
PONTIANAK POST - Jepang menghadapi kekurangan obat sifilis berbasis penisilin ketika kasus infeksi penyakit menular seksual tersebut masih tinggi. Gangguan pasokan terjadi setelah produksi obat Steluis milik Pfizer terganggu akibat masalah pada fasilitas produksi.
Pengiriman obat tersebut diperkirakan baru kembali pada paruh kedua 2027, setelah fasilitas disiapkan dan menjalani pemeriksaan regulator.
Kasus Sifilis Jepang Terus Meningkat
Krisis pasokan obat terjadi ketika kasus sifilis di Jepang meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Jumlah laporan kasus tercatat sekitar 6.000 kasus pada 2020. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi lebih dari 13.000 kasus pada 2025.
Sifilis merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan bakteri Treponema pallidum. Tanpa pengobatan yang tepat, infeksi dapat menimbulkan komplikasi serius dan juga ditularkan dari ibu kepada janin.
Baca Juga: Jepang Kirim Kapal Bawa 350 Personel dan 3 Helikopter untuk Bantu Atasi Karhutla Indonesia
Penisilin Diprioritaskan untuk Ibu Hamil
Kondisi pasokan tersebut membuat organisasi profesi medis Jepang meminta tenaga kesehatan menggunakan obat penisilin secara tepat.
Japanese Society for Sexually Transmitted Infections (JSSTI) pada Agustus 2026 menerbitkan panduan mengenai penggunaan dan pemesanan antibiotik penisilin di tengah keterbatasan pasokan.
Japanese Association for Infectious Diseases kemudian memperbarui informasi tersebut pada September 2026.
Organisasi itu menyebut sediaan benzylpenicillin benzathine akan mengalami penghentian pengiriman setelah persediaan produsen habis.



