alexametrics
26.7 C
Pontianak
Monday, May 16, 2022

Rusia Terus Gempur Ukraina, Ibu Kota Kiev Bisa Jatuh dalam Hitungan Hari

KIEV – Melewati berbagai kota di tengah gempuran Rusia, berganti dari kereta api yang terhenti di pinggiran Kiev ke taksi yang mahal untuk membawa mereka ke pusat kota, sampailah suami istri itu di depan pintu gerbang. Tapi, yang didapat setelah hampir 12 jam melakukan perjalanan itu hanya pengumuman yang tertempel.

’’Hari ini kami tidak bekerja, maaf atas ketidaknyamanannya,” demikian pengumuman yang terpasang di pusat registrasi biometrik, Kiev, Ukraina, tersebut pada Kamis (24/2) lalu.

Seperti ditulis The Guardian, Fozan Dar dan istrinya, Iryna, yang membaca pengumuman tersebut langsung lemas. Iryna ingin mengurus visa agar bisa segera terbang ke Inggris bersama sang suami yang merupakan warga negara tersebut.

Universitas tempat Fozan Dar menempuh pendidikan mengevakuasi mahasiswa internasional. Tapi, istrinya yang warga negara Ukraina tidak bisa ikut tanpa visa.

’’Saya tidak akan meninggalkannya. Saya harus melindunginya,’’ katanya.

Fozan dan Iryna hanya satu bagian dari arus eksodus Ukraina seiring kian masifnya serangan Rusia ke negeri tetangganya itu. Pasukan Negeri Beruang Merah bahkan sudah mendekati ibu kota Kiev.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan bahwa 137 personel militer dan penduduk sipil telah terbunuh. Lebih dari 300 orang terluka kurang dari 24 jam pasca serangan. Jumlah tersebut terus merangkak naik setiap menitnya.

Betapa pun kuatnya Ukraina melawan, kekuatan mereka tidak sebanding dengan Rusia. Di lain pihak, blok Barat hingga kini belum mengirimkan bantuan ke garis depan. Yang mereka lakukan adalah mengecam dan menjatuhkan sanksi. Padahal, bantuan utama yang dibutuhkan Ukraina saat ini adalah dukungan pasukan untuk menghalau tentara Rusia.

’’Ukraina dibiarkan sendirian membela negara. Siapa yang siap bertarung bersama kami? Jujur saya tidak melihatnya,’’ tegas Zelensky.

Pemimpin 44 tahun tersebut mengeluarkan dekrit untuk mobilisasi penuh militer dan melarang penduduk pria usia 18–60 tahun meninggalkan Ukraina. Mereka semua diminta angkat senjata membantu melawan Rusia dan pasukan pemberontak. Dekrit itu berlaku selama 90 hari.

Gempuran Rusia mengakibatkan setidaknya 100 ribu orang kehilangan tempat tinggal dan menjadi pengungsi di dalam negeri. Sebagian berlindung di stasiun-stasiun KA bawah tanah. Ribuan lainnya memilih melintasi perbatasan dan mencari suaka di negara lain. Tampak deretan mobil dan orang-orang yang berjalan kaki melintas ke Hungaria, Polandia, dan Rumania.

Baca Juga :  351 Warga Sipil Ukraina Tewas

Ratusan warga Ukraina sudah tiba di Kota Przemysl, Polandia, yang berbatasan langsung dengan Ukraina. Polisi, tentara, dan beberapa tim yang dikerahkan pemerintah Polandia memberikan sup serta bantuan lain kepada para pengungsi yang mayoritas adalah perempuan dan anak-anak.

’’Saya merasa aman di sini, tapi saya tidak bisa membantu saudara dan teman-teman. Banyak di antara mereka dalam keadaan terancam karena tidak bisa pergi secepatnya,’’ ujar Olha, pengungsi dari Kiev.

Seiring tentara Rusia yang kian mendekati Kiev, Zelensky yang putus asa kemarin (25/2) menyerukan kepada warga Eropa yang memiliki pengalaman tempur untuk angkat senjata dan membantu Ukraina melawan invasi pasukan Rusia. Siapa saja, tidak peduli dari negara mana. Menurut dia, negara-negara Barat lambat dalam membantu mereka.

