alexametrics
27 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Iran Punya Kemampuan dan Pengalaman untuk Bikin Frustrasi AS

Katakanlah “Perang Dunia III” Itu Benar Terjadi…

Amerika Serikat (AS) mau menggelontorkan artileri darat? Eits, tak seperti Iraq, wilayah Iran bergunung-gunung. AS mau mengandalkan drone? Iran malah lebih dulu memanfaatkan pesawat nirawak itu. Bagaimana kalau menyerang lewat laut? Jangan lupa, yang mau diserang punya kapal-kapal selam ampuh.

————-

SEKILAS, keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memprovokasi Iran dengan membunuh Jenderal Qasem Soleimani seperti mengulang skenario yang dilakukan Negeri Paman Sam itu terhadap Presiden Iraq Saddam Hussein dulu. Macam-macam, tinggal bom, lalu invasi saja.

”Perang pasti terjadi. Pertanyaannya, di mana, kapan, dan bagaimana,” ujar Charles Lister, direktur program kontra terorisme dan ekstremisme di Middle East Institute, seperti yang dilansir oleh National Post.

Katakanlah “Perang Dunia III”, seperti tagar yang ramai jadi perbincangan di media sosial setelah Soleimani tewas akibat serangan drone AS Jumat lalu itu (3/1), benar terjadi. Benarkah AS bakal segampang itu menggulung Iran seperti yang mereka lakukan di Iraq?

Nanti dulu. Iran bukan Iraq. Ada banyak sekali faktor pembeda. Iran merupakan negara dengan sistem pertahanan yang kuat. Negara itu juga solid di bawah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Di sisi lain, pasca Perang Dunia II, AS sudah terlibat perang dengan empat negara: Korea, Vietnam, Afghanistan, dan Iraq. Satu-satunya yang dimenangkan adalah perang melawan Iraq. Perang dengan Afghanistan masih belum berakhir sampai kini. Perang Korea bisa dibilang berakhir seri. Dan, AS kalah di Vietnam.

Baca Juga :  Meski Sampai 16 Jam, Puasa Tak Terasa karena Dingin

Pertanyaannya, bagaimana AS berencana menaklukan Iran yang luasnya lebih besar dari keempat negara tersebut jika digabung. Mengutip utas yang ditulis penulis, konsultan, dan pemerhati teknologi Tomi T. Ahonen di Twitter, saat menginvasi Iraq, AS dengan mudahnya mengerahkan artileri darat seperti tank dan roket. Mudah saja bermanuver di negara yang dipenuhi padang pasir.

Masalahnya, Iran dipenuhi oleh pegunungan. Sama seperti Afghanistan yang sampai saat ini belum bisa 100 persen ditaklukan AS. ”Kemungkinan besar, AS bakal memilih serangan udara,” imbuh Bud Wichers, pakar militer timur tengah, kepada Jawa Pos.

Dengan drone atau pesawat nirawak supercanggih seperti Predator atau MQ9 Reaper (yang melepaskan misil yang menewaskan Soleimani), AS memang bisa menyerang tanpa khawatir ada personel militer yang meninggal. Tapi, solusi dari udara itu bukan lantas berarti AS bisa mengakhiri perang tanpa kehilangan apapun.

Ahone mengingatkan, Iran adalah negara kedua setelah Israel yang menggunakan teknologi drone. Jauh sebelum AS. Bahkan, Iran adalah negara pertama yang menyematkan senjata di pesawat nirawak. Itu artinya, Iran juga bisa menyerang aset-aset AS dan sekutunya di Timur Tengah.

“AS belum pernah beperang dengan negara yang punya teknologi drone militer. Mereka juga belum pernah berperang dengan negara pemilik kapal selam yang bisa melumpuhkan kapal induk sekalipun,” paparnya.

Memang benar, kekuatan militer Iran tak sampai setengah dari AS. Namun, AS juga tak mungkin mengerahkan semua kekuatannya untuk memerangi Iran. Teheran juga punya banyak sekutu di tingkat regional. Kebanyakan merupakan kelompok militan yang sudah lama menyulitkan AS seperti Hizbullah di Lebanon atau Hamas di Gaza.

Baca Juga :  Ekspor Langsung 1.000 Ton Kratom ke Amerika

Itu artinya, AS harus siap berperang di mana pun dalam wilayah Timur Tengah. Meskipun beberapa pakar sudah menetapkan bahwa Iraq, lokasi tewasnya Soleimani, sebagai panggung perang utama. “Saat ini, tekanan bakal dirasakan oleh militer AS yang berada di Iraq,” ujar Ales Vatanka, peneliti Middle East Institute, kepada Agence France-Presse.

Iran juga punya beberapa rencana cadangan untuk membuat AS frustasi. Mereka bisa melakukan serangan siber ke beberapa aset AS. Termasuk, infrastruktur di dalam negeri Paman Sam. Iran sudah membuktikan bahwa dirinya tak sungkan menyerang target rawan seperti warga sipil atau fasilitas umum.

”Yang ditakuti adalah mereka melumpuhkan jaringan listrik atau membuat kebocoran zat kimia,” ungkap Loic Guezo, kepala konsultan Clusif.

Namun, Wichers mengatakan AS juga punya solusi alternatif. Yakni, menciptakan proksi untuk memulai perang sipil. Saat ini ada kelompok pemberontak yang tidak aktif bernama Arab Struggle Movement for the Liberation of Ahvaz (ASMLA). AS bisa saja membesarkan kelompok tersebut untuk melemahkan Iran dari dalam. ”Saat ini, kekuatan mereka jelas lemah. Tapi bisa saja mereka membesar setelah didukung AS,” jelasnya. (*/ttg)

Katakanlah “Perang Dunia III” Itu Benar Terjadi…

Amerika Serikat (AS) mau menggelontorkan artileri darat? Eits, tak seperti Iraq, wilayah Iran bergunung-gunung. AS mau mengandalkan drone? Iran malah lebih dulu memanfaatkan pesawat nirawak itu. Bagaimana kalau menyerang lewat laut? Jangan lupa, yang mau diserang punya kapal-kapal selam ampuh.

