alexametrics
27.8 C
Pontianak
Friday, August 19, 2022

Wisata Alam Menggeliat, Dari Gua Kapur Hingga Danau Bekas Tambang Emas

Melihat Sarawak yang Bangkit Usai Pandemi

KUCHING- Tak hanya jadi tujuan medical tourism, Kuching dan seluruh wilayah di Sarawak, Malaysia juga dikenal dengan wisata alamnya yang indah dan beragam. Mulai dari sungai, pantai, danau hingga gunung dan gua, menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara. Lantas seperti apa kondisi pariwisata di sana setelah pandemi?

Beberapa hari berada di pusat Kota Kuching, kita akan sangat mudah menemui banyak wisatawan asing. Baik di hotel-hotel, sampai di jalanan, wisatawan asing begitu mudah dijumpai. Tak hanya orang-orang dari benua Asia tapi juga Eropa, Australia dan Amerika.

Kondisi ini terjadi hanya dalam waktu sekitar tiga bulan. Sejak pintu perbatasan dan penerbangan internasional dibuka pada 1 April lalu, pariwisata Sarawak langsung bangkit. Sebagai daerah tujuan wisata, Sarawak mulai menuju normal seperti tahun-tahun sebelum pandemi terjadi.

Bukan hanya di pusat Kota Kuching, objek-objek wisata yang tersebar di Sarawak juga mulai ramai. Bahkan banyak tempat wisata baru atau tampilan baru dari objek wisata yang sudah ada. Selama dua tahun pandemi, Sarawak ternyata tetap bebenah untuk menyambut para wisatawan mancanegara kembali berkunjung setelah pandemi usai.


Salah satu tempat yang Pontianak Post sempat kunjungi adalah Fairy Caves atau lebih dikenal dengan nama Gua Peri. Tempat ini sangat cocok bagi pelancongyang berjiwapetualang. Di dalam gua batu kapur itu, pengunjung bisamerasakan atmosferyang berbeda dengan udara dingin dan bau yang khas.

Objek wisata ini berada di Kuching, Sarawak, tepatnya di daerah Bau. Mengendarai mobil,hanya butuh waktu sekira satu jam,dengan jarak tempuh sekitar 50 kilometer daripusat kotaKuching.

Untuk tiket masuk ke Gua Peri, khusus wisatawan asing dikenakan tarif Ringgit Malaysia (RM) 5 per orang dewasadan RM2 bagianak-anak usia 6 hingga 18 tahun. Sementara anak-anak usia nolhingga lima tahun gratis. Sebelum memasuki gua, para pengunjung disarankan mengenakan sepatu sneaker yang tidak licin. Namunjika tidak membawa sepatu, pengunjungtakperlu khawatir. Di sana disediakan penyewaan sepatu karet dengan tarif RM3 per orang. Selain itu, pegunjung disarankanberbekal senter untuk penerangan saat masuk ke dalam atau bisa juga menggunakan senter dari handphone.

Pemandu wisata asal KuchingKarel, seorangmenjelaskan, Gua Periyang dikelola di bawahSarawak Forestry Corporation itu merupakan satu di antara gua yang ada di Sarawak dengan ketinggianmencapai400 meter. Gua itumenjulang tinggi dihiasi dengan berbagai jenis flora terutama pakis dan bebatuan yang tertutup lumut. Pengunjung yang ingin menjelajahi gua ini, akan melalui beberapa anak tangga dan menapaki jalan setapak. Di dalamnya terdapat stalaktit dan stalakmit serta pilar-pilar.

“Keunikan Gua Peri, adanya semacam bentuk batu-batuan yang menyerupai Guan Yin atau Dewi Kwan Im, ada juga yang berbentuk seperti manusia dan binatang, seperti buaya,” ungkapnya, Sabtu (23/7).

Baca Juga :  Rainforest World Music Festival Kembali Digelar, Catat Tanggalnya!

