alexametrics
32.8 C
Pontianak
Monday, July 4, 2022

Puasa dan Kepedulian Sosial

Oleh: Dr. H. Hamzah Tawil. M.Si*

MANUSIA sebagai mahluk sosial, melihat kemiskinan. Tentunya sebagai warga kita turut prihatin dengan kondisi kemiskinan yang ada di sekeliling kita. Lalu apa korelasi antara makna puasa yang sedang kita jalani dengan kondisi kemiskinan yang ada di sekitar kita?

Puasa merupakan salah satu pilar fundamental tegaknya bangunan Islam. Allah mewajibkan umat lslam berpuasa antara lain agar menjadi manusia yang bertakwa. Kelebihan puasa dari ibadah lainnya dalam Islam adalah karena sifatnya yang pribadi dan tersembunyi alias tidak terlihat oleh pandangan kasat mata manusia.

Berangkat dari sinilah, Allah dalam sebuah hadis qudsi di kitab Bukhori dan Muslim berfirman dengan tegas bahwa puasa adalah milikNya yang pribadi dan la pun akan memberikan pahala secara spesial dan pribadi kepada hamba-hambanya yang diterima amal ibadah puasanya. (M.Afifuddin Muchit)

Kentalnya nuansa individual seorang hamba dengan Tuhannya dalam dimensi ibadah puasa ini karena pesan tafsir yang banyak diadopsi kaum muslimin dari makna takwa yang mengarah kepada makna kedekatan personal seorang hamba kepada Penciptanya. Ini merupakan sebuah makna konvensional takwa yang banyak dipahami oleh umat Islam. Namun jika kita mau membaca ulang makna takwa yang terdapat pada surat Al-Baqarah 183 maka ia punya makna yang lebih holistik dan komprehensif.

Tidak hanya mengarah kepada dimensi vertikal hamba dan Tuhannya saja, tetapi takwa juga punya dimensi horizontal yang kental dengan nuansa kehidupan sosial seperti berderma,  membebaskan budak (menyantuni orang dhuafa), dan sabar dalam menerima cobaan. Barometer kebajikan bagi Allah bukan diukur dari banyaknya interaksi pribadi hamba kepada-Nya tetapi kebajikan yang bersifat holistik, yang dapat menjiwainya dalam kehidupan sosial.

Baca Juga :  #Cari_Aman Bersama Komunitas Sedekah Jalanan Pontianak

Bulan Ramadhan ini sebenarnya punya maksud dan nilai yang sangat mulia yang tidak hanya terbatas pada pembentukan pribadi-pribadi yang saleh tapi juga membentuk karakter sebuah masyarakat yang saleh dan kokoh. Puasa ini sebenarnya sarat dengan pesan etika kesaIehan sosial yang sangat tinggi seperti pengendalian diri, disiplin, kejujuran, kesabaran, solidaritas dan saling tolong menolong. Ini merupakan sebuah potret yang mengarah kepada eratnya kesalihan pribadi dengan kesalihan sosial.

Menahan makan dan minum selama hampir 13 jam lebih (waktu Indonesia Barat) walau kita mampu, tentunya menjadikan kita layaknya orang miskin yang kelaparan. Rasa lapar, haus dan dahaga selama sebuIan penuh mengajarkan kepada kita sakitnya penderitaan saudara-saudara kita yang miskin dan tidak mampu. Bermula dari rasa lapar dan haus inilah seharusnya menjadikan kita lebih peka terhadap kondisi sosial masyarakat yang ada di sekitar kita.

Memberi tanpa mengharap imbalan (ikhlas), menolong tanpa melihat suku dan agama tertentu (SARA) adalah kesalihan sosial yang menjadi bagian dari makna la’allakumtattaquun (agar kita menjadi orang yang bertakwa) itu sendiri.

Ibadah lain yang tak kalah pentingnya adalah salat. Khusus di bulan Ramadhan, terdapat satu salat yang tidak terdapat di bulan lain, yaitu salat tarawih. Salat tarawih dilaksanakan secara berjemaah di masjid, dan dilakukan setiap malam di bulan Ramadhan. Ibadah ini pun tak lepas dari dimensi sosialnya.