Eropa, AS, dan beberapa negara lain memang menjatuhkan sanksi pada Rusia. Mereka membekukan aset milik Kremlin dan kroni-kroninya. Namun, tidak sampai mendepak Rusia dari sistem pembayaran internasional Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT).

Zelensky menegaskan bahwa Eropa punya cukup kekuatan untuk menghentikan agresi Rusia jika mereka benar-benar mau melakukannya. Yaitu, membatalkan layanan visa untuk warga Rusia, memutus mereka dari SWIFT, isolasi sepenuhnya, menarik duta besar, embargo minyak, menutup jalur udara, dan berbagai hal lainnya.

’’Hari ini (kemarin, Red) semua itu seharusnya sudah dibahas,’’ katanya.

Uni Eropa (UE) saat ini sudah sepakat membekukan aset Presiden Rusia Vladimir Putin. Juga, aset milik Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov.

Sementara itu, Wali Kota Kiev Vitali Klitschko menegaskan bahwa wilayah yang dipimpinnya masuk fase defensif. Tembakan dan ledakan sudah terdengar di beberapa  lokasi.

’’Musuh ingin membuat ibu kota bertekuk lutut dan menghancurkan kami,’’ kata mantan petinju profesional kelas berat itu seperti dikutip AFP.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN, tampak mantan Presiden Ukraina Petro Poroshenko berada di jalan dan ikut angkat senjata. Dia memegang senjata serbu AK-47. Sekitar 18 ribu senjata dengan amunisi telah didistribusikan ke pasukan cadangan di wilayah Kiev. Namun, itu sepertinya tidak cukup. Pejabat intelijen AS menyatakan bahwa Kiev mungkin akan jatuh ke tangan Rusia dalam hitungan hari.

Baca Juga :  80 WNI dari Wilayah Perang Ukraina Berhasil Pulang ke Indonesia

Pasukan Ukraina mulai mundur ke Kiev untuk mempertahankan kota tersebut. Rusia saat ini juga sudah menguasai Chernobyl. Pembangkit tenaga nuklir itu sudah lama ditutup setelah meledak 26 April 1986.

Ia menjadi tempat dengan radioaktif tertinggi di bumi. Pasukan Rusia menangkap staf yang ada di lokasi. Pasca serangan tersebut, dilaporkan bahwa radiasi di tempat itu meningkat.

Puing runtuhan akibat serangan Rusia ke Kiev. (REUTERS/UMIT BEKTAS)

’’Di tangan agresor yang mengerikan, sejumlah besar plutonium-239 di Chernobyl dapat menjadi bom nuklir yang akan mengubah ribuan hektare lahan menjadi gurun yang mati dan tak bernyawa,” demikian bunyi pernyataan Kementerian Perlindungan Lingkungan Ukraina seperti dikutip Agence France-Presse.

Lokasi Chernobyl juga strategis untuk mengepung Kiev. Ia bisa membuka jalan bagi tentara Rusia di Belarus. Pasukan Rusia juga sudah berhasil mengambil alih Bandara Hostomel yang tepat berada di luar Kiev. Bandara itu memiliki landasan pacu panjang yang memungkinkan pendaratan pesawat angkut berat.

Itu artinya Rusia dapat mengangkut pasukan langsung ke pinggiran Kiev. Hostomel hanya berjarak 7 km barat laut Kiev. Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia Igor Konashenkov mengklaim bahwa mereka telah menembak mati 200 tentara unit khusus Ukraina.

Di sisi lain, tidak semua penduduk Rusia menyetujui keputusan Putin yang menginvasi Ukraina. Demo menentang perang terjadi di berbagai kota. Polisi Rusia menangkap setidaknya 1.702 demonstran di 53 kota.

Putin di lain pihak sempat menyatakan siap berdialog. Tapi, dia meminta semua tentara Ukraina meletakkan senjata. Permintaan yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh pihak lawan.

