PONTIANAK POST - Tiongkok tancap gas mengembangkan industri implan otak dan teknologi antarmuka otak-komputer (brain-computer interface/BCI). Langkah itu bukan sekadar eksperimen ilmiah, melainkan strategi nasional untuk melahirkan perusahaan teknologi medis kelas dunia. Termasuk menandingi raksasa AS seperti Neuralink milik Elon Musk.
Financial Times kemarin (19/2) melaporkan, hasil awal proyek itu mulai tampak. NeuroXess, startup yang berdiri di Shanghai pada 2021, telah menembus tahap uji klinis manusia dalam waktu relatif singkat. Perusahaan tersebut mengembangkan cip yang memungkinkan komunikasi langsung antara otak dan mesin.
Tiger Tao, pendiri NeuroXess, terang-terangan mengakui peran negara dan investor dalam mempercepat langkah mereka. ’’Ini manfaat paling penting dari dukungan pemerintah. Bagi kami, waktu sama dengan uang,’’ ujarnya. Di tengah kompetisi global, kecepatan memang menjadi mata uang utama.
Tahun lalu, otoritas Tiongkok menetapkan BCI sebagai sektor strategis nasional. Peta jalan resmi menargetkan lahirnya 2–3 perusahaan kelas dunia pada 2030. Pemerintah telah memangkas regulasi, mendorong eksperimen klinis, dan memobilisasi modal sebagai sinyal dukungan politik jangka panjang. Sejak Februari tahun lalu, sedikitnya 10 uji klinis implan otak invasif telah diluncurkan.
’’Perusahaan-perusahaan Tiongkok bergerak sangat agresif membawa perangkat itu ke tahap penggunaan pada pasien dan memperluas aplikasinya,’’ kata Max Riesenhuber, ahli saraf dari Georgetown University.
Sistem Kerja
Secara teknis, pendekatan NeuroXess berbeda dengan pesaingnya di AS. Mereka menanamkan jaring tipis berbahan poliamida (polimer lentur tahan panas) serta logam di permukaan otak untuk menangkap sinyal saraf, lalu meneruskannya ke perangkat eksternal. Implan terhubung ke baterai di dada melalui kabel di luar tengkorak.
Tao mengakui, pengujian awal dengan elektroda yang ditanam langsung ke jaringan otak memicu pembentukan jaringan parut, respons alami tubuh terhadap benda asing yang menurunkan kualitas sinyal dari waktu ke waktu. Karena itu, perusahaannya memilih pendekatan yang dinilai lebih ramah jaringan.
Saat ini NeuroXess membidik aplikasi medis bagi pasien dengan kelumpuhan berat atau amyotrophic lateral sclerosis (ALS), penyakit degeneratif yang menyerang sel saraf di otak dan sumsum tulang belakang. Tao menyebutkan, besarnya populasi pasien di Tiongkok memudahkan rekrutmen uji klinis. (din/dri)
Editor : Hanif