27.8 C
Pontianak
Wednesday, May 31, 2023

Ibadah Puasa Ramadhan dan Dimensi Sosial

Oleh: Uray M. Amin

  • Negeri Melayu Adat Terpandang
  • Syariat Islam jadi Pegangan
  • Kini Ramadhan Mulai Menjelang
  • Salah dan Khilaf Mohon Kami dimaafkan

 

  • Setelah Sholat baca Alquran
  • Dalam Alquran ada surat Ar-Rahmaan
  • Bulan Ramadhan Bulan Ampunan
  • Mari kite tingkatkan Ketaqwaan

DIWAJIBKAN ibadah puasa itu pada  akhirnya  agar dapat  mencapai derajat taqwa yang benar-benar bertaqwa (QS. Al-Baqarah:183).

Ini dimaksudkan ibadah puasa bisa menjadi media   untuk  membentuk karakter seseorang baik sikap individu maupun sosial.

Jelaslah bahwa, hakekat kualitas keimanan tidak ditentukan oleh seberapa tinggi pengabdian diri di hadapan Allah, namun kesempurnaannya terletak pada bagaimana seorang muslim mampu membuat kualitas ketaqwaan individualnya menjadi media untuk berperilaku sosial yang baik dan bijak dengan berharap keridloan Allah SWT. Implementasi norma agama dalam kehidupan sosial menjadi tempat bermusabaqah untuk mendapatkan derajat yang tinggi secara individual dan sosial. Hasilnya adalah berbentuk kehidupan di masyarakat yang mengerti dan memahami serta menyadari pentingnya menjaga keharmonisan hidup dalam kebersamaan yang menghargai perbedaan.

Ibadah puasa sebagai ibadah individual menjadi media untuk  membentuk kualitas pribadi yang selanjutnya diimplementasikan dalam kehidupan sosial yang benar-benar nyata agar tercipta  perubahan yang menuju kebersamaan. Inilah mengapa puasa ramadhan diakhiri dengan kewajiban mengeluarkan zakat pribadi (zakat fitrah) yang diberikan kepada yang berhak, sehingga semuanya ikut merasakan kebahagiaan di hari yang fitri itu.

Secara sosial, ibadah puasa mampu mendorong untuk menumbuhkan akhlak yang mulia. Berdasar sikap mental yang berbentuk sabar, maka dalam berperilaku sosial berkumpul dan berinteraksi dengan orang lain sama sekali tidak memunculkan rasa kebencian, iri, dengki, marah atau lainnya. Semua  orang dalam komunitasnya  ditempatkan dalam kerangka dapat memberikan kontribusi secara fungsional terhadap diri seseorang menurut status, peran dan jenjangnya masing-masing.

Baca Juga :  Pastikan Zakat, Infaq dan Sedekah Anda Diserahkan di Tempat Yang Tepat

Salah satu sumber penyebab yang menimbulkan malapetaka dalam kehidupan  adalah ucapan lisan, yang terkadang sulit menjaganya dari perkataan bohong atau kebencian yang menyakiti atau menyinggung  perasaan orang lain dan bahkan menimbulkan permusuhan diantara mereka. Ancaman bagi orang yang tidak bisa menjaga lisannya dari perkataan benci dan kebohongan, sebagaimana pernah disampaikan Nabi, maka Allah SWT tidak memberikan makanan dan minuman terhadap itu orang. Inilah yang harus dijaga agar ibadah puasa memiliki pahala dan keutamaan serta mendapatkan keberkahan yang melimpah dari Allah SWT.

Terkait  dengan ibadah puasa, Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan dalam sebuah HaditsNya, “Rubba shoimin laisa lahu min shiyamihi illal ju’a wal a’thsya (HR. Ibnu Majah)”.  Banyak orang menjalankan puasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Hal ini karena selama menjalankan ibadah puasa tidak mampu menjaga ucapan dan perbuatannya dari hal-hal yang tidak baik dan menyakiti pihak lain. Puasa yang semestinya membentuk sikap dan perilaku manusia bertaqwa, justru memunculkan perseteruan yang menimbulkan ketidak tenangan dalam kehidupan bersama.