Entah sampai kapan Ukraina bisa bertahan jika tak segera mendapat bantuan. Fozan dan Iryna hanya bisa menunggu dalam ketidakpastian, juga ribuan lainnya. (sha/c7/ttg)

KIEV – Melewati berbagai kota di tengah gempuran Rusia, berganti dari kereta api yang terhenti di pinggiran Kiev ke taksi yang mahal untuk membawa mereka ke pusat kota, sampailah suami istri itu di depan pintu gerbang. Tapi, yang didapat setelah hampir 12 jam melakukan perjalanan itu hanya pengumuman yang tertempel.

’’Hari ini kami tidak bekerja, maaf atas ketidaknyamanannya,” demikian pengumuman yang terpasang di pusat registrasi biometrik, Kiev, Ukraina, tersebut pada Kamis (24/2) lalu.

Seperti ditulis The Guardian, Fozan Dar dan istrinya, Iryna, yang membaca pengumuman tersebut langsung lemas. Iryna ingin mengurus visa agar bisa segera terbang ke Inggris bersama sang suami yang merupakan warga negara tersebut.

Universitas tempat Fozan Dar menempuh pendidikan mengevakuasi mahasiswa internasional. Tapi, istrinya yang warga negara Ukraina tidak bisa ikut tanpa visa.

’’Saya tidak akan meninggalkannya. Saya harus melindunginya,’’ katanya.

Fozan dan Iryna hanya satu bagian dari arus eksodus Ukraina seiring kian masifnya serangan Rusia ke negeri tetangganya itu. Pasukan Negeri Beruang Merah bahkan sudah mendekati ibu kota Kiev.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan bahwa 137 personel militer dan penduduk sipil telah terbunuh. Lebih dari 300 orang terluka kurang dari 24 jam pasca serangan. Jumlah tersebut terus merangkak naik setiap menitnya.

Betapa pun kuatnya Ukraina melawan, kekuatan mereka tidak sebanding dengan Rusia. Di lain pihak, blok Barat hingga kini belum mengirimkan bantuan ke garis depan. Yang mereka lakukan adalah mengecam dan menjatuhkan sanksi. Padahal, bantuan utama yang dibutuhkan Ukraina saat ini adalah dukungan pasukan untuk menghalau tentara Rusia.

’’Ukraina dibiarkan sendirian membela negara. Siapa yang siap bertarung bersama kami? Jujur saya tidak melihatnya,’’ tegas Zelensky.

Pemimpin 44 tahun tersebut mengeluarkan dekrit untuk mobilisasi penuh militer dan melarang penduduk pria usia 18–60 tahun meninggalkan Ukraina. Mereka semua diminta angkat senjata membantu melawan Rusia dan pasukan pemberontak. Dekrit itu berlaku selama 90 hari.

Gempuran Rusia mengakibatkan setidaknya 100 ribu orang kehilangan tempat tinggal dan menjadi pengungsi di dalam negeri. Sebagian berlindung di stasiun-stasiun KA bawah tanah. Ribuan lainnya memilih melintasi perbatasan dan mencari suaka di negara lain. Tampak deretan mobil dan orang-orang yang berjalan kaki melintas ke Hungaria, Polandia, dan Rumania.

Baca Juga :  351 Warga Sipil Ukraina Tewas

Ratusan warga Ukraina sudah tiba di Kota Przemysl, Polandia, yang berbatasan langsung dengan Ukraina. Polisi, tentara, dan beberapa tim yang dikerahkan pemerintah Polandia memberikan sup serta bantuan lain kepada para pengungsi yang mayoritas adalah perempuan dan anak-anak.

’’Saya merasa aman di sini, tapi saya tidak bisa membantu saudara dan teman-teman. Banyak di antara mereka dalam keadaan terancam karena tidak bisa pergi secepatnya,’’ ujar Olha, pengungsi dari Kiev.

Seiring tentara Rusia yang kian mendekati Kiev, Zelensky yang putus asa kemarin (25/2) menyerukan kepada warga Eropa yang memiliki pengalaman tempur untuk angkat senjata dan membantu Ukraina melawan invasi pasukan Rusia. Siapa saja, tidak peduli dari negara mana. Menurut dia, negara-negara Barat lambat dalam membantu mereka.

