alexametrics
30 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Penanaman Budaya Literasi Masa Pandemi Covid–19

Oleh: Rosena Sormin, S.Pd. *

PANDEMI Coronavirus Disease 2019 (Covid–19) memberikan perubahan besar disemua sisi kehidupan. Termasuk pada bidang pendidikan, yaitu proses belajar mengajar yang mesti menyesuaikan kondisi tidak biasa. Terdapat perubahan radikal dalam implementasi teknologi disegala bidang. Termasuk lembaga pendidikan yang harus mendesain ulang proses pembelajaran dan juga segala sesuatu yang mengikutinya.

Pendidikan merupakan pembentukan kemampuan manusia untuk menggunakan akal dan pikiran (rasionalisasi) sebagai jawaban dalam menghadapi berbagai masalah yang timbul di masa yang akan datang. Pendidikan juga merupakan usaha sadar yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Salah satu tujuan pendidikan yakni meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Melalui pendidikan yang baik, kita akan mudah mengikuti perkembangan zaman di masa yang akan datang, khususnya perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dan persaingan yang ketat menuntut manusia untuk mampu terus–menerus belajar menguasai berbagai ilmu dan teknologi secara cepat. Bila tidak demikian maka seseorang akan tertinggal dan kalah dalam kompetisi di berbagai bidang. Ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dipelajari manusia dengan penggunaan penguasaan literasi (keaksaraan dan kewicaraan) yang memadai. Sebaliknya, kemampuan literasi yang tinggi dapat pula mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ke arah tingkatan yang lebih tinggi lagi.

Tanpa paksaan atau dengan kemauan, kondisi pandemi justru menpercepat proses perwujudan masyarakat industri 4.0. Mendadak teknologi menjadi hal yang utama dalam setiap kegiatan sehingga membuat semua hal berjalan dengan lancar. Proses menjaga jarak dan menghindari kerumunan menjadi teknologi hal utama dalam menjalin komunikasi, kerjasama dan kolaborasi dalam melakukan pekerjaan, dan teknologi menjadi tumpuan utama. Pendidikan bukan lagi hanya persoalan mentransfer pengetahuan secara eksplisit namun pada kemampuan berpikir yang menggabungkan kemampuan berpikir kritis, kreatif komunikatif dan kolaboratif.

Baca Juga :  Guru dan Konsep Belajar Sepanjang Hayat

Proses pembelajaran yang dilakukan secara virtual dari kelas konvensional menjadi kelas online dibeberapa tempat yang memiliki akses internet bagus. Keterampilan akan sains dan teknologi menuju pembelajaran yang bersifat belajar mandiri dan berkelanjutan. Rendahnya literasi sains pada masyarakat menyebabkan hanya sebagian orang yang mau mengalami perubahan signifikan. Oleh karenanya, kebutuhan dan proses membudayakan literasi menjadi hal utama. Dimana ada banyak literasi yang harus dipelajari dalam mengikuti segala perubahan zaman yang ada. Wajib, dan harus diupayakan untuk cerdas dalam berliterasi segala hal untuk perubahan kehidupan yang lebih baik.

Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis. Kita mengenalnya dengan melek aksara atau keberaksaraan. Namun, sekarang ini literasi memiliki arti luas, sehingga keberaksaraan bukan lagi bermakna tunggal melainkan mengandung beragam arti (multi–literacies).

Budaya literasi juga sangat terkait dengan pola pembelajaran di sekolah dan ketersediaan bahan bacaan di perpustakaan. Namun, harus disadari bahwa literasi tidak hanya diperoleh dari bangku sekolah atau pendidikan yang tinggi. Literasi juga bias didapatkan dari kebiasaan yang ada dari lingkungan keluarga.  Salah satu faktor penyebab rendahnya budaya literasi adalah karena kebiasaan membaca dianggap sampingan, bukan sebagai faktor utama dan mendasar.

Salah satu cara sederhana  yang bias ditempuh meningkatkan kemampuan literasi ini adalah dengan banyak membaca buku. Hanya saja yang sangat disayangkan adalah membaca tampaknya bukanlah budaya masyarakat Indonesia, mengingat masih banyak daerah di Indonesia yang minat bacanya rendah, dan alhasil kemampuan literasinya juga rendah. Setidaknya, ada berbagai hal yang menyebabkan kemampuan literasi terutama pada siswa siswi sekolah menjadi rendah.

