Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

ISPA Karhutla Tembus 401 Ribu Kasus, Kalbar Sumbang 49 Ribu

A
ASAP: Seorang balita harus menggunakan masker saat digendong ibunya beraktivitas di luar rumah Jalan Raya Kakap, Kubu Raya. Ancaman ISPA menghantui balita dan anak-anak saat musim kabut asap.
ASAP: Seorang balita harus menggunakan masker saat digendong ibunya beraktivitas di luar rumah Jalan Raya Kakap, Kubu Raya. Ancaman ISPA menghantui balita dan anak-anak saat musim kabut asap.

Advertisement

 

PONTIANAK POST – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat masih membayangi sejumlah wilayah di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 401.586 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara kumulatif di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, Kalimantan Barat (Kalbar) mencatat 49.424 kasus selama September hingga Oktober 2026.

Data Kemenkes tersebut menunjukkan penambahan 3.906 kasus baru berdasarkan pemantauan hingga 2 November 2026 pukul 16.00 WIB. Sementara itu, data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalbar memperlihatkan tren kasus ISPA di provinsi ini tidak mengalami peningkatan signifikan, meskipun masyarakat sempat terpapar kabut asap akibat karhutla.

Advertisement

Juru Bicara Kemenkes Widyawati mengatakan, kelompok rentan mendominasi catatan pemantauan kesehatan akibat dampak karhutla. Tercatat 91.913 kasus pada anak usia balita (0–5 tahun), 87.704 kasus pada anak usia 6–9 tahun, serta 56.092 kasus pada kelompok lanjut usia (lansia) di atas 60 tahun.

Selain itu, Kemenkes memberikan perhatian khusus terhadap kondisi 590 ibu hamil, 1.530 penderita asma, dan 8.086 pekerja luar ruangan yang rentan terpapar polusi udara.

"Secara demografis, wilayah dengan jumlah penduduk terdampak paling besar mencakup Kota Banjarbaru (Kalsel), Pekanbaru (Riau), dan Pontianak (Kalbar)," kata Widyawati dalam program siaran Info Bencana Terkini BNPB di Jakarta, Rabu (4/11).

Advertisement

Dia menjelaskan, perkembangan kasus di sejumlah daerah menunjukkan fluktuasi. Di Provinsi Riau, misalnya, sempat terjadi lonjakan hingga sekitar 23 kasus dalam sehari. Sementara di Kalbar, kasus harian pernah mencapai enam kasus. Adapun di Kalimantan Selatan, jumlah kasus berkisar 0–4 kasus per hari di fasilitas pelayanan kesehatan.

Widyawati juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gangguan kesehatan akibat paparan asap dan partikel debu. Selain saluran pernapasan, polusi udara dapat menyebabkan iritasi mata.

"Paparan asap dan partikel debu juga menyebabkan iritasi pada mata. Karena itu, masyarakat diimbau untuk menghindari paparan asap dan tidak menggosok mata ketika terasa perih atau gatal," ujarnya.

Kemenkes, lanjut dia, turut memastikan ketersediaan dukungan oksigen bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan. Di Riau, misalnya, disiapkan 10 rumah oksigen untuk membantu pasien yang membutuhkan.

Advertisement
Editor : Aristono Edi Kiswantoro

Artikel Terkait

277 Ribu Kasus ISPA Tercatat di Tujuh Provinsi, Komnas HAM Selidiki Dampak Karhutla

277 Ribu Kasus ISPA Tercatat di Tujuh Provinsi, Komnas HAM Selidiki Dampak Karhutla

Seorang anak berusia enam tahun di Sukadana dilaporkan meninggal dunia pada Rabu (14/10) setelah mengalami infeksi saluran pernapasan akut (

Kabut Asap Kayong Utara Renggut Nyawa, Bocah 6 Tahun Meninggal Dunia Diduga Akibat ISPA

Kabut Asap Kayong Utara Renggut Nyawa, Bocah 6 Tahun Meninggal Dunia Diduga Akibat ISPA

Kabut asap Kayong Utara renggut nyawa. Bocah 6 tahun meninggal diduga akibat ISPA. Keluarga histeris desak pemerintah segera turun tangan.

Lindungi ASN dari Kabut Asap, Pemkab Landak Tiadakan Apel Pagi di Luar Ruangan

Lindungi ASN dari Kabut Asap, Pemkab Landak Tiadakan Apel Pagi di Luar Ruangan

Pemkab Landak meniadakan apel pagi luar ruangan dan menggantinya dengan doa bersama untuk melindungi ASN dari kabut asap karhutla.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer