alexametrics
28 C
Pontianak
Thursday, May 26, 2022

Ahong Keberatan Jadi Tersangka

KASUS penganiayaan menggunakan gagang pistol oleh The Khoen Nam alias Anam terhadap Gori Gurnadi alias Ahong masih bergulir di kepolisian. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka meski saling klaim sebagai korban dan saling lapor.

Anam ditetapkan sebagai tersangka atas laporan Ahong, pada 16 Juli 2021. Sebaliknya, Ahong ditetapkan sebagai tersangka atas laporan Anam, pada 22 Juli 2021.

Penetapan tersangka terhadap Anam dilakukan pada tanggal 18 Juli 2021. Sedangkan Ahong ditetapkan sebagai tersangka pada 30 Juli 2021, atau tetapnya malam setelah Polresta Pontianak melakukan rela ulang adegan kasus tersebut.

Rekonstruksi kasus penganiayaan menggunakan gagang pistol oleh Polresta Pontianak tanggal 30 Juli 2021. (Meidy Khadafi/Pontianak Post)

Atas penetapan status tersangka tersebut, Meiske T Korengkeng, penasehat hukum Gori Gusnadi alias Ahong, mengaku keberatan. Ia merasa kliennya menjadi korban atas kekerasan yang dilakukan oleh Anam, menggunakan gagang pistol, yang terjadi pada tanggal 16 Juli 2021.

“Kami keberatan atas penetapan tersangka itu. Padahal, klien kami tidak melakukan pemukulan. Dan itu sudah tertuang dalam rekonstruksi pada 30 Juli lalu,” ujarnya kepada sejumlah wartawan, Kamis (12/8).

Menurut Meiske, dalam rekonstruksi tersebut, tergambar jelas bahwa kliennya dipukul menggunakan gagang pistol oleh Anam dan mengakibatkan luka di bagian telinga sebelah kiri.

Baca Juga :  Warga Pontianak Pesan Bahan Baku Tembakau Gorila dari Belanda
Barang bukti senjata yang diduga digunakan untuk melakukan penganiayaan (istimewa)

“Sekali lagi kami sampaikan tidak ada perkelahian sebelumnya. Klien kami tiba-tiba dipukul menggunakan gagang pistol,” lanjutnya.

Yang membuatnya heran, kata Mieske, kliennya ditetapkan tersangka pada malam setelah rekonstruksi digelar. Hari itu, kliennya menerima dan menandatangani tiga surat dari kepolisian. Surat penetapan tersangka, penahanan  dan surat pemanggilan pemeriksaan.

Selanjutnya, pada tanggal 2 Agustus 2021, kliennya dipanggil dan dimintai keterangan sebagai tersangka. “Namun, karena yang bersangkutan sakit, maka kami minta ditunda. Kami juga sertakan surat keterangan sakit dari dokter,” beber Meiske.

Tanggal 6 Agustus 2021, kliennya memenuhi panggilan tersebut dan diperiksa sebagai tersangka. “Lho kok bisa, klien kami yang menjadi korban, lalu ditetapkan sebagai tersangka?” katanya heran.

Untuk itu, pihaknya selaku penasehat hukum akan menyiapkan bukti dan saksi untuk mengawal kasus yang menjerat kliennya tersebut. “Upaya-upaya sudah kami siapkan. Siapa yang bisa membuktikan, benar atau salah,” jelasnya.

Sebelumnya, Polresta Pontianak menetapkan Ahong sebagai tersangka atas laporan Anam dalam perkara penganiayaan. Kasat Reskrim Polresta Pontianak AKP Rully Robinson Polii mengatakan, saat ini pihaknya sudah menetapkan dua orang tersebut sebagai tersangka atas kasus dugaan penganiayaan tersebut.

Baca Juga :  Ahong dan Anam Jadi Tersangka

Anam menjadi tersangka atas laporan Ahong, dan Ahong menjadi tersangka atas laporan Anam. “Untuk Ahong sudah dilakukan pemeriksaan sebagai tersangka, dan yang bersangkutan meminta permohonan tidak dilakukan penahanan,” katanya.

Dikatakan Rully, hingga ditetapkan sebagai tersangka, Ahong tidak mengakui perbuatannya, dan memberikan keterangan bahwa Anam lah yang melakukan penganiayaan. Namun berdasarkan keyakinan penyidik bahwa Ahong layak dijadikan tersangka berdasarkan dua alat bukti.

Lebih jauh, Rully mengatakan bahwa hasil rekonstruksi Anam terdapat 18 adegan, dan Ahong 12 adegan. “Hasil rekonstruksi, dapat kami simpulkan banyak adegan yang tidak dimasukan oleh yang bersangkutan, mungkin ini salah satu dari pembelaan yang bersangkutan. Kami juga sudah melalukan gelar perkara terhadap kasus ini. Dan penyidik berkeyakinan bahwa Ahong layak untuk dijadikan tersangka,” bebernya.

Terpisah, Kuasa Hukum dari The Khoen Nam Alias Anam, Achmad Peter Viney Ng, mengatakan, pihaknya menyerahkan seluruh proses hukum kepada petugas kepolisian. “Setiap orang memiliki hak, soal nanti benar atau tidak silakan saja buktikan di pengadilan,” katanya. (arf)

KASUS penganiayaan menggunakan gagang pistol oleh The Khoen Nam alias Anam terhadap Gori Gurnadi alias Ahong masih bergulir di kepolisian. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka meski saling klaim sebagai korban dan saling lapor.

