alexametrics
30.6 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Pedagang Indonesia Optimis Pasar Serikin Ramai Kembali

Melihat Sarawak yang Bangkit Usai Pandemi

KUCHING- Geliat ekonomi yang mulai bangkit usai pandemi tak hanya terjadi di pusat Kota Kuching. Tapi juga di wilayah pinggiran. Di Pasar Serikin, Sarawak yang berbatasan langsung dengan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang misalnya. Meski baru dibuka, para pedagang asal Indonesia berharap, aktivitas pasar mingguan di sana kembali seperti sediakala.

Suasana di pasar Serikin terlihat sepi, ketika Pontianak Post berkunjung ke sana, Sabtu (23/7). Siang itu, kios-kios atau lapak dagangan yang membentang di sepanjang jalan di sana, tidak semuanya buka. Meski demikian, sudah cukup banyak pula yang dibuka. Rata-rata mereka menjual pakaian, kain dan bahan-bahan pakaian. Ada pula yang menjual perabotan dari rotan dan tikar, serta anyaman tradisional.

Serikin adalah kota kecil di divisi Kuching, Sarawak, Malaysia yang berbatasan langsung dengan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat (Kalbar). Kota ini terletak sekitar 15 kilometer dari Kota Bau atau 80 kilometer dari pusat Kota Kuching.

Aktivitas pasar mingguan di Serikin sejak dulu sudah cukup terkenal. Banyak pedagang asal Indonesia yang membuka usaha di sana. Bahkan mayoritas barang dagangan di sana berasal dari Indonesia. Aktivitas di pasar Serikin biasanya hanya dilakukan pada akhir pekan, hari Sabtu dan Minggu. Banyak wisatawan atau orang Malaysia yang berbelanja di sana.

Karena lokasinya yang berada di perbatasan Indonesia-Malaysia, pasar Serikin juga dikenal dengan pasar dua mata uang. Karena di sana, pembeli bisa berbelanja menggunakan dua mata uang sekaligus, baik uang Ringgit Malaysia (RM), maupun Rupiah (Rp).

Namun sejak pandemi Covid-19 melanda dan perbatasan antar negara ditutup, pasar Serikin sempat sepi bahkan ditutup. Barulah di awal tahun 2022 ini para pedagang kembali ada yang berjualan di sana. Termasuk saat Pontianak Post berkunjung. Hari itu para pedagang asal Indonesia mulai kembali mengadu nasib untuk berdagang.

Baca Juga :  Singapura Hentikan Hitung Kasus Covid-19

Aktivitas jual beli di sana pun perlahan mulai bangkit. Seperti diungkapkan salah satu pedagang asal Kota Pontianak Iswanto (45). Hari itu, merupakan hari pertama ia berjualan kembali setelah sekitar dua tahun lebih tutup karena pandemi. Terakhir Iswanto berjualan di sana pada akhir 2019.

Rata-rata menurut dia, pedagang asal Indonesia memang baru mulai jualan lagi di pasar Serikin. “Ada kawan-kawan yang sudah mulai sejak tiga minggu lalu. Ada yang sudah satu bulan. Kalau saya baru pertama kali hari ini (Sabtu). Jadi kami tidak jualan sekitar dua tahun lebih dari 2019,” ungkapnya.

Sebelum pandemi, pedagang pakaian dan peralatan elektronik itu sudah lebih dari 10 tahun berjualan di sana. Sehari-hari ia berjualan di Pasar Parit Besar, Kota Pontianak. Lalu di hari Jumat ia berangkat ke Serikin dan berjualan di sana pada Sabtu dan Minggu.

Iswanto menilai daya beli di pasar Serikin saat ini sudah lumayan. Meski tidak seramai ketika sebelum pandemi, ia optimis pasar tersebut bisa kembali ramai. “Karena mereka (pembeli) tahu kalau dulu kan panjang, semuanya (kios) buka, kalau sekarang kan sedikit saja. Jadi (pembeli) yang dari jauh-jauh, dari Johor, dari Kuala Lumpur apa tidak ada datang. Dulu dari Johor, Kuala Lumpur, dari Thailand pun ada,” ujarnya.

Pembeli menurut Iswanto, senang berbelanja di sana karena bisa melakukan tawar menawar atau masih secara tradisional. Ke depan, ia pun berharap pemerintah Indonesia memberikan kemudahan bagi mereka yang berdagang di pasar Serikin. Terutama agar Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Jagoi Babang segera dibuka, untuk memudahkan pedagang datang ke sana. “Sekarang kami masuk dari Aruk (Kabupaten Sambas). Pakai mobil sewa (ke Serikin),” katanya.

