alexametrics
32.8 C
Pontianak
Wednesday, August 10, 2022

Tubuhnya Akan Tinggal di Museum Nasional

Big Tim, Gajah Jenis Giant Tusker Terakhir di Kenya, Mati

 

Para pencinta satwa liar berduka. Big Tim tiada. Gajah yang memiliki gading terbesar dan terpanjang di Kenya itu mati karena tua.

  

BIG Tim tergeletak di area Mada, Taman Nasional Amboseli, Kenya, Selasa (4/2). Tubuhnya sudah terbujur kaku. Gajah tersebut mati berjam-jam sebelumnya. Tidak ada jejak penyiksaan. Tim berpulang karena usianya sudah tua. Ia sudah berusia 50 tahun.

”Dia terkenal dan dicintai di seluruh Kenya,” bunyi pernyataan Kenya Wildlife Service (KWS) Rabu (5/2) seperti dikutip Agence France-Presse.

Gajah berumur separo abad itu adalah jenis giant tusker terakhir yang ada di Kenya. Seekor gajah masuk ke golongan tersebut jika gading yang dimilikinya sangat besar sampai bisa mengeruk tanah. Ia termasuk langka. Di seluruh penjuru Afrika, jumlahnya tinggal beberapa lusin. Tim adalah yang terbesar.

Perburuan membuat populasi berbagai jenis gajah di Afrika terjun bebas. International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengungkapkan bahwa satu dekade lalu, jumlahnya mencapai 110 ribu ekor. Tapi, kini hanya ada 415 ribu ekor.

Baca Juga :  Sarawak Tambah 11 Pasien Positif, Total 20 Orang

Biasanya, gajah yang memiliki gading terbesar diburu lebih dulu. Gajah yang ada saat ini dilahirkan oleh orang tua dengan gading tak terlalu panjang. Karena itulah, saat ini gajah-gajah di Afrika memiliki gading yang pendek dibanding mereka yang ada seabad lalu.

Bagi pemburu, Tim adalah hewan yang menarik hati. Tim tidak bisa berlari cepat. Jalannya juga lambat. Itu membuatnya menjadi sasaran empuk. Berkali-kali mereka mencoba untuk menangkapnya. Tubuhnya pernah tiga kali ditusuk tombak. Salah satunya pernah tembus dari telinganya dan patah di area bahunya. Insiden itu terjadi pada 2016.

Pemburu juga melemparkan batu besar kepadanya. Beruntung, Tim ditemukan sebelum pemburu memotong gadingnya. Dia dibius dan dioperasi. Tim akhirnya berhasil bertahan hidup.

Dia kembali bertarung dengan kematian Februari tahun lalu. Tim tercebur kubangan lumpur. Ia tidak bisa keluar. Proses penyelamatan berlangsung cukup lama.

Tim termasuk gajah yang ’’nakal”. Dulu dia sering keluar dari taman nasional dan masuk ke ladang penduduk. Tindakannya sempat membuat berang para petani. Bagaimana tidak, lahan yang dia lewati pasti rusak.

Baca Juga :  Tersangka Penembakan Shinzo Abe Ditangkap, Dipicu oleh Dendam

Untuk melindungi Tim dan ladang penduduk, KWS harus memutar otak. Mereka mengalungi Tim dengan alat monitor khusus. Begitu posisinya menuju ladang penduduk, tim perlindungan binatang akan bergerak untuk mencegahnya. Tapi, Tim adalah gajah yang pintar. Berkali-kali dia berhasil melewati para penjaga binatang di Taman Nasional Amboseli dan tetap masuk ke ladang. Hanya 50 persen di antaranya yang bisa dihentikan.

Tim tidak hanya disayangi para pencinta binatang, tapi juga di kalangan para gajah. Dilansir BBC, gajah adalah hewan matriarki. Gajah betina yang memimpin kelompok dan gajah jantan hidup jauh serta menyendiri jika sudah dewasa. Tapi, Tim beda. Dia selalu diterima dan bisa berjalan dengan rombongan gajah betina. ’’Dia adalah kekayaan nasional Kenya,’’ bunyi pernyataan organisasi konservasi Wildlife Direct.