Anam ditetapkan sebagai tersangka atas laporan Ahong, pada 16 Juli 2021. Sebaliknya, Ahong ditetapkan sebagai tersangka atas laporan Anam, pada 22 Juli 2021.

Penetapan tersangka terhadap Anam dilakukan pada tanggal 18 Juli 2021. Sedangkan Ahong ditetapkan sebagai tersangka pada 30 Juli 2021, atau tetapnya malam setelah Polresta Pontianak melakukan rela ulang adegan kasus tersebut.

Rekonstruksi kasus penganiayaan menggunakan gagang pistol oleh Polresta Pontianak tanggal 30 Juli 2021. (Meidy Khadafi/Pontianak Post)

Atas penetapan status tersangka tersebut, Meiske T Korengkeng, penasehat hukum Gori Gusnadi alias Ahong, mengaku keberatan. Ia merasa kliennya menjadi korban atas kekerasan yang dilakukan oleh Anam, menggunakan gagang pistol, yang terjadi pada tanggal 16 Juli 2021.

“Kami keberatan atas penetapan tersangka itu. Padahal, klien kami tidak melakukan pemukulan. Dan itu sudah tertuang dalam rekonstruksi pada 30 Juli lalu,” ujarnya kepada sejumlah wartawan, Kamis (12/8).

Menurut Meiske, dalam rekonstruksi tersebut, tergambar jelas bahwa kliennya dipukul menggunakan gagang pistol oleh Anam dan mengakibatkan luka di bagian telinga sebelah kiri.

Baca Juga :  Lewat Aplikasi Michat Gadis Bawah Umur Jadi Pemuas Nafsu
Barang bukti senjata yang diduga digunakan untuk melakukan penganiayaan (istimewa)

“Sekali lagi kami sampaikan tidak ada perkelahian sebelumnya. Klien kami tiba-tiba dipukul menggunakan gagang pistol,” lanjutnya.

Yang membuatnya heran, kata Mieske, kliennya ditetapkan tersangka pada malam setelah rekonstruksi digelar. Hari itu, kliennya menerima dan menandatangani tiga surat dari kepolisian. Surat penetapan tersangka, penahanan  dan surat pemanggilan pemeriksaan.

Selanjutnya, pada tanggal 2 Agustus 2021, kliennya dipanggil dan dimintai keterangan sebagai tersangka. “Namun, karena yang bersangkutan sakit, maka kami minta ditunda. Kami juga sertakan surat keterangan sakit dari dokter,” beber Meiske.

Tanggal 6 Agustus 2021, kliennya memenuhi panggilan tersebut dan diperiksa sebagai tersangka. “Lho kok bisa, klien kami yang menjadi korban, lalu ditetapkan sebagai tersangka?” katanya heran.

Untuk itu, pihaknya selaku penasehat hukum akan menyiapkan bukti dan saksi untuk mengawal kasus yang menjerat kliennya tersebut. “Upaya-upaya sudah kami siapkan. Siapa yang bisa membuktikan, benar atau salah,” jelasnya.

Sebelumnya, Polresta Pontianak menetapkan Ahong sebagai tersangka atas laporan Anam dalam perkara penganiayaan. Kasat Reskrim Polresta Pontianak AKP Rully Robinson Polii mengatakan, saat ini pihaknya sudah menetapkan dua orang tersebut sebagai tersangka atas kasus dugaan penganiayaan tersebut.

Baca Juga :  Akibat Selisih Paham, Seorang Perempuan Dianiaya Temannya Sendiri

Anam menjadi tersangka atas laporan Ahong, dan Ahong menjadi tersangka atas laporan Anam. “Untuk Ahong sudah dilakukan pemeriksaan sebagai tersangka, dan yang bersangkutan meminta permohonan tidak dilakukan penahanan,” katanya.

Dikatakan Rully, hingga ditetapkan sebagai tersangka, Ahong tidak mengakui perbuatannya, dan memberikan keterangan bahwa Anam lah yang melakukan penganiayaan. Namun berdasarkan keyakinan penyidik bahwa Ahong layak dijadikan tersangka berdasarkan dua alat bukti.

Lebih jauh, Rully mengatakan bahwa hasil rekonstruksi Anam terdapat 18 adegan, dan Ahong 12 adegan. “Hasil rekonstruksi, dapat kami simpulkan banyak adegan yang tidak dimasukan oleh yang bersangkutan, mungkin ini salah satu dari pembelaan yang bersangkutan. Kami juga sudah melalukan gelar perkara terhadap kasus ini. Dan penyidik berkeyakinan bahwa Ahong layak untuk dijadikan tersangka,” bebernya.

Terpisah, Kuasa Hukum dari The Khoen Nam Alias Anam, Achmad Peter Viney Ng, mengatakan, pihaknya menyerahkan seluruh proses hukum kepada petugas kepolisian. “Setiap orang memiliki hak, soal nanti benar atau tidak silakan saja buktikan di pengadilan,” katanya. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/