merupakan lemahnya karakter bangsa. Karakter bangsa yang baik harus dibentuk dan dididik sedini mungkin agar masyarakat mampu menanamkan sifat-sifat dan perilaku yang baik sejak dini sehingga dapat menekan angka kriminal pada kasus–kasus di atas.

Character building merupakan proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga berbentuk unik, menarik, dan berbeda atau dapat dibedakan dengan orang lain, ibarat sebauh huruf dalam alfabeta yang tak pernah sama antara yang satu dengan yang lain, demikianlah orang–orang yang berkarakter dapat dibedakan satu dengan yang lainnya. Pendidikan karakter dapat disebut juga sebagai pendidikan moral, pendidikan nilai, pendidikan dunia afektif, pendidikan akhlak, atau pendidikan budi pekerti.

Pemerintah memiliki program pemerintah yang namanya Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), PPK merupakan usaha untuk membudayakan pendidikan karakter di sekolah. Program PPK akan dilaksanakan dengan bertahap dan sesuai kebutuhan. Program PPK bertujuan untuk mendorong pendidikan berkualitas dan bermoral yang merata di seluruh bangsa. Penerbitan Peraturan Presiden nomor 87 pasal 2 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), PPK memiliki tujuan  salah satunya adalah membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia tahun 2045 dengan jiwa pancasila dan pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan.

Baca Juga :  Guru dan Konsep Belajar Sepanjang Hayat

Menurut Piaget, anak usia 7–11 tahun mengalami tingkat perkembangan operasional konkret.  Tingkat ini merupakan permulaan berpikir rasional.Ini berarti anak memiliki operasi–operasi logis yang dapat diterapkannya pada masalah–masalah yang konkret. Bila mengadapi suatu pertentangan antara pikiran dan persepsi, anak dalam periode ini memilih mengambil keputusan logis dan bukan keputusan perseptual seperti anak praoperasional. Pada zaman digital, anak usia sekolah dasar sudah bisa mengoperasikan barang–barang teknologi seperti ponsel, komputer, video game dan lain–lain.

Teknologi  membantu memudahkan segala aktifitas manusia, pencarian informasi, penyampaian informasi. Teknologi secara umum adalah sebuah proses yang meningkatkan nilai tambah, teknologi merupakan produk yang digunakan dan dihasilkan untuk memudahkan dan meningkatkan kinerja, struktur atau sistam dimana proses dan produk itu dikembangkan dan digunakan.

Zaman serba teknologi ini menjadikan anak telihat sangat pasif dan jarang untuk bersosialisasi di keluarga maupun masyarakat. Kebanyakan anak zaman sekarang lebih fokus untuk memperhatikan layar di depan matanya dibandingkan bermain dengan teman sebayanya. Sehingga tak jarang anak kehilangan waktu berharganya bermain bersama keluarga, belajar, mengembangkan bakat atau bermain bersama teman–temannya karena fokusnya sudah diambil alih oleh layar ponsel ataupun teknologi yang ada. Di sini peran orangtua sangat penting dalam membimbing, memantau serta mengatur waktu anak dari alat digital yang digunakan.

Sekolah, lingkungan dan utamanya adalah orangtua menjadi pihak atau orang yang paling bertanggung jawab atas perkembangan karakter anak karena keluarga merupakan penyelenggara pendidikan paling utama dan pertama sebelum pendidikan pendamping lainnya. Orangtua juga turut berperan dalam perkembangan karakter anak di sekolah.

Baca Juga :  Mempertahankan Minat Belajar Masa Pandemi

Di era Digital saat ini anak–anak usia sekolah dasar serta usia sekolah lainnya,  tidak bisa lepas dari gadget bahkan menjadi sebuah kebutuhan. Gadget bagi mereka adalah teman setia. Kondisi seperti itu, orangtua perlu memperkenalkan kepada anak–anak mengenai situs pendidikan bila menggunakan gadget, seperti video–video animasi yang mengedukasi, sehingga anak tidak mudah bosan atau games pendidikan yang mengasah kemampuan kognitif, video tata cara salat, dan program–program belajar lainnya yang penting untuk diingat. Semua pihak memiliki berperan mengawasi dan membatasi anak–anak dalam menggunakan ponsel, atur waktu kapan ia harus mengerjakan tugas sekolahnya, bersosialisasi dengan teman, bersosialisasi tengan keluarga, dan menggunakan ponsel atau gadget.