Selain itu, menurut dia, gua tersebut jugamenjadi habitat kelelawar. Ketika masuk di dalamnya, terlihat sekelompok kelelawar yang bergantungan. Tak hanya itu, gua ini juga menjadi surga para pemanjat tebing. Banyak tempat untuk pemanjat tebing berlatih di sana.
“Bagi pemanjat tebing yang ingin memacu adrenalin, bisa melakukannya di Gua Peri,” katanya.

Salah satu warga asal Pontianak yang berkunjung ke sana, Dino mengaku baru pertama kali merasakan masuk ke dalam gua. Apalagi gua tersebut cukup besar. Selama berada di dalam,ia mengakuiudara gua terasa sejuk. Selain indah dan unik, gua peri menurutnya sangat eksotis.“Ada sensai luar biasa ketika berada di dalam gua ini karena kita bisa melihat isi dalam gua dengan stalakmit dan stalaktit serta bebatuanyang menyerupai manusia atau binatang,” terangnya.

Selain gua, tak jauh dari sana juga ada wisata berupa danau buatan bekas pertambangan emas. Namanya Tasik Biru yang masih berada di daerah Bau. Tasik Birumerupakan resor wisata bertema danau. Nama Tasik Biru kurang lebih juga berartidanau biru karena airnya yang biru.

Dari penjelasan Karel, danau ituterbentuk oleh bekas penambangan emaszaman dulu. Karena sudah tidak difungsikan lagi, pemilik mengembangkannya menjadi resor wisata air. Resor yang baru saja dibangun di Bau, Sarawak ini menawarkan keindahan air danau buatan berwarna biru dengan hotel terapung di atasnya.

Pengunjung bisa menginap di Hotel Roxy Tasik Biru dengan pilihan tipe kamar. Harganya mulai dari RM235 hingga RM352. Untuk jam operasionalnya sendirimulai pukul 10.00 hingga 18.00 waktu setempat.

Bagi para pengunjung yang hanya ingin menikmati danau di resor ini, tidak perlu menginap. Tasik Biru menyediakan berbagai pilihan transportasi untuk menyusuri sekeliling danau. Untuk perahu motor air dikenakan tarif RM10 per orang dewasadan anak-anak RM5 per orang. Perahu motor air ini akan membawa pengunjung menyusuri sekeliling danau dengan satu putaran.

Sedangkan bagi yang ingin menikmati suasana danau lebih lama lagi, resorjugamenyediakan perahu engkol untuk dua hingga empat orang. Harganya pun sama dengan perahu motor air yakni RM10 per orang. Pengemudi perahu engkol diberikan waktu selama 30 menit untuk menikmati keindahan danau.

Selain gua dan danau, keaslian alam dan hutan yang masih terjaga juga menjadi destinasi favorit yang ditawarkan di Sarawak. Di sana banyak ditemukan taman nasional yang menjadi pilihan bagi para pelancong yang berjiwa petualang. Salah satunya Taman Nasional Bako atau Bako National Park. Taman nasional yang berbatasan langsung degan Laut Cina Selatan itu sudah cukup terkenal sejak lama. Di sana seolah menjadi surga bagi para wistawan asing untuk menikmati pantai dan gunung sekaligus.

Baca Juga :  China Catat 18 Kasus Baru Covid

Taman Nasional yang dikelola Sarawak Forestry itu merupakan hutan lindung yang terdapat beragam jenis vegetasi seperti semak belukar, hutan bakau, hutan dipterokarpa, vegetasi tebing halus dan banyak lagi. Bahkan satwa liar juga menjadi penghuni Bako. Monyet ekor panjang dan monyet daun perak, babi hutan tak jarang ditemukan berkeliaran di sekitar Bako.

Perjalanan ke Bako tidak terlalu memakan waktu yang begitu lama. Dimulai dari dermaga atau Terminal Bako yang berada di Jalan Bako Kuching. Dermaga tempat bersandarnya perahu tujuan Bako National Park ini jaraknya 20 kilometer dari pusat Kota Kuching atau sekira 30 menit. Di sana, tersedia loket tiket untuk menuju ke Bako. Harga tiket perahu, dewasa RM48 (PP) per orang dan anak-anak RM14 (PP) per orang. Sedangkan tiket masuk ke Taman Bako RM20 per orang.

