alexametrics
27 C
Pontianak
Thursday, June 30, 2022

Pentingnya Pembelajaran Bermakna Selama PJJ

Oleh: Ari Kusdiyanto*

PANDEMI covid-19 yang belum kunjung usai ini mempunyai dampak yang besar terhadap regulasi pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Pembelajaran yang seyogyanya dilakukan secara tatap muka di sekolah beralih menjadi tatap maya, penugasan ataupun kunjungan ke rumah. Hal ini dilakukan semata-mata menjaga kesehatan peserta didik dan mencegah penyebaran virus covid 19 secara meluas dan cepat. Disisi lain program pendidikan dan pengajaran di negeri ini harus tetap berlangsung demi masa depan generasi bangsa yang gemilang. Karena apabila program pembelajaran di negeri ini sampai terhenti, bisa kita bayangkan bagaimana rendahnya kualitas waktu yang akan mereka hadapi dan jalani sehari-harinya.

Pembelajaran selama pandemi dilakukan secara luring dan daring, Pembelajaran Secara luring dengan cara melakukan kunjungan kerumah, dalam artian beberapa siswa membentuk kelompok dan guru mengunjungi ke rumah siswa tersebut dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. Melalui kunjungan ini guru dan peserta didik masih bisa berinteraksi secara langsung, ada komunikasi dan tanya jawab, sehingga permasalahan dan kebutuhan yang di hadapi oleh peserta didik bisa terlayani dengan baik. Bisa dikatakan pembelajaran yang akan diterima peserta didik lebih efektif karena melalui bimbingan guru secara langsung. Selain kunjungan kerumah,  pembelajaran secara luring  juga bisa dilakukan dengan cara penugasan seperti orang tua mengambil tugas ke sekolah, kemudian peserta didik mengerjakan tugas dirumah dan dikumpulkan kemudian (seminggu sekali).  Sehingga interaksi pembelajaran hanya sebatas pemberian tugas, dan ini sangat memerlukan peran orang tua dan tugas yang menantang bagi peserta didik.

Sehingga tugas yang diberikan benar-benar memberikan pengalaman hidup secara langsung dan menjadikan ingatan jangka Panjang. Hal ini juga akan menjauhkan peserta didik dari rasa bosan dan jenuh dibandingkan pemberian tugas yang hanya dalam bentuk pengerjaan soal di buku. Sedangkan Pembelajaran secara daring bisa dilakukan dengan berbagai cara, hal ini sangat tergantung kepada kemampuan guru dalam bidang IT dan ketersediaan jaringan di daerah tersebut.  Pembelajaran secara daring bisa dilakukan dengan cara memberi penugasan melalui WA, video pembelajaran atau pertemuan secara virtual atau tatap maya.

Baca Juga :  Menjadi Guru Inovatif dan Kreatif di Masa Pademi Covid-19

Bagaimanapun pembelajaran yang dilakukan baik secara daring ataupun luring sebaiknya tidak mengurangi makna atau essensi dari proses pembelajaran itu sendiri. Karena belajar adalah proses perubahan tingkah laku berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya. Pembelajaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh siswa, bukan dibuat oleh siswa. Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antara anak dengan lingkungannnya baik antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar, maupun anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik dalam melaksanakan kegiatan belajar, demi mencapai hasil belajar yang memuaskan (Isjoni, 2009).

Pembelajaran yang di lakukan terutama dalam masa pandemic ini sebaiknya merancang pembelajaran yang mengoptimalkan lingkungan sekitar anak sebagai media dan sumber belajar. karena hal ini selain akan menyadarkan peserta didik akan kebermanfaatan lingkungan dan memberikan pengalaman secara langsung kepada peserta didik, juga akan menghilangkan kejenuhan yang dialami peserta didik selama di rumah. Selain itu peserta didik juga bisa memanfaatkan orang-orang di sekitarnya sebagai sarana atau sumber belajar. Atau menggunakan benda-benda konkret di sekitar peserta didik sebagai media pembelajaram. Melalui Pembelajaran secara konstekstual ini banyak sekali nilai-nilai karakter yang akan tercapai seperti kebersamaan, mandiri, berani, gotong royong, kepedulian, kedisiplinan dan sebagainya. Sebagai contoh dalam materi perpindahan panas peserta didik beserta orang tua bisa melakukan pengamatan secara langsung saat orang tua memasak. Selama pembelajaran ini akan terjadi komunikasi yang harmonis antara orang tua dan peserta didik, hal yang paling diharapkan adalah munculnya rasa ingin tahu peserta didik dengan menyampaikan pertanyaan kepada orang tua. Contoh lainnya Dalam pembelajaran matematika pengelompokan data peserta didik bisa ditugasi mencatat jumlah perkakas dapur yang ada di rumah, mengelompokkan dan kemudian menyajikan ke dalam bentuk table. Proses pembelajaran ini selain memberikan pengalaman kepada anak secara langsung, akan menjadikan  pembelajaran terkesan santai dan menyenangkan menjadikan suasana belajar tidak terasa kaku. Hal ini juga bisa menumbuhkan nilai karakter kepedulian peserta didik terhadap benda yang dimiliki di rumahnya.

Baca Juga :  Modul Membimbing Siswa Belajar di Masa Pandemi

Oleh karena itu pembelajaran bermakna yang memberikan pengalaman secara langsung pada peserta didik sangat disarankan selama masa pendemi ini karena capaian kurikulum pembelajar bukan lagi menjadi prioritas utama.