Sekolah bersama komite sekolah dan masyarakat secara bersama–sama menyusun suatu kegiatan yang dapat mendukung terwujudnya pembudayaan dan penanaman karakter yang baik bagi pelajar. Adanya pandemi Covid–19 sekarang, yang menuntut adanya sekolah daring serta penggunaan HP  maka perlu adanya sistem pengawasan yang terpadu. Antara semua pihak dalam menumbuhkan konsistensi karakter yang kuat oleh pelajar.

Karakter seseorang akan terbentuk bila aktivitas dilakukan berulang–ulang secara rutin hingga menjadi suatu kebiasaan, yang akhirnya tidak hanya menjadi suatu kebiasaan saja tetapi sudah menjadi suatu karakter. Maka dari itu, pendidikan karakter harus dilakukan sedini mungkin agar anak mampu menanamkan karakter yang baik sehingga mereka bisa membawanya hingga usia dewasa.

Pendidikan karakter di sekolah dapat diterapkan pada semua mata pelajaran. Setiap mata pelajaran yang berkaitan denga norma–norma perlu dikembangkan dan dikaitkan dengan kehidupan sehari–hari. Di era digital ini peran keluarga, guru dan masyarakat sekitar sangatlah penting dalam meningkatkan karakter calon penerus bangsa.

*) Guru di SMPN 3 Satu Atap Balai

Oleh: Deden Kurniawan, S.Pd.*

PROSES pendidikan karakter perlu dilakukan sejak dini dan sudah harus dimaksimalkan pada usia sekolah dasar. Potensi yang baik sebenarnya sudah dimiliki manusia sejak lahir, tetapi potensi tersebut harus terus dibina dan dikembangkan melalui sosialisasi baik dari keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Di era globalisasi ini manusia dengan mudahnya menggunakan teknologi yang ada bukan hanya orang dewasa namun juga anak–anak. Teknologi saat ini digunakan dalam dunia pendidikan karena sangat membantu proses pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan. Selain itu, teknologi juga mampu digunakan sebagai alat komunikasi antara pendidik dan peserta didik. Namun, bagaimanapun juga teknologi mempunyai dampak positif maupun negatif dalam ranah pendidikan.

Banyaknya kasus cyberbullying, tawuran antar pelajar, kekerasan bahan pelecehan seksual pada anak merupakan lemahnya karakter bangsa. Karakter bangsa yang baik harus dibentuk dan dididik sedini mungkin agar masyarakat mampu menanamkan sifat-sifat dan perilaku yang baik sejak dini sehingga dapat menekan angka kriminal pada kasus–kasus di atas.

Character building merupakan proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga berbentuk unik, menarik, dan berbeda atau dapat dibedakan dengan orang lain, ibarat sebauh huruf dalam alfabeta yang tak pernah sama antara yang satu dengan yang lain, demikianlah orang–orang yang berkarakter dapat dibedakan satu dengan yang lainnya. Pendidikan karakter dapat disebut juga sebagai pendidikan moral, pendidikan nilai, pendidikan dunia afektif, pendidikan akhlak, atau pendidikan budi pekerti.

Pemerintah memiliki program pemerintah yang namanya Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), PPK merupakan usaha untuk membudayakan pendidikan karakter di sekolah. Program PPK akan dilaksanakan dengan bertahap dan sesuai kebutuhan. Program PPK bertujuan untuk mendorong pendidikan berkualitas dan bermoral yang merata di seluruh bangsa. Penerbitan Peraturan Presiden nomor 87 pasal 2 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), PPK memiliki tujuan  salah satunya adalah membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia tahun 2045 dengan jiwa pancasila dan pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan.