Sikap sosial yang mesti terbentuk dari ibadah puasa adalah kedermawanan sebagai bentuk kepedulian yang muncul akibat dari panggilan hati betapa susahnya orang yang sedang merasakan hidup dalam kekurangan. Tentunya ini diwujudkan dalam bentuk tindakan yang sesuai dengan kondisi kemampuan untuk melakukan  agar ibadah puasa kita memberi makna dan penuh berkah, maka perlu menjaga :

Baca Juga :  Homo Deus Berpuasa?

Pertama, ucapan lisan jangan sampai mengeluarkan perkataan yang menimbulkan kebencian terhadap orang lain karena bertentangan dengan sikap yang sesungguhnya dimaksudkan dengan hakekat ibadah puasa.

Kedua, bersikap sosial yang menumbuhkan sikap sayang dan keharmonisan sehingga orang lain merasa dihargai dan dihormati sebagai layaknya menghargai diri sendiri.

Ketiga, bersedekah sesuai kemampuan yang mampu memberi manfaat bagi penerima meskipun tidak seberapa jika dihitung secara nominal, namun bisa menumbuhkan kebahagiaan tersendiri sehingga menciptakan keharmonisan.

Jelaslah bahwa, hakekat kualitas keimanan tidak ditentukan oleh seberapa tinggi pengabdian diri di hadapan Allah, namun kesempurnaannya terletak pada bagaimana seorang muslim mampu membuat kualitas ketaqwaan individualnya menjadi media untuk berperilaku sosial yang baik dan bijak dengan berharap keridloan Allah SWT. Implementasi norma agama dalam kehidupan sosial menjadi tempat bermusabaqah untuk mendapatkan derajat yang tinggi secara individual dan sosial.

Demikianlah sekelumit yang dapat kami kemukakan. Ada pesan yang penuh hikmah. Agar Ramadhan  tahun ini dapat berkah Janga lupa Berzakat dan Bersedekah. Di BAZNAS provinsi Kalimantan Barat lah.

Penulis adalah Ketua Baznas Kalimantan Barat

Oleh: Uray M. Amin

  • Negeri Melayu Adat Terpandang
  • Syariat Islam jadi Pegangan
  • Kini Ramadhan Mulai Menjelang
  • Salah dan Khilaf Mohon Kami dimaafkan

 

  • Setelah Sholat baca Alquran
  • Dalam Alquran ada surat Ar-Rahmaan
  • Bulan Ramadhan Bulan Ampunan
  • Mari kite tingkatkan Ketaqwaan

DIWAJIBKAN ibadah puasa itu pada  akhirnya  agar dapat  mencapai derajat taqwa yang benar-benar bertaqwa (QS. Al-Baqarah:183).

Ini dimaksudkan ibadah puasa bisa menjadi media   untuk  membentuk karakter seseorang baik sikap individu maupun sosial.

Jelaslah bahwa, hakekat kualitas keimanan tidak ditentukan oleh seberapa tinggi pengabdian diri di hadapan Allah, namun kesempurnaannya terletak pada bagaimana seorang muslim mampu membuat kualitas ketaqwaan individualnya menjadi media untuk berperilaku sosial yang baik dan bijak dengan berharap keridloan Allah SWT. Implementasi norma agama dalam kehidupan sosial menjadi tempat bermusabaqah untuk mendapatkan derajat yang tinggi secara individual dan sosial. Hasilnya adalah berbentuk kehidupan di masyarakat yang mengerti dan memahami serta menyadari pentingnya menjaga keharmonisan hidup dalam kebersamaan yang menghargai perbedaan.

Ibadah puasa sebagai ibadah individual menjadi media untuk  membentuk kualitas pribadi yang selanjutnya diimplementasikan dalam kehidupan sosial yang benar-benar nyata agar tercipta  perubahan yang menuju kebersamaan. Inilah mengapa puasa ramadhan diakhiri dengan kewajiban mengeluarkan zakat pribadi (zakat fitrah) yang diberikan kepada yang berhak, sehingga semuanya ikut merasakan kebahagiaan di hari yang fitri itu.

