alexametrics
32.8 C
Pontianak
Wednesday, August 10, 2022

Zakat Versus Riba

Jika Zakat dan Shadaqah kalah melawan sistem riba, berarti zakat dan shadaqah yang diamalkan belum maksimal

Oleh : H. Moh. Ridwan, ST

Wakil Ketua Baznas Provinsi Kalimantan Barat

DALAM perkembangan dunia ekonomi modern sekarang ini, zakat dan sedekah seperti terlupakan, orang-orang berlomba-lomba menciptakan sistem keuangan dan ekonomi dengan sistem riba. Banyak sekali jasa-jasa keuangan yang mengembangkan sistem riba,  sehingga riba telah menjalar ke seluruh lapisan masyarakat. Riba seolah-olah menjadi solusi hidup, padahal riba merupakan “penyakit menular”  yang akan menggeroti keberkahan harta dan keberkahan hidup kita.

Riba seolah menawarkan solusi cepat tetapi lama kelamaan dan pasti riba akan mencekik pelakunya hingga tak berdaya sama sekali.

Tetapi entah mengapa masih saja banyak umat Islam yang menganggap transaksi riba sebagaimana halnya jual beli yang halal. Benar-benar melecehkan ayat-ayat  Allah. Jika alasan yang selalu dikemukakan karena darurat, seringkali itu terbantah oleh keadaannya sendiri.

Banyak sekali larangan dan ancaman Allah Swt terhadap pelaku riba dalam Al Quran dan Hadist di antaranya:

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (QS. al-Baqarah [2] : 275).

Baca Juga :  Zakat Produktif untuk Kesejahteraan Umat

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa  Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu (QS. al-Baqarah [2] : 279)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba yang pasti berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan (QS. Ali ‘Imran [3] : 130)

Maka dari itu tidak pernah akan ada barakah dari riba.

Islam tidak hanya melarang tetapi juga memberikan solusi dalam mengatasi riba. Solusi tersebut adalah zakat dan sedekah. Secara bahasa (etimologi) zakat berasal dari kata yang berarti berkembang, berkah, tumbuh, suci, dan baik. Maka zakat merupakan ibadah dan kewajiban untuk membersihkan diri dan harta bendanya sehingga pahalanya bertambah, tercapainya kesejahteraan ekonomi dan juga dapat mewujudkan keadilan.

Hal tersebut sangat jelas sekali dalam Firman ALLAH Swt di bawah ini:

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa (QS. al-Baqarah [2] : 276)

Baca Juga :  Puasa dan Energi “Three in One”

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia bertambah, maka tidak akan bertambah dalam pandangan Allah. Dan apa yang kamu berikan  berupa zakat yang kamu maksudkan untuk memperoleh keridhaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).QS. Ar-Rum [30] : 39)

Ayat-ayat dan hadits di atas sudah seharusnya menggugah kita untuk tidak terpikat pada sistem kerja sama riba. Kalaupun tampaknya riba memperkaya diri, tetap saja ujung-ujungnya akan habis tidak bersisa. Sudah diri jauh dari agama, harta yang selalu dipuja pun akan musnah tak tersisa.

Adapun orang yang berzakat, memperoleh dua keuntungan, yaitu harta yang ia keluarkan untuk berzakat akan tumbuh dan berkembang di sisi Allah, dan Allah SWT dengan izinnya senantiasa menjadikan harta muzakki tumbuh dan berkembang di dunia. Hal ini sesuai dengan hadits  Rasulullah SAW yang menyatakan tidak akan pernah berkurang harta dikarenakan berzakat. Jadi tidak pernah ruginya berzakat, ia meraih keberuntungan dunia dan akhirat.  Wallahua’lam*

Jika Zakat dan Shadaqah kalah melawan sistem riba, berarti zakat dan shadaqah yang diamalkan belum maksimal

Oleh : H. Moh. Ridwan, ST

Wakil Ketua Baznas Provinsi Kalimantan Barat

DALAM perkembangan dunia ekonomi modern sekarang ini, zakat dan sedekah seperti terlupakan, orang-orang berlomba-lomba menciptakan sistem keuangan dan ekonomi dengan sistem riba. Banyak sekali jasa-jasa keuangan yang mengembangkan sistem riba,  sehingga riba telah menjalar ke seluruh lapisan masyarakat. Riba seolah-olah menjadi solusi hidup, padahal riba merupakan “penyakit menular”  yang akan menggeroti keberkahan harta dan keberkahan hidup kita.

Riba seolah menawarkan solusi cepat tetapi lama kelamaan dan pasti riba akan mencekik pelakunya hingga tak berdaya sama sekali.

Tetapi entah mengapa masih saja banyak umat Islam yang menganggap transaksi riba sebagaimana halnya jual beli yang halal. Benar-benar melecehkan ayat-ayat  Allah. Jika alasan yang selalu dikemukakan karena darurat, seringkali itu terbantah oleh keadaannya sendiri.

Banyak sekali larangan dan ancaman Allah Swt terhadap pelaku riba dalam Al Quran dan Hadist di antaranya:

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (QS. al-Baqarah [2] : 275).

Baca Juga :  Puasa dan Energi “Three in One”

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa  Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu (QS. al-Baqarah [2] : 279)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba yang pasti berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan (QS. Ali ‘Imran [3] : 130)

Maka dari itu tidak pernah akan ada barakah dari riba.

Islam tidak hanya melarang tetapi juga memberikan solusi dalam mengatasi riba. Solusi tersebut adalah zakat dan sedekah. Secara bahasa (etimologi) zakat berasal dari kata yang berarti berkembang, berkah, tumbuh, suci, dan baik. Maka zakat merupakan ibadah dan kewajiban untuk membersihkan diri dan harta bendanya sehingga pahalanya bertambah, tercapainya kesejahteraan ekonomi dan juga dapat mewujudkan keadilan.

Hal tersebut sangat jelas sekali dalam Firman ALLAH Swt di bawah ini:

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa (QS. al-Baqarah [2] : 276)

Baca Juga :  Berbagi Takjil untuk Pengguna Jalan

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia bertambah, maka tidak akan bertambah dalam pandangan Allah. Dan apa yang kamu berikan  berupa zakat yang kamu maksudkan untuk memperoleh keridhaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).QS. Ar-Rum [30] : 39)

Ayat-ayat dan hadits di atas sudah seharusnya menggugah kita untuk tidak terpikat pada sistem kerja sama riba. Kalaupun tampaknya riba memperkaya diri, tetap saja ujung-ujungnya akan habis tidak bersisa. Sudah diri jauh dari agama, harta yang selalu dipuja pun akan musnah tak tersisa.

Adapun orang yang berzakat, memperoleh dua keuntungan, yaitu harta yang ia keluarkan untuk berzakat akan tumbuh dan berkembang di sisi Allah, dan Allah SWT dengan izinnya senantiasa menjadikan harta muzakki tumbuh dan berkembang di dunia. Hal ini sesuai dengan hadits  Rasulullah SAW yang menyatakan tidak akan pernah berkurang harta dikarenakan berzakat. Jadi tidak pernah ruginya berzakat, ia meraih keberuntungan dunia dan akhirat.  Wallahua’lam*

Most Read

Artikel Terbaru

/