(Guru SD Negeri 39 Pontianak Utara*)

Oleh: Ari Kusdiyanto*

PANDEMI covid-19 yang belum kunjung usai ini mempunyai dampak yang besar terhadap regulasi pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Pembelajaran yang seyogyanya dilakukan secara tatap muka di sekolah beralih menjadi tatap maya, penugasan ataupun kunjungan ke rumah. Hal ini dilakukan semata-mata menjaga kesehatan peserta didik dan mencegah penyebaran virus covid 19 secara meluas dan cepat. Disisi lain program pendidikan dan pengajaran di negeri ini harus tetap berlangsung demi masa depan generasi bangsa yang gemilang. Karena apabila program pembelajaran di negeri ini sampai terhenti, bisa kita bayangkan bagaimana rendahnya kualitas waktu yang akan mereka hadapi dan jalani sehari-harinya.

Pembelajaran selama pandemi dilakukan secara luring dan daring, Pembelajaran Secara luring dengan cara melakukan kunjungan kerumah, dalam artian beberapa siswa membentuk kelompok dan guru mengunjungi ke rumah siswa tersebut dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. Melalui kunjungan ini guru dan peserta didik masih bisa berinteraksi secara langsung, ada komunikasi dan tanya jawab, sehingga permasalahan dan kebutuhan yang di hadapi oleh peserta didik bisa terlayani dengan baik. Bisa dikatakan pembelajaran yang akan diterima peserta didik lebih efektif karena melalui bimbingan guru secara langsung. Selain kunjungan kerumah,  pembelajaran secara luring  juga bisa dilakukan dengan cara penugasan seperti orang tua mengambil tugas ke sekolah, kemudian peserta didik mengerjakan tugas dirumah dan dikumpulkan kemudian (seminggu sekali).  Sehingga interaksi pembelajaran hanya sebatas pemberian tugas, dan ini sangat memerlukan peran orang tua dan tugas yang menantang bagi peserta didik.

Sehingga tugas yang diberikan benar-benar memberikan pengalaman hidup secara langsung dan menjadikan ingatan jangka Panjang. Hal ini juga akan menjauhkan peserta didik dari rasa bosan dan jenuh dibandingkan pemberian tugas yang hanya dalam bentuk pengerjaan soal di buku. Sedangkan Pembelajaran secara daring bisa dilakukan dengan berbagai cara, hal ini sangat tergantung kepada kemampuan guru dalam bidang IT dan ketersediaan jaringan di daerah tersebut.  Pembelajaran secara daring bisa dilakukan dengan cara memberi penugasan melalui WA, video pembelajaran atau pertemuan secara virtual atau tatap maya.

Baca Juga :  Pentingnya Pendidikan Matematika

Bagaimanapun pembelajaran yang dilakukan baik secara daring ataupun luring sebaiknya tidak mengurangi makna atau essensi dari proses pembelajaran itu sendiri. Karena belajar adalah proses perubahan tingkah laku berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya. Pembelajaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh siswa, bukan dibuat oleh siswa. Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antara anak dengan lingkungannnya baik antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar, maupun anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik dalam melaksanakan kegiatan belajar, demi mencapai hasil belajar yang memuaskan (Isjoni, 2009).

Pembelajaran yang di lakukan terutama dalam masa pandemic ini sebaiknya merancang pembelajaran yang mengoptimalkan lingkungan sekitar anak sebagai media dan sumber belajar. karena hal ini selain akan menyadarkan peserta didik akan kebermanfaatan lingkungan dan memberikan pengalaman secara langsung kepada peserta didik, juga akan menghilangkan kejenuhan yang dialami peserta didik selama di rumah. Selain itu peserta didik juga bisa memanfaatkan orang-orang di sekitarnya sebagai sarana atau sumber belajar. Atau menggunakan benda-benda konkret di sekitar peserta didik sebagai media pembelajaram. Melalui Pembelajaran secara konstekstual ini banyak sekali nilai-nilai karakter yang akan tercapai seperti kebersamaan, mandiri, berani, gotong royong, kepedulian, kedisiplinan dan sebagainya. Sebagai contoh dalam materi perpindahan panas peserta didik beserta orang tua bisa melakukan pengamatan secara langsung saat orang tua memasak. Selama pembelajaran ini akan terjadi komunikasi yang harmonis antara orang tua dan peserta didik, hal yang paling diharapkan adalah munculnya rasa ingin tahu peserta didik dengan menyampaikan pertanyaan kepada orang tua. Contoh lainnya Dalam pembelajaran matematika pengelompokan data peserta didik bisa ditugasi mencatat jumlah perkakas dapur yang ada di rumah, mengelompokkan dan kemudian menyajikan ke dalam bentuk table. Proses pembelajaran ini selain memberikan pengalaman kepada anak secara langsung, akan menjadikan  pembelajaran terkesan santai dan menyenangkan menjadikan suasana belajar tidak terasa kaku. Hal ini juga bisa menumbuhkan nilai karakter kepedulian peserta didik terhadap benda yang dimiliki di rumahnya.

Baca Juga :  Pembelajaran Efektif

Oleh karena itu pembelajaran bermakna yang memberikan pengalaman secara langsung pada peserta didik sangat disarankan selama masa pendemi ini karena capaian kurikulum pembelajar bukan lagi menjadi prioritas utama.

(Guru SD Negeri 39 Pontianak Utara*)

Most Read

Artikel Terbaru

/