Baca Juga :  Implementasi Pembelajaran Kolaboratif

Guru sebagai motivasi baik yang bersifat internal maupun eksternal merupakan kunci utama kesuksesan para siswa pada semua level pendidikan yang ada. Motivasi merupakan motor utama penggerak dunia siswa. Sehingga tanpa motivasi yang kuat, tidak akan ada tindakan nyata dari siswa untuk belajar lebih giat. Membangun motivasi merupakan salah satu peran utama seorang guru dalam menjalankan tugasnya sebagai tenaga pendidik. Membangun keakraban dan atmosfir yang positif adalah langkah awal untuk meningkatkan motivasi belajar.

Seorang guru sebisa mungkin mengupayakan terciptanya suasana belajar yang menyenangkan dan tidak membosankan. Suasana belajar sangat berpengaruh terhadap motivasi siswa untuk belajar. Literasi keutamaan dalam menyikapi perubahan yang ada. Menjadi sebuah renungan bersama. Peran serta pemerintah dalam menggerakkan dan memberikan peluang serta perhatian yang lebih pada kondisi ini. Masyarakat yang bisa bergerak secara madani dalam mewujudkan tingkat pemahaman literasi diri menjadi kunci sebuah peradaban.

Pentingnya menanamkan penguatan literasi masyarakat, terutama pada siswa menjadi harapan dan keinginan untuk menghasilkan generasi yang siap akan tantangan global dengan segala perubahan yang tak terduga. Perjalanan yang akan terusada, membawa kita untuk selalu mampu beradaptasi dengan lingkungan secepat apapun. Generasi dengan literasi yang baik, tak hanya bias merenungi segala sesuatu yang terjadi, namun mereka akan mahir dalam menemukan solusi konstruktif dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Kiranya budaya literasi yang terbangun dapat memberikan makna baik bagi kemaslahatan orang banyak.

*) penulis adalah SMP Negeri 4 Sanggau

Oleh: Rosena Sormin, S.Pd. *

PANDEMI Coronavirus Disease 2019 (Covid–19) memberikan perubahan besar disemua sisi kehidupan. Termasuk pada bidang pendidikan, yaitu proses belajar mengajar yang mesti menyesuaikan kondisi tidak biasa. Terdapat perubahan radikal dalam implementasi teknologi disegala bidang. Termasuk lembaga pendidikan yang harus mendesain ulang proses pembelajaran dan juga segala sesuatu yang mengikutinya.

Pendidikan merupakan pembentukan kemampuan manusia untuk menggunakan akal dan pikiran (rasionalisasi) sebagai jawaban dalam menghadapi berbagai masalah yang timbul di masa yang akan datang. Pendidikan juga merupakan usaha sadar yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Salah satu tujuan pendidikan yakni meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Melalui pendidikan yang baik, kita akan mudah mengikuti perkembangan zaman di masa yang akan datang, khususnya perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dan persaingan yang ketat menuntut manusia untuk mampu terus–menerus belajar menguasai berbagai ilmu dan teknologi secara cepat. Bila tidak demikian maka seseorang akan tertinggal dan kalah dalam kompetisi di berbagai bidang. Ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dipelajari manusia dengan penggunaan penguasaan literasi (keaksaraan dan kewicaraan) yang memadai. Sebaliknya, kemampuan literasi yang tinggi dapat pula mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ke arah tingkatan yang lebih tinggi lagi.

Tanpa paksaan atau dengan kemauan, kondisi pandemi justru menpercepat proses perwujudan masyarakat industri 4.0. Mendadak teknologi menjadi hal yang utama dalam setiap kegiatan sehingga membuat semua hal berjalan dengan lancar. Proses menjaga jarak dan menghindari kerumunan menjadi teknologi hal utama dalam menjalin komunikasi, kerjasama dan kolaborasi dalam melakukan pekerjaan, dan teknologi menjadi tumpuan utama. Pendidikan bukan lagi hanya persoalan mentransfer pengetahuan secara eksplisit namun pada kemampuan berpikir yang menggabungkan kemampuan berpikir kritis, kreatif komunikatif dan kolaboratif.