Baca Juga :  Jadi Orang Tak Punya

Pada salat tarawih, seluruh jemaah berkumpul menjadi satu, setara di hadapan Allah SWT. Tak ada lagi pangkat, jabatan, atau strata sosial. semua menjadi satu, bergerak bersama, berbaris sejajar, duduk sama rendah, dan berdiri sama tinggi. Tak ada lagi batas antara si kaya dan si miskin, pejabat atau pesuruh, atasan maupun bawahan, apalagi hanya sekat-sekat kesukuan atau kedaerahan. Semua lebur menjadi satu.

Mengapa puasa Ramadhan ditutupi dengan membayar zakat fithrah? Ini merupakan bukti kepedulian Allah terhadap problematika sodial terutama kemiskinan. la tidak hanya peduli terhadap kesalihan pribadi tapi juga kepada kesalihan sosial. Ia tidak akan segan menolak puasa pribadi-pribadi muslim manakala mereka belum menunaikan ibadah sosial berupa zakat fitrah.

Namun patut disayangkan, cita-cita puasa yang punya nilai kemanusian yang tinggi masih belum banyak disadari oleh insan yang berpuasa itu sendiri. Kita masih saja terjebak dengan ritual upacara tahunan tersebut tanpa ada perubahan-perubahan yang mendasar pada perilaku kehidupan keseharian. Kita hanya mengejar kesalihan pribadi tanpa ada ketersambungan sekali dengan kesalihan sosial.

Fenomena ini memang bisa dipahami, karena masih jarang para da’i atau mubaligh yang membedah puasa dalam perspektif ibadah sosial. Mereka lebih suka mengurai puasa dari sudut pendekatan garis vertikal (hablunminallah) tanpa memberikan relevansinya dengan garis horisontal (hablunminanaas) sehingga membuat puasa tereduksi dalam media privat dan kehilangan daya kontrolnya dalam perilaku kehidupan muslim di tengah kehidupan bermasyarakat sosiaI. AllahuA’lam.

* Wakil Ketua 2 Baznas Kalbar

dan Dosen UNU Kalbar

Oleh: Dr. H. Hamzah Tawil. M.Si*

MANUSIA sebagai mahluk sosial, melihat kemiskinan. Tentunya sebagai warga kita turut prihatin dengan kondisi kemiskinan yang ada di sekeliling kita. Lalu apa korelasi antara makna puasa yang sedang kita jalani dengan kondisi kemiskinan yang ada di sekitar kita?

Puasa merupakan salah satu pilar fundamental tegaknya bangunan Islam. Allah mewajibkan umat lslam berpuasa antara lain agar menjadi manusia yang bertakwa. Kelebihan puasa dari ibadah lainnya dalam Islam adalah karena sifatnya yang pribadi dan tersembunyi alias tidak terlihat oleh pandangan kasat mata manusia.

Berangkat dari sinilah, Allah dalam sebuah hadis qudsi di kitab Bukhori dan Muslim berfirman dengan tegas bahwa puasa adalah milikNya yang pribadi dan la pun akan memberikan pahala secara spesial dan pribadi kepada hamba-hambanya yang diterima amal ibadah puasanya. (M.Afifuddin Muchit)

Kentalnya nuansa individual seorang hamba dengan Tuhannya dalam dimensi ibadah puasa ini karena pesan tafsir yang banyak diadopsi kaum muslimin dari makna takwa yang mengarah kepada makna kedekatan personal seorang hamba kepada Penciptanya. Ini merupakan sebuah makna konvensional takwa yang banyak dipahami oleh umat Islam. Namun jika kita mau membaca ulang makna takwa yang terdapat pada surat Al-Baqarah 183 maka ia punya makna yang lebih holistik dan komprehensif.

Tidak hanya mengarah kepada dimensi vertikal hamba dan Tuhannya saja, tetapi takwa juga punya dimensi horizontal yang kental dengan nuansa kehidupan sosial seperti berderma,  membebaskan budak (menyantuni orang dhuafa), dan sabar dalam menerima cobaan. Barometer kebajikan bagi Allah bukan diukur dari banyaknya interaksi pribadi hamba kepada-Nya tetapi kebajikan yang bersifat holistik, yang dapat menjiwainya dalam kehidupan sosial.