Baca Juga :  Belajar Matematika Dengan Model Pembelajaran Problem Posing

Menurut Piaget, anak usia 7–11 tahun mengalami tingkat perkembangan operasional konkret.  Tingkat ini merupakan permulaan berpikir rasional.Ini berarti anak memiliki operasi–operasi logis yang dapat diterapkannya pada masalah–masalah yang konkret. Bila mengadapi suatu pertentangan antara pikiran dan persepsi, anak dalam periode ini memilih mengambil keputusan logis dan bukan keputusan perseptual seperti anak praoperasional. Pada zaman digital, anak usia sekolah dasar sudah bisa mengoperasikan barang–barang teknologi seperti ponsel, komputer, video game dan lain–lain.

Teknologi  membantu memudahkan segala aktifitas manusia, pencarian informasi, penyampaian informasi. Teknologi secara umum adalah sebuah proses yang meningkatkan nilai tambah, teknologi merupakan produk yang digunakan dan dihasilkan untuk memudahkan dan meningkatkan kinerja, struktur atau sistam dimana proses dan produk itu dikembangkan dan digunakan.

Zaman serba teknologi ini menjadikan anak telihat sangat pasif dan jarang untuk bersosialisasi di keluarga maupun masyarakat. Kebanyakan anak zaman sekarang lebih fokus untuk memperhatikan layar di depan matanya dibandingkan bermain dengan teman sebayanya. Sehingga tak jarang anak kehilangan waktu berharganya bermain bersama keluarga, belajar, mengembangkan bakat atau bermain bersama teman–temannya karena fokusnya sudah diambil alih oleh layar ponsel ataupun teknologi yang ada. Di sini peran orangtua sangat penting dalam membimbing, memantau serta mengatur waktu anak dari alat digital yang digunakan.

Sekolah, lingkungan dan utamanya adalah orangtua menjadi pihak atau orang yang paling bertanggung jawab atas perkembangan karakter anak karena keluarga merupakan penyelenggara pendidikan paling utama dan pertama sebelum pendidikan pendamping lainnya. Orangtua juga turut berperan dalam perkembangan karakter anak di sekolah.

Baca Juga :  Paradigma Teori Belajar Humanistik

Di era Digital saat ini anak–anak usia sekolah dasar serta usia sekolah lainnya,  tidak bisa lepas dari gadget bahkan menjadi sebuah kebutuhan. Gadget bagi mereka adalah teman setia. Kondisi seperti itu, orangtua perlu memperkenalkan kepada anak–anak mengenai situs pendidikan bila menggunakan gadget, seperti video–video animasi yang mengedukasi, sehingga anak tidak mudah bosan atau games pendidikan yang mengasah kemampuan kognitif, video tata cara salat, dan program–program belajar lainnya yang penting untuk diingat. Semua pihak memiliki berperan mengawasi dan membatasi anak–anak dalam menggunakan ponsel, atur waktu kapan ia harus mengerjakan tugas sekolahnya, bersosialisasi dengan teman, bersosialisasi tengan keluarga, dan menggunakan ponsel atau gadget.

Sekolah bersama komite sekolah dan masyarakat secara bersama–sama menyusun suatu kegiatan yang dapat mendukung terwujudnya pembudayaan dan penanaman karakter yang baik bagi pelajar. Adanya pandemi Covid–19 sekarang, yang menuntut adanya sekolah daring serta penggunaan HP  maka perlu adanya sistem pengawasan yang terpadu. Antara semua pihak dalam menumbuhkan konsistensi karakter yang kuat oleh pelajar.

Karakter seseorang akan terbentuk bila aktivitas dilakukan berulang–ulang secara rutin hingga menjadi suatu kebiasaan, yang akhirnya tidak hanya menjadi suatu kebiasaan saja tetapi sudah menjadi suatu karakter. Maka dari itu, pendidikan karakter harus dilakukan sedini mungkin agar anak mampu menanamkan karakter yang baik sehingga mereka bisa membawanya hingga usia dewasa.

Pendidikan karakter di sekolah dapat diterapkan pada semua mata pelajaran. Setiap mata pelajaran yang berkaitan denga norma–norma perlu dikembangkan dan dikaitkan dengan kehidupan sehari–hari. Di era digital ini peran keluarga, guru dan masyarakat sekitar sangatlah penting dalam meningkatkan karakter calon penerus bangsa.

*) Guru di SMPN 3 Satu Atap Balai

Most Read

Artikel Terbaru

/