alexametrics
26 C
Pontianak
Saturday, June 25, 2022

Tax Goes To School, Siapkan Generasi Milenial Hadapi Bonus Demografi

SMAN 2 Bengkayang

BENGKAYANG—Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Bengkayang melakukan edukasi perpajakan (Tax goes to school) kepada siswa dan siswi SMAN 2 Bengkayang beberapa hari yang lalu. Kegiatan yang dilakukan di aula SMAN 2 Bengkayang ini dihadiri seluruh siswa kelas 12 dan siswa perwakilan dari kelas 10 dan 11.

Tax Goes To School merupakan program edukasi perpajakan yang ditujukan kepada calon wajib pajak masa depan, yaitu siswa SD, SMP, dan SMA. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menanamkan secara dini semangat bela negara dan cinta tanah air. Di tangan mereka masa depan Indonesia ditentukan.

Kepala SMAN 2 Bengkayang Paulus Joko menyampaikan perlunya para siswa mempunyai pengetahuan tentang pajak. “Pengetahuan perpajakan itu penting, sebagai salah satu bekal ketika nanti masuk dunia kerja atau dunia usaha,” pesan Joko.

Sementara Kepala KP2KP Bengkayang Wily Noerhidayat menyampaikan bahwa untuk mencapai tujuan negara diperlukan pendanaan yang tidak sedikit. “Sumber penerimaan negara yang terbaik adalah bersumber dari pajak. Karena pajak adalah representasi semangat gotong royong, dari rakyat untuk rakyat,” kata Wily.

Baca Juga :  KP2KP Putussibau Sampaikan Pajak di Hulu Gurung

Merujuk pada data BPS, Wily menyampaikan bahwa tahun 2018 jumlah penduduk Indonesia mencapai 265 juta jiwa. Diperkirakan pada tahun 2030 – 2040 Indonesia akan mengalami bonus demografi.
Bonus demografi terjadi ketika jumlah usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dari pada usia nonproduktif (di bawah 15 tahun atau di atas 64 tahun). Pada tahun tersebut usia produktif diprediksi mencapai 64% dari total penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai jumlah 297 juta jiwa.

Untuk menyambut bonus demografi perlu dipersiapkan generasi produktif yang siap bela negara dan cinta tanah air. Utamanya adalah generasi yang sadar dan peduli pajak. Karena pajak adalah tiang penyangga utama di negeri ini. “Lebih dari 80% sumber penerimaan APBN berasal dari pajak,” imbuh Wily.

Kegiatan edukasi diisi dengan penyampaian materi dan diskusi oleh Penyuluh KP2KP Bengkayang M. Irfan Malik Fajar Setiawan. “Terdapat tiga sumber utama pendanaan negara: menjual SDA, pinjaman dalam negeri/luar negeri dan penerimaan dari pajak. Masing-masing sumber tersebut ada konsekuensinya,” pesan Malik.

Baca Juga :  Pererat Hubungan dengan Satker

Terlihat diskusi berjalan interaktif dan meriah. Hal ini karena terdapat doorprice cokelat bagi siswa yang mau bertanya atau menyampaikan pendapat.

Beberapa peserta nampak ada yang belum mengerti tentang pajak. Namun ketika diberikan sedikit contoh pajak dalam kehidupan sehari-hari, mereka langsung paham dan mengerti. Bahkan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pun cukup kritis, seperti: Apa dampaknya jika negara terus berhutang? Apa yang terjadi jika kita terus mengimpor minyak sedangkan penerimaan negara sedikit? Mengapa masih banyak infrastruktur yang rusak padahal banyak orang sudah bayar pajak?

Di akhir diskusi, Malik mengajak para siswa dan siswi untuk ikut berperan positif dalam kehidupan bernegara, dengan cara belajar yang giat dan menjaga fasilitas negara dengan sebaik-baiknya. (r/*)

SMAN 2 Bengkayang

BENGKAYANG—Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Bengkayang melakukan edukasi perpajakan (Tax goes to school) kepada siswa dan siswi SMAN 2 Bengkayang beberapa hari yang lalu. Kegiatan yang dilakukan di aula SMAN 2 Bengkayang ini dihadiri seluruh siswa kelas 12 dan siswa perwakilan dari kelas 10 dan 11.

Tax Goes To School merupakan program edukasi perpajakan yang ditujukan kepada calon wajib pajak masa depan, yaitu siswa SD, SMP, dan SMA. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menanamkan secara dini semangat bela negara dan cinta tanah air. Di tangan mereka masa depan Indonesia ditentukan.

Kepala SMAN 2 Bengkayang Paulus Joko menyampaikan perlunya para siswa mempunyai pengetahuan tentang pajak. “Pengetahuan perpajakan itu penting, sebagai salah satu bekal ketika nanti masuk dunia kerja atau dunia usaha,” pesan Joko.

Sementara Kepala KP2KP Bengkayang Wily Noerhidayat menyampaikan bahwa untuk mencapai tujuan negara diperlukan pendanaan yang tidak sedikit. “Sumber penerimaan negara yang terbaik adalah bersumber dari pajak. Karena pajak adalah representasi semangat gotong royong, dari rakyat untuk rakyat,” kata Wily.

Baca Juga :  Buru Pengemplang Pajak Kalbar

Merujuk pada data BPS, Wily menyampaikan bahwa tahun 2018 jumlah penduduk Indonesia mencapai 265 juta jiwa. Diperkirakan pada tahun 2030 – 2040 Indonesia akan mengalami bonus demografi.
Bonus demografi terjadi ketika jumlah usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dari pada usia nonproduktif (di bawah 15 tahun atau di atas 64 tahun). Pada tahun tersebut usia produktif diprediksi mencapai 64% dari total penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai jumlah 297 juta jiwa.

Untuk menyambut bonus demografi perlu dipersiapkan generasi produktif yang siap bela negara dan cinta tanah air. Utamanya adalah generasi yang sadar dan peduli pajak. Karena pajak adalah tiang penyangga utama di negeri ini. “Lebih dari 80% sumber penerimaan APBN berasal dari pajak,” imbuh Wily.

Kegiatan edukasi diisi dengan penyampaian materi dan diskusi oleh Penyuluh KP2KP Bengkayang M. Irfan Malik Fajar Setiawan. “Terdapat tiga sumber utama pendanaan negara: menjual SDA, pinjaman dalam negeri/luar negeri dan penerimaan dari pajak. Masing-masing sumber tersebut ada konsekuensinya,” pesan Malik.

Baca Juga :  Instansi Pemerintah Lakukan KSWP

Terlihat diskusi berjalan interaktif dan meriah. Hal ini karena terdapat doorprice cokelat bagi siswa yang mau bertanya atau menyampaikan pendapat.

Beberapa peserta nampak ada yang belum mengerti tentang pajak. Namun ketika diberikan sedikit contoh pajak dalam kehidupan sehari-hari, mereka langsung paham dan mengerti. Bahkan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pun cukup kritis, seperti: Apa dampaknya jika negara terus berhutang? Apa yang terjadi jika kita terus mengimpor minyak sedangkan penerimaan negara sedikit? Mengapa masih banyak infrastruktur yang rusak padahal banyak orang sudah bayar pajak?

Di akhir diskusi, Malik mengajak para siswa dan siswi untuk ikut berperan positif dalam kehidupan bernegara, dengan cara belajar yang giat dan menjaga fasilitas negara dengan sebaik-baiknya. (r/*)

Most Read

Artikel Terbaru

/