Baca Juga :  Penentuan Ramadan Kembali Berbeda, ICMI Kalbar Tawarkan Solusi

Bulan Ramadhan ini sebenarnya punya maksud dan nilai yang sangat mulia yang tidak hanya terbatas pada pembentukan pribadi-pribadi yang saleh tapi juga membentuk karakter sebuah masyarakat yang saleh dan kokoh. Puasa ini sebenarnya sarat dengan pesan etika kesaIehan sosial yang sangat tinggi seperti pengendalian diri, disiplin, kejujuran, kesabaran, solidaritas dan saling tolong menolong. Ini merupakan sebuah potret yang mengarah kepada eratnya kesalihan pribadi dengan kesalihan sosial.

Menahan makan dan minum selama hampir 13 jam lebih (waktu Indonesia Barat) walau kita mampu, tentunya menjadikan kita layaknya orang miskin yang kelaparan. Rasa lapar, haus dan dahaga selama sebuIan penuh mengajarkan kepada kita sakitnya penderitaan saudara-saudara kita yang miskin dan tidak mampu. Bermula dari rasa lapar dan haus inilah seharusnya menjadikan kita lebih peka terhadap kondisi sosial masyarakat yang ada di sekitar kita.

Memberi tanpa mengharap imbalan (ikhlas), menolong tanpa melihat suku dan agama tertentu (SARA) adalah kesalihan sosial yang menjadi bagian dari makna la’allakumtattaquun (agar kita menjadi orang yang bertakwa) itu sendiri.

Ibadah lain yang tak kalah pentingnya adalah salat. Khusus di bulan Ramadhan, terdapat satu salat yang tidak terdapat di bulan lain, yaitu salat tarawih. Salat tarawih dilaksanakan secara berjemaah di masjid, dan dilakukan setiap malam di bulan Ramadhan. Ibadah ini pun tak lepas dari dimensi sosialnya.

Baca Juga :  Ragam Kegiatan SiJum Meriahkan Ramadan

Pada salat tarawih, seluruh jemaah berkumpul menjadi satu, setara di hadapan Allah SWT. Tak ada lagi pangkat, jabatan, atau strata sosial. semua menjadi satu, bergerak bersama, berbaris sejajar, duduk sama rendah, dan berdiri sama tinggi. Tak ada lagi batas antara si kaya dan si miskin, pejabat atau pesuruh, atasan maupun bawahan, apalagi hanya sekat-sekat kesukuan atau kedaerahan. Semua lebur menjadi satu.

Mengapa puasa Ramadhan ditutupi dengan membayar zakat fithrah? Ini merupakan bukti kepedulian Allah terhadap problematika sodial terutama kemiskinan. la tidak hanya peduli terhadap kesalihan pribadi tapi juga kepada kesalihan sosial. Ia tidak akan segan menolak puasa pribadi-pribadi muslim manakala mereka belum menunaikan ibadah sosial berupa zakat fitrah.

Namun patut disayangkan, cita-cita puasa yang punya nilai kemanusian yang tinggi masih belum banyak disadari oleh insan yang berpuasa itu sendiri. Kita masih saja terjebak dengan ritual upacara tahunan tersebut tanpa ada perubahan-perubahan yang mendasar pada perilaku kehidupan keseharian. Kita hanya mengejar kesalihan pribadi tanpa ada ketersambungan sekali dengan kesalihan sosial.

Fenomena ini memang bisa dipahami, karena masih jarang para da’i atau mubaligh yang membedah puasa dalam perspektif ibadah sosial. Mereka lebih suka mengurai puasa dari sudut pendekatan garis vertikal (hablunminallah) tanpa memberikan relevansinya dengan garis horisontal (hablunminanaas) sehingga membuat puasa tereduksi dalam media privat dan kehilangan daya kontrolnya dalam perilaku kehidupan muslim di tengah kehidupan bermasyarakat sosiaI. AllahuA’lam.

* Wakil Ketua 2 Baznas Kalbar

dan Dosen UNU Kalbar

Most Read

Artikel Terbaru

/