Secara sosial, ibadah puasa mampu mendorong untuk menumbuhkan akhlak yang mulia. Berdasar sikap mental yang berbentuk sabar, maka dalam berperilaku sosial berkumpul dan berinteraksi dengan orang lain sama sekali tidak memunculkan rasa kebencian, iri, dengki, marah atau lainnya. Semua  orang dalam komunitasnya  ditempatkan dalam kerangka dapat memberikan kontribusi secara fungsional terhadap diri seseorang menurut status, peran dan jenjangnya masing-masing.

Baca Juga :  Enam Ribu Peserta Ikuti Karnaval Budaya di Rasau

Salah satu sumber penyebab yang menimbulkan malapetaka dalam kehidupan  adalah ucapan lisan, yang terkadang sulit menjaganya dari perkataan bohong atau kebencian yang menyakiti atau menyinggung  perasaan orang lain dan bahkan menimbulkan permusuhan diantara mereka. Ancaman bagi orang yang tidak bisa menjaga lisannya dari perkataan benci dan kebohongan, sebagaimana pernah disampaikan Nabi, maka Allah SWT tidak memberikan makanan dan minuman terhadap itu orang. Inilah yang harus dijaga agar ibadah puasa memiliki pahala dan keutamaan serta mendapatkan keberkahan yang melimpah dari Allah SWT.

Terkait  dengan ibadah puasa, Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan dalam sebuah HaditsNya, “Rubba shoimin laisa lahu min shiyamihi illal ju’a wal a’thsya (HR. Ibnu Majah)”.  Banyak orang menjalankan puasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Hal ini karena selama menjalankan ibadah puasa tidak mampu menjaga ucapan dan perbuatannya dari hal-hal yang tidak baik dan menyakiti pihak lain. Puasa yang semestinya membentuk sikap dan perilaku manusia bertaqwa, justru memunculkan perseteruan yang menimbulkan ketidak tenangan dalam kehidupan bersama.

Sikap sosial yang mesti terbentuk dari ibadah puasa adalah kedermawanan sebagai bentuk kepedulian yang muncul akibat dari panggilan hati betapa susahnya orang yang sedang merasakan hidup dalam kekurangan. Tentunya ini diwujudkan dalam bentuk tindakan yang sesuai dengan kondisi kemampuan untuk melakukan  agar ibadah puasa kita memberi makna dan penuh berkah, maka perlu menjaga :

Baca Juga :  Indosat Ajak Pelanggan Berdonasi untuk Apresiasi Peran Marbot

Pertama, ucapan lisan jangan sampai mengeluarkan perkataan yang menimbulkan kebencian terhadap orang lain karena bertentangan dengan sikap yang sesungguhnya dimaksudkan dengan hakekat ibadah puasa.

Kedua, bersikap sosial yang menumbuhkan sikap sayang dan keharmonisan sehingga orang lain merasa dihargai dan dihormati sebagai layaknya menghargai diri sendiri.

Ketiga, bersedekah sesuai kemampuan yang mampu memberi manfaat bagi penerima meskipun tidak seberapa jika dihitung secara nominal, namun bisa menumbuhkan kebahagiaan tersendiri sehingga menciptakan keharmonisan.

Jelaslah bahwa, hakekat kualitas keimanan tidak ditentukan oleh seberapa tinggi pengabdian diri di hadapan Allah, namun kesempurnaannya terletak pada bagaimana seorang muslim mampu membuat kualitas ketaqwaan individualnya menjadi media untuk berperilaku sosial yang baik dan bijak dengan berharap keridloan Allah SWT. Implementasi norma agama dalam kehidupan sosial menjadi tempat bermusabaqah untuk mendapatkan derajat yang tinggi secara individual dan sosial.

Demikianlah sekelumit yang dapat kami kemukakan. Ada pesan yang penuh hikmah. Agar Ramadhan  tahun ini dapat berkah Janga lupa Berzakat dan Bersedekah. Di BAZNAS provinsi Kalimantan Barat lah.

Penulis adalah Ketua Baznas Kalimantan Barat

Most Read

Artikel Terbaru