alexametrics
31 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Waspada Peningkatan Kasus Stroke Penderita Covid-19

Sutini (51) beberapa hari ini merasa tidak enak badan, terasa meriang, lemah, dan sakit kepala. Dia tidak memeriksakan diri ke dokter karena mengira hanya  kelelahan dan  sakit kepala karena tensi darahnya naik. Sudah 3 tahun ini dia  mengidap hipertensi. Ia hanya istirahat di  rumah dan minum obat penurun tensi serta pereda nyeri.

MARSITA RIANDINI, Pontianak

PAGI itu, setelah 5 hari sakitnya, saat bangun tidur ia merasakan kelemahan pada lengan dan tungkai kanannya, serta bicara pelo. Sutini segera dibawa ke rumah sakit. Setelah diperiksa swab PCR, ternyata ia positif terkena infeksi Covid-19. Selanjutnya ia dirawat di ruang isolasi covid, dengan diagnosis Covid-19, hipertensi, dan stroke Iskemik.

Caecilia Titik Nurwahyuni, spesialis saraf di RSU Santo Antonius Pontianak, mengatakan, seiring dengan pandemi Covid-19, ia sering menjumpai pasien Covid dengan gejala gejala neurologis seperti ini, antara lain stroke. Menurut Ketua Perdossi Cabang Kalbar ini, di RSU Santo Antonius Pontianak sendiri selama periode Januari – September 2021, dari 1.130  pasien Covid-19 yang dirawat, didapatkan 30 orang pasien stroke yang  terdiri dari stroke iskemik sebanyak 19 orang atau 1,6 persen, dan  stroke hemoragik (11 orang) atau 0,97 persen. Presentasi kasus stroke iskemik, diungkapkan dia, sebanyak 1,6 persen.

“Ini sama dengan yang didapatkan pada penelitian kohort retrospektif yang dilakukan di dua rumah sakit di New York dari bulan Maret sampai dengan Mei 2020, yaitu dari 1.916 pasien Covid-19 yang masuk Instalasi Gawat Darurat, (sebanyak) 31 orang di antaranya sekitar 1,6 persen menderita stroke iskemik,” ulasnya.

Bila dibandingkan dengan semua kasus stroke dalam kurun waktu yang sama, yang dirawat di RSU Santo Antonius yakni 293 kasus,  maka didapatkan angka  kejadian stroke dengan covid adalah  10,23 persen, sedangkan untuk stroke iskemik  (19/177) adalah 10,73 persen.

Baca Juga :  Kalbar Terima 18 Ribu Vaksin

“Angka ini jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan penelitian Adnan dan kawan-kawan yang dimuat di Jurnal Stroke tahun 2021 yaitu  103 pasien stroke iskemik dengan Covid dari 302 kasus stroke iskemik atau 34,1 persen,” jelasnya.

Seperti  diketahui bersama, kata Titik, Covid-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 . Dari beberapa penelitian, menurut dia, telah ditemukan bahwa orang yang terinfeksi SARS-Cov-2 mengalami pembekuan darah yang abnormal sebagai respons peradangan terhadap virus tersebut. Kondisi inilah yang, dikatakan dia, meningkatkan risiko pembentukan gumpalan darah.

“Dalam artikel yang berjudul Risk of Ischemic Stroke in Patients With Covid-19 vs Patients With Influenza, disebutkan bahwa orang yang terinfeksi Covid 19 memiliki risiko terkena stroke sebesar 7,6 kali jika dibandingkan dengan influenza. Sementara pada penelitian lain ada yang menyebutkan angka 8,1,” ungkapnya.

Titik mengatakan, hubungan antara Covid-19 dan stroke masih belum diketahui secara pasti, sehingga masih dibutuhkan banyak penelitian lebih lanjut. Namun, dari beberapa penelitian yang telah ada, menurut dia, menunjukkan peningkatan kasus stroke pada penderita Covid-19.

“Sekitar 2,8 persen hingga 3,8 persen penderita Covid-19 mengalami peningkatan pembekuan darah (koagulasi). Bekuan darah (thrombus/emboli) dapat mengakibatkan sumbatan pembuluh darah pada organorgan penting shingga dapat  menyebabkan serangan jantung (infark miokard), paru (emboli paru), dan pembuluh darah otak (stroke iskemik),” katanya.