Setelah membeli tiket, para pengunjung akan menumpang perahu motor air menuju ke Bako dengan memakan waktu sekira 20 menit. Pengunjung turun di bibir pantai depan Headquarter (HQ) Park. Di tempat inilah para pengunjung terlebih dahulu mendaftarkan diri sebelum memulai berjalan menyusurijalur-jalur yang ada di taman itu. Ada 16 jalur hutan berkode warna yang menawarkan berbagai pilihan jalan kaki dan hiking.

Salah satu wisatawan asal Kalbar Teri merasa senang bisa mengunjungi Bako National Park karena alamnya yang masih asli. Taman nasioal tertua di Sarawak itu menurutnya menawarkan petualangan yang tak terlupakan. Salin itu juga cocok bagi semua wisatawan, mulai dari yang terbiasa berjalan jauh hingga yang baru mencoba.

“Karena banyak pilihan trek sesuai kemampuan kita. Karena baru pertama kali sayacoba trek yang jaraknya tidak terlalu jauh. Sekitar 2,6 kilometer berjalan, semuanya seru, mulai pemandangan hingga edukasinya dapat,” ujarnya.

Apalagi dalam kesempatan itu, ia berkesempatan melihat langsung bekantan atau monyet hidung mancung dari jarak yang cukup dekat. Di sana memang menjadi habitat bekantan liar yang masih terjaga hingga saat ini. “Saya beruntung bisa melihat bekantan,langsung dari jarak dekat. Biasanya kan hanya lihat dari foto,” ucap Teri.

Ketika di Sarawak, tak akan cukup hanya dalam sepekan untuk bisa mengunjungi seluruh wisata alamnya. Dan kini setelah dua tahun pandemi, Sarawak siap kembali menyambut para pelancong dari berbagai penjuru dunia. Tertarik kah kalian untuk mencoba?**

Melihat Sarawak yang Bangkit Usai Pandemi

KUCHING- Tak hanya jadi tujuan medical tourism, Kuching dan seluruh wilayah di Sarawak, Malaysia juga dikenal dengan wisata alamnya yang indah dan beragam. Mulai dari sungai, pantai, danau hingga gunung dan gua, menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara. Lantas seperti apa kondisi pariwisata di sana setelah pandemi?

Beberapa hari berada di pusat Kota Kuching, kita akan sangat mudah menemui banyak wisatawan asing. Baik di hotel-hotel, sampai di jalanan, wisatawan asing begitu mudah dijumpai. Tak hanya orang-orang dari benua Asia tapi juga Eropa, Australia dan Amerika.

Kondisi ini terjadi hanya dalam waktu sekitar tiga bulan. Sejak pintu perbatasan dan penerbangan internasional dibuka pada 1 April lalu, pariwisata Sarawak langsung bangkit. Sebagai daerah tujuan wisata, Sarawak mulai menuju normal seperti tahun-tahun sebelum pandemi terjadi.

Bukan hanya di pusat Kota Kuching, objek-objek wisata yang tersebar di Sarawak juga mulai ramai. Bahkan banyak tempat wisata baru atau tampilan baru dari objek wisata yang sudah ada. Selama dua tahun pandemi, Sarawak ternyata tetap bebenah untuk menyambut para wisatawan mancanegara kembali berkunjung setelah pandemi usai.


Salah satu tempat yang Pontianak Post sempat kunjungi adalah Fairy Caves atau lebih dikenal dengan nama Gua Peri. Tempat ini sangat cocok bagi pelancongyang berjiwapetualang. Di dalam gua batu kapur itu, pengunjung bisamerasakan atmosferyang berbeda dengan udara dingin dan bau yang khas.

Objek wisata ini berada di Kuching, Sarawak, tepatnya di daerah Bau. Mengendarai mobil,hanya butuh waktu sekira satu jam,dengan jarak tempuh sekitar 50 kilometer daripusat kotaKuching.

