alexametrics
27.8 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Strategi Belajar di Masa Pandemi

Oleh: Dwi Hesti Renny Indri Zuni, S.Pd. *

Dalam pendidikan terdapat banyak pendekatan dalam memberikan pengajaran kepada siswa. Guru boleh memilih sesuai dengan yang diinginkan dan kondisi serta situasi dari siswa yang dihadapi. Sehingga memudahkan dalam membangun komunikasi dan cemstri kepada siswa untuk memahami pembelajaran.

Salah satunya adalah pendekatan Humanistik. Berasal dari kata latin humanitas (pendidikan manusia) dalam bahasa Yunani disebut Paideia, pendidikan yang didukung oleh manusia manusia yang hendak menempatkan seni liberal yang dijadikan materi atau sarana utamanya (Abidin, 2002:27).

Kata humanistik pada hakikatnya berbentuk kata sifat yang menitikberatkan pada pendekatan di dalam pendidikan. Pendidikan humanistik memfokuskan pada pendidikan yang menjalin komunikasi dan relasi personal antara pribadi–pribadi dan kelompok di dalam komunitas sekolah. Membangun komunikasi yang saling memahami anatar guru dan siswa.

Dengan demikian hakikat pendidikan sesungguhnya untuk mengembangkan harkat dan martabat manusia dalam memanusiakan siswa untuk bisa menjalin kedekatan yang intens antara siswa dengan guru. Baik dalam proses pembelajaran di kelas, juga dalam keseharian guru mampu membangun hubungan baik dan harmonis dengan semua siswa.

Kemampuan guru dalam membangun hubungan baik dengan siswa secara humanistic menghasilkan banyak keuntungan dalam kegiatan pembelajaran. Dengan sentuhan kemanusiaan dan bisa menerima peserta didik. Memberikan pemahaman akan memanusiakan murid bahwa siswa memiliki talenta yang beraga. Sehingga pentingnya dalam memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi. Pun dengan kondisi pandemi yang masih harus disikapi bijak oleh guru. Membangun komunikasi humanistic tentu menjadi pilihan utama untuk siswa dalam mendapatkan pengajaran.

Salah satunya guru mampu menemukan pola pembelajaran inovatif dalam memberikan materi dikelas. Baik secara online maupun secara offline sesuai kondisi sekarang yang sedang dihadapi. Keuntungan membangun relasi baik melalui pendekatan humanistic dengan siswa mengarahkan pada pembalajaran inovatif dan bermakna. Pembelajaran inovatif mengarah pada pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, pembelajaran tersebut dirancang, disusun dan dikondisikan untuk menumbuhkan motivasi peserta didik dalam belajar.

Baca Juga :  Minat Baca dan Kepekaan Sosial

Pembelajaran inovatif digunakan guru bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan peserta didik pada proses perubahan perilaku. Untuk mengubah perilaku peserta didik ke arah yang lebih baik dibutuhkan teori belajar humanistik dalam pembelajaran inovatif di sekolah. Pembelajaran humanistik merupakan salah satu pembelajaran yang dapat mengembangkan sikap saling menghargai dan mengembangkan potensi yang ada pada diri peserta didik. Konsep belajar teori humanistik tidak hanya memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi mengajak untuk menghayati, menyelami, dan memahami berbagai bentuk potensi yang ada pada peserta didik di dalam kelas dan atau di luar kelas. Dengan demikian, pembelajaran inovatif dimanfaatkan sebagai kegiatan pembelajaran dalam proses pendidikan.

Dalam proses pembelajaran di kelas, ada lima komponen penting yang membentuk satu kesatuan lingkungan pembelajaran, yaitu tujuan, pendidik, peserta didik, materi, dan evaluasi. Dari kelima komponen tersebut, pendidik merupakan penggerak aktif agar pembelajaran berjalan secara efektif dan efisien khusunya saat kondisi pandemic seperti sekarang ini.

Sebagai guru dan pendidik memiliki tanggung jawab yang lebih dari kondisi normal yang selama ini terjadi. Oleh sebab itu, untuk menjalankan kelima komponen di atas guru sebagai tenaga pendidik perlu menggunakan strategi pembelajaran yang inovatif dalam menentukan keberhasilan dan perubahan tingkah laku peserta didik. Strategi pembelajaran inovatif diterapkan dalam penyampaian materi dengan menghubungkan fenomena yang dialami peserta didik dalam kehidupan sehari–hari.