Jasad tim tidak akan membusuk di tanah. KWS membawa Tim ke ibu kota Kenya, Nairobi.  Taxidermist alias orang yang ahli mengisi kulit binatang akan membuka tubuhnya. Tim akan diawetkan dan dipajang di museum nasional Kenya. Tidak diketahui berapa lama proses itu akan berlangsung. (*/c6/dos)

Big Tim, Gajah Jenis Giant Tusker Terakhir di Kenya, Mati

 

Para pencinta satwa liar berduka. Big Tim tiada. Gajah yang memiliki gading terbesar dan terpanjang di Kenya itu mati karena tua.

  

BIG Tim tergeletak di area Mada, Taman Nasional Amboseli, Kenya, Selasa (4/2). Tubuhnya sudah terbujur kaku. Gajah tersebut mati berjam-jam sebelumnya. Tidak ada jejak penyiksaan. Tim berpulang karena usianya sudah tua. Ia sudah berusia 50 tahun.

”Dia terkenal dan dicintai di seluruh Kenya,” bunyi pernyataan Kenya Wildlife Service (KWS) Rabu (5/2) seperti dikutip Agence France-Presse.

Gajah berumur separo abad itu adalah jenis giant tusker terakhir yang ada di Kenya. Seekor gajah masuk ke golongan tersebut jika gading yang dimilikinya sangat besar sampai bisa mengeruk tanah. Ia termasuk langka. Di seluruh penjuru Afrika, jumlahnya tinggal beberapa lusin. Tim adalah yang terbesar.

Perburuan membuat populasi berbagai jenis gajah di Afrika terjun bebas. International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengungkapkan bahwa satu dekade lalu, jumlahnya mencapai 110 ribu ekor. Tapi, kini hanya ada 415 ribu ekor.

Baca Juga :  Tersangka Penembakan Shinzo Abe Ditangkap, Dipicu oleh Dendam

Biasanya, gajah yang memiliki gading terbesar diburu lebih dulu. Gajah yang ada saat ini dilahirkan oleh orang tua dengan gading tak terlalu panjang. Karena itulah, saat ini gajah-gajah di Afrika memiliki gading yang pendek dibanding mereka yang ada seabad lalu.

Bagi pemburu, Tim adalah hewan yang menarik hati. Tim tidak bisa berlari cepat. Jalannya juga lambat. Itu membuatnya menjadi sasaran empuk. Berkali-kali mereka mencoba untuk menangkapnya. Tubuhnya pernah tiga kali ditusuk tombak. Salah satunya pernah tembus dari telinganya dan patah di area bahunya. Insiden itu terjadi pada 2016.

Pemburu juga melemparkan batu besar kepadanya. Beruntung, Tim ditemukan sebelum pemburu memotong gadingnya. Dia dibius dan dioperasi. Tim akhirnya berhasil bertahan hidup.

Dia kembali bertarung dengan kematian Februari tahun lalu. Tim tercebur kubangan lumpur. Ia tidak bisa keluar. Proses penyelamatan berlangsung cukup lama.

Tim termasuk gajah yang ’’nakal”. Dulu dia sering keluar dari taman nasional dan masuk ke ladang penduduk. Tindakannya sempat membuat berang para petani. Bagaimana tidak, lahan yang dia lewati pasti rusak.

Baca Juga :  Warga Kalbar Divonis Mati di Sarawak

Untuk melindungi Tim dan ladang penduduk, KWS harus memutar otak. Mereka mengalungi Tim dengan alat monitor khusus. Begitu posisinya menuju ladang penduduk, tim perlindungan binatang akan bergerak untuk mencegahnya. Tapi, Tim adalah gajah yang pintar. Berkali-kali dia berhasil melewati para penjaga binatang di Taman Nasional Amboseli dan tetap masuk ke ladang. Hanya 50 persen di antaranya yang bisa dihentikan.

Tim tidak hanya disayangi para pencinta binatang, tapi juga di kalangan para gajah. Dilansir BBC, gajah adalah hewan matriarki. Gajah betina yang memimpin kelompok dan gajah jantan hidup jauh serta menyendiri jika sudah dewasa. Tapi, Tim beda. Dia selalu diterima dan bisa berjalan dengan rombongan gajah betina. ’’Dia adalah kekayaan nasional Kenya,’’ bunyi pernyataan organisasi konservasi Wildlife Direct.

Jasad tim tidak akan membusuk di tanah. KWS membawa Tim ke ibu kota Kenya, Nairobi.  Taxidermist alias orang yang ahli mengisi kulit binatang akan membuka tubuhnya. Tim akan diawetkan dan dipajang di museum nasional Kenya. Tidak diketahui berapa lama proses itu akan berlangsung. (*/c6/dos)

Most Read

Artikel Terbaru

/