Untuk tiket masuk ke Gua Peri, khusus wisatawan asing dikenakan tarif Ringgit Malaysia (RM) 5 per orang dewasadan RM2 bagianak-anak usia 6 hingga 18 tahun. Sementara anak-anak usia nolhingga lima tahun gratis. Sebelum memasuki gua, para pengunjung disarankan mengenakan sepatu sneaker yang tidak licin. Namunjika tidak membawa sepatu, pengunjungtakperlu khawatir. Di sana disediakan penyewaan sepatu karet dengan tarif RM3 per orang. Selain itu, pegunjung disarankanberbekal senter untuk penerangan saat masuk ke dalam atau bisa juga menggunakan senter dari handphone.

Pemandu wisata asal KuchingKarel, seorangmenjelaskan, Gua Periyang dikelola di bawahSarawak Forestry Corporation itu merupakan satu di antara gua yang ada di Sarawak dengan ketinggianmencapai400 meter. Gua itumenjulang tinggi dihiasi dengan berbagai jenis flora terutama pakis dan bebatuan yang tertutup lumut. Pengunjung yang ingin menjelajahi gua ini, akan melalui beberapa anak tangga dan menapaki jalan setapak. Di dalamnya terdapat stalaktit dan stalakmit serta pilar-pilar.

“Keunikan Gua Peri, adanya semacam bentuk batu-batuan yang menyerupai Guan Yin atau Dewi Kwan Im, ada juga yang berbentuk seperti manusia dan binatang, seperti buaya,” ungkapnya, Sabtu (23/7).

Baca Juga :  Terra Luna Anjlok, Investor Menjerit Pilu hingga Bunuh Diri

Selain itu, menurut dia, gua tersebut jugamenjadi habitat kelelawar. Ketika masuk di dalamnya, terlihat sekelompok kelelawar yang bergantungan. Tak hanya itu, gua ini juga menjadi surga para pemanjat tebing. Banyak tempat untuk pemanjat tebing berlatih di sana.
“Bagi pemanjat tebing yang ingin memacu adrenalin, bisa melakukannya di Gua Peri,” katanya.

Salah satu warga asal Pontianak yang berkunjung ke sana, Dino mengaku baru pertama kali merasakan masuk ke dalam gua. Apalagi gua tersebut cukup besar. Selama berada di dalam,ia mengakuiudara gua terasa sejuk. Selain indah dan unik, gua peri menurutnya sangat eksotis.“Ada sensai luar biasa ketika berada di dalam gua ini karena kita bisa melihat isi dalam gua dengan stalakmit dan stalaktit serta bebatuanyang menyerupai manusia atau binatang,” terangnya.

Selain gua, tak jauh dari sana juga ada wisata berupa danau buatan bekas pertambangan emas. Namanya Tasik Biru yang masih berada di daerah Bau. Tasik Birumerupakan resor wisata bertema danau. Nama Tasik Biru kurang lebih juga berartidanau biru karena airnya yang biru.

Dari penjelasan Karel, danau ituterbentuk oleh bekas penambangan emaszaman dulu. Karena sudah tidak difungsikan lagi, pemilik mengembangkannya menjadi resor wisata air. Resor yang baru saja dibangun di Bau, Sarawak ini menawarkan keindahan air danau buatan berwarna biru dengan hotel terapung di atasnya.

Pengunjung bisa menginap di Hotel Roxy Tasik Biru dengan pilihan tipe kamar. Harganya mulai dari RM235 hingga RM352. Untuk jam operasionalnya sendirimulai pukul 10.00 hingga 18.00 waktu setempat.

Bagi para pengunjung yang hanya ingin menikmati danau di resor ini, tidak perlu menginap. Tasik Biru menyediakan berbagai pilihan transportasi untuk menyusuri sekeliling danau. Untuk perahu motor air dikenakan tarif RM10 per orang dewasadan anak-anak RM5 per orang. Perahu motor air ini akan membawa pengunjung menyusuri sekeliling danau dengan satu putaran.