Beberapa kemungkinan penyebab terjadinya peningkatan koagulasi pada penderita Covid-19, menurut dia, antara lain karena kerusakan endotel pembuluh darah akibat infeksi virus SARS-CoV-2. Ketika terjadi kerusakan endotel, digambarkan dia bagaimana tubuh merespons dengan menutup kerusakan dengan bekuan darah yang terdiri dari platelet (trombosit) dan faktor-faktor pembekuan. Semakin parah kerusakan endotel akibat infeksi virus SARS-CoV-2, maka, menurut dia, semakin meningkat pembentukan bekuan darah dan semakin tinggi pula risiko penyumbatan. SARS-CoV-2 juga mencetuskan respons imun berlebihan melalui efek langsung terhadap aktivasi sel darah putih dan sitokin-sitokin pro-inflamasi (badai sitokin) yang juga meningkatan koagulasi. Selain itu, menurut dia, ada teori yang menyebutkan bahwa virus SARS-CoV-2 berpotensi menyerang sel saraf. Hal ini, menurut dia, karena virus ini mudah berikatan dengan reseptor angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2)  yang juga banyak terdapat  di sel-sel otak.

Baca Juga :  Sebelum Jalani Program Bayi Tabung

Sedangkan pada stroke perdarahan, diperkirakan dia diakibatkan oleh radang pembuluh darah (vaskulitis) yang terjadi akibat infeksi virus. Teori ini didasarkan pada temuan pada infeksi virus SARS-CoV-1 yang secara genetik sangat mirip dengan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Dari hasil otopsi, menurut dia, ditemukan vaskulitis baik sistemik maupun di pembuluh darah otak yang merupakan salah satu penyebab perdarahan otak.

Pada umumnya, stroke pada pasien Covid-19 muncul rata-rata 10 hari setelah infeksi. Stroke penyumbatan lebih sering terjadi dibandingkan dengan stroke perdarahan. Faktor risiko terjadinya stroke pada penderita Covid-19 antara lain, disebutkan dia, karena usia tua, penyakit penyerta seperti darah tinggi, kencing manis, penyakit jantung, serta meningkatnya sel darah putih, ferritin (besi), laktat dehidrogenase, D-dimer, dan CRP. Bagi mereka dengan faktor risiko di atas sangat mungkin mengalami pembekuan darah secara berlebihan, yang dapat muncul karena adanya peradangan yang disebabkan oleh infeksi Covid-19 dan berujung pada stroke. (*)

Sutini (51) beberapa hari ini merasa tidak enak badan, terasa meriang, lemah, dan sakit kepala. Dia tidak memeriksakan diri ke dokter karena mengira hanya  kelelahan dan  sakit kepala karena tensi darahnya naik. Sudah 3 tahun ini dia  mengidap hipertensi. Ia hanya istirahat di  rumah dan minum obat penurun tensi serta pereda nyeri.

MARSITA RIANDINI, Pontianak

PAGI itu, setelah 5 hari sakitnya, saat bangun tidur ia merasakan kelemahan pada lengan dan tungkai kanannya, serta bicara pelo. Sutini segera dibawa ke rumah sakit. Setelah diperiksa swab PCR, ternyata ia positif terkena infeksi Covid-19. Selanjutnya ia dirawat di ruang isolasi covid, dengan diagnosis Covid-19, hipertensi, dan stroke Iskemik.

Caecilia Titik Nurwahyuni, spesialis saraf di RSU Santo Antonius Pontianak, mengatakan, seiring dengan pandemi Covid-19, ia sering menjumpai pasien Covid dengan gejala gejala neurologis seperti ini, antara lain stroke. Menurut Ketua Perdossi Cabang Kalbar ini, di RSU Santo Antonius Pontianak sendiri selama periode Januari – September 2021, dari 1.130  pasien Covid-19 yang dirawat, didapatkan 30 orang pasien stroke yang  terdiri dari stroke iskemik sebanyak 19 orang atau 1,6 persen, dan  stroke hemoragik (11 orang) atau 0,97 persen. Presentasi kasus stroke iskemik, diungkapkan dia, sebanyak 1,6 persen.

“Ini sama dengan yang didapatkan pada penelitian kohort retrospektif yang dilakukan di dua rumah sakit di New York dari bulan Maret sampai dengan Mei 2020, yaitu dari 1.916 pasien Covid-19 yang masuk Instalasi Gawat Darurat, (sebanyak) 31 orang di antaranya sekitar 1,6 persen menderita stroke iskemik,” ulasnya.

Bila dibandingkan dengan semua kasus stroke dalam kurun waktu yang sama, yang dirawat di RSU Santo Antonius yakni 293 kasus,  maka didapatkan angka  kejadian stroke dengan covid adalah  10,23 persen, sedangkan untuk stroke iskemik  (19/177) adalah 10,73 persen.

Baca Juga :  Kasus Covid-19 di Landak dan Kayong Utara Bertambah 21 Orang

“Angka ini jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan penelitian Adnan dan kawan-kawan yang dimuat di Jurnal Stroke tahun 2021 yaitu  103 pasien stroke iskemik dengan Covid dari 302 kasus stroke iskemik atau 34,1 persen,” jelasnya.

Seperti  diketahui bersama, kata Titik, Covid-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 . Dari beberapa penelitian, menurut dia, telah ditemukan bahwa orang yang terinfeksi SARS-Cov-2 mengalami pembekuan darah yang abnormal sebagai respons peradangan terhadap virus tersebut. Kondisi inilah yang, dikatakan dia, meningkatkan risiko pembentukan gumpalan darah.

“Dalam artikel yang berjudul Risk of Ischemic Stroke in Patients With Covid-19 vs Patients With Influenza, disebutkan bahwa orang yang terinfeksi Covid 19 memiliki risiko terkena stroke sebesar 7,6 kali jika dibandingkan dengan influenza. Sementara pada penelitian lain ada yang menyebutkan angka 8,1,” ungkapnya.

Titik mengatakan, hubungan antara Covid-19 dan stroke masih belum diketahui secara pasti, sehingga masih dibutuhkan banyak penelitian lebih lanjut. Namun, dari beberapa penelitian yang telah ada, menurut dia, menunjukkan peningkatan kasus stroke pada penderita Covid-19.

“Sekitar 2,8 persen hingga 3,8 persen penderita Covid-19 mengalami peningkatan pembekuan darah (koagulasi). Bekuan darah (thrombus/emboli) dapat mengakibatkan sumbatan pembuluh darah pada organorgan penting shingga dapat  menyebabkan serangan jantung (infark miokard), paru (emboli paru), dan pembuluh darah otak (stroke iskemik),” katanya.

Beberapa kemungkinan penyebab terjadinya peningkatan koagulasi pada penderita Covid-19, menurut dia, antara lain karena kerusakan endotel pembuluh darah akibat infeksi virus SARS-CoV-2. Ketika terjadi kerusakan endotel, digambarkan dia bagaimana tubuh merespons dengan menutup kerusakan dengan bekuan darah yang terdiri dari platelet (trombosit) dan faktor-faktor pembekuan. Semakin parah kerusakan endotel akibat infeksi virus SARS-CoV-2, maka, menurut dia, semakin meningkat pembentukan bekuan darah dan semakin tinggi pula risiko penyumbatan. SARS-CoV-2 juga mencetuskan respons imun berlebihan melalui efek langsung terhadap aktivasi sel darah putih dan sitokin-sitokin pro-inflamasi (badai sitokin) yang juga meningkatan koagulasi. Selain itu, menurut dia, ada teori yang menyebutkan bahwa virus SARS-CoV-2 berpotensi menyerang sel saraf. Hal ini, menurut dia, karena virus ini mudah berikatan dengan reseptor angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2)  yang juga banyak terdapat  di sel-sel otak.

Baca Juga :  Semua Wajib Pakai Masker

Sedangkan pada stroke perdarahan, diperkirakan dia diakibatkan oleh radang pembuluh darah (vaskulitis) yang terjadi akibat infeksi virus. Teori ini didasarkan pada temuan pada infeksi virus SARS-CoV-1 yang secara genetik sangat mirip dengan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Dari hasil otopsi, menurut dia, ditemukan vaskulitis baik sistemik maupun di pembuluh darah otak yang merupakan salah satu penyebab perdarahan otak.

Pada umumnya, stroke pada pasien Covid-19 muncul rata-rata 10 hari setelah infeksi. Stroke penyumbatan lebih sering terjadi dibandingkan dengan stroke perdarahan. Faktor risiko terjadinya stroke pada penderita Covid-19 antara lain, disebutkan dia, karena usia tua, penyakit penyerta seperti darah tinggi, kencing manis, penyakit jantung, serta meningkatnya sel darah putih, ferritin (besi), laktat dehidrogenase, D-dimer, dan CRP. Bagi mereka dengan faktor risiko di atas sangat mungkin mengalami pembekuan darah secara berlebihan, yang dapat muncul karena adanya peradangan yang disebabkan oleh infeksi Covid-19 dan berujung pada stroke. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/