Dengan kondisi seperti itu, ia merasa biaya operasional menjadi bertambah. Belum lagi ia harus menyewa kios atau lapak di pasar Serikin sebesar RM120 per bulan. Dan juga menyewa kamar tinggal sebesar RM100 per bulan. “Jadi kira-kira seperti itu biaya yang kami keluarkan setiap bulan,” pungkasnya.

Baca Juga :  Pengakuan Pemesan Amonium Nitrat

Pedagang asal Pontianak lainnya, Maya (53) merasa senang bisa kembali berjualan di pasar Serikin. Ibu yang menjual berbagai jenis pakaian itu baru ketiga kalinya berjualan di sana setelah pandemi. Atau baru tiga minggu. Ia biasanya juga berangkat dari Pontianak pada hari Jumat, lalu berjualan pada Sabtu dan Minggu.

“Barang yang sudah lama dua tahun lebih itu ada di tempat kita di sini, kita simpan di rumah orang kampung ini, beginilah keadaannya. Ada yang hilang, ada yang rusak, alhamdulillah ibu punya masih utuh, bagus, dapat dijual (lagi),” ujarnya.

Untuk penjualan di kondisi saat ini menurutnya masih sangat kurang. Maya menduga, itu terjadi karena memang belum banyak pembeli yang tahu kalau pasar Serikin sudah kembali dibuka. Ia pun berharap pembeli di pasar Serikin bisa ramai kembali seperti dulu. “Pelan-pelan lah kita jualan. Ada seberapa dapat rezeki tergantung lah. Ini untuk menghabiskan barang dulu, mengembalikan modal untuk ongkos pulang (ke Pontianak),” katanya.

Maya mengenang, dulunya pembeli di pasar Serikin datang dari berbagai tempat. Tidak hanya dari Sarawak atau Kuching, tapi juga dari Kuala Lumpur, Malaysia. Ia sendiri sebenarnya masih terbilang baru berjualan di sana. Dimulai sekitar dua tahun sebelum pandemi, karena diajak oleh temannya yang lebih dulu berjualan di sana.

Selain di Serikin, Maya bisasanya juga berdagang pakaian di Kabupaten Kapuas Hulu. “(alasan jualan di Serikin) sama saja sebenarnya, karena suka saja jalan-jalan saja ke luar negeri. Biarpun tidak laku yang penting pergi senang, bertemu kawan-kawan (pedagang),” tutupnya.**

Melihat Sarawak yang Bangkit Usai Pandemi

KUCHING- Geliat ekonomi yang mulai bangkit usai pandemi tak hanya terjadi di pusat Kota Kuching. Tapi juga di wilayah pinggiran. Di Pasar Serikin, Sarawak yang berbatasan langsung dengan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang misalnya. Meski baru dibuka, para pedagang asal Indonesia berharap, aktivitas pasar mingguan di sana kembali seperti sediakala.

Suasana di pasar Serikin terlihat sepi, ketika Pontianak Post berkunjung ke sana, Sabtu (23/7). Siang itu, kios-kios atau lapak dagangan yang membentang di sepanjang jalan di sana, tidak semuanya buka. Meski demikian, sudah cukup banyak pula yang dibuka. Rata-rata mereka menjual pakaian, kain dan bahan-bahan pakaian. Ada pula yang menjual perabotan dari rotan dan tikar, serta anyaman tradisional.

Serikin adalah kota kecil di divisi Kuching, Sarawak, Malaysia yang berbatasan langsung dengan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat (Kalbar). Kota ini terletak sekitar 15 kilometer dari Kota Bau atau 80 kilometer dari pusat Kota Kuching.

Aktivitas pasar mingguan di Serikin sejak dulu sudah cukup terkenal. Banyak pedagang asal Indonesia yang membuka usaha di sana. Bahkan mayoritas barang dagangan di sana berasal dari Indonesia. Aktivitas di pasar Serikin biasanya hanya dilakukan pada akhir pekan, hari Sabtu dan Minggu. Banyak wisatawan atau orang Malaysia yang berbelanja di sana.

Karena lokasinya yang berada di perbatasan Indonesia-Malaysia, pasar Serikin juga dikenal dengan pasar dua mata uang. Karena di sana, pembeli bisa berbelanja menggunakan dua mata uang sekaligus, baik uang Ringgit Malaysia (RM), maupun Rupiah (Rp).

Namun sejak pandemi Covid-19 melanda dan perbatasan antar negara ditutup, pasar Serikin sempat sepi bahkan ditutup. Barulah di awal tahun 2022 ini para pedagang kembali ada yang berjualan di sana. Termasuk saat Pontianak Post berkunjung. Hari itu para pedagang asal Indonesia mulai kembali mengadu nasib untuk berdagang.

Baca Juga :  Gagalkan Penyelundupan, 27 Warga Indonesia Ditahan di Sarawak

Aktivitas jual beli di sana pun perlahan mulai bangkit. Seperti diungkapkan salah satu pedagang asal Kota Pontianak Iswanto (45). Hari itu, merupakan hari pertama ia berjualan kembali setelah sekitar dua tahun lebih tutup karena pandemi. Terakhir Iswanto berjualan di sana pada akhir 2019.

Rata-rata menurut dia, pedagang asal Indonesia memang baru mulai jualan lagi di pasar Serikin. “Ada kawan-kawan yang sudah mulai sejak tiga minggu lalu. Ada yang sudah satu bulan. Kalau saya baru pertama kali hari ini (Sabtu). Jadi kami tidak jualan sekitar dua tahun lebih dari 2019,” ungkapnya.

Sebelum pandemi, pedagang pakaian dan peralatan elektronik itu sudah lebih dari 10 tahun berjualan di sana. Sehari-hari ia berjualan di Pasar Parit Besar, Kota Pontianak. Lalu di hari Jumat ia berangkat ke Serikin dan berjualan di sana pada Sabtu dan Minggu.

Iswanto menilai daya beli di pasar Serikin saat ini sudah lumayan. Meski tidak seramai ketika sebelum pandemi, ia optimis pasar tersebut bisa kembali ramai. “Karena mereka (pembeli) tahu kalau dulu kan panjang, semuanya (kios) buka, kalau sekarang kan sedikit saja. Jadi (pembeli) yang dari jauh-jauh, dari Johor, dari Kuala Lumpur apa tidak ada datang. Dulu dari Johor, Kuala Lumpur, dari Thailand pun ada,” ujarnya.

Pembeli menurut Iswanto, senang berbelanja di sana karena bisa melakukan tawar menawar atau masih secara tradisional. Ke depan, ia pun berharap pemerintah Indonesia memberikan kemudahan bagi mereka yang berdagang di pasar Serikin. Terutama agar Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Jagoi Babang segera dibuka, untuk memudahkan pedagang datang ke sana. “Sekarang kami masuk dari Aruk (Kabupaten Sambas). Pakai mobil sewa (ke Serikin),” katanya.

Dengan kondisi seperti itu, ia merasa biaya operasional menjadi bertambah. Belum lagi ia harus menyewa kios atau lapak di pasar Serikin sebesar RM120 per bulan. Dan juga menyewa kamar tinggal sebesar RM100 per bulan. “Jadi kira-kira seperti itu biaya yang kami keluarkan setiap bulan,” pungkasnya.

Baca Juga :  Cari Makan di Hutan Perbatasan Malaysia, Lima WNI Divonis Tiga Bulan plus Denda 150 Juta

Pedagang asal Pontianak lainnya, Maya (53) merasa senang bisa kembali berjualan di pasar Serikin. Ibu yang menjual berbagai jenis pakaian itu baru ketiga kalinya berjualan di sana setelah pandemi. Atau baru tiga minggu. Ia biasanya juga berangkat dari Pontianak pada hari Jumat, lalu berjualan pada Sabtu dan Minggu.

“Barang yang sudah lama dua tahun lebih itu ada di tempat kita di sini, kita simpan di rumah orang kampung ini, beginilah keadaannya. Ada yang hilang, ada yang rusak, alhamdulillah ibu punya masih utuh, bagus, dapat dijual (lagi),” ujarnya.

Untuk penjualan di kondisi saat ini menurutnya masih sangat kurang. Maya menduga, itu terjadi karena memang belum banyak pembeli yang tahu kalau pasar Serikin sudah kembali dibuka. Ia pun berharap pembeli di pasar Serikin bisa ramai kembali seperti dulu. “Pelan-pelan lah kita jualan. Ada seberapa dapat rezeki tergantung lah. Ini untuk menghabiskan barang dulu, mengembalikan modal untuk ongkos pulang (ke Pontianak),” katanya.

Maya mengenang, dulunya pembeli di pasar Serikin datang dari berbagai tempat. Tidak hanya dari Sarawak atau Kuching, tapi juga dari Kuala Lumpur, Malaysia. Ia sendiri sebenarnya masih terbilang baru berjualan di sana. Dimulai sekitar dua tahun sebelum pandemi, karena diajak oleh temannya yang lebih dulu berjualan di sana.

Selain di Serikin, Maya bisasanya juga berdagang pakaian di Kabupaten Kapuas Hulu. “(alasan jualan di Serikin) sama saja sebenarnya, karena suka saja jalan-jalan saja ke luar negeri. Biarpun tidak laku yang penting pergi senang, bertemu kawan-kawan (pedagang),” tutupnya.**

Most Read

Artikel Terbaru

/