Baca Juga :  Pop Up Book Media Adaftif PJJ

Proses pembelajaran yang dilakukan secara virtual dari kelas konvensional menjadi kelas online dibeberapa tempat yang memiliki akses internet bagus. Keterampilan akan sains dan teknologi menuju pembelajaran yang bersifat belajar mandiri dan berkelanjutan. Rendahnya literasi sains pada masyarakat menyebabkan hanya sebagian orang yang mau mengalami perubahan signifikan. Oleh karenanya, kebutuhan dan proses membudayakan literasi menjadi hal utama. Dimana ada banyak literasi yang harus dipelajari dalam mengikuti segala perubahan zaman yang ada. Wajib, dan harus diupayakan untuk cerdas dalam berliterasi segala hal untuk perubahan kehidupan yang lebih baik.

Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis. Kita mengenalnya dengan melek aksara atau keberaksaraan. Namun, sekarang ini literasi memiliki arti luas, sehingga keberaksaraan bukan lagi bermakna tunggal melainkan mengandung beragam arti (multi–literacies).

Budaya literasi juga sangat terkait dengan pola pembelajaran di sekolah dan ketersediaan bahan bacaan di perpustakaan. Namun, harus disadari bahwa literasi tidak hanya diperoleh dari bangku sekolah atau pendidikan yang tinggi. Literasi juga bias didapatkan dari kebiasaan yang ada dari lingkungan keluarga.  Salah satu faktor penyebab rendahnya budaya literasi adalah karena kebiasaan membaca dianggap sampingan, bukan sebagai faktor utama dan mendasar.

Salah satu cara sederhana  yang bias ditempuh meningkatkan kemampuan literasi ini adalah dengan banyak membaca buku. Hanya saja yang sangat disayangkan adalah membaca tampaknya bukanlah budaya masyarakat Indonesia, mengingat masih banyak daerah di Indonesia yang minat bacanya rendah, dan alhasil kemampuan literasinya juga rendah. Setidaknya, ada berbagai hal yang menyebabkan kemampuan literasi terutama pada siswa siswi sekolah menjadi rendah.

Baca Juga :  Pembelajaran Berdiferensiasi, Mengapa ?

Guru sebagai motivasi baik yang bersifat internal maupun eksternal merupakan kunci utama kesuksesan para siswa pada semua level pendidikan yang ada. Motivasi merupakan motor utama penggerak dunia siswa. Sehingga tanpa motivasi yang kuat, tidak akan ada tindakan nyata dari siswa untuk belajar lebih giat. Membangun motivasi merupakan salah satu peran utama seorang guru dalam menjalankan tugasnya sebagai tenaga pendidik. Membangun keakraban dan atmosfir yang positif adalah langkah awal untuk meningkatkan motivasi belajar.

Seorang guru sebisa mungkin mengupayakan terciptanya suasana belajar yang menyenangkan dan tidak membosankan. Suasana belajar sangat berpengaruh terhadap motivasi siswa untuk belajar. Literasi keutamaan dalam menyikapi perubahan yang ada. Menjadi sebuah renungan bersama. Peran serta pemerintah dalam menggerakkan dan memberikan peluang serta perhatian yang lebih pada kondisi ini. Masyarakat yang bisa bergerak secara madani dalam mewujudkan tingkat pemahaman literasi diri menjadi kunci sebuah peradaban.

Pentingnya menanamkan penguatan literasi masyarakat, terutama pada siswa menjadi harapan dan keinginan untuk menghasilkan generasi yang siap akan tantangan global dengan segala perubahan yang tak terduga. Perjalanan yang akan terusada, membawa kita untuk selalu mampu beradaptasi dengan lingkungan secepat apapun. Generasi dengan literasi yang baik, tak hanya bias merenungi segala sesuatu yang terjadi, namun mereka akan mahir dalam menemukan solusi konstruktif dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Kiranya budaya literasi yang terbangun dapat memberikan makna baik bagi kemaslahatan orang banyak.

*) penulis adalah SMP Negeri 4 Sanggau

Most Read

Artikel Terbaru

/