
PONTIANAK POST – Karhutla Ketapang yang terus berulang memicu konflik antara orangutan dan warga. YIARI menyebut kerusakan habitat membuat satwa semakin sering keluar mencari makanan dan tempat berlindung.
Ketua Umum YIARI Silverius Oscar Unggul mengatakan pembukaan lahan dengan cara membakar secara tidak terkendali mempercepat kerusakan habitat orangutan.
Menurutnya, hutan yang terbakar dan terfragmentasi membuat orangutan kehilangan sumber pakan dan tempat berlindung.
“Pembukaan lahan dengan cara membakar lahan yang tidak terkendali memicu kebakaran yang merusak habitat orangutan. Ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, orangutan kehilangan makanan, kehilangan tempat tinggal, dan akhirnya terdorong masuk ke kebun warga,” katanya di Pontianak, Sabtu (8/8).
Orangutan dan Warga Sama-Sama Terdampak
Silverius mengatakan kerusakan habitat membuat masyarakat dan orangutan sama-sama menjadi korban.
Warga menghadapi kerugian ekonomi akibat tanaman yang rusak. Keberadaan satwa liar juga meningkatkan kekhawatiran masyarakat.
Di sisi lain, orangutan kehilangan ruang hidup akibat kerusakan habitat. Kondisi tersebut membuat konflik manusia dan satwa terus berulang.
“Artinya, orangutan dan masyarakat sama-sama menjadi korban dari praktik yang sama. Situasi ini juga menimbulkan beban besar bagi negara, baik dari sisi penanganan konflik satwa, pemadaman kebakaran, pemantauan lapangan, hingga translokasi dan pemulihan habitat,” ujarnya.
Karhutla Ketapang Jadi Persoalan Keselamatan
Silverius menilai karhutla di Ketapang tidak lagi hanya menjadi persoalan lingkungan. Dampaknya telah meluas hingga menyentuh keselamatan manusia dan satwa liar.



