alexametrics
23 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Atur Jam Makan Efektif Kendalikan Gula Darah Pasien Diabetes

Pasien diabetes umumnya disarankan dokter untuk mengikuti pola hidup disiplin dengan prinsip 3J yaitu atur Jumlah, Jenis, dan Jam makan. Biasanya, dokter menyarankan penderita diabetes tipe 2 untuk makan sekitar enam kali sehari. Apakah hal itu efektif?

Diabetes tipe 2 adalah salah satu kondisi metabolisme yang semakin mengancam seluruh manusia. Biasanya, dokter meresepkan obat yang akan membantu pasien diabetes menjaga kadar gula darah, serta memberi saran kepada pasien tentang bagaimana mengubah kebiasaan diet mereka untuk membantu perawatan.

Selama ini ahli medis percaya bahwa pendekatan terbaik bagi penderita diabetes tipe 2 adalah makan lebih sering dengan cara porsi kecil secara berkala sepanjang hari. Biasanya para ahli merekomendasikan makan enam kali sehari.

Namun, pendekatan ini dinilai kurang efektif. Beberapa orang yang mengikuti jenis diet ini membutuhkan perawatan yang lebih intensif. Hal ini kurang efektif terutama berlaku bagi mereka yang menderita diabetes tahap lanjut yang perlu menyuntikkan diri dengan insulin dosis tinggi.

Namun, suntikan insulin dosis tinggi dapat menyebabkan ketidakseimbangan kadar glukosa (gula darah). Mereka juga dapat menyebabkan penambahan berat badan dan menyebabkan risiko lebih tinggi dari masalah kardiovaskular.

Penelitian Terbaru Berikan Solusi

Baru-baru ini, tim peneliti dari Universitas Tel Aviv di Israel telah berhipotesis bahwa makan sesuai dengan ‘jam tubuh’ alami seseorang (biasanya membutuhkan tiga kali makan yang lebih sehari) justru lebih efektif. Cara itu dapat membantu proses fisiologis untuk menyinkronkan gula darah lebih baik dan mengurangi jumlah insulin yang digunakan.

Baca Juga :  Kontrol Gula, Obati Luka

“Pola makan konvensional untuk penderita diabetes menetapkan enam kali makan kecil sepanjang hari,” kata Peneliti Prof. Daniela Jakubowicz.

“Tetapi pola itu belum efektif untuk pengendalian gula, jadi orang dengan diabetes memerlukan pengobatan tambahan dan insulin. Dan suntikan insulin menyebabkan kenaikan berat badan, yang selanjutnya meningkatkan kadar gula darah,” tambahnya.

Maka Jakubowicz dan timnya sekarang telah melakukan penelitian yang mengkonfirmasi bahwa pendekatan makan tiga kali sehari bisa lebih bermanfaat bagi mereka yang menderita diabetes tipe 2. Penelitian itu mengusulkan untuk memindahkan kalori yang kaya kandungan pati (karbo) ke jam-jam awal hari ini.

“Makan karbo (di awal hari) ini menghasilkan keseimbangan glukosa dan peningkatan kontrol glikemik yang lebih baik,” tuturnya.

Dalam makalah studi mereka yang ditampilkan dalam jurnal Diabetes Care, para peneliti mencatat temuan itu dilakukan paea 28 peserta dengan diabetes tipe 2. Para peneliti membagi peserta menjadi dua kelompok dan secara acak menugaskan mereka untuk mengikuti pola makan enam kali sehari dan pola makan tiga kali sehari.

Baca Juga :  Cegah Amputasi, Rawat Luka Diabetes dengan Tepat

Dalam pendekatan tiga kali sehari, peserta harus mengikuti rencana diet yang lebih sesuai untuk makan porsi lebih banyak di pagi hari, dan berpuasa di malam hari. Pola makan ini membutuhkan makan sarapan roti, buah, dan permen di pagi hari, makan siang porsi besar, dan makan kecil saat makan malam, tanpa karbo, tepung, permen atau buah.

Hasilnya?

Tim menilai berat badan peserta, kontrol gula darah, nafsu makan, dan ekspresi gen jam sirkadian (jam tubuh) cenderung baik. Dan kemudian penelitian dilakukan lagi pada 2 minggu setelah dimulainya percobaan, dan pada 12 minggu setelahnya.

“Kebutuhan pasien akan obat diabetes, terutama untuk dosis insulin, turun secara substansial. Beberapa bahkan dapat berhenti menggunakan insulin sama sekali, “catat Prof. Jakubowicz.

“Selain itu, 3 kali makan meningkatkan ekspresi gen jam biologis. Ini menunjukkan bahwa pola makan yang tepat lebih efektif dalam mengendalikan diabetes. Ini juga dapat mencegah banyak komplikasi lain, seperti penyakit kardiovaskular, penuaan, dan kanker, yang semuanya diatur oleh gen jam biologis,” tutup Prof. Jakubowicz.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah/Jawa Pos

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Pasien diabetes umumnya disarankan dokter untuk mengikuti pola hidup disiplin dengan prinsip 3J yaitu atur Jumlah, Jenis, dan Jam makan. Biasanya, dokter menyarankan penderita diabetes tipe 2 untuk makan sekitar enam kali sehari. Apakah hal itu efektif?