Eropa, AS, dan beberapa negara lain memang menjatuhkan sanksi pada Rusia. Mereka membekukan aset milik Kremlin dan kroni-kroninya. Namun, tidak sampai mendepak Rusia dari sistem pembayaran internasional Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT).

Zelensky menegaskan bahwa Eropa punya cukup kekuatan untuk menghentikan agresi Rusia jika mereka benar-benar mau melakukannya. Yaitu, membatalkan layanan visa untuk warga Rusia, memutus mereka dari SWIFT, isolasi sepenuhnya, menarik duta besar, embargo minyak, menutup jalur udara, dan berbagai hal lainnya.

’’Hari ini (kemarin, Red) semua itu seharusnya sudah dibahas,’’ katanya.

Uni Eropa (UE) saat ini sudah sepakat membekukan aset Presiden Rusia Vladimir Putin. Juga, aset milik Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov.

Sementara itu, Wali Kota Kiev Vitali Klitschko menegaskan bahwa wilayah yang dipimpinnya masuk fase defensif. Tembakan dan ledakan sudah terdengar di beberapa  lokasi.

’’Musuh ingin membuat ibu kota bertekuk lutut dan menghancurkan kami,’’ kata mantan petinju profesional kelas berat itu seperti dikutip AFP.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN, tampak mantan Presiden Ukraina Petro Poroshenko berada di jalan dan ikut angkat senjata. Dia memegang senjata serbu AK-47. Sekitar 18 ribu senjata dengan amunisi telah didistribusikan ke pasukan cadangan di wilayah Kiev. Namun, itu sepertinya tidak cukup. Pejabat intelijen AS menyatakan bahwa Kiev mungkin akan jatuh ke tangan Rusia dalam hitungan hari.

Baca Juga :  AS Luncurkan Angkatan Luar Angkasa

Pasukan Ukraina mulai mundur ke Kiev untuk mempertahankan kota tersebut. Rusia saat ini juga sudah menguasai Chernobyl. Pembangkit tenaga nuklir itu sudah lama ditutup setelah meledak 26 April 1986.

Ia menjadi tempat dengan radioaktif tertinggi di bumi. Pasukan Rusia menangkap staf yang ada di lokasi. Pasca serangan tersebut, dilaporkan bahwa radiasi di tempat itu meningkat.

Puing runtuhan akibat serangan Rusia ke Kiev. (REUTERS/UMIT BEKTAS)

’’Di tangan agresor yang mengerikan, sejumlah besar plutonium-239 di Chernobyl dapat menjadi bom nuklir yang akan mengubah ribuan hektare lahan menjadi gurun yang mati dan tak bernyawa,” demikian bunyi pernyataan Kementerian Perlindungan Lingkungan Ukraina seperti dikutip Agence France-Presse.

Lokasi Chernobyl juga strategis untuk mengepung Kiev. Ia bisa membuka jalan bagi tentara Rusia di Belarus. Pasukan Rusia juga sudah berhasil mengambil alih Bandara Hostomel yang tepat berada di luar Kiev. Bandara itu memiliki landasan pacu panjang yang memungkinkan pendaratan pesawat angkut berat.

Itu artinya Rusia dapat mengangkut pasukan langsung ke pinggiran Kiev. Hostomel hanya berjarak 7 km barat laut Kiev. Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia Igor Konashenkov mengklaim bahwa mereka telah menembak mati 200 tentara unit khusus Ukraina.

Di sisi lain, tidak semua penduduk Rusia menyetujui keputusan Putin yang menginvasi Ukraina. Demo menentang perang terjadi di berbagai kota. Polisi Rusia menangkap setidaknya 1.702 demonstran di 53 kota.

Putin di lain pihak sempat menyatakan siap berdialog. Tapi, dia meminta semua tentara Ukraina meletakkan senjata. Permintaan yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh pihak lawan.

Entah sampai kapan Ukraina bisa bertahan jika tak segera mendapat bantuan. Fozan dan Iryna hanya bisa menunggu dalam ketidakpastian, juga ribuan lainnya. (sha/c7/ttg)

Most Read

Artikel Terbaru

/