Dengan demikian, pemilihan strategi pembelajaran didasari pada berbagai pertimbangan sesuai dengan situasi, kondisi, dan lingkungan yang akan dihadapi.  Pemilihan strategi pembelajaran bertujuan untuk mengembangkan potensi–potensi yang ada pada peserta didik baik dari segi kognitif, afektif dan psikomotor. Hal ini  menggambarkan paradigma teori belajar humanistik dalam mengimplementasikan pembelajaran inovatif di sekolah. Dengan memanfaatkan lingkungan ataupun teknologi sederhana yang ada disekita, membutuhkan kemampuan guru dalam membangkitkan motivasi dan iklim segar agar peserta didik mau untuk teris belajar.

Baca Juga :  Pelajar dan Sikap Toleransi

Peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran mulai dari awal pertemuan sampai akhir pembelajaran. Oleh sebab itu, guru berusaha memfalitasi peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya. Di samping itu guru ikut berperan dalam memberikan beberapa rangsangan kepada peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan dasar yang dimilikinya.

Pembelajaran inovatif lebih menekankan pada pembelajaran yang bersifat student centered, maksudnya, pembelajaran yang lebih memberikan peluang kepada peserta didik untuk mengkonstruksikan pengetahuan secara mandiri (self directed) dan dimediasi oleh teman sebaya (peer mediated instruction). Sangat sulit untuk membudayakan hal ini, namun tantangan ini perlu dilakukan agar peserta didik merasa terbiasa dengan hal yang dirasa baru dalam pembelajaran yang sering kali harus terbarukan.

Sebagai guru, setidaknya bisa memiliki cara dan strategi agar peserta didik bisa merasa belajar itu sesuatu candu. Akibat candu dalam belajar, peserta didik akan merasa rindu akan selalu belajar. Guru dapat memahami dengan kondisi yang ada menjadikannya melakukan perubahan dalam pengajaran. Berkolaborasi dan berdiskusi dengan rekan sejawat dalam mengembangkan pemilihan strategi belajar yang efektif serta efisien.

Dengan penyesuian kondisi dan keadaan masing masing sekolah dan peserta didik. Kebutuhan akan pengetahuan peserta didik mejadikan prioritas guru dalam membangun korelasi hubungan baik bagi semua pihak. Setiap guru akan memiliki strategi yang berbeda, namun yang tak boleh beda adalah bagaimana mengutamakan peserta didik dalam memperoleh pendidikan dan pengajaran untuk membangun masa depannya. Dan inilah yang utama.

*)Guru di SDN 24 Tuan Tayan Hulu

Oleh: Dwi Hesti Renny Indri Zuni, S.Pd. *

Dalam pendidikan terdapat banyak pendekatan dalam memberikan pengajaran kepada siswa. Guru boleh memilih sesuai dengan yang diinginkan dan kondisi serta situasi dari siswa yang dihadapi. Sehingga memudahkan dalam membangun komunikasi dan cemstri kepada siswa untuk memahami pembelajaran.

Salah satunya adalah pendekatan Humanistik. Berasal dari kata latin humanitas (pendidikan manusia) dalam bahasa Yunani disebut Paideia, pendidikan yang didukung oleh manusia manusia yang hendak menempatkan seni liberal yang dijadikan materi atau sarana utamanya (Abidin, 2002:27).

Kata humanistik pada hakikatnya berbentuk kata sifat yang menitikberatkan pada pendekatan di dalam pendidikan. Pendidikan humanistik memfokuskan pada pendidikan yang menjalin komunikasi dan relasi personal antara pribadi–pribadi dan kelompok di dalam komunitas sekolah. Membangun komunikasi yang saling memahami anatar guru dan siswa.

Dengan demikian hakikat pendidikan sesungguhnya untuk mengembangkan harkat dan martabat manusia dalam memanusiakan siswa untuk bisa menjalin kedekatan yang intens antara siswa dengan guru. Baik dalam proses pembelajaran di kelas, juga dalam keseharian guru mampu membangun hubungan baik dan harmonis dengan semua siswa.

Kemampuan guru dalam membangun hubungan baik dengan siswa secara humanistic menghasilkan banyak keuntungan dalam kegiatan pembelajaran. Dengan sentuhan kemanusiaan dan bisa menerima peserta didik. Memberikan pemahaman akan memanusiakan murid bahwa siswa memiliki talenta yang beraga. Sehingga pentingnya dalam memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi. Pun dengan kondisi pandemi yang masih harus disikapi bijak oleh guru. Membangun komunikasi humanistic tentu menjadi pilihan utama untuk siswa dalam mendapatkan pengajaran.

Salah satunya guru mampu menemukan pola pembelajaran inovatif dalam memberikan materi dikelas. Baik secara online maupun secara offline sesuai kondisi sekarang yang sedang dihadapi. Keuntungan membangun relasi baik melalui pendekatan humanistic dengan siswa mengarahkan pada pembalajaran inovatif dan bermakna. Pembelajaran inovatif mengarah pada pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, pembelajaran tersebut dirancang, disusun dan dikondisikan untuk menumbuhkan motivasi peserta didik dalam belajar.

Baca Juga :  Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19

Pembelajaran inovatif digunakan guru bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan peserta didik pada proses perubahan perilaku. Untuk mengubah perilaku peserta didik ke arah yang lebih baik dibutuhkan teori belajar humanistik dalam pembelajaran inovatif di sekolah. Pembelajaran humanistik merupakan salah satu pembelajaran yang dapat mengembangkan sikap saling menghargai dan mengembangkan potensi yang ada pada diri peserta didik. Konsep belajar teori humanistik tidak hanya memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi mengajak untuk menghayati, menyelami, dan memahami berbagai bentuk potensi yang ada pada peserta didik di dalam kelas dan atau di luar kelas. Dengan demikian, pembelajaran inovatif dimanfaatkan sebagai kegiatan pembelajaran dalam proses pendidikan.

Dalam proses pembelajaran di kelas, ada lima komponen penting yang membentuk satu kesatuan lingkungan pembelajaran, yaitu tujuan, pendidik, peserta didik, materi, dan evaluasi. Dari kelima komponen tersebut, pendidik merupakan penggerak aktif agar pembelajaran berjalan secara efektif dan efisien khusunya saat kondisi pandemic seperti sekarang ini.

Sebagai guru dan pendidik memiliki tanggung jawab yang lebih dari kondisi normal yang selama ini terjadi. Oleh sebab itu, untuk menjalankan kelima komponen di atas guru sebagai tenaga pendidik perlu menggunakan strategi pembelajaran yang inovatif dalam menentukan keberhasilan dan perubahan tingkah laku peserta didik. Strategi pembelajaran inovatif diterapkan dalam penyampaian materi dengan menghubungkan fenomena yang dialami peserta didik dalam kehidupan sehari–hari.

Dengan demikian, pemilihan strategi pembelajaran didasari pada berbagai pertimbangan sesuai dengan situasi, kondisi, dan lingkungan yang akan dihadapi.  Pemilihan strategi pembelajaran bertujuan untuk mengembangkan potensi–potensi yang ada pada peserta didik baik dari segi kognitif, afektif dan psikomotor. Hal ini  menggambarkan paradigma teori belajar humanistik dalam mengimplementasikan pembelajaran inovatif di sekolah. Dengan memanfaatkan lingkungan ataupun teknologi sederhana yang ada disekita, membutuhkan kemampuan guru dalam membangkitkan motivasi dan iklim segar agar peserta didik mau untuk teris belajar.

Baca Juga :  Guru, Orang Tua dan Peserta Didik Saat Pembelajaran di Masa Pandemi

Peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran mulai dari awal pertemuan sampai akhir pembelajaran. Oleh sebab itu, guru berusaha memfalitasi peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya. Di samping itu guru ikut berperan dalam memberikan beberapa rangsangan kepada peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan dasar yang dimilikinya.

Pembelajaran inovatif lebih menekankan pada pembelajaran yang bersifat student centered, maksudnya, pembelajaran yang lebih memberikan peluang kepada peserta didik untuk mengkonstruksikan pengetahuan secara mandiri (self directed) dan dimediasi oleh teman sebaya (peer mediated instruction). Sangat sulit untuk membudayakan hal ini, namun tantangan ini perlu dilakukan agar peserta didik merasa terbiasa dengan hal yang dirasa baru dalam pembelajaran yang sering kali harus terbarukan.

Sebagai guru, setidaknya bisa memiliki cara dan strategi agar peserta didik bisa merasa belajar itu sesuatu candu. Akibat candu dalam belajar, peserta didik akan merasa rindu akan selalu belajar. Guru dapat memahami dengan kondisi yang ada menjadikannya melakukan perubahan dalam pengajaran. Berkolaborasi dan berdiskusi dengan rekan sejawat dalam mengembangkan pemilihan strategi belajar yang efektif serta efisien.

Dengan penyesuian kondisi dan keadaan masing masing sekolah dan peserta didik. Kebutuhan akan pengetahuan peserta didik mejadikan prioritas guru dalam membangun korelasi hubungan baik bagi semua pihak. Setiap guru akan memiliki strategi yang berbeda, namun yang tak boleh beda adalah bagaimana mengutamakan peserta didik dalam memperoleh pendidikan dan pengajaran untuk membangun masa depannya. Dan inilah yang utama.

*)Guru di SDN 24 Tuan Tayan Hulu

Most Read

Bekantan Nyaris Punah

Imbau Perayaan Mengedepankan Prokes

Perang Dingin MotoGP Lagi

PKKMB Politap Luncurkan Maba Masuk Desa

Artikel Terbaru

/