————-

SEKILAS, keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memprovokasi Iran dengan membunuh Jenderal Qasem Soleimani seperti mengulang skenario yang dilakukan Negeri Paman Sam itu terhadap Presiden Iraq Saddam Hussein dulu. Macam-macam, tinggal bom, lalu invasi saja.

”Perang pasti terjadi. Pertanyaannya, di mana, kapan, dan bagaimana,” ujar Charles Lister, direktur program kontra terorisme dan ekstremisme di Middle East Institute, seperti yang dilansir oleh National Post.

Katakanlah “Perang Dunia III”, seperti tagar yang ramai jadi perbincangan di media sosial setelah Soleimani tewas akibat serangan drone AS Jumat lalu itu (3/1), benar terjadi. Benarkah AS bakal segampang itu menggulung Iran seperti yang mereka lakukan di Iraq?

Nanti dulu. Iran bukan Iraq. Ada banyak sekali faktor pembeda. Iran merupakan negara dengan sistem pertahanan yang kuat. Negara itu juga solid di bawah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Di sisi lain, pasca Perang Dunia II, AS sudah terlibat perang dengan empat negara: Korea, Vietnam, Afghanistan, dan Iraq. Satu-satunya yang dimenangkan adalah perang melawan Iraq. Perang dengan Afghanistan masih belum berakhir sampai kini. Perang Korea bisa dibilang berakhir seri. Dan, AS kalah di Vietnam.

Baca Juga :  Virus Marburg Mematikan, WHO Bergerak Lacak 150 Orang Kontak Erat

Pertanyaannya, bagaimana AS berencana menaklukan Iran yang luasnya lebih besar dari keempat negara tersebut jika digabung. Mengutip utas yang ditulis penulis, konsultan, dan pemerhati teknologi Tomi T. Ahonen di Twitter, saat menginvasi Iraq, AS dengan mudahnya mengerahkan artileri darat seperti tank dan roket. Mudah saja bermanuver di negara yang dipenuhi padang pasir.

Masalahnya, Iran dipenuhi oleh pegunungan. Sama seperti Afghanistan yang sampai saat ini belum bisa 100 persen ditaklukan AS. ”Kemungkinan besar, AS bakal memilih serangan udara,” imbuh Bud Wichers, pakar militer timur tengah, kepada Jawa Pos.

Dengan drone atau pesawat nirawak supercanggih seperti Predator atau MQ9 Reaper (yang melepaskan misil yang menewaskan Soleimani), AS memang bisa menyerang tanpa khawatir ada personel militer yang meninggal. Tapi, solusi dari udara itu bukan lantas berarti AS bisa mengakhiri perang tanpa kehilangan apapun.

Ahone mengingatkan, Iran adalah negara kedua setelah Israel yang menggunakan teknologi drone. Jauh sebelum AS. Bahkan, Iran adalah negara pertama yang menyematkan senjata di pesawat nirawak. Itu artinya, Iran juga bisa menyerang aset-aset AS dan sekutunya di Timur Tengah.

“AS belum pernah beperang dengan negara yang punya teknologi drone militer. Mereka juga belum pernah berperang dengan negara pemilik kapal selam yang bisa melumpuhkan kapal induk sekalipun,” paparnya.

Memang benar, kekuatan militer Iran tak sampai setengah dari AS. Namun, AS juga tak mungkin mengerahkan semua kekuatannya untuk memerangi Iran. Teheran juga punya banyak sekutu di tingkat regional. Kebanyakan merupakan kelompok militan yang sudah lama menyulitkan AS seperti Hizbullah di Lebanon atau Hamas di Gaza.

Baca Juga :  Rekor Terburuk Virus Korona, New York Catat 731 Kematian dalam Sehari

Itu artinya, AS harus siap berperang di mana pun dalam wilayah Timur Tengah. Meskipun beberapa pakar sudah menetapkan bahwa Iraq, lokasi tewasnya Soleimani, sebagai panggung perang utama. “Saat ini, tekanan bakal dirasakan oleh militer AS yang berada di Iraq,” ujar Ales Vatanka, peneliti Middle East Institute, kepada Agence France-Presse.

Iran juga punya beberapa rencana cadangan untuk membuat AS frustasi. Mereka bisa melakukan serangan siber ke beberapa aset AS. Termasuk, infrastruktur di dalam negeri Paman Sam. Iran sudah membuktikan bahwa dirinya tak sungkan menyerang target rawan seperti warga sipil atau fasilitas umum.

”Yang ditakuti adalah mereka melumpuhkan jaringan listrik atau membuat kebocoran zat kimia,” ungkap Loic Guezo, kepala konsultan Clusif.

Namun, Wichers mengatakan AS juga punya solusi alternatif. Yakni, menciptakan proksi untuk memulai perang sipil. Saat ini ada kelompok pemberontak yang tidak aktif bernama Arab Struggle Movement for the Liberation of Ahvaz (ASMLA). AS bisa saja membesarkan kelompok tersebut untuk melemahkan Iran dari dalam. ”Saat ini, kekuatan mereka jelas lemah. Tapi bisa saja mereka membesar setelah didukung AS,” jelasnya. (*/ttg)

Most Read

Artikel Terbaru

/