alexametrics
27.8 C
Pontianak
Thursday, July 7, 2022

Peran Tri Sentra Pendidikan untuk Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila

Dwi Agustina, S. Hut., M. Pd. *

 AKHIR-akhir ini kita sering mendengar istilah Profil Pelajar Pancasila. Istilah tersebut diluncurkan oleh Kemendikbud dalam upaya mendukung visi dan misi Presiden RI untuk mewujudkan Indonesia maju, yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian. Tujuannya adalah untuk mewujudkan pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Terdapat enam dimensi dari Profil Pelajar Pancasila yang menjadi indikator bahwa telah terbentuk Pelajar Pancasila, yaitu: Beriman, Bertaqwa Pada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia; Berkebhinekaan Global; Bergotong-Royong; Kreatif; Bernalar Kritis; dan Mandiri.

Upaya mewujudkan Profil Pelajar Pancasila tidak terlepas dari pendidikan karakter yang harus ditanamkan sejak usia dini. Hal ini bukan sesuatu yang baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Selama ini, pendidikan karakter sudah diterapkan dalam pendidikan di rumah, di sekolah, dan di lingkungan masyarakat yang peduli pendidikan. Namun masih banyak permasalahan yang terjadi di sekitar kita sehubungan dengan sikap dan perilaku generasi muda yang tidak sesuai dengan harapan dari diterapkannya pendidikan karakter.

Arus globalisasi yang pesat membuat nilai-nilai luhur Pancasila yang diharapkan mendarah daging dalam sosok manusia Indonesia sedikit demi sedikit mulai luntur. Saat ini, kita dapat melihat dan merasakan hadirnya generasi muda yang apatis terhadap lingkungan, penganut hedonisme, intoleransi, lebih mencintai budaya asing dibandingkan dengan budaya Indonesia, perilaku menyimpang, kurang kreatif, kurang disiplin, dan sikap serta perilaku negatif lainnya.

Berbagai permasalahan tersebut tentu saja menimbulkan keresahan, terutama bagi pendidik yang dituntut untuk mencetak generasi penerus bangsa yang berkarakter positif. Bagaimana generasi muda akan menghadapinya jika nilai-nilai karakter yang diharapkan ada pada diri mereka tidak terbentuk, tidak tertanam dalam jiwa. Mungkinkah bangsa Indonesia bisa maju sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya atau lenyap tergerus zaman? Oleh karena itu, ada pekerjaan penting yang harus dilakukan secara holistik dan sesegera mungkin untuk percepatan perwujudan generasi tangguh sesuai dengan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila.

Baca Juga :  Optimalisasi Peran Keluarga Di Masa Pandemi

Tugas untuk mewujudkan sosok Pelajar Pancasila, bukan hanya merupakan tanggung jawab pendidik dan sekolah. Namun, orang tua dan masyarakat juga memiliki andil yang sama besarnya. Hal ini sesuai dengan ajaran Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan berlangsung di tiga lingkungan, yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Konsep ini dikenal dengan istilah Tri Sentra Pendidikan. Di antara ketiganya terjadi hubungan timbal balik yang saling bersinergi dalam membentuk karakter anak.

Peran Keluarga

Pendidikan karakter dimulai dari rumah, yaitu dari lingkup keluarga. Sejak usia dini anak sudah belajar, baik secara langsung maupun tidak langsung dari orang-orang terdekatnya, yaitu ayah dan ibu serta keluarga lainnya. Keluarga jangan hanya diartikan orang tua atau ayah dan ibu saja. Istilah keluarga juga mencakup sanak saudara lainnya. Keluarga, terutama orang tua diharapkan dapat menjalankan perannya dengan baik, karena lebih mengenal sosok putra/putrinya dibandingkan orang lain dan sebagian besar waktu anak berada di lingkungan keluarga.

Lingkungan keluarga akan membentuk karakter dasar anak yang pada masanya akan dibawanya ke lingkungan di luar rumah. Oleh karena itu, pendidikan di dalam keluarga harus dapat membentuk karakter positif anak melalui pembiasaan dan keteladanan. Selain itu, komunikasi efektif juga diperlukan, terlebih saat anak beranjak remaja dan mulai bergaul dengan rekan sebaya atau orang dewasa lainnya. Pastikan anak berada dalam lingkungan pergaulan yang baik sehingga tidak terpengaruh pada hal-hal negatif yang dapat merusak kepribadiannya.

Peran Sekolah

Selama ini, dalam penerapan penguatan pendidikan karakter, peran sekolah sangat dominan. Sekolah berupaya menyediakan berbagai program dan kegiatan untuk tumbuh-kembangnya karakter positif siswa sesuai nilai-nilai dalam enam dimensi Profil Pelajar Pancasila, misalnya: program pembelajaran yang berpusat pada siswa untuk lahirnya pelajar yang bernalar kritis dan kreatif; program ekstrakurikuler untuk mewadahi bakat dan minat siswa dengan harapan terbentuknya karakter disiplin, bertanggung-jawab, mau bekerja sama, menghargai keberagaman, dan mandiri; program religi untuk pembinaan akhlak dan menghindari sikap intoleransi.