Diabetes tipe 2 adalah salah satu kondisi metabolisme yang semakin mengancam seluruh manusia. Biasanya, dokter meresepkan obat yang akan membantu pasien diabetes menjaga kadar gula darah, serta memberi saran kepada pasien tentang bagaimana mengubah kebiasaan diet mereka untuk membantu perawatan.

Selama ini ahli medis percaya bahwa pendekatan terbaik bagi penderita diabetes tipe 2 adalah makan lebih sering dengan cara porsi kecil secara berkala sepanjang hari. Biasanya para ahli merekomendasikan makan enam kali sehari.

Namun, pendekatan ini dinilai kurang efektif. Beberapa orang yang mengikuti jenis diet ini membutuhkan perawatan yang lebih intensif. Hal ini kurang efektif terutama berlaku bagi mereka yang menderita diabetes tahap lanjut yang perlu menyuntikkan diri dengan insulin dosis tinggi.

Namun, suntikan insulin dosis tinggi dapat menyebabkan ketidakseimbangan kadar glukosa (gula darah). Mereka juga dapat menyebabkan penambahan berat badan dan menyebabkan risiko lebih tinggi dari masalah kardiovaskular.

Penelitian Terbaru Berikan Solusi

Baru-baru ini, tim peneliti dari Universitas Tel Aviv di Israel telah berhipotesis bahwa makan sesuai dengan ‘jam tubuh’ alami seseorang (biasanya membutuhkan tiga kali makan yang lebih sehari) justru lebih efektif. Cara itu dapat membantu proses fisiologis untuk menyinkronkan gula darah lebih baik dan mengurangi jumlah insulin yang digunakan.

Baca Juga :  Pemberian Vaksin AstraZeneca Non Batch CTMAV547 Tetap Dilanjutkan

“Pola makan konvensional untuk penderita diabetes menetapkan enam kali makan kecil sepanjang hari,” kata Peneliti Prof. Daniela Jakubowicz.

“Tetapi pola itu belum efektif untuk pengendalian gula, jadi orang dengan diabetes memerlukan pengobatan tambahan dan insulin. Dan suntikan insulin menyebabkan kenaikan berat badan, yang selanjutnya meningkatkan kadar gula darah,” tambahnya.

Maka Jakubowicz dan timnya sekarang telah melakukan penelitian yang mengkonfirmasi bahwa pendekatan makan tiga kali sehari bisa lebih bermanfaat bagi mereka yang menderita diabetes tipe 2. Penelitian itu mengusulkan untuk memindahkan kalori yang kaya kandungan pati (karbo) ke jam-jam awal hari ini.

“Makan karbo (di awal hari) ini menghasilkan keseimbangan glukosa dan peningkatan kontrol glikemik yang lebih baik,” tuturnya.

Dalam makalah studi mereka yang ditampilkan dalam jurnal Diabetes Care, para peneliti mencatat temuan itu dilakukan paea 28 peserta dengan diabetes tipe 2. Para peneliti membagi peserta menjadi dua kelompok dan secara acak menugaskan mereka untuk mengikuti pola makan enam kali sehari dan pola makan tiga kali sehari.

Baca Juga :  Pangkas Lemak dengan Kopi Campur Minyak Kelapa Murni

Dalam pendekatan tiga kali sehari, peserta harus mengikuti rencana diet yang lebih sesuai untuk makan porsi lebih banyak di pagi hari, dan berpuasa di malam hari. Pola makan ini membutuhkan makan sarapan roti, buah, dan permen di pagi hari, makan siang porsi besar, dan makan kecil saat makan malam, tanpa karbo, tepung, permen atau buah.

Hasilnya?

Tim menilai berat badan peserta, kontrol gula darah, nafsu makan, dan ekspresi gen jam sirkadian (jam tubuh) cenderung baik. Dan kemudian penelitian dilakukan lagi pada 2 minggu setelah dimulainya percobaan, dan pada 12 minggu setelahnya.

“Kebutuhan pasien akan obat diabetes, terutama untuk dosis insulin, turun secara substansial. Beberapa bahkan dapat berhenti menggunakan insulin sama sekali, “catat Prof. Jakubowicz.

“Selain itu, 3 kali makan meningkatkan ekspresi gen jam biologis. Ini menunjukkan bahwa pola makan yang tepat lebih efektif dalam mengendalikan diabetes. Ini juga dapat mencegah banyak komplikasi lain, seperti penyakit kardiovaskular, penuaan, dan kanker, yang semuanya diatur oleh gen jam biologis,” tutup Prof. Jakubowicz.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah/Jawa Pos

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Most Read

Artikel Terbaru

/