Sedangkan bagi yang ingin menikmati suasana danau lebih lama lagi, resorjugamenyediakan perahu engkol untuk dua hingga empat orang. Harganya pun sama dengan perahu motor air yakni RM10 per orang. Pengemudi perahu engkol diberikan waktu selama 30 menit untuk menikmati keindahan danau.

Selain gua dan danau, keaslian alam dan hutan yang masih terjaga juga menjadi destinasi favorit yang ditawarkan di Sarawak. Di sana banyak ditemukan taman nasional yang menjadi pilihan bagi para pelancong yang berjiwa petualang. Salah satunya Taman Nasional Bako atau Bako National Park. Taman nasional yang berbatasan langsung degan Laut Cina Selatan itu sudah cukup terkenal sejak lama. Di sana seolah menjadi surga bagi para wistawan asing untuk menikmati pantai dan gunung sekaligus.

Baca Juga :  Army Berkumpul! Berikut Isi Pidato BTS di PBB New York yang Menyentuh Hati

Taman Nasional yang dikelola Sarawak Forestry itu merupakan hutan lindung yang terdapat beragam jenis vegetasi seperti semak belukar, hutan bakau, hutan dipterokarpa, vegetasi tebing halus dan banyak lagi. Bahkan satwa liar juga menjadi penghuni Bako. Monyet ekor panjang dan monyet daun perak, babi hutan tak jarang ditemukan berkeliaran di sekitar Bako.

Perjalanan ke Bako tidak terlalu memakan waktu yang begitu lama. Dimulai dari dermaga atau Terminal Bako yang berada di Jalan Bako Kuching. Dermaga tempat bersandarnya perahu tujuan Bako National Park ini jaraknya 20 kilometer dari pusat Kota Kuching atau sekira 30 menit. Di sana, tersedia loket tiket untuk menuju ke Bako. Harga tiket perahu, dewasa RM48 (PP) per orang dan anak-anak RM14 (PP) per orang. Sedangkan tiket masuk ke Taman Bako RM20 per orang.

Setelah membeli tiket, para pengunjung akan menumpang perahu motor air menuju ke Bako dengan memakan waktu sekira 20 menit. Pengunjung turun di bibir pantai depan Headquarter (HQ) Park. Di tempat inilah para pengunjung terlebih dahulu mendaftarkan diri sebelum memulai berjalan menyusurijalur-jalur yang ada di taman itu. Ada 16 jalur hutan berkode warna yang menawarkan berbagai pilihan jalan kaki dan hiking.

Salah satu wisatawan asal Kalbar Teri merasa senang bisa mengunjungi Bako National Park karena alamnya yang masih asli. Taman nasioal tertua di Sarawak itu menurutnya menawarkan petualangan yang tak terlupakan. Salin itu juga cocok bagi semua wisatawan, mulai dari yang terbiasa berjalan jauh hingga yang baru mencoba.

“Karena banyak pilihan trek sesuai kemampuan kita. Karena baru pertama kali sayacoba trek yang jaraknya tidak terlalu jauh. Sekitar 2,6 kilometer berjalan, semuanya seru, mulai pemandangan hingga edukasinya dapat,” ujarnya.

Apalagi dalam kesempatan itu, ia berkesempatan melihat langsung bekantan atau monyet hidung mancung dari jarak yang cukup dekat. Di sana memang menjadi habitat bekantan liar yang masih terjaga hingga saat ini. “Saya beruntung bisa melihat bekantan,langsung dari jarak dekat. Biasanya kan hanya lihat dari foto,” ucap Teri.

Ketika di Sarawak, tak akan cukup hanya dalam sepekan untuk bisa mengunjungi seluruh wisata alamnya. Dan kini setelah dua tahun pandemi, Sarawak siap kembali menyambut para pelancong dari berbagai penjuru dunia. Tertarik kah kalian untuk mencoba?**

Most Read

Artikel Terbaru

/