Baca Juga :  Pelajar dan Pendidikan Karakter Era Global

Sebagai pendidik, peran yang dapat dilakukan untuk mendukung penguatan pendidikan karakter dimulai dengan meningkatkan kompetensi diri, terutama  kompetensi kepribadian, jadilah pendidik yang perilakunya menjadi teladan untuk para siswa, berperan aktif mendukung pelaksanaan program sekolah agar terwujud semua yang menjadi tujuan program, berbagi praktik baik dengan rekan-rekan seprofesi dalam menangani permasalahan siswa, dan selalu memberikan bimbingan serta motivasi agar bertindak dan bertingkah laku sesuai yang diharapkan dalam pendidikan karakter.

Peran Masyarakat

Lingkungan masyarakat juga memegang peranan penting dalam pendidikan karakter. Kepedulian masyarakat adalah pagar yang diharapkan dapat memperkokoh pendidikan karakter. Jangan sampai apa yang sudah diupayakan pihak keluarga maupun pihak sekolah tidak mendapat dukungan dari masyarakat. Pentingnya keteladanan dari orang dewasa atau masyarakat dapat menjadi penguatan bagi anak untuk menerapkan pendidikan karakter dengan baik dan benar.

Pemerintah sesuai dengan kewenangannya juga menjadi kunci keberhasilan pendidikan karakter. Peran pemerintah yang diharapkan, diantaranya adalah menyosialisasikan pentingnya pendidikan karakter pada masyarakat, memperbanyak fasilitas pendukung yang bernuansa pendidikan, mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat menjadi wadah pengembangan bakat dan minat untuk berprestasi, tidak memberikan izin untuk penyelenggaraan kegiatan atau tempat yang dapat merusak mental dan kepribadian generasi muda, penerapan aturan dan sanksi yang tegas untuk pihak-pihak yang tidak kooperatif dalam mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter.

Jika semua pihak yang tergabung dalam Tri Sentra Pendidikan ini dapat menjalankan perannya dengan penuh tanggung-jawab, maka diyakini apa yang menjadi tujuan dalam pendidikan karakter yaitu pelajar yang memiliki kepribadian sesuai nilai-nilai luhur Pancasila dapat terwujud.

 *Kepala SMAN 1 Pontianak

*Agen Penguatan Karakter Puspeka Kemendikbud

 

Dwi Agustina, S. Hut., M. Pd. *

 AKHIR-akhir ini kita sering mendengar istilah Profil Pelajar Pancasila. Istilah tersebut diluncurkan oleh Kemendikbud dalam upaya mendukung visi dan misi Presiden RI untuk mewujudkan Indonesia maju, yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian. Tujuannya adalah untuk mewujudkan pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Terdapat enam dimensi dari Profil Pelajar Pancasila yang menjadi indikator bahwa telah terbentuk Pelajar Pancasila, yaitu: Beriman, Bertaqwa Pada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia; Berkebhinekaan Global; Bergotong-Royong; Kreatif; Bernalar Kritis; dan Mandiri.

Upaya mewujudkan Profil Pelajar Pancasila tidak terlepas dari pendidikan karakter yang harus ditanamkan sejak usia dini. Hal ini bukan sesuatu yang baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Selama ini, pendidikan karakter sudah diterapkan dalam pendidikan di rumah, di sekolah, dan di lingkungan masyarakat yang peduli pendidikan. Namun masih banyak permasalahan yang terjadi di sekitar kita sehubungan dengan sikap dan perilaku generasi muda yang tidak sesuai dengan harapan dari diterapkannya pendidikan karakter.

Arus globalisasi yang pesat membuat nilai-nilai luhur Pancasila yang diharapkan mendarah daging dalam sosok manusia Indonesia sedikit demi sedikit mulai luntur. Saat ini, kita dapat melihat dan merasakan hadirnya generasi muda yang apatis terhadap lingkungan, penganut hedonisme, intoleransi, lebih mencintai budaya asing dibandingkan dengan budaya Indonesia, perilaku menyimpang, kurang kreatif, kurang disiplin, dan sikap serta perilaku negatif lainnya.

Berbagai permasalahan tersebut tentu saja menimbulkan keresahan, terutama bagi pendidik yang dituntut untuk mencetak generasi penerus bangsa yang berkarakter positif. Bagaimana generasi muda akan menghadapinya jika nilai-nilai karakter yang diharapkan ada pada diri mereka tidak terbentuk, tidak tertanam dalam jiwa. Mungkinkah bangsa Indonesia bisa maju sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya atau lenyap tergerus zaman? Oleh karena itu, ada pekerjaan penting yang harus dilakukan secara holistik dan sesegera mungkin untuk percepatan perwujudan generasi tangguh sesuai dengan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila.

Baca Juga :  Pendidikan di Era Globalisasi

Tugas untuk mewujudkan sosok Pelajar Pancasila, bukan hanya merupakan tanggung jawab pendidik dan sekolah. Namun, orang tua dan masyarakat juga memiliki andil yang sama besarnya. Hal ini sesuai dengan ajaran Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan berlangsung di tiga lingkungan, yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Konsep ini dikenal dengan istilah Tri Sentra Pendidikan. Di antara ketiganya terjadi hubungan timbal balik yang saling bersinergi dalam membentuk karakter anak.

Peran Keluarga

Pendidikan karakter dimulai dari rumah, yaitu dari lingkup keluarga. Sejak usia dini anak sudah belajar, baik secara langsung maupun tidak langsung dari orang-orang terdekatnya, yaitu ayah dan ibu serta keluarga lainnya. Keluarga jangan hanya diartikan orang tua atau ayah dan ibu saja. Istilah keluarga juga mencakup sanak saudara lainnya. Keluarga, terutama orang tua diharapkan dapat menjalankan perannya dengan baik, karena lebih mengenal sosok putra/putrinya dibandingkan orang lain dan sebagian besar waktu anak berada di lingkungan keluarga.

Lingkungan keluarga akan membentuk karakter dasar anak yang pada masanya akan dibawanya ke lingkungan di luar rumah. Oleh karena itu, pendidikan di dalam keluarga harus dapat membentuk karakter positif anak melalui pembiasaan dan keteladanan. Selain itu, komunikasi efektif juga diperlukan, terlebih saat anak beranjak remaja dan mulai bergaul dengan rekan sebaya atau orang dewasa lainnya. Pastikan anak berada dalam lingkungan pergaulan yang baik sehingga tidak terpengaruh pada hal-hal negatif yang dapat merusak kepribadiannya.

Peran Sekolah

Selama ini, dalam penerapan penguatan pendidikan karakter, peran sekolah sangat dominan. Sekolah berupaya menyediakan berbagai program dan kegiatan untuk tumbuh-kembangnya karakter positif siswa sesuai nilai-nilai dalam enam dimensi Profil Pelajar Pancasila, misalnya: program pembelajaran yang berpusat pada siswa untuk lahirnya pelajar yang bernalar kritis dan kreatif; program ekstrakurikuler untuk mewadahi bakat dan minat siswa dengan harapan terbentuknya karakter disiplin, bertanggung-jawab, mau bekerja sama, menghargai keberagaman, dan mandiri; program religi untuk pembinaan akhlak dan menghindari sikap intoleransi.

Baca Juga :  Permainan Kartu Bintanis Pada Pembelajaran Tematik

Sebagai pendidik, peran yang dapat dilakukan untuk mendukung penguatan pendidikan karakter dimulai dengan meningkatkan kompetensi diri, terutama  kompetensi kepribadian, jadilah pendidik yang perilakunya menjadi teladan untuk para siswa, berperan aktif mendukung pelaksanaan program sekolah agar terwujud semua yang menjadi tujuan program, berbagi praktik baik dengan rekan-rekan seprofesi dalam menangani permasalahan siswa, dan selalu memberikan bimbingan serta motivasi agar bertindak dan bertingkah laku sesuai yang diharapkan dalam pendidikan karakter.

Peran Masyarakat

Lingkungan masyarakat juga memegang peranan penting dalam pendidikan karakter. Kepedulian masyarakat adalah pagar yang diharapkan dapat memperkokoh pendidikan karakter. Jangan sampai apa yang sudah diupayakan pihak keluarga maupun pihak sekolah tidak mendapat dukungan dari masyarakat. Pentingnya keteladanan dari orang dewasa atau masyarakat dapat menjadi penguatan bagi anak untuk menerapkan pendidikan karakter dengan baik dan benar.

Pemerintah sesuai dengan kewenangannya juga menjadi kunci keberhasilan pendidikan karakter. Peran pemerintah yang diharapkan, diantaranya adalah menyosialisasikan pentingnya pendidikan karakter pada masyarakat, memperbanyak fasilitas pendukung yang bernuansa pendidikan, mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat menjadi wadah pengembangan bakat dan minat untuk berprestasi, tidak memberikan izin untuk penyelenggaraan kegiatan atau tempat yang dapat merusak mental dan kepribadian generasi muda, penerapan aturan dan sanksi yang tegas untuk pihak-pihak yang tidak kooperatif dalam mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter.

Jika semua pihak yang tergabung dalam Tri Sentra Pendidikan ini dapat menjalankan perannya dengan penuh tanggung-jawab, maka diyakini apa yang menjadi tujuan dalam pendidikan karakter yaitu pelajar yang memiliki kepribadian sesuai nilai-nilai luhur Pancasila dapat terwujud.

 *Kepala SMAN 1 Pontianak

*Agen Penguatan Karakter Puspeka Kemendikbud

 

Most Read

